• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Kondisi Apa yang Bisa Dideteksi Pemeriksaan Spirometri?

Kondisi Apa yang Bisa Dideteksi Pemeriksaan Spirometri?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Untuk mengevaluasi fungsi paru-paru dan mendeteksi masalah di dalamnya, pemeriksaan spirometri merupakan salah satu prosedur yang sering direkomendasikan dokter. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan alat bernama spirometer. Dalam prosedurnya, kamu akan diminta untuk bernapas pada alat tersebut.

Pemeriksaan spirometri biasanya dilakukan di rumah sakit atau tempat praktik dokter tertentu. Hanya dalam 15 menit, pemeriksaan spirometri dapat menunjukkan kondisi paru-paru, termasuk seberapa banyak udara yang bisa dihirup dan dikeluarkan. Lantas, kondisi apa saja yang bisa dideteksi lewat pemeriksaan spirometri?

Baca juga: Harus ke Dokter, Ini Cara Diagnosis Fibrosis Paru

Berbagai Kondisi yang Bisa Dideteksi Lewat Spirometri

Ada beberapa kondisi kesehatan yang bisa dideteksi lewat pemeriksaan spirometri. Salah satunya adalah penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). PPOK, yaitu penyakit paru akibat peradangan kronis yang menyebabkan aliran udara terhambat pada paru-paru sehingga menimbulkan batuk, sesak napas, dan mengi. Pemeriksaan spirometri biasanya dilakukan tiap 1-2 tahun untuk menilai fungsi pernapasan pada orang yang mengalami PPOK.

Adapun berbagai kondisi lain yang memerlukan spirometri adalah:

1. Asma

Asma adalah penyakit kronis akibat peradangan dan penyempitan saluran napas yang menimbulkan sesak napas dan batuk. Gejala penyakit ini bisa muncul jika terdapat infeksi, alergi, terpapar polusi, hingga kecemasan.

2. Fibrosis Kistik

Fibrosis kistik adalah kondisi genetik di mana paru-paru dan sistem pencernaan tersumbat oleh lendir yang tebal dan lengket.

Baca juga: Begini Proses untuk Melakukan Pemeriksaan Spirometri

3. Fibrosis Paru

Fibrosis paru terjadi ketika jaringan paru rusak dan terbentuk jaringan parut pada jaringan paru. Jaringan tersebut membuat paru menjadi lebih kaku sehingga mengganggu pernapasan.

Selain berbagai kondisi tersebut, pemeriksaan spirometri juga dapat membantu dokter dalam menentukan tingkat keparahan penyakit pada paru-paru yang dialami atau sebagai metode untuk menilai respons pengobatan. Jika kamu memiliki masalah paru-paru atau pernapasan, tanyakan pada dokter kemungkinan diperlukan tes spirometri untuk mengetahui adanya gangguan pada fungsi pernapasan. 

Setelah pemeriksaan spirometri dilakukan, dokter akan menjelaskan hasil pemeriksaan tersebut dan dapat memberikan pengobatan lebih lanjut. Agar lebih mudah dan cepat, download saja aplikasi Halodoc untuk buat janji dengan dokter di rumah sakit. Jadi, kamu tidak perlu lama-lama mengantri lagi deh di rumah sakit. 

Bagaimana Prosedur Spirometri Dilakukan?

Sekitar 24 jam sebelum prosedur spirometri dilakukan, sebaiknya hindari rokok dan konsumsi alkohol. Hindari juga melakukan olahraga berat atau makan dalam porsi besar beberapa jam sebelum pemeriksaan spirometri. Saat akan melakukan pemeriksaan, sebaiknya hindari juga mengenakan pakaian yang ketat. Dokter juga mungkin akan meminta untuk menghentikan penggunaan obat tertentu sebelumnya.

Baca juga: Waspadai 5 Penyakit Paru yang Umum Terjadi

Selanjutnya, urutan prosedur tes spirometri adalah:

  • Biasanya kamu akan diminta duduk di tempat yang disediakan oleh dokter. Setelah itu, dokter akan menaruh semacam klip di hidung yang berguna untuk menutup kedua lubang hidung.

  • Selanjutnya dokter akan memasang masker pernapasan di mulut dan memintamu untuk menarik napas dalam-dalam, menahan napas selama beberapa detik, lalu mengembuskan napas sekuat mungkin ke dalam masker pernapasan.

  • Biasanya prosedur ini dilakukan setidaknya tiga kali untuk memastikan hasil yang konsisten. Setelah dilakukan pemeriksaan dan didapatkan hasilnya, dokter akan menilai fungsi paru.

  • Setelah pemeriksaan spirometri awal selesai, ada kemungkinan dokter memberi obat bronkodilator hirup untuk melebarkan jalan napas. Kemudian setelah 15 menit akan dilakukan pemeriksaan spirometri ulang. Dokter juga akan membandingkan hasil kedua pengukuran tersebut untuk menilai efektivitas bronkodilator dalam memperbaiki jalan napas.

Setelah pemeriksaan spirometri selesai, kamu mungkin akan merasakan sedikit efek samping, seperti pusing dan sesak napas. Namun, efek ini biasanya akan berangsur membaik. Bicarakan dengan dokter jika mengalami efek samping lain atau tidak kunjung pulihnya efek samping yang dialami.

Referensi:
NHS Choices UK. Diakses pada 2020. Health A – Z. Spirometry.
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Tests & Procedures. Spirometry.
Healthline. Diakses pada 2020. Spirometry: What to Expect and How to Interpret Your Results.