Ad Placeholder Image

Ketahui 4 Jenis Hormon yang Mengatur Kesehatan Mental

8 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Jenis hormon yang membuat mood positif adalah dopamin, oksitosin, serotonin & endorfin.

Ketahui 4 Jenis Hormon yang Mengatur Kesehatan MentalKetahui 4 Jenis Hormon yang Mengatur Kesehatan Mental

DAFTAR ISI


Kesehatan mental dan emosional memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Dalam kehidupan sehari-hari, kamu mungkin pernah mengalami perubahan suasana hati yang tidak menentu, mulai dari merasa sangat bersemangat, tiba-tiba sedih, hingga merasa sangat rileks setelah melakukan aktivitas tertentu. Semua perubahan emosi ini sebenarnya sangat dipengaruhi oleh proses kimiawi yang terjadi di dalam tubuh dan otak kita.

Secara biologis, tubuh manusia memproduksi berbagai macam bahan kimia yang bertugas mengirimkan pesan antar sel saraf. Senyawa-senyawa pengantar pesan atau hormon bahagia disebut dengan neurotransmiter. Mereka diproduksi oleh berbagai kelenjar dalam sistem endokrin dan sistem saraf, lalu dilepaskan ke dalam aliran darah atau ruang antar sinapsis otak untuk memengaruhi berbagai fungsi tubuh, termasuk suasana hati (mood), motivasi, dan rasa empati.

Menjaga keseimbangan bahan kimia di otak ini sangatlah krusial. Jika kadarnya terlalu rendah, seseorang bisa rentan mengalami gangguan kesehatan mental seperti stres kronis, gangguan kecemasan (anxiety), hingga depresi. Sebaliknya, ketika produksinya optimal, kamu akan merasa lebih termotivasi, damai, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan pikiran yang jernih.

Sayangnya, gaya hidup modern yang serba cepat, kurang gerak, pola makan yang buruk, serta tingginya tingkat stres sering kali membuat produksi zat-zat ini menurun drastis. Lantas, apa saja sebenarnya jenis-jenis zat kimia otak tersebut dan bagaimana cara menjaganya agar tetap seimbang? Berikut ulasan lengkapnya!

Jenis-Jenis Hormon Bahagia

Ada empat bahan kimia utama di dalam tubuh yang secara kolektif bertanggung jawab atas perasaan positif, kebahagiaan, dan kesejahteraan emosional. Keempatnya memiliki fungsi yang berbeda-beda namun saling melengkapi. Berikut adalah penjelasannya:

1. Dopamin (Hormon Penghargaan)

Dopamin dikenal luas sebagai hormon penghargaan (reward hormone). Senyawa ini dilepaskan oleh otak ketika kamu melakukan suatu aktivitas yang dianggap menyenangkan atau ketika kamu berhasil mencapai sebuah tujuan. Sensasi kepuasan setelah menyelesaikan tugas kantor, makan makanan favorit, atau bahkan saat mendapatkan pujian, semuanya dimediasi oleh lonjakan dopamin.

Selain memberikan sensasi senang dan puas, dopamin juga sangat penting untuk mengatur fungsi memori, pembelajaran, sistem motorik (pergerakan tubuh), dan rentang perhatian. Tanpa kadar dopamin yang cukup, seseorang akan kehilangan dorongan dan motivasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari, sebuah kondisi yang sering kali menjadi salah satu gejala utama dari depresi klinis.

2. Serotonin (Hormon Penstabil Suasana Hati)

Serotonin adalah neurotransmiter yang bertindak sebagai penstabil suasana hati (mood stabilizer) alami. Ketika kadar serotonin di dalam tubuh berada pada tingkat yang optimal, kamu akan merasa lebih tenang, fokus, bahagia, dan tidak mudah cemas. Hal yang paling menarik dari serotonin adalah fakta bahwa sekitar 90% dari hormon ini tidak diproduksi di otak, melainkan di saluran pencernaan manusia.

Inilah mengapa ada kaitan yang sangat erat antara kesehatan usus (gut health) dengan kesehatan mental. Selain mengatur mood, serotonin juga memainkan peran vital dalam mengatur siklus tidur dan bangun (karena serotonin adalah prekursor dari hormon tidur melatonin), mengatur nafsu makan, serta membantu proses pembekuan darah ketika terjadi luka.

3. Oksitosin (Hormon Cinta)

Sering dijuluki sebagai hormon cinta (love hormone) atau hormon pelukan (cuddle hormone), oksitosin diproduksi di hipotalamus dan dilepaskan oleh kelenjar pituitari. Hormon ini sangat krusial dalam membangun ikatan sosial, rasa percaya, kedekatan emosional, dan empati antar sesama manusia. Oksitosin akan membanjiri tubuh ketika kamu memeluk orang tersayang, bersosialisasi dengan sahabat, atau bermain dengan hewan peliharaan.

Dalam konteks reproduksi dan peranan maternal, oksitosin memiliki fungsi yang tak tergantikan. Hormon inilah yang merangsang kontraksi rahim selama proses persalinan dan memicu pelepasan ASI (Air Susu Ibu) saat menyusui. Ikatan batin yang sangat kuat antara ibu dan bayi pasca persalinan utamanya didorong oleh kadar oksitosin yang sangat tinggi.

4. Endorfin (Pereda Nyeri Alami)

Endorfin adalah singkatan dari “endogenous morphine” yang berarti morfin alami yang diproduksi oleh tubuh. Fungsi utama endorfin adalah bertindak sebagai analgesik alami, yakni pereda rasa sakit dan stres. Tubuh melepaskan endorfin sebagai respons terhadap rasa sakit secara fisik atau tekanan emosional untuk membantu kamu bertahan dan meredakan ketidaknyamanan tersebut.

Namun, endorfin juga diproduksi dalam jumlah besar saat kamu melakukan aktivitas yang menyenangkan namun menuntut fisik, seperti olahraga intens (yang sering memunculkan sensasi runner’s high), tertawa terbahak-bahak, hingga saat makan makanan pedas atau cokelat hitam (dark chocolate). Kehadiran endorfin membantu menciptakan perasaan euforia sementara dan kesejahteraan emosional yang mendalam.

Faktor Pemicu Penurunan Hormon Bahagia
  1. Stres Kronis: Tingkat kortisol (hormon stres) yang terus-menerus tinggi dapat merusak reseptor dan menghambat produksi dopamin dan serotonin.
  2. Kurang Tidur: Gangguan ritme sirkadian menghalangi tubuh melakukan perbaikan sel dan merusak siklus alami produksi hormon.
  3. Pola Makan Buruk: Kurangnya asupan asam amino (seperti triptofan dan tirosin) membuat tubuh tidak memiliki bahan baku untuk memproduksi neurotransmiter.
  4. Kurang Paparan Sinar Matahari: Mengurangi sintesis Vitamin D yang secara langsung berdampak pada anjloknya kadar serotonin.

Tanda Ketidakseimbangan Hormon Bahagia

Kadar bahan kimia di otak bisa mengalami fluktuasi karena berbagai alasan medis maupun gaya hidup. Mengenali tanda-tanda ketidakseimbangannya sangat penting agar kamu bisa mengambil langkah penanganan yang tepat secara dini. Jika keseimbangan ini terganggu, tubuh dan pikiran akan memberikan sejumlah sinyal peringatan yang cukup jelas.

Jika kamu kekurangan dopamin, gejala yang paling umum muncul adalah rasa apatis, kehilangan minat pada hobi yang sebelumnya disukai (anhedonia), sulit berkonsentrasi, dan kelelahan kronis. Sementara itu, kekurangan serotonin biasanya bermanifestasi dalam bentuk perubahan mood yang ekstrem, mudah marah, gangguan tidur (insomnia), keinginan berlebih untuk makan makanan manis (sugar craving), hingga kecenderungan depresi.

Di sisi lain, defisiensi oksitosin dapat membuat seseorang merasa kesepian, terisolasi secara sosial, kesulitan berempati, atau sulit membangun rasa percaya terhadap orang lain. Sedangkan jika kadar endorfin terlalu rendah, kamu mungkin akan menjadi lebih sensitif terhadap rasa sakit fisik, sering mengalami pegal-pegal tanpa sebab yang jelas, dan sangat rentan terhadap efek negatif dari stres.

Cara Alami Meningkatkan Hormon Bahagia

1. Berolahraga Secara Rutin

Olahraga bukan hanya tentang membentuk otot atau menurunkan berat badan, tetapi juga merupakan cara paling efektif untuk “meretas” bahan kimia di otak. Aktivitas fisik aerobik seperti berlari, bersepeda, berenang, atau bahkan jalan cepat selama minimal 30 menit dapat memicu pelepasan endorfin, dopamin, dan serotonin sekaligus secara signifikan.

2. Mendapatkan Sinar Matahari Pagi

Paparan sinar matahari pagi (antara pukul 7 hingga 9 pagi) selama 15-20 menit sangat krusial bagi otak. Sinar matahari merangsang otak untuk memproduksi serotonin, yang membuatmu merasa lebih segar dan waspada sepanjang hari. Selain itu, paparan sinar matahari membantu sintesis Vitamin D, nutrisi yang secara tidak langsung mendukung fungsi kognitif dan perlindungan saraf.

3. Mengonsumsi Makanan Bergizi

Otak membutuhkan “bahan baku” dari makanan untuk menciptakan senyawa kimia. Konsumsilah makanan yang kaya akan Triptofan (kalkun, telur, keju, tahu, tempe) untuk mendukung serotonin, serta Tirosin (kacang almond, alpukat, pisang) untuk mendukung produksi dopamin. Jangan lupa asupan probiotik (yogurt, kefir, kimchi) untuk menjaga kesehatan usus, tempat di mana mayoritas serotonin diproduksi.

4. Bersosialisasi dan Bersentuhan Fisik

Manusia adalah makhluk sosial yang secara biologis membutuhkan interaksi dengan orang lain. Menghabiskan waktu berkualitas bersama teman, tertawa bersama, atau sekadar melakukan sentuhan fisik seperti berpelukan, berpegangan tangan, atau pijatan, dapat secara instan melonjakkan kadar oksitosin dan menurunkan hormon stres kortisol.

Studi Terkait

Journal of Psychiatry and Neuroscience menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa faktor gaya hidup, terutama paparan sinar matahari, diet, dan aktivitas fisik, memiliki korelasi langsung dengan tingkat sintesis serotonin di dalam otak manusia.

Studi komprehensif tersebut menyimpulkan bahwa intervensi non-farmakologis, seperti rutin berolahraga dan memastikan tubuh mendapat asupan nutrisi prekursor neurotransmiter, sering kali sama efektifnya dengan intervensi medis dalam menangani gejala stres ringan hingga sedang. Penemuan ini menegaskan bahwa kita memiliki kendali yang cukup besar atas kesejahteraan emosional kita sendiri melalui perubahan rutinitas sehari-hari yang sederhana.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
Harvard Medical School. Diakses pada 2024. Feel-good hormones: How they affect your mind, mood and body.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Depression and anxiety: Exercise eases symptoms.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Hormones: What They Are, Function & Types.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. How to increase serotonin in the human brain without drugs.

FAQ

1. Apakah yang biasanya hormon bahagia disebut oleh dokter?

Dalam istilah medis, bahan-bahan kimia yang mengatur perasaan senang, rileks, dan motivasi disebut dengan neurotransmiter. Terdapat empat jenis utama yang sering dikelompokkan dalam kategori ini, yaitu dopamin, serotonin, oksitosin, dan endorfin.

2. Apa yang terjadi jika tubuh kekurangan serotonin?

Kekurangan serotonin dapat mengganggu banyak fungsi tubuh. Secara psikologis, kamu akan rentan mengalami kecemasan, suasana hati yang buruk, hingga depresi. Secara fisik, kamu mungkin akan mengalami gangguan tidur (insomnia) dan masalah pencernaan, mengingat sebagian besar serotonin diproduksi dan digunakan di saluran usus.

3. Apakah makanan benar-benar bisa meningkatkan hormon ini?

Ya, sangat bisa. Tubuh membutuhkan asam amino spesifik dari makanan untuk mensintesis neurotransmiter. Sebagai contoh, asam amino triptofan (ditemukan pada telur, tahu, dan salmon) adalah bahan baku pembuat serotonin, sedangkan tirosin (pada kacang-kacangan dan daging tanpa lemak) adalah bahan baku untuk produksi dopamin.

4. Kapan saya harus berkonsultasi ke dokter terkait masalah mood?

Kamu disarankan untuk segera berkonsultasi ke psikolog atau psikiater jika perubahan suasana hati yang buruk berlangsung lebih dari dua minggu berturut-turut, mengganggu aktivitas sehari-hari, menyebabkan kehilangan motivasi yang ekstrem, atau memunculkan pemikiran untuk menyakiti diri sendiri. Dokter dapat membantu mendiagnosis apakah ada masalah pada keseimbangan kimiawi otak dan memberikan penanganan yang tepat.