
Kepala Bayi Lonjong: Penyebab dan Cara Mengatasi?
Kepala lonjong ditandai dengan bentuk kepala bayi yang tampak memanjang atau tidak simetris.

DAFTAR ISI
- Memahami Anatomi Tengkorak Bayi
- Penyebab Kepala Bayi Lonjong
- Cara Mengatasi Kepala Bayi Lonjong secara Alami
- Kapan Tindakan Medis Diperlukan?
- Studi Terkait Bentuk Kepala Bayi
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Melihat bentuk kepala bayi yang baru lahir tampak lonjong, asimetris, atau peyang sering kali membuat orang tua, terutama ibu baru, merasa cemas dan khawatir. Namun, tahukah kamu bahwa bentuk kepala bayi lonjong sebenarnya adalah kondisi yang sangat umum terjadi? Kondisi ini sebagian besar bersifat sementara dan tidak memengaruhi perkembangan otak maupun kecerdasan Si Kecil.
Secara medis, perubahan bentuk kepala bayi ini sering disebut dengan molding jika terjadi akibat proses persalinan, atau plagiocephaly/scaphocephaly jika terkait dengan posisi tidur dan penyatuan tulang tengkorak. Tengkorak bayi dirancang sangat unik dan fleksibel oleh alam agar memudahkan proses kelahiran normal dan memberikan ruang bagi pertumbuhan otak yang sangat pesat pada tahun pertama kehidupannya.
Meski sebagian besar kasus kepala lonjong akan membulat dengan sendirinya seiring berjalannya waktu dan perubahan posisi, ada beberapa kondisi tertentu di mana bentuk kepala yang tidak wajar menjadi tanda adanya kelainan yang memerlukan penanganan medis lebih lanjut. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk membedakan mana kondisi yang normal dan mana yang perlu diwaspadai.
Mengingat penanganan kepala bayi lonjong lebih difokuskan pada terapi posisi (repositioning), fisioterapi, atau penggunaan helm khusus (cranial orthosis), kondisi ini umumnya tidak memerlukan intervensi obat-obatan. Nah, untuk memahami lebih dalam mengenai fenomena ini, mari kita bahas secara tuntas penyebab, cara penanganan, hingga kapan kamu harus segera berkonsultasi dengan dokter!
Memahami Anatomi Tengkorak Bayi
Untuk mengerti mengapa kepala bayi bisa berubah bentuk menjadi lonjong, kita perlu memahami anatomi tengkorak bayi terlebih dahulu. Berbeda dengan tengkorak orang dewasa yang sudah menyatu dan keras layaknya sebuah helm pelindung yang utuh, tengkorak bayi terdiri dari beberapa lempeng tulang yang terpisah.
Di antara lempeng-lempeng tulang ini terdapat jaringan ikat fibrosa yang fleksibel, yang dikenal sebagai sutura (jahitan). Selain itu, terdapat titik pertemuan antar tulang yang lebih lebar dan terasa lunak saat disentuh, yang biasa kita sebut sebagai ubun-ubun atau fontanel. Ada dua ubun-ubun utama, yaitu ubun-ubun besar di bagian depan (anterior) dan ubun-ubun kecil di bagian belakang (posterior).
Desain tengkorak yang fleksibel ini memiliki dua fungsi utama. Pertama, memungkinkan lempeng tulang tengkorak saling tumpang tindih (molding) saat bayi melewati jalan lahir yang sempit. Hal inilah yang sering menyebabkan kepala bayi baru lahir tampak memanjang atau lonjong. Kedua, sutura dan ubun-ubun memberikan ruang bagi otak bayi untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal selama masa bayi dan balita. Seiring waktu, lempeng-lempeng tulang ini akan perlahan menyatu dan mengeras.
Penyebab Kepala Bayi Lonjong
Ada beberapa faktor utama yang dapat menyebabkan bentuk kepala bayi menjadi lonjong, datar, atau asimetris. Berikut adalah penjelasan lengkapnya:
1. Proses Persalinan (Molding)
Penyebab paling umum dari kepala bayi lonjong pada bayi yang baru lahir adalah tekanan saat melewati jalan lahir (vagina). Tekanan dari leher rahim (serviks) dan tulang panggul ibu menyebabkan lempeng tulang tengkorak bayi saling tumpang tindih. Bayi yang lahir melalui persalinan normal sering kali memiliki bentuk kepala seperti kerucut atau memanjang. Kondisi ini sepenuhnya normal dan biasanya akan kembali membulat dengan sendirinya dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu setelah kelahiran.
2. Plagiocephaly Posisional (Sindrom Kepala Datar)
Jika kepala bayi mulai tampak peyang atau lonjong di satu sisi beberapa bulan setelah lahir, ini biasanya disebabkan oleh plagiocephaly posisional. Sejak kampanye “Back to Sleep” diluncurkan untuk mencegah Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS), bayi dianjurkan tidur telentang. Akibatnya, tekanan konstan pada bagian belakang kepala yang masih lunak dapat menyebabkan area tersebut menjadi datar, sehingga membuat kepala tampak asimetris atau memanjang ke atas (lonjong).
3. Kelahiran Prematur
Bayi prematur memiliki tulang tengkorak yang jauh lebih lunak dibandingkan bayi yang lahir cukup bulan. Selain itu, bayi prematur sering kali harus menghabiskan banyak waktu di Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dengan posisi telentang atau miring karena terpasang berbagai alat medis. Hal ini membuat mereka sangat rentan mengalami perubahan bentuk kepala menjadi memanjang (sering disebut scaphocephaly posisional pada bayi prematur).
4. Craniosynostosis
Ini adalah kondisi medis langka namun serius. Craniosynostosis terjadi ketika satu atau lebih sutura (sambungan tulang tengkorak) menutup dan menyatu terlalu dini, sebelum otak bayi berkembang sepenuhnya. Karena otak terus tumbuh tetapi sebagian tengkorak sudah mengunci, kepala akan tumbuh ke arah sutura yang masih terbuka. Jika sutura sagital (yang membujur dari depan ke belakang kepala) menutup lebih awal, kepala bayi akan tumbuh memanjang dan sempit, sebuah kondisi klinis yang disebut Scaphocephaly. Jika kamu mencurigai gejala penyebab kepala bayi lonjong karena kondisi ini, segera hubungi dokter untuk diagnosis lebih lanjut.
Tanda Bahaya (Red Flags) Bentuk Kepala Bayi:
- Ubun-ubun tampak menonjol keras padahal bayi tidak sedang menangis.
- Teraba adanya tonjolan keras (seperti bubungan atau punggungan bukit) di sepanjang garis sambungan tulang kepala.
- Perubahan bentuk kepala memengaruhi bentuk wajah, misalnya satu telinga tampak lebih maju, atau satu mata tampak lebih besar dari yang lain.
- Bayi kesulitan memutar kepalanya ke salah satu sisi (indikasi tortikolis).
Cara Mengatasi Kepala Bayi Lonjong secara Alami
Jika kepala bayi lonjong disebabkan oleh posisi (plagiocephaly posisional) dan bukan karena kelainan tulang (craniosynostosis), kondisi ini sangat bisa diperbaiki dengan perawatan di rumah. Berikut adalah langkah-langkah yang direkomendasikan secara medis:
1. Perbanyak Tummy Time (Tengkurap)
Tummy time adalah kunci utama. Tengkurap saat bayi terbangun dan diawasi tidak hanya melepaskan tekanan dari belakang kepala, tetapi juga memperkuat otot leher, bahu, dan punggung bayi. Mulailah tummy time segera setelah bayi lahir (bisa dengan menengkurapkan bayi di dada ibu). Secara bertahap, tingkatkan durasinya menjadi 15-30 menit beberapa kali sehari. Jika bayi rewel, gunakan mainan berwarna cerah atau cermin untuk mengalihkan perhatiannya.
2. Ubah Posisi Kepala saat Tidur
Bayi harus selalu ditidurkan dalam posisi telentang untuk mencegah SIDS. Namun, kamu bisa mengubah arah kepala bayi. Jika semalam wajah bayi menghadap ke kanan, malam berikutnya miringkan kepalanya agar menghadap ke kiri. Bayi cenderung menoleh ke arah cahaya atau ke arah pintu tempat orang tuanya masuk. Membalikkan posisi bayi di dalam boks (meletakkan kepala di tempat yang biasanya untuk kaki) dapat memaksa bayi menoleh ke arah sebaliknya.
3. Variasikan Cara Menggendong dan Menyusui
Jangan biarkan bayi terlalu lama berada di ayunan, bouncer, atau car seat, karena alat-alat ini memberikan tekanan pada bagian belakang kepala. Sering-seringlah menggendong bayi dengan posisi tegak atau menggunakan gendongan (baby carrier). Selain itu, pastikan untuk selalu berganti sisi lengan saat menyusui, baik menyusui langsung dari payudara (DBF) maupun saat memberikan susu botol.
4. Dukung Kesehatan Tulang Bayi
Pembentukan tengkorak yang baik sangat bergantung pada nutrisi, terutama kalsium dan vitamin D yang mendukung pertumbuhan tulang. Jika kamu memberikan ASI eksklusif, pastikan kamu mengonsumsi nutrisi bergizi. Dalam beberapa kasus, dokter anak mungkin merekomendasikan suplementasi vitamin D untuk bayi. Untuk memudahkan, kamu bisa membeli kebutuhan vitamin dan produk kesehatan bayi dengan mudah, aman, dan asli melalui layanan farmasi online terpercaya.
Kapan Tindakan Medis Diperlukan?
Jika tindakan alami seperti tummy time dan repositioning tidak membuahkan hasil setelah dilakukan secara konsisten selama 2-3 bulan, atau jika dokter mendiagnosis kondisi medis tertentu, intervensi medis akan diperlukan.
1. Fisioterapi
Jika kepala bayi lonjong atau asimetris disebabkan oleh tortikolis (otot leher yang kencang di satu sisi sehingga kepala bayi selalu miring ke satu arah), dokter spesialis anak akan merujuk bayi ke fisioterapis. Fisioterapis akan memberikan latihan peregangan leher yang lembut untuk merelaksasi otot, sehingga bayi bisa menggerakkan kepalanya dengan bebas dan tekanan pada satu sisi kepala dapat berkurang.
2. Terapi Helm (Cranial Orthosis)
Untuk kasus plagiocephaly atau brachycephaly tingkat sedang hingga berat yang tidak membaik pada usia 4 hingga 6 bulan, terapi helm mungkin direkomendasikan. Helm ini dibuat khusus sesuai dengan cetakan kepala bayi. Helm ini tidak memencet kepala, melainkan memberikan ruang kosong di area kepala yang datar dan memberikan kontak ringan di area yang menonjol. Hal ini akan mengarahkan pertumbuhan otak dan tengkorak ke area yang kosong. Helm ini umumnya harus dipakai selama 23 jam sehari selama beberapa bulan.
3. Tindakan Operasi
Tindakan operasi adalah pengobatan utama dan satu-satunya untuk kondisi craniosynostosis. Tujuan operasi ini bukan hanya untuk alasan estetika (memperbaiki bentuk kepala), tetapi yang paling penting adalah untuk melepaskan lempeng tulang yang menyatu agar otak memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh dan berkembang. Operasi ini biasanya dilakukan oleh tim dokter yang terdiri dari bedah saraf anak (pediatric neurosurgeon) dan bedah kraniofasial. Waktu terbaik untuk melakukan operasi ini biasanya sebelum bayi berusia 6 bulan.
Studi Terkait Bentuk Kepala Bayi
American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan panduan dan studi yang menegaskan bahwa posisi tidur telentang tetap diwajibkan sebagai pencegahan SIDS, meskipun hal ini meningkatkan angka kejadian plagiocephaly posisional. Studi tersebut menjelaskan bahwa asimetri kepala posisional murni bersifat kosmetik dan tidak menyebabkan keterlambatan perkembangan otak atau masalah neurologis.
Studi lain yang dipublikasikan dalam Journal of Craniofacial Surgery menunjukkan efektivitas terapi repositioning (mengubah posisi) pada 3 bulan pertama kehidupan. Peneliti menemukan bahwa intervensi dini berupa edukasi tummy time kepada orang tua secara signifikan mengurangi kebutuhan penggunaan terapi helm di kemudian hari. Hal ini menegaskan betapa pentingnya peran orang tua dalam melatih motorik bayi sejak dini.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Referensi:
American Academy of Pediatrics (AAP). Diakses pada 2024. Positional Plagiocephaly: Is Your Baby’s Head Shape Normal?
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Baby’s head shape: What’s normal?
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Plagiocephaly (Flat Head Syndrome).
National Health Service (NHS) UK. Diakses pada 2024. Plagiocephaly and brachycephaly (flat head syndrome).
Boston Children’s Hospital. Diakses pada 2024. Craniosynostosis: Symptoms and Causes.
FAQ
1. Apakah kepala bayi lonjong bisa memengaruhi kecerdasan atau perkembangan otaknya?
Jika penyebabnya adalah proses persalinan (molding) atau posisi (plagiocephaly posisional), hal tersebut sama sekali tidak memengaruhi perkembangan otak, kecerdasan, atau kesehatan neurologis bayi. Itu murni masalah bentuk (kosmetik). Namun, jika lonjong disebabkan oleh craniosynostosis yang tidak ditangani, hal itu bisa membatasi ruang tumbuh otak.
2. Sampai usia berapa bentuk kepala bayi masih bisa berubah dan diperbaiki?
Ubun-ubun bagian belakang biasanya menutup pada usia 2-3 bulan, sedangkan ubun-ubun bagian depan menutup pada usia 18 bulan. Namun, masa “emas” untuk memperbaiki bentuk kepala melalui reposisi atau terapi helm adalah antara usia 4 hingga 6 bulan, di mana tengkorak masih sangat lunak dan otak tumbuh paling cepat.
3. Bolehkah memijat kepala bayi dengan tangan agar bentuknya kembali bulat?
Secara medis, tindakan memijat atau menekan kepala bayi dengan tangan tidak direkomendasikan. Tengkorak dan otak bayi sangat rapuh. Menekan tulang tengkorak secara paksa berisiko menyebabkan cedera jaringan, trauma, atau pendarahan di bawah kulit kepala. Terapi posisi (repositioning) adalah cara yang paling aman.
4. Apakah penggunaan bantal anti-peyang efektif mengatasi kepala lonjong?
American Academy of Pediatrics (AAP) tidak merekomendasikan penggunaan bantal apa pun, termasuk bantal anti-peyang, di dalam boks bayi yang berusia di bawah 1 tahun. Penggunaan bantal justru meningkatkan risiko bayi mati lemas (SIDS). Pencegahan terbaik adalah dengan mengubah posisi kepala bayi secara bergantian saat telentang tanpa menggunakan ganjalan apa pun.


