Ad Placeholder Image

Ketahui Tekanan Darah Normal Sesuai Usia Seseorang

7 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Faktanya, tekanan darah secara alami bisa meningkat seiring pertambahan usia.

Ketahui Tekanan Darah Normal Sesuai Usia SeseorangKetahui Tekanan Darah Normal Sesuai Usia Seseorang

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu mengukur tekanan darah dan terkejut melihat angka sistolik menyentuh 150? Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, masalah tekanan darah tidak lagi hanya didominasi oleh kelompok lanjut usia, tetapi juga mulai banyak mengintai kelompok usia dewasa muda. Memahami arti dari angka pada tensimeter sangatlah krusial untuk menjaga kesehatan kardiovaskular secara jangka panjang.

Sering kali, kondisi tekanan darah tinggi tidak menunjukkan gejala yang khas. Seseorang bisa saja merasa sehat, beraktivitas seperti biasa, dan tidak merasakan sakit kepala atau pusing sama sekali, padahal tekanan darahnya sedang melonjak tinggi. Hal inilah yang membuat kondisi darah tinggi atau hipertensi sering dijuluki sebagai “silent killer” atau pembunuh diam-diam. Oleh karena itu, pertanyaan mengenai tensi 150 apakah normal sangat sering diajukan saat seseorang baru saja melakukan pengecekan kesehatan rutin.

Jika kamu mendapati angka tensi berada di level 150, langkah pertama yang harus dilakukan adalah jangan panik, namun juga jangan meremehkannya. Angka ini merupakan sebuah sinyal dari tubuh bahwa sistem pembuluh darah dan jantung sedang bekerja jauh lebih keras dari yang seharusnya. Penanganan yang tepat, baik melalui modifikasi gaya hidup maupun intervensi medis, sangat diperlukan untuk mencegah komplikasi serius di kemudian hari.

Nah, mau tahu penjelasan medis lengkap mengenai apakah angka 150 ini tergolong normal, apa saja bahayanya, serta bagaimana cara mengatasinya? Berikut ulasan lengkapnya!

Memahami Angka Tensi 150

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus kembali merujuk pada pedoman medis standar yang dikeluarkan oleh organisasi kesehatan global seperti American Heart Association (AHA) dan World Health Organization (WHO). Berdasarkan pedoman tersebut, tekanan darah normal untuk orang dewasa adalah berada di bawah angka 120/80 mmHg. Jika angka pertama (sistolik) mencapai 150, maka jawabannya adalah: Tensi 150 sama sekali tidak normal.

Tekanan darah diukur dalam dua angka. Angka pertama, atau tekanan sistolik, mengukur tekanan di dalam pembuluh darah saat jantung berdetak atau memompa darah ke seluruh tubuh. Angka kedua, atau tekanan diastolik, mengukur tekanan di pembuluh darah saat jantung beristirahat di antara detak. Tensi 150 merujuk pada tekanan sistolik. Berdasarkan klasifikasi terbaru dari AHA:

  • Normal: Kurang dari 120/80 mmHg
  • Meningkat (Elevated): Sistolik 120-129 mmHg dan diastolik kurang dari 80 mmHg
  • Hipertensi Tingkat 1: Sistolik 130-139 mmHg atau diastolik 80-89 mmHg
  • Hipertensi Tingkat 2: Sistolik 140 mmHg atau lebih, ATAU diastolik 90 mmHg atau lebih

Dengan demikian, tekanan darah 150 sudah masuk ke dalam kategori Hipertensi Tingkat 2. Kondisi ini memerlukan perhatian medis yang serius karena risiko kerusakan organ tubuh akan meningkat secara signifikan jika angka ini dibiarkan terus-menerus tanpa penanganan. Bagi kamu yang ingin mengontrol kesehatan secara mandiri, kamu bisa beli alat ukur tekanan darah digital yang praktis digunakan di rumah.

Cara Mengukur Tekanan Darah di Rumah yang Benar
  1. Duduk tenang selama 5 menit sebelum pengukuran, hindari kafein dan olahraga sebelumnya.
  2. Posisikan manset setinggi dengan letak jantung di lengan yang telanjang.
  3. Lakukan pengukuran dua hingga tiga kali dengan jeda satu menit untuk mendapatkan hasil rata-rata yang akurat.

Penyebab Tekanan Darah Naik Menjadi 150

Kondisi tekanan darah yang mencapai angka 150 tidak terjadi begitu saja dalam semalam. Hipertensi umumnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer dan sekunder, yang masing-masing memiliki akar penyebab berbeda.

1. Hipertensi Primer (Esensial)

Hipertensi primer adalah jenis darah tinggi yang paling umum terjadi (mencakup 90-95% kasus). Kondisi ini tidak memiliki satu penyebab medis yang pasti, melainkan berkembang perlahan selama bertahun-tahun sebagai akibat dari kombinasi faktor genetik dan gaya hidup. Faktor risiko utamanya meliputi bertambahnya usia, riwayat keluarga dengan penyakit serupa, asupan garam (natrium) yang terlalu tinggi, obesitas, kurangnya aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang berlebihan.

2. Hipertensi Sekunder

Berbeda dengan tipe primer, hipertensi sekunder disebabkan oleh kondisi medis yang mendasarinya. Tekanan darah tinggi jenis ini sering kali muncul tiba-tiba dan menyebabkan tekanan darah yang lebih tinggi (seperti angka 150 atau lebih). Beberapa kondisi medis yang memicu hipertensi sekunder antara lain adalah penyakit ginjal kronis, gangguan kelenjar tiroid, sleep apnea obstruktif (henti napas saat tidur), masalah pada kelenjar adrenal (seperti sindrom Cushing), hingga efek samping penggunaan obat-obatan tertentu seperti pil KB, obat flu yang mengandung dekongestan, atau pereda nyeri golongan NSAID.

Selain faktor medis, stres psikologis akut juga bisa memicu lonjakan tekanan darah sementara. Saat tubuh mengalami stres, kelenjar adrenal melepaskan hormon kortisol dan adrenalin yang memicu jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah menyempit, sehingga tekanan sistolik dapat dengan mudah menyentuh angka 150.

Bahaya dan Komplikasi Jika Dibiarkan

Meskipun pada angka 150 kamu mungkin tidak merasakan keluhan apapun yang berarti, membiarkan tekanan darah berada di level tersebut ibarat membiarkan bom waktu di dalam tubuhmu. Aliran darah dengan tekanan yang berlebihan dan konstan dapat merusak dinding arteri seiring waktu. Berikut adalah beberapa komplikasi yang mengintai:

1. Kerusakan Jantung dan Pembuluh Darah

Tekanan darah tinggi memaksa jantung bekerja ekstra keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Hal ini menyebabkan penebalan pada dinding bilik kiri jantung (hipertrofi ventrikel kiri). Jantung yang menebal dan kaku akan kesulitan untuk mengisi darah, yang pada akhirnya dapat berujung pada kondisi gagal jantung. Selain itu, tekanan tinggi dapat merusak arteri, membuatnya rentan terhadap penumpukan plak kolesterol (aterosklerosis) yang berisiko memicu serangan jantung.

2. Risiko Stroke

Pembuluh darah di otak sangat sensitif terhadap tekanan tinggi. Hipertensi tingkat 2 dapat melemahkan dinding pembuluh darah otak, menyebabkannya menonjol dan membentuk aneurisma yang berisiko pecah. Jika pembuluh darah di otak pecah atau tersumbat oleh plak, aliran oksigen akan terhenti, dan terjadilah stroke hemoragik atau iskemik yang dapat menyebabkan kelumpuhan hingga kematian.

3. Kerusakan Ginjal

Ginjal berfungsi sebagai penyaring limbah tubuh. Organ ini dipenuhi dengan pembuluh darah kapiler yang sangat kecil dan halus. Tekanan darah 150 yang terjadi secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah di dalam ginjal tersebut, menurunkan kemampuannya untuk menyaring racun, dan pada tahap lanjut dapat memicu penyakit ginjal kronis yang mengharuskan pasien menjalani prosedur cuci darah (hemodialisis).

Cara Alami Menurunkan Tensi Darah

Kabar baiknya, tekanan darah 150 masih bisa dikelola dan diturunkan ke angka normal melalui kombinasi perubahan gaya hidup dan intervensi medis jika diperlukan. Modifikasi gaya hidup adalah pondasi utama dalam menangani hipertensi. Berikut adalah beberapa langkah krusial yang bisa segera kamu terapkan:

1. Terapkan Diet DASH

Diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) sangat direkomendasikan oleh para ahli gizi dan dokter spesialis jantung. Inti dari diet ini adalah mengurangi asupan natrium (garam) hingga batas maksimal 1.500 – 2.300 mg per hari (sekitar 1 sendok teh garam). Perbanyak konsumsi makanan tinggi kalium seperti buah pisang, alpukat, sayuran hijau (bayam, brokoli), karena kalium membantu ginjal membuang kelebihan natrium melalui urine.

2. Rutin Berolahraga

Aktivitas fisik aerobik yang dilakukan secara rutin dapat membuat otot jantung menjadi lebih kuat. Jantung yang kuat dapat memompa lebih banyak darah dengan sedikit usaha, sehingga tekanan di dinding arteri pun menurun. Targetkan untuk melakukan olahraga intensitas sedang seperti jalan cepat, berenang, atau bersepeda setidaknya 150 menit per minggu, atau sekitar 30 menit setiap hari selama 5 hari seminggu.

3. Kelola Stres dengan Baik

Karena stres memicu pelepasan hormon peningkat tekanan darah, kamu perlu menemukan mekanisme coping yang sehat. Cobalah meluangkan waktu untuk melakukan teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, latihan pernapasan dalam (deep breathing), atau sekadar melakukan hobi yang kamu senangi. Pastikan juga kamu mendapatkan tidur yang berkualitas selama 7-8 jam setiap malam, karena kurang tidur sangat berkaitan erat dengan risiko hipertensi.

Kapan Harus ke Dokter?

Mengingat angka sistolik 150 sudah masuk klasifikasi hipertensi tingkat 2, kamu disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan evaluasi klinis. Dokter biasanya tidak akan langsung memberikan obat keras pada kunjungan pertama kecuali jika tensi tidak turun setelah beberapa kali pengukuran atau jika terdapat riwayat penyakit penyerta seperti diabetes.

Segera kunjungi unit gawat darurat (UGD) jika tekanan darah 150 disertai dengan gejala yang disebut sebagai krisis hipertensi, seperti:

  • Sakit kepala yang sangat hebat dan berdenyut kencang.
  • Nyeri atau rasa tertekan yang berat di bagian dada.
  • Sesak napas yang tiba-tiba.
  • Mimisan yang sulit berhenti.
  • Pandangan mata tiba-tiba kabur atau berbayang.
  • Rasa kebas, kelemahan pada salah satu sisi tubuh, atau kesulitan bicara.

Studi Mengenai Risiko Hipertensi Tanpa Gejala

The Journal of the American Medical Association (JAMA) menerbitkan studi komprehensif mengenai bahaya hipertensi derajat 1 dan 2 yang tidak tertangani. Studi tersebut menjelaskan bahwa individu yang memiliki tekanan sistolik di atas 140 mmHg namun menunda penanganan medis memiliki risiko 30% lebih tinggi untuk mengalami kejadian kardiovaskular mayor dalam 5 tahun ke depan.

Studi ini menekankan pentingnya skrining rutin di rumah dan menegaskan bahwa ketidakhadiran gejala pusing atau sakit kepala bukan berarti tubuh dalam keadaan aman. Evaluasi klinis dan penyesuaian gaya hidup sedini mungkin adalah kunci utama mencegah mortalitas dini.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

FAQ

1. Apakah tensi 150/90 perlu minum obat?

Keputusan pemberian obat tergantung pada hasil evaluasi dokter. Jika modifikasi gaya hidup (diet dan olahraga) selama 3-6 bulan tidak berhasil menurunkan tensi, atau jika kamu memiliki risiko penyakit jantung dan diabetes, dokter spesialis penyakit dalam biasanya akan meresepkan obat antihipertensi.

2. Apa makanan pantangan untuk tensi 150?

Kamu wajib menghindari makanan yang tinggi garam dan natrium, seperti makanan kaleng, mi instan, keripik gurih, daging olahan (sosis, kornet), serta makanan cepat saji. Batasi juga konsumsi makanan berlemak jenuh tinggi dan alkohol.

3. Apakah marah atau stres bisa membuat tensi naik menjadi 150?

Ya, emosi negatif seperti stres parah, panik, dan kemarahan dapat memicu tubuh melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Hormon ini membuat jantung berdegup lebih cepat dan pembuluh darah menyempit, sehingga tekanan darah dapat melonjak drastis secara mendadak.

4. Jam berapa tensi darah biasanya paling tinggi?

Tekanan darah manusia memiliki ritme sirkadian. Tensi biasanya mulai naik beberapa jam sebelum bangun tidur, mencapai puncaknya pada pertengahan hari hingga sore hari, dan kembali turun mencapai titik terendahnya saat kita tidur pulas di malam hari.

Referensi:
American Heart Association. Diakses pada 2024. Understanding Blood Pressure Readings.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Hypertension.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. High blood pressure (hypertension) – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. High Blood Pressure (Hypertension).
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Tatalaksana Hipertensi Pada Penyakit Kardiovaskular.