Ad Placeholder Image

Laktosa vs. Sukrosa: Definisi dan Perbedaan Mendasar

3 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   23 Juni 2026

Laktosa dan sukrosa memiliki perbedaan signifikan dalam struktur kimia, sumber, dan bagaimana tubuh memprosesnya.

Laktosa vs. Sukrosa: Definisi dan Perbedaan MendasarLaktosa vs. Sukrosa: Definisi dan Perbedaan Mendasar

DAFTAR ISI


Dalam dunia nutrisi dan kesehatan, kamu mungkin sering mendengar istilah karbohidrat atau gula. Namun, tahukah kamu bahwa tidak semua gula diciptakan sama? Secara ilmiah, gula terbagi ke dalam beberapa kategori, seperti monosakarida (gula sederhana) dan disakarida (gula ganda). Dua jenis disakarida yang paling umum dijumpai dalam pola makan sehari-hari masyarakat Indonesia adalah laktosa dan sukrosa.

Memahami perbedaan antara laktosa dan sukrosa sangatlah penting, terutama bagi kamu yang peduli dengan kesehatan metabolisme dan pencernaan. Banyak orang tidak menyadari bahwa masalah pencernaan yang sering mereka alami setelah makan atau minum sesuatu bisa jadi berakar dari ketidakmampuan tubuh memecah jenis gula tertentu. Oleh karena itu, mengenali sumber, cara kerja, dan efek samping dari kedua jenis gula ini merupakan langkah awal yang krusial untuk mencegah masalah gizi dan penyakit kronis.

Sayangnya, di era modern ini, konsumsi gula tambahan semakin sulit dihindari. Mulai dari minuman kemasan, produk olahan susu, hingga makanan ringan harian, semuanya mengandung kombinasi jenis-jenis gula ini. Jika dibiarkan tanpa kendali, konsumsi yang tidak tepat bisa memicu berbagai masalah kesehatan yang serius.

Nah, mau tahu apa saja fakta, perbedaan mendasar, dan dampak laktosa serta sukrosa pada tubuh kamu? Berikut ulasan lengkap yang perlu kamu pahami!

Mengenal Jenis Gula dalam Makanan

Karbohidrat yang kamu konsumsi setiap hari akan dipecah oleh sistem pencernaan menjadi bentuk molekul terkecil yang disebut glukosa, agar dapat diserap ke dalam aliran darah dan digunakan sebagai energi utama sel. Laktosa dan sukrosa merupakan bentuk karbohidrat ganda atau disakarida. Artinya, masing-masing terdiri dari gabungan dua molekul gula sederhana (monosakarida).

Meskipun keduanya diklasifikasikan sebagai gula, laktosa dan sukrosa memiliki sumber alami yang sangat berbeda, serta diproses oleh dua jenis enzim yang sama sekali berbeda di dalam usus manusia. Perbedaan jalur pencernaan inilah yang sering kali menjadi penentu mengapa seseorang bisa sehat-sehat saja saat mengonsumsi makanan manis, namun langsung mengalami masalah pencernaan ketika minum susu murni.

Apa Itu Laktosa dan Bagaimana Tubuh Mencernanya?

Laktosa sering dikenal secara umum sebagai “gula susu”. Secara kimia, laktosa adalah disakarida yang terbentuk dari gabungan dua molekul gula sederhana, yaitu glukosa dan galaktosa. Gula ini secara alami hanya ditemukan pada susu mamalia, termasuk Air Susu Ibu (ASI), susu sapi, susu kambing, dan berbagai produk olahan susu (dairy) seperti keju, yogurt, dan mentega.

Untuk dapat diserap oleh tubuh, laktosa harus dipecah terlebih dahulu di dalam usus halus. Tubuh memproduksi enzim khusus yang disebut laktase untuk melakukan tugas ini. Enzim laktase akan memisahkan ikatan laktosa menjadi molekul glukosa dan galaktosa, yang kemudian dengan mudah masuk ke dalam aliran darah.

Masalah timbul ketika tubuh tidak memproduksi cukup enzim laktase, suatu kondisi yang dikenal luas sebagai intoleransi laktosa (lactose intolerance). Saat laktosa tidak tercerna dengan baik di usus halus, gula ini akan terus bergerak menuju usus besar. Di usus besar, bakteri alami akan memfermentasi laktosa yang tidak tercerna tersebut. Jika kamu mengalami gejala kembung parah, sakit perut melilit, sering buang gas, hingga diare cair yang tak kunjung reda setelah minum susu sapi, ada kemungkinan kuat kamu mengalami kondisi intoleransi ini dan memerlukan konsultasi medis untuk mendapatkan diagnosis serta panduan diet yang tepat.

Apa Itu Sukrosa dan Dampaknya pada Kesehatan?

Berbeda dengan laktosa, sukrosa adalah apa yang sehari-hari kita sebut sebagai “gula pasir” atau “gula meja”. Sukrosa merupakan disakarida yang terdiri dari ikatan antara molekul glukosa dan fruktosa. Secara alami, sukrosa ditemukan dalam jumlah tinggi pada tanaman tebu dan bit gula, serta dapat ditemukan dalam jumlah yang lebih kecil pada madu, buah-buahan, dan sayuran manis.

Saat kamu mengonsumsi makanan yang mengandung sukrosa, enzim sukrase yang berada di dinding usus halus akan memecah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. Glukosa akan langsung masuk ke peredaran darah dan meningkatkan kadar gula darah secara cepat, sedangkan fruktosa akan dikirim langsung ke organ hati untuk diproses lebih lanjut.

Konsumsi sukrosa dalam bentuk buah utuh (yang juga kaya akan serat pangan, air, dan vitamin) umumnya tidak menimbulkan masalah bagi kesehatan. Namun, konsumsi sukrosa berlebih yang diekstrak menjadi gula pasir dan ditambahkan ke dalam makanan atau minuman (added sugar) dapat membawa dampak buruk. Beban fruktosa yang berlebihan dapat memicu perlemakan hati (fatty liver), peningkatan trigliserida, obesitas, hingga meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2 dan penyakit jantung. Jika kamu sudah dianjurkan untuk mengurangi asupan gula tetapi masih bingung mencari alternatifnya, kamu bisa beli pemanis alami rendah kalori serta suplemen penunjang metabolisme yang aman langsung melalui apotek online resmi yang terpercaya.

Perbedaan Utama Laktosa dan Sukrosa

1. Sumber Alami Makanan

Perbedaan paling mencolok antara laktosa dan sukrosa adalah sumber asalnya. Laktosa secara eksklusif berasal dari dunia hewani, tepatnya dari kelenjar susu mamalia. Tidak ada tumbuhan yang secara alami menghasilkan laktosa. Sebaliknya, sukrosa adalah produk dari dunia nabati (tumbuh-tumbuhan). Sukrosa disintesis oleh tanaman selama proses fotosintesis sebagai cara mereka menyimpan energi.

2. Tingkat Kemanisan (Sweetness Index)

Jika kamu pernah mencoba mengonsumsi susu tanpa tambahan rasa apa pun, kamu mungkin menyadari bahwa susu rasanya gurih, bukan manis pekat. Hal ini karena laktosa memiliki tingkat kemanisan yang sangat rendah, yaitu hanya sekitar 16-20% dari tingkat kemanisan sukrosa. Sukrosa digunakan sebagai standar universal indeks rasa manis (dengan nilai 100). Fruktosa, salah satu penyusun sukrosa, merupakan jenis gula yang paling manis secara alami.

3. Enzim Pemecah (Sistem Pencernaan)

Keduanya membutuhkan enzim berbeda untuk dicerna di dalam usus halus manusia. Laktosa sangat bergantung pada produksi enzim laktase, sedangkan sukrosa bergantung pada enzim sukrase. Hal yang menarik dari sisi medis adalah produksi enzim laktase secara alami menurun drastis pada mayoritas populasi manusia di dunia seiring bertambahnya usia, khususnya setelah masa penyapihan. Namun, produksi enzim sukrase umumnya tetap stabil di sepanjang kehidupan manusia.

Tips Pintar Membatasi Asupan Gula dan Mengatasi Sensitivitas Tubuh
  1. Baca Label Kemasan dengan Teliti: Gula sering kali “bersembunyi” di balik nama-nama seperti cane sugar, corn syrup, maltodextrin, hingga whey powder. Pastikan kamu selalu membaca komposisi bahan.
  2. Pilih Alternatif Susu Plant-Based: Bagi kamu yang sensitif terhadap laktosa, beralih ke susu almond, susu kedelai (soy), atau susu oat bisa menjadi solusi praktis tanpa mengorbankan kebutuhan cairan tubuh.
  3. Gunakan Pemanis Alami Rendah Kalori: Untuk memotong asupan sukrosa harian tanpa kehilangan rasa manis, pertimbangkan penggunaan daun stevia atau monk fruit sebagai pengganti gula pasir dalam teh atau kopi kamu.
  4. Perhatikan Porsi Buah: Buah mengandung sukrosa alami, fruktosa, dan glukosa. Konsumsilah dalam bentuk buah potong segar utuh ketimbang diolah menjadi jus tanpa serat.

Studi Terkait Konsumsi Gula dan Kesehatan Pencernaan

National Institutes of Health (NIH) merilis data secara global yang memperkirakan bahwa sekitar 65 hingga 70 persen populasi orang dewasa di seluruh dunia mengalami penurunan kemampuan dalam mencerna laktosa (lactose malabsorption) setelah masa kanak-kanak berakhir. Prevalensi ini tercatat sangat tinggi di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara, yang mana lebih dari 90% orang dewasa memiliki kadar laktase yang amat minim.

Di sisi lain, sebuah jurnal epidemiologi dari American Heart Association (AHA) menerbitkan pedoman ketat yang membatasi konsumsi gula tambahan, termasuk sukrosa. AHA merekomendasikan batas maksimal gula tambahan harian tidak lebih dari 36 gram (sekitar 9 sendok teh) untuk pria, dan 25 gram (sekitar 6 sendok teh) untuk wanita. Studi klinis bertahun-tahun telah membuktikan secara meyakinkan korelasi kuat antara asupan sukrosa yang melebihi batas tersebut terhadap lonjakan angka prevalensi sindrom metabolik di masyarakat modern.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Umum via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Umum terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Lactose intolerance – Symptoms and causes.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. Lactose Intolerance.
American Heart Association. Diakses pada 2024. Added Sugars.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Sugars intake for adults and children.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Sucrose Intolerance.

FAQ

1. Apakah laktosa dan sukrosa aman untuk penderita diabetes?

Baik laktosa maupun sukrosa pada akhirnya akan meningkatkan kadar gula darah karena keduanya mengandung glukosa. Namun, sukrosa menyebabkan lonjakan gula darah yang jauh lebih drastis dan cepat dibandingkan laktosa. Penderita diabetes harus sangat membatasi asupan sukrosa (gula pasir) dan memantau konsumsi laktosa dari produk susu, idealnya berada di bawah bimbingan dokter atau ahli gizi.

2. Bisakah intoleransi laktosa disembuhkan?

Hingga saat ini, belum ada metode pengobatan medis yang dapat mengembalikan produksi enzim laktase tubuh secara permanen setelah kadarnya menurun. Intoleransi laktosa hanya dapat dikelola dengan cara mengurangi konsumsi susu sapi, beralih ke susu nabati (plant-based) atau produk bebas laktosa, serta mengonsumsi suplemen laktase sebelum mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa ringan.

3. Apakah ada kondisi tubuh tidak bisa mencerna sukrosa?

Ya, meskipun sangat jarang, ada kondisi genetik langka yang disebut CSID (Congenital Sucrase-Isomaltase Deficiency). Orang dengan kondisi ini terlahir tanpa kemampuan memproduksi enzim sukrase yang cukup di usus mereka. Akibatnya, mereka akan mengalami diare kronis, kram perut yang hebat, dan malabsorpsi nutrisi setiap kali mengonsumsi sukrosa secara tidak sengaja.

4. Kenapa susu bebas laktosa (lactose-free) rasanya lebih manis dari susu biasa?

Pada proses pembuatan susu bebas laktosa, produsen susu menambahkan enzim laktase langsung ke dalam produk tersebut. Enzim laktase ini memecah molekul laktosa menjadi glukosa dan galaktosa sebelum diminum. Karena reseptor lidah manusia mengenali glukosa dan galaktosa sebagai molekul yang lebih manis dibandingkan bentuk laktosa yang utuh, maka susu tersebut akan terasa sedikit lebih manis, meskipun tanpa penambahan gula buatan apa pun.