• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Lebih Sensitif, Ini Penyebab Bumil Mudah Menangis

Lebih Sensitif, Ini Penyebab Bumil Mudah Menangis

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Bukan hanya mengalami perubahan fisik, ibu hamil juga rentan mengalami perubahan emosi. Perubahan suasana hati dinilai akibat jumlah hormon yang fluktuatif. Hormon yang naik turun ini menyebabkan perubahan bahan kimia otak yang mengatur suasana hati. Akibatnya, ibu mungkin lebih sensitif dan mudah menangis selama kehamilan.

Melansir dari WebMD, perubahan suasana hati dan menangis adalah hal yang normal dari kehamilan, terutama selama trimester pertama saat hormon sedang naik-naiknya. Selain hormon, adakah penyebab lain dari ibu hamil yang menangis? Simak penjelasan berikut ini. 

Baca juga: Perawatan Wajah Bumil untuk Cegah Melasma

Kenapa Ibu Hamil Mudah Menangis?

Walaupun emosi adalah hal yang lumrah selama kehamilan, kamu perlu tahu dan memahami alasan mengapa ibu hamil bisa lebih sensitif dan mudah menangis. Melansir dari Healthline, berikut ini penyebab bumil mudah menangis berdasarkan trimester kehamilan, yaitu: 

  1. Trimester Pertama

Setiap wanita hamil mengalami perubahan emosi yang berbeda-beda. Ada yang mudah menangis sepanjang kehamilan dan ada pula yang menangis saat trimester pertama saja. Perasaan yang sensitif selama trimester pertama umumnya disebabkan oleh perubahan sekresi hormon. Kadar estrogen dan progesteron yang lebih tinggi bertanggung jawab atas perubahan suasana hati, sehingga bumil cenderung lekas marah dan mudah merasa sedih.

  1. Trimester Kedua dan Ketiga

Pergeseran hormon berlanjut ke trimester kedua dan ketiga. Oleh sebab itu, bumil akan mudah menangis selama waktu ini juga. Perubahan tubuh yang berlangsung cepat juga meningkatkan tingkat kecemasan. Akibatnya, beberapa bumil mungkin merasa lebih gelisah di trimester kedua.

Tingkat kecemasan ini mungkin akan berlanjut hingga trimester ketiga mengingat kelahiran sudah semakin dekat. Mungkin akan ada banyak hal yang bumil pikirkan, seperti kondisi kesehatan bayi, rasa sakit selama proses kelahiran sampai masalah finansial. 

Baca juga: Perlu Tahu, Ini 3 Peran Doula selama Kehamilan

Apakah Menangis Memengaruhi Janin?

Menangis sesekali tidak membahayakan bayi yang belum lahir. Namun, jika tangisan disebabkan oleh depresi berat selama kehamilan dapat berdampak negatif pada kehamilan ibu. Penelitian berjudul “Effects of prenatal maternal mental distress on birth outcomes” menyebutkan, masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi selama kehamilan meningkatkan peluang kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah. 

Ibu yang mengalami depresi berisiko tidak merawat dirinya sendiri dengan baik selama kehamilan. Ketika bumil tidak makan secara teratur, kurang mendapatkan asupan nutrisi, tidak memeriksakan diri, dan tidak berolahraga dapat memengaruhi kondisi bayi yang belum lahir.

Depresi selama kehamilan juga meningkatkan risiko depresi pasca persalinan yang memengaruhi cara ibu menjalin ikatan dengan bayi. Depresi pasca persalinan atau baby blues adalah hal biasa dan bukan hal yang harus ditutupi. Meski begitu, penting untuk berbicara dengan dokter untuk membantu ibu mengatasi kondisi tersebut. 

Baca juga: 7 Tanda Ibu Hamil Kekurangan Jumlah Kalium

Kalau ibu mengalami baby blues, ibu bisa bicara dengan dokter melalui aplikasi Halodoc tentang apa yang ibu alami dan rasakan. Lewat aplikasi, ibu dapat menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Ibu juga bisa membuat janji temu dengan dokter lewat aplikasi Halodoc, apabila ingin bicara dengan dokter secara langsung. Yuk, download Halodoc sekarang juga!

Referensi:
WebMD. Diakses pada 2020. Crying Spells.
Healthline. Diakses pada 2020. Does Pregnancy Have You Crying Like a Baby? Here’s Why and What You Can Do.
Science Direct. Diakses pada 2020.  Effects of prenatal maternal mental distress on birth outcomes.