• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Komplikasi Akibat Body Dysmorphic Disorder
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Komplikasi Akibat Body Dysmorphic Disorder

Komplikasi Akibat Body Dysmorphic Disorder

2 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 14 September 2022

“Body dysmorphic disorder mampu menurunkan kepercayaan diri pengidapnya. Alhasil, mereka yang mengalami gangguan ini rentan depresi hingga mengucilkan diri dari lingkungannya.”

Komplikasi Akibat Body Dysmorphic DisorderKomplikasi Akibat Body Dysmorphic Disorder

Halodoc, Jakarta – Body dysmorphic disorder adalah gangguan mental yang membuat pengidapnya selalu memikirkan kekurangan tubuh atau penampilannya. Mereka bisa merasa sangat malu dan cemas terhadap persepsi seseorang. 

Padahal, orang-orang di sekitarnya belum tentu menyadari kekurangan pengidap gangguan mental ini. Lambat laun, hal ini bisa memberikan dampak negatif pada kehidupan sehari-hari. Mulai dari mengisolasi diri dari lingkungan karena malu dan cemas. 

Ketahui Komplikasi Akibat Body Dysmorphic Disorder

Keasyikan dengan penampilan dan pikiran berlebihan serta perilaku berulang dapat menjadi hal yang tidak diinginkan, sulit dikendalikan, dan sangat menyita waktu sehingga dapat menyebabkan tekanan atau masalah besar dalam kehidupan sosial, pekerjaan, sekolah, atau area fungsi lainnya. Melansir dari Mayo Clinic, body dysmorphic disorder bisa menyebabkan komplikasi berikut:

  • Depresi berat 
  • Gangguan suasana hati
  • Muncul pikiran bunuh diri
  • Mengalami kecemasan hingga gangguan kecemasan sosial (social phobia)
  • Gangguan obsesif kompulsif
  • Gangguan makan
  • Penyalahgunaan zat 
  • Perilaku abnormal seperti menguliti
  • Kecanduan untuk menjalani prosedur kecantikan guna memperbaiki kekurangan.

Tanda dan Gejala Body Dysmorphic Disorder

Salah satu gejala utama body dysmorphic disorder yakni sibuk dengan penampilannya yang dirasa selalu kurang. Pengidapnya juga berkeyakinan kuat bahwa tubuhnya memiliki kecacatan atau penampilannya jelek. Bagi orang lain, hal ini padahal tidak dapat dilihat atau tampak sepele. 

Meski begitu, pengidap gangguan ini selalu merasa orang lain suka memperhatikan penampilannya dan memberi penilaian negatif. Atau, mereka juga selalu membandingkan penampilannya dengan orang lain. Alhasil, mereka berusaha menyembunyikan kekurangannya dengan riasan atau pakaian. 

Tidak selalu menyembunyikan, beberapa orang yang mengalami kondisi ini justru berusaha mengubah penampilannya. Caranya dengan bercermin setiap waktu, melakukan perawatan atau prosedur kecantikan berulang kali. 

Bagaimana Menangani Gangguan Mental Ini?

Penanganan body dysmorphic disorder ini bisa berupa kombinasi dari sejumlah perawatan. Contoh perawatan yang umumnya disarankan, yaitu:

  • Psikoterapi atau terapi perilaku kognitif. Melalui terapi ini, terapis akan membantu mengubah pola pikir dan perilaku pengidapnya. Selama sesi konseling, terapis mengoreksi pemikiran mereka tentang kekurangannya dan mengurangi tindakan kompulsif yang mungkin dilakukan pengidap gangguan ini.
  • Exposure and response prevention (ERP) adalah terapi yang melibatkan pemikiran dan situasi tertentu. Tujuannya untuk membuktikan kepada pasien bahwa pandangan tentang diri mereka sendiri tidak benar.
  • Obat antidepresan yang disebut inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) dapat menangani gejala suasana hati yang dialami pengidap.
  • Terapi kelompok atau keluarga adalah kunci keberhasilan pengobatan. Anggota keluarga akan belajar memahami gangguan ini dan mengenali tanda dan gejalanya.

Jika kamu mengalami tanda-tanda gangguan ini, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapat diagnosis yang tepat. Kalau kamu berencana mengunjungi rumah sakit, buat janji rumah sakit melalui aplikasi Halodoc supaya lebih mudah dan praktis. Jangan tunda untuk memeriksakan diri sebelum kondisinya semakin memburuk. Download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Body dysmorphic disorder.
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2022. Body dysmorphic disorder.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Body dysmorphic disorder.