Ad Placeholder Image

Kurang Tidur Bisa Sebabkan Obesitas, Benarkah? Ini Penjelasan Medisnya

7 menit
Ditinjau oleh  dr. Fauzan Azhari SpPD 14 Juli 2026

Kurang tidur memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar, meningkatkan keinginan mengonsumsi makanan tinggi kalori, menurunkan aktivitas fisik, serta mengganggu metabolisme tubuh.

Kurang Tidur Bisa Sebabkan Obesitas, Benarkah? Ini Penjelasan MedisnyaKurang Tidur Bisa Sebabkan Obesitas, Benarkah? Ini Penjelasan Medisnya

DAFTAR ISI


Banyak orang menganggap pola makan dan kurang olahraga sebagai penyebab utama obesitas. Padahal, ada satu faktor yang sering diabaikan, yaitu kurang tidur. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kualitas dan durasi tidur memiliki peran penting dalam mengatur berat badan, nafsu makan, hingga metabolisme tubuh.

Bahkan, orang dewasa yang secara rutin tidur kurang dari waktu yang dianjurkan diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami kelebihan berat badan maupun obesitas dibandingkan mereka yang memiliki waktu tidur cukup.

Lalu, bagaimana kurang tidur bisa memengaruhi berat badan? Simak penjelasan medisnya berikut ini!

Hubungan Tidur dan Obesitas Sudah Banyak Diteliti

Tidur bukan sekadar waktu bagi tubuh untuk beristirahat. Saat tidur, tubuh menjalankan berbagai proses penting, mulai dari memperbaiki jaringan, mengatur hormon, memperkuat sistem imun, hingga menjaga keseimbangan metabolisme.

Menurut berbagai penelitian, orang dewasa dianjurkan tidur sekitar 7–9 jam setiap malam. Sementara itu, anak-anak dan remaja membutuhkan waktu tidur yang lebih panjang sesuai usianya.

Sayangnya, banyak orang tidak memenuhi kebutuhan tidur tersebut. Kesibukan bekerja, penggunaan gawai sebelum tidur, stres, hingga gangguan tidur membuat durasi tidur semakin berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi cara tubuh mengatur rasa lapar dan penggunaan energi.

Masih kesulitan tidur? Ini Ahli Medis yang Bisa Bantu Perawatan Insomnia Berat untuk kamu hubungi.

Kurang Tidur Bisa Meningkatkan Nafsu Makan

Salah satu alasan mengapa kurang tidur berkaitan dengan obesitas adalah perubahan hormon yang mengatur rasa lapar.

Saat seseorang kurang tidur, kadar hormon ghrelin, yaitu hormon yang merangsang rasa lapar, cenderung meningkat. Sebaliknya, kadar hormon leptin, yang berfungsi memberikan sinyal kenyang ke otak, justru menurun.

Akibatnya, seseorang akan lebih mudah merasa lapar meski kebutuhan energinya sebenarnya sudah terpenuhi.

Kondisi ini juga membuat seseorang lebih sulit mengontrol porsi makan dan lebih sering mencari camilan, terutama makanan tinggi gula, garam, dan lemak.

Kurang Tidur Membuat Tubuh Menginginkan Makanan Tinggi Kalori

Selain meningkatkan rasa lapar, kurang tidur juga dapat memengaruhi cara otak merespons makanan.

Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan aktivitas pada area otak yang berkaitan dengan sistem penghargaan (reward system). Akibatnya, makanan tinggi kalori terasa lebih menarik dibandingkan makanan sehat.

Tidak heran jika orang yang sering begadang lebih mudah tergoda mengonsumsi makanan cepat saji, minuman manis, atau camilan tinggi kalori pada malam hari.

Jika kebiasaan tersebut berlangsung terus-menerus, asupan kalori harian akan meningkat sehingga berat badan lebih mudah bertambah.

Waktu Bangun Lebih Lama Berarti Kesempatan Makan Lebih Banyak

Kurang tidur juga berarti seseorang memiliki waktu terjaga yang lebih panjang.

Semakin lama seseorang terjaga, semakin besar pula peluang untuk makan di luar jadwal utama. Banyak orang yang begadang cenderung mengonsumsi makanan ringan atau minuman manis saat larut malam.

Padahal, camilan malam sering kali mengandung kalori tinggi tetapi rendah serat dan protein. Jika kebiasaan ini dilakukan setiap hari, kelebihan kalori akan tersimpan sebagai lemak tubuh.

Jika butuh saran tentang pola makan sesuai kondisi tubuhmu, Ini Rekomendasi Dokter Gizi di Halodoc yang Bisa Dihubungi.

Kurang Tidur Menurunkan Energi untuk Berolahraga

Dampak kurang tidur tidak hanya memengaruhi pola makan, tetapi juga aktivitas fisik.

Orang yang tidur terlalu sedikit biasanya merasa lebih lelah, mengantuk, dan kurang bersemangat untuk bergerak. Akibatnya, mereka cenderung mengurangi aktivitas fisik atau melewatkan jadwal olahraga.

Penurunan aktivitas fisik berarti tubuh membakar lebih sedikit kalori. Ketika kondisi ini terjadi bersamaan dengan peningkatan asupan makanan, risiko kenaikan berat badan menjadi semakin besar.

Tidur yang Buruk Dapat Memengaruhi Metabolisme

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa kurang tidur dapat mengganggu metabolisme glukosa dan sensitivitas insulin.

Ketika tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, kadar gula darah akan lebih sulit dikendalikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, diabetes tipe 2, serta obesitas.

Selain itu, kurang tidur juga dikaitkan dengan peningkatan hormon stres, yaitu kortisol. Kadar kortisol yang tinggi dapat memicu penumpukan lemak, terutama di area perut.

Apakah Tidur Lebih Lama Bisa Menurunkan Berat Badan?

Tidur yang cukup memang dapat membantu mendukung program penurunan berat badan. Namun, tidur bukanlah solusi tunggal untuk mengatasi obesitas.

Penurunan berat badan tetap membutuhkan kombinasi antara pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang rutin, pengelolaan stres, dan kebiasaan tidur yang baik.

Dengan kata lain, tidur yang cukup membantu tubuh mengatur rasa lapar dan metabolisme secara lebih optimal sehingga lebih mudah mempertahankan berat badan yang sehat.

Tips Memperbaiki Kualitas Tidur

Jika ingin menjaga berat badan sekaligus meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, cobalah menerapkan beberapa kebiasaan berikut:

  • Tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, termasuk saat akhir pekan.
  • Usahakan tidur selama 7–9 jam setiap malam.
  • Hindari penggunaan ponsel, tablet, atau laptop setidaknya satu jam sebelum tidur.
  • Batasi konsumsi kafein dan minuman berenergi pada sore atau malam hari.
  • Ciptakan suasana kamar yang gelap, tenang, dan sejuk.
  • Lakukan aktivitas relaksasi, seperti membaca buku atau latihan pernapasan sebelum tidur.
  • Rutin berolahraga, tetapi hindari olahraga berat menjelang waktu tidur.

Jika mengalami kesulitan tidur yang berlangsung lama atau disertai dengkuran keras dan rasa kantuk berlebihan di siang hari, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan tidur, seperti insomnia atau sleep apnea.

Sementara itu, jika kamu mengalami obesitas dan ingin menurunkan berat badan, cara yang bisa dilakukan bukan hanya memperbaiki kualitas tidur.

Kamu bisa mengikuti program diet tepat seperti Halofit by Halodoc.

Ini Cara Menurunkan Berat Badan Tepat dengan Program Klinis dari Halofit

Sedang mencari cara menurunkan berat badan dengan cepat tapi tetap aman dan diawasi dokter?

Kini kamu bisa mencapainya lewat Halofit, layanan Klinik Obesitas Digital dari Halodoc yang menawarkan pendekatan klinis, nutrisi, dan gaya hidup sehat secara menyeluruh.

Halofit dirancang khusus untuk membantu kamu menemukan cara menurunkan berat badan yang benar-benar efektif, bukan sekadar diet sementara.

Dengan dukungan dokter dan ahli gizi profesional, setiap program Halofit disesuaikan dengan kondisi tubuh, pola makan, dan target penurunan berat badanmu.

Program ini dirancang untuk membantu kamu menurunkan berat badan 10-12 kg* dalam 2 bulan dengan cara yang sehat dan aman, di bawah pengawasan dokter dan dietisien. 

Berikut dua pilihan program yang bisa kamu pilih sesuai kebutuhan:

1. Halofit Advanced – Rp750.000/bulan

Paket Halofit Advanced - obat diet ampuh

Cocok bagi kamu yang ingin memulai perjalanan sehat dengan pendampingan dokter dan ahli gizi selama 30 hari.

Program Halofit Advanced mencakup meal plan personal, serta obat pendamping penurun berat badan yang diresepkan langsung oleh dokter untuk mendukung hasil yang aman dan maksimal.

2. Halofit Transform –  Mulai dari Rp3.300.000/bulan

Paket Halofit Transform - obat diet ampuh

Program Halofit Transform adalah program premium bagi kamu yang membutuhkan cara menurunkan berat badan dengan cepat dan terukur melalui terapi injeksi GLP-1.

Terapi ini telah terbukti secara klinis membantu mengontrol nafsu makan dan mempercepat penurunan berat badan.

Dengan pengawasan dokter, kamu akan mendapatkan dukungan medis lengkap beserta obat diet paling ampuh sesuai kebutuhan tubuhmu.

Semua layanan ini tersedia langsung di aplikasi Halodoc, mulai dari konsultasi, pemesanan paket, hingga pemantauan progres, semuanya bisa dilakukan tanpa perlu datang ke klinik.

Tunggu apa lagi?  Kamu bisa klik di sini untuk mulai coba program Halofit!

Bingung Bagaimana Cara Tepat untuk Mulai Diet? Tanya HILDA, Gratis!

Sudah punya rencana untuk menurunkan berat badan tapi malah makin stres karena bingung harus mulai dari mana? Berhenti scrolling di internet yang cuma bikin tambah bingung, ya!
Kenalin HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant), asisten AI pintar yang siap jadi “pintu pertama” perjalanan sehatmu di Halodoc. HILDA bukan cuma asisten biasa; dia bakal bantu kamu:

  • Kasih Gambaran Awal: Jawab pertanyaan kesehatan umum atau pertanyaan seputar cara menurunkan berat badan dalam sekejap.
  • Navigasi Spesialis: Bingung mau ke dokter apa? HILDA bakal arahkan ke dokter spesialis yang paling pas.
  • Solusi Cepat: Mulai dari cari obat sampai layanan kesehatan yang tepat, semua dibantu HILDA.

Gak perlu bingung lagi, ada HILDA yang selalu siaga. Download Halodoc sekarang!