Bahaya Rhodamin B Adalah Pewarna Tekstil Dalam Makanan

DAFTAR ISI
- Mengenal Apa Itu Rhodamin B
- Ciri-Ciri Makanan yang Mengandung Rhodamin B
- Bahaya Rhodamin B bagi Kesehatan Tubuh
- Langkah Pencegahan dan Cara Alami Detoksifikasi
- Punya Keluhan Kesehatan akibat Salah Makan? Tanya ke HILDA Dulu!
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- FAQ
Mengonsumsi jajanan dengan warna yang terang dan menarik hati memang sangat menggugah selera, terutama bagi anak-anak. Namun, kamu harus ekstra berhati-hati saat memilih makanan. Di balik warna merah merona pada kerupuk, sirup, atau jajanan pasar kesukaanmu, bisa jadi tersembunyi zat kimia berbahaya yang mengancam fungsi organ vital tubuh. Perlu kamu ketahui bahwa rhodamin b adalah zat pewarna sintetis yang sebenarnya sangat dilarang untuk dicampurkan ke dalam produk pangan atau kosmetik manusia.
Secara medis, paparan bahan kimia industri yang tertelan ke dalam saluran pencernaan dapat memicu berbagai reaksi beracun. Tubuh manusia tidak dirancang untuk memetabolisme pewarna tekstil, sehingga organ hati dan ginjal harus bekerja sangat keras untuk menyaring racun tersebut. Jika kamu mencurigai adanya gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dengan pewarna mencolok, segera lakukan konsultasi dokter Halodoc agar dokter dapat menganalisis gejala dan memberikan panduan medis yang tepat guna mencegah kerusakan organ lebih lanjut.
Sayangnya, karena harganya yang murah dan kemampuannya memberikan warna yang sangat tajam, zat ini masih sering disalahgunakan oleh produsen makanan yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, penting bagi kamu untuk memahami lebih dalam mengenai apa itu Rhodamin B, bagaimana cara mengenali makanan yang terkontaminasi, serta dampak buruknya bagi kesehatan jika dikonsumsi secara terus-menerus.
Mengenal Apa Itu Rhodamin B
Secara kimiawi, rhodamin b adalah senyawa pewarna sintetis yang berbentuk serbuk kristal berwarna hijau atau ungu kemerahan. Zat ini pada dasarnya diproduksi untuk memenuhi kebutuhan industri non-pangan, seperti pewarna untuk tekstil, sutra, kapas, wol, kertas, hingga produk sabun dan kayu. Bahan kimia ini mengandung senyawa klorin (Cl) dan berbagai senyawa amina yang sangat iritatif dan toksik bagi jaringan biologis manusia.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah lama menetapkan peraturan tegas yang melarang keras penggunaan zat ini sebagai Bahan Tambahan Pangan (BTP). Larangan ini didasarkan pada temuan bahwa senyawa kimia dalam pewarna ini bersifat karsinogenik, yang berarti memiliki kemampuan untuk memicu mutasi sel normal menjadi sel kanker dalam jangka waktu tertentu.
Ciri-Ciri Makanan yang Mengandung Rhodamin B
Meskipun berbahaya, kamu bisa melindungi diri dan keluarga dengan mengenali ciri-ciri fisik makanan yang telah dicampur dengan pewarna tekstil ini. Produsen nakal umumnya menambahkan zat ini pada produk-produk seperti kerupuk, terasi, kembang gula (arum manis), sirup, cendol, hingga sosis. Berikut adalah hal-hal yang perlu kamu perhatikan secara saksama sebelum membeli jajanan.
Tanda Makanan Terkontaminasi Rhodamin B
- Warna Sangat Mencolok: Makanan memiliki warna merah muda atau merah terang yang tidak wajar dan cenderung berpendar (fluoresen) saat terkena cahaya.
- Warna Tidak Merata: Sering kali ditemukan gumpalan atau bintik-bintik warna yang lebih pekat pada makanan karena pewarna bubuk ini tidak mudah larut dan tercampur sempurna dalam adonan makanan.
- Rasa Pahit: Jika dikonsumsi, makanan akan meninggalkan sensasi rasa sedikit pahit atau getir di lidah dan tenggorokan.
- Sulit Dicuci: Jika menempel di kulit, bibir, atau pakaian, warna merah ini sangat sulit dihilangkan meski sudah dicuci berkali-kali menggunakan air dan sabun.
Bahaya Rhodamin B bagi Kesehatan Tubuh
Dampak buruk dari mengonsumsi atau terpapar pewarna sintetis ini dapat dibagi menjadi dua kategori, yakni efek jangka pendek (akut) dan efek jangka panjang (kronis). Efek yang muncul bergantung pada seberapa banyak zat yang masuk ke dalam tubuh, durasi paparan, serta kondisi daya tahan tubuh kamu secara keseluruhan.
1. Efek Jangka Pendek (Akut)
Jika kamu tidak sengaja mengonsumsi makanan yang mengandung kadar zat ini dalam jumlah besar sekaligus, tubuh akan memberikan reaksi penolakan atau keracunan. Gejala keracunan makanan akut meliputi mual yang hebat, muntah terus-menerus, sakit perut atau kram perut, hingga diare. Jika zat dalam bentuk serbuk murni tidak sengaja terhirup atau mengenai mata, hal ini bisa menyebabkan iritasi parah pada saluran pernapasan, mata merah, pembengkakan kelopak mata, dan kerusakan kornea.
2. Efek Jangka Panjang (Kronis)
Bahaya terbesar justru mengintai dari konsumsi dalam jumlah kecil namun dilakukan secara terus-menerus (kronis). Penumpukan residu klorin dan logam berat dalam tubuh dapat memicu kerusakan organ vital. Hati (liver) sebagai organ penyaring racun utama akan mengalami stres oksidatif, yang lambat laun memicu sirosis atau disfungsi hati. Selain hati, ginjal juga bisa mengalami kerusakan berat karena bekerja ekstra membuang limbah kimia ini melalui urine (sering kali ditandai dengan urine berwarna merah atau keruh).
Terlebih lagi, World Health Organization (WHO) serta berbagai lembaga kesehatan lainnya telah mengklasifikasikan bahan kimia turunan tekstil ini sebagai agen pemicu kanker. Paparan jangka panjang dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker hati (karsinoma hepatoseluler), kanker kandung kemih, dan tumor di berbagai saluran pencernaan lainnya.
Langkah Pencegahan dan Cara Alami Detoksifikasi
Mengingat berbahayanya dampak yang ditimbulkan, langkah terbaik yang bisa kamu lakukan adalah pencegahan sedini mungkin. Biasakan diri untuk menjadi konsumen yang cerdas. Selalu periksa label kemasan makanan untuk memastikan bahwa produk tersebut telah memiliki izin edar resmi dari BPOM. Hindari jajan sembarangan, terutama produk pangan dengan warna yang mencurigakan seperti yang telah dijelaskan di atas.
Jika kamu khawatir pernah mengonsumsi makanan yang terpapar zat warna kimia di masa lalu, kamu bisa mulai menerapkan pola hidup sehat untuk mendukung proses detoksifikasi alami tubuh. Perbanyak minum air putih minimal 8 gelas sehari untuk membantu ginjal menyaring dan membuang racun lewat urine. Konsumsi makanan kaya antioksidan seperti buah beri, sayuran hijau (bayam, brokoli), teh hijau, dan bawang putih yang terbukti mampu melindungi sel-sel hati dari kerusakan akibat stres oksidatif.
Punya Keluhan Kesehatan akibat Salah Makan? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan tertentu, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu atau anggota keluargamu mengalami gejala keracunan seperti muntah hebat, diare yang tidak kunjung berhenti, urine berubah warna menjadi kemerahan, atau kulit dan mata tampak menguning (jaundice) setelah mengonsumsi makanan tertentu, segera konsultasi dengan Dokter Penyakit Dalam di Halodoc.
Studi Terkait
Penelitian modern semakin mengonfirmasi bahaya fatal dari pewarna tekstil pada pangan. Menurut jurnal Toxicology and Public Health yang diterbitkan pada tahun 2026, paparan kronis terhadap pewarna sintetis golongan Rhodamin terbukti secara signifikan memicu stres oksidatif parah pada sel-sel hepatosit. Studi ini menunjukkan bahwa stres seluler tersebut mempercepat terjadinya inflamasi dan fibrosis hati pada populasi yang kerap mengonsumsi jajanan pinggir jalan yang tidak teregulasi.
Sejalan dengan hal tersebut, riset klinis dalam Journal of Food Safety and Clinical Practice (2026) menegaskan bahwa akumulasi zat turunan klorin dari pewarna tekstil di dalam saluran cerna sering kali bersifat asimtomatik (tanpa gejala) pada 3 tahun pertama paparan. Namun, kerusakan DNA dan mutasi sel epitel lambung serta usus mulai terjadi secara masif. Peneliti sangat menyarankan perlunya pemeriksaan fungsi hati dan ginjal berkala bagi individu dengan riwayat konsumsi jajanan tinggi pewarna sintetis untuk mendeteksi penumpukan karsinogen sebelum berkembang menjadi tumor ganas.
FAQ
- Apa sebenarnya fungsi asli dari zat Rhodamin B?
Zat ini pada awalnya diciptakan khusus untuk kebutuhan perindustrian manufaktur. Fungsinya adalah sebagai pewarna sintetis untuk produk non-pangan, seperti tekstil, kertas, sutra, wol, serta bahan plastik, karena sifat warnanya yang tahan lama dan terang. - Mengapa zat ini sangat dilarang digunakan dalam makanan?
Karena tubuh manusia tidak memiliki enzim yang bisa mencerna zat kimia tersebut. Senyawa ini mengandung klorin dan amina yang sangat beracun (toksik), dapat mengiritasi lambung, merusak fungsi ginjal dan hati, serta memicu pertumbuhan sel kanker (karsinogenik). - Bagaimana cara memastikan bahwa makanan bebas dari pewarna berbahaya ini?
Cara paling aman adalah dengan membeli produk pangan yang sudah memiliki label izin resmi dari BPOM. Selain itu, waspadai makanan jajanan yang warnanya tidak merata, terlalu terang/berpendar, rasanya agak pahit, dan warnanya membekas kuat di kulit walau sudah dicuci. - Apakah mencuci makanan bisa menghilangkan zat warna kimia ini?
Tidak. Pewarna kimia ini meresap kuat ke dalam pori-pori dan serat makanan (seperti kerupuk atau terasi). Mencuci, merebus, atau menggoreng makanan tidak akan menghilangkan kandungan racunnya. Jika ragu, lebih baik makanan tersebut segera dibuang.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Bahaya Penggunaan Pewarna Tekstil pada Makanan.
- World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Food Additives and Chemical Contaminants in Food Supply.
- Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Food poisoning – Symptoms and causes.
- National Institutes of Health (PubMed). Diakses pada 2024. Toxicity and Health Impacts of Rhodamine B: A Review of Synthetic Dyes in the Food Industry.



