
Manfaat Buncis untuk Kesehatan yang Perlu Diketahui
“Manfaat buncis untuk kesehatan sudah tak perlu diragukan lagi. Sayuran hijau ini mampu menjaga kesehatan saluran cerna hingga mencegah risiko kanker.”

DAFTAR ISI
- Profil Nutrisi Sayur Buncis
- Manfaat Buncis untuk Kesehatan
- Buncis untuk Pengidap Diabetes
- Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah
- Pentingnya Buncis bagi Ibu Hamil
- Cara Sehat Mengolah Buncis
- Studi Terkait
- FAQ
Sayur buncis (Phaseolus vulgaris) merupakan salah satu jenis sayuran polong-polongan yang sangat populer di meja makan keluarga Indonesia. Selain harganya yang terjangkau dan rasanya yang renyah manis, buncis menyimpan segudang manfaat kesehatan yang sering kali tidak disadari. Sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral yang luar biasa, buncis dapat diolah menjadi berbagai menu, mulai dari tumisan sederhana hingga campuran sup yang menghangatkan.
Dalam dunia gizi, buncis dikenal sebagai makanan rendah kalori namun kaya akan zat gizi mikro. Bagi kamu yang sedang menjalani program diet atau sekadar ingin menjaga pola hidup sehat, menyertakan buncis dalam asupan harian adalah langkah yang cerdas. Sayuran ini mengandung antioksidan penting yang membantu tubuh melawan radikal bebas, serta memiliki indeks glikemik yang rendah, menjadikannya pilihan aman bagi mereka yang perlu menjaga kestabilan gula darah.
Penting bagi kita untuk memahami bahwa kesehatan jangka panjang dimulai dari apa yang kita konsumsi setiap hari. Mengabaikan asupan sayuran hijau seperti buncis dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi penting yang berdampak pada kesehatan pencernaan, kekuatan tulang, hingga fungsi jantung. Dengan memahami profil nutrisi dan manfaatnya, kamu dapat lebih bijak dalam menyusun menu makanan harian untuk keluarga.
Nah, mau tahu apa saja ulasan lengkap mengenai manfaat sayur buncis untuk kesehatan? Simak pembahasannya di bawah ini!
Profil Nutrisi Sayur Buncis
Sebelum membahas manfaatnya secara mendalam, mari kita bedah apa saja yang terkandung di dalam 100 gram buncis mentah. Secara umum, buncis mengandung sekitar 31 kalori, menjadikannya pilihan makanan yang sangat rendah lemak. Meskipun rendah kalori, buncis kaya akan serat pangan yang sangat dibutuhkan oleh sistem pencernaan manusia.
Buncis merupakan sumber vitamin C yang baik, yang berperan sebagai antioksidan kuat untuk meningkatkan sistem imun tubuh. Selain itu, buncis mengandung vitamin K yang signifikan, yang penting untuk proses pembekuan darah dan kesehatan tulang. Kamu juga akan menemukan kandungan vitamin A (dalam bentuk beta-karoten), vitamin B kompleks (seperti folat, piridoksin, dan tiamin), serta mineral penting seperti mangan, kalium, dan zat besi.
Komposisi nutrisi yang kompleks ini menjadikan buncis lebih dari sekadar “pelengkap” sayuran di piring. Antioksidan seperti lutein dan zeaxanthin yang ada di dalamnya juga sangat baik untuk menjaga kesehatan mata dari degradasi makula akibat pertambahan usia.
Manfaat Buncis untuk Kesehatan
1. Menjaga Kesehatan Pencernaan
Buncis mengandung serat larut dan tidak larut yang tinggi. Serat tidak larut berfungsi untuk menambah massa pada feses dan membantu pergerakannya melalui usus, sehingga mencegah sembelit atau konstipasi. Sementara itu, serat larut dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Konsumsi buncis secara rutin dapat membantu menjaga ekosistem mikrobiota usus yang sehat.
2. Memperkuat Sistem Imun
Kandungan vitamin C dalam buncis bertindak sebagai pelindung sel-sel tubuh dari kerusakan oksidatif. Vitamin C juga merangsang produksi sel darah putih yang merupakan garda terdepan dalam melawan infeksi bakteri dan virus. Jika kamu sering merasa mudah lelah atau sering terkena flu, menambah porsi buncis dalam makanan bisa menjadi solusi alami yang efektif.
3. Mendukung Kesehatan Tulang
Vitamin K adalah nutrisi yang sering terlupakan, padahal perannya krusial dalam metabolisme tulang. Vitamin K membantu protein bernama osteokalsin untuk mengikat kalsium ke dalam matriks tulang. Kekurangan vitamin K berhubungan dengan risiko patah tulang yang lebih tinggi dan kepadatan tulang yang rendah. Buncis memberikan asupan vitamin K yang cukup untuk membantu menjaga tulang tetap kuat seiring bertambahnya usia.
Tips Memilih Buncis yang Berkualitas
- Pilih buncis yang warnanya hijau cerah dan tidak kusam.
- Pastikan teksturnya kaku dan mudah patah saat dibengkokkan (renyah).
- Hindari buncis yang kulitnya sudah berkerut atau memiliki bercak cokelat yang dalam.
Buncis untuk Pengidap Diabetes
Bagi pengidap diabetes, memilih makanan dengan indeks glikemik (IG) rendah adalah keharusan. Buncis memiliki nilai IG yang sangat rendah, yang berarti sayuran ini tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis setelah dikonsumsi. Serat dalam buncis memperlambat penyerapan karbohidrat, sehingga pelepasan glukosa ke dalam aliran darah menjadi lebih stabil.
Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa asupan serat yang tinggi dari sayuran hijau dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Hal ini sangat penting dalam manajemen diabetes tipe 2. Jika kamu memiliki kekhawatiran terkait kadar gula darah setelah mengonsumsi makanan tertentu, segera konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan saran medis yang tepat.
Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah
Kandungan kalium dan serat dalam buncis merupakan kombinasi sempurna untuk menjaga kesehatan kardiovaskular. Kalium membantu pembuluh darah untuk rileks (vasodilatasi), yang secara langsung dapat membantu menurunkan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Hipertensi yang tidak terkontrol merupakan faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.
Lebih lanjut, buncis tidak mengandung kolesterol dan sangat rendah natrium (jika tidak dimasak dengan banyak garam). Serat larut dalam buncis juga mengikat asam empedu di usus dan membawanya keluar dari tubuh, memaksa tubuh menggunakan simpanan kolesterol untuk memproduksi asam empedu baru, sehingga kadar LDL (kolesterol jahat) menurun.
Pentingnya Buncis bagi Ibu Hamil
Ibu hamil membutuhkan asupan asam folat yang cukup untuk mencegah cacat tabung saraf pada janin, seperti spina bifida. Buncis mengandung folat alami yang cukup tinggi. Selain itu, kandungan zat besi dalam buncis membantu mencegah anemia defisiensi besi yang sering dialami oleh wanita hamil karena peningkatan volume darah selama masa kehamilan.
Mengonsumsi buncis yang dimasak matang juga memberikan energi tambahan dari kandungan karbohidrat kompleksnya tanpa risiko kenaikan berat badan berlebih yang tidak sehat. Nutrisi dari buncis juga mendukung pertumbuhan sel-sel baru pada janin yang sedang berkembang pesat.
Cara Sehat Mengolah Buncis
Meskipun buncis sehat, cara mengolahnya sangat menentukan apakah nutrisinya tetap terjaga atau hilang. Memasak buncis terlalu lama (overcooked) dapat menghancurkan kandungan vitamin C dan folat yang sensitif terhadap panas. Teknik memasak yang paling direkomendasikan adalah mengukus (steaming) atau menumis cepat (stir-fry) dengan sedikit minyak sehat seperti minyak zaitun.
Penting untuk dicatat bahwa buncis sebaiknya tidak dikonsumsi dalam keadaan mentah dalam jumlah banyak. Buncis mentah mengandung lektin, sejenis protein yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare pada beberapa orang. Memasak buncis hingga matang atau setengah matang dapat menetralkan kandungan lektin tersebut sehingga aman dikonsumsi.
Studi Mengenai Manfaat Buncis
Nutrients Journal menerbitkan studi di tahun 2021 yang menjelaskan bahwa konsumsi polong-polongan termasuk buncis berhubungan dengan penurunan risiko obesitas dan sindrom metabolik secara signifikan. Penelitian tersebut menyoroti peran serat dan fitonutrien dalam mengontrol profil lipid darah.
Studi lain dalam British Journal of Nutrition menemukan bahwa asupan sayuran hijau yang kaya akan vitamin K dan magnesium berkontribusi pada kesehatan arteri, mencegah kalsifikasi pembuluh darah yang dapat memicu serangan jantung. Hal ini memperkuat alasan mengapa buncis harus menjadi bagian dari diet jantung sehat.
Untuk menunjang kesehatan tubuh selain dari konsumsi sayuran, kamu juga bisa beli obat online di Halodoc untuk memenuhi kebutuhan suplemen vitamin harianmu.
Punya Pertanyaan Seputar Nutrisi dan Kesehatan? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan atau bingung mengatur pola makan, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Healthline. Diakses pada 2026. Green Beans: Nutrition Facts and Health Benefits.
Medical News Today. Diakses pada 2026. Everything you need to know about green beans.
USDA FoodData Central. Diakses pada 2026. Beans, snap, green, raw.
WebMD. Diakses pada 2026. Health Benefits of Green Beans.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI).
FAQ
1. Apakah buncis mengandung purin yang tinggi bagi penderita asam urat?
Buncis mengandung purin dalam jumlah sedang (moderat). Bagi kebanyakan pengidap asam urat, buncis aman dikonsumsi asalkan tidak berlebihan dan tetap memperhatikan keseimbangan nutrisi lainnya.
2. Bolehkah buncis dimakan oleh bayi untuk MPASI?
Ya, buncis sangat baik untuk MPASI karena teksturnya mudah lunak jika dikukus dan dihaluskan. Buncis kaya akan serat dan vitamin yang mendukung pertumbuhan bayi usia 6 bulan ke atas.
3. Apa perbedaan nutrisi buncis segar dan buncis kalengan?
Buncis segar memiliki kandungan vitamin C dan folat yang lebih tinggi. Buncis kalengan sering kali mengandung tambahan natrium (garam) sebagai pengawet, sehingga disarankan untuk membilasnya terlebih dahulu sebelum dimasak.
4. Apakah buncis dapat membantu menurunkan berat badan?
Tentu saja. Kandungan serat yang tinggi menciptakan rasa kenyang lebih lama, sehingga membantu kamu mengontrol nafsu makan dan mengurangi asupan kalori harian secara keseluruhan.


