• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Konsumsi Obat Tertentu Dapat Sebabkan Delirium, Benarkah?

Konsumsi Obat Tertentu Dapat Sebabkan Delirium, Benarkah?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
undefined

Halodoc, Jakarta – Delirium adalah kondisi yang dikenal dengan kebingungan parah yang dapat mengganggu tidur, konsentrasi, perhatian, terutama fungsi kognitif. Delirium dapat menjadi efek samping dari obat-obatan tertentu, kondisi medis, atau penyebab lain seperti pembedahan.

Delirium biasanya dimulai dengan cepat, dalam jangka waktu beberapa jam atau hari. Kondisi delirium bisa berkembang menjadi koma atau bahkan kematian bila tidak ditangani dengan benar. Informasi selengkapnya mengenai delirium bisa dibaca di sini!

Baca juga: Mitos atau Fakta, Malnutrisi Bisa Sebabkan Delirium

Kenapa Obat Tertentu Bisa Picu Delirium

Delirium adalah gangguan serius pada kemampuan mental yang mengakibatkan kebingungan berpikir dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan. Delirium bisa disebabkan karena perubahan keseimbangan metabolik (seperti natrium rendah) dan pengobatan tertentu termasuk konsumsi obat.

Beberapa obat atau kombinasi obat dapat memicu delirium, termasuk:

1. Obat nyeri.

2. Obat tidur.

3. Pengobatan untuk gangguan mood, seperti kecemasan dan depresi.

3. Obat alergi (antihistamin).

4. Obat asma.

5. Obat steroid disebut kortikosteroid.

6. Obat penyakit Parkinson.

7. Obat untuk mengobati kejang. 

Menurut Harvard Health Publishing, apa pun yang mengganggu fungsi otak normal dapat menyebabkan delirium. Peradangan atau zat beracun dapat mengganggu neurotransmitter yang berkomunikasi antar sel saraf, sehingga berdampak pada fungsi otak. 

Meskipun penyebab delirium sangat kompleks, salah satu jalur utamanya melibatkan neurotransmitter asetilkolin. Jika kadar gula darah turun terlalu rendah atau otak tidak menerima cukup oksigen, kadar asetilkolin bisa anjlok.

Baca juga: Harus Tahu, Penanganan untuk Mengatasi Delirium

Banyak obat antikolinergik (obat yang mengurangi efek asetilkolin), termasuk antihistamin diphenhydramine (Benadryl), obat inkontinensia oxybutynin (Ditropan), dan tolterodine (Detrol), yang dapat memicu delirium sebagai efek samping. 

Orang yang sudah berumur memproduksi lebih sedikit asetilkolin ketimbang mereka yang berusia lebih muda. Nah, ini menjadi salah satu risiko juga mengalami delirium. Biasanya, pengidap demensia juga bisa mengalami delirium. Delirium biasanya muncul dengan cepat, berfluktuasi dalam tingkat keparahan, melibatkan perubahan kesadaran dan perhatian, dan hilang dalam beberapa hari atau minggu. Sedangkan demensia datang secara perlahan, progresif dan biasanya permanen, dan tidak mengubah kesadaran atau perhatian, kecuali kondisinya sangat parah.

Penanganan Delirium

Adapun penanganan untuk kondisi delirium termasuk:

1. Antibiotik untuk infeksi.

2. Cairan dan elektrolit untuk dehidrasi.

3. Benzodiazepin untuk masalah akibat penghentian obat dan alkohol.

Dokter juga biasanya akan meresepkan obat antipsikotik, yang mengobati agitasi dan halusinasi serta memperbaiki masalah sensorik. Obat antipsikotik meliputi:

1. Haloperidol.

2. Risperidone.

3. Olanzapine.

4. Quetiapine.

Sering kali, perawatan untuk delirium berfokus pada lingkungan. Lebih baik jika orang tersebut berada dalam suasana yang tenang. Membiasakan pola tidur yang baik juga bisa menjadi salah satu penanganan delirium. Orang yang mengidap delirium disarankan untuk tetap terjaga pada siang hari dan terkena sinar matahari. Kemudian, saat tidur malam usahakan untuk mendapatkan waktu tidur yang tenang dan tidak bising.

Orang delirium haruslah bisa memahami lingkungan mereka dan tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Kelilingi diri dengan barang-barang dari rumah, seperti foto, selimut, atau jam di samping tempat tidur. Hal-hal ini akan membantu orang tersebut merasa lebih nyaman di lingkungannya. 

Baca juga: Begini Proses Diagnosis Gangguan Mental Delirium

Pastikan orang dengan delirium mendapatkan pola makan yang bergizi kemudian olahraga rutin dan mendapatkan arahan dari orang lain mengenai kejadian terkini. Itulah tadi informasi seputar delirium dan konsumsi obat yang bisa memicu delirium. Kalau kamu membutuhkan obat tertentu dan malas keluar rumah, kontak saja Halodoc. Download aplikasinya sekarang juga ya!

Referensi:

Cleveland Clinic. Diakses pada 2021. Delirium: Management and Treatment.
Harvard Health Publishing. Diakses pada 2021. Delirium.
Mayo Clinic. Diakses pada 2021. Delirium.
Very Well Mind. Diakses pada 2021. What is Delirium?