Ad Placeholder Image

Mengenal Catcalling, Contoh Tindakan dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Cat calling merupakan bentuk pelecehan verbal dan non-verbal yang bisa berdampak pada kesehatan mental korban.

Mengenal Catcalling, Contoh Tindakan dan Dampaknya pada Kesehatan MentalMengenal Catcalling, Contoh Tindakan dan Dampaknya pada Kesehatan Mental

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu sedang berjalan sendirian di trotoar atau menunggu transportasi umum, lalu tiba-tiba ada sekelompok orang tak dikenal bersiul, memanggil dengan sebutan “cantik”, atau melontarkan komentar tidak pantas tentang tubuhmu? Fenomena ini sayangnya masih sangat sering terjadi di ruang publik dan kerap dianggap sebagai hal yang wajar atau sekadar candaan oleh sebagian masyarakat. Padahal, tindakan ini merupakan salah satu bentuk pelecehan seksual verbal yang nyata.

Secara umum, masyarakat Indonesia mulai mengenali istilah ini berkat meluasnya edukasi tentang kekerasan seksual di media sosial. Namun, masih banyak yang belum benar-benar memahami arti catcalling dalam bahasa gaul dan menganggapnya sebatas “godaan” semata. Anggapan yang meremehkan inilah yang membuat korban sering kali merasa suaranya tidak didengar, memicu rasa tidak aman, hingga berdampak buruk pada kesehatan mental mereka dalam jangka panjang.

Kesehatan tidak hanya sebatas fisik, tetapi juga mencakup kesejahteraan mental dan psikologis. Pelecehan jalanan seperti ini dapat memicu respons stres yang signifikan pada otak, menyebabkan trauma, kecemasan, hingga depresi. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk menyamakan persepsi, mengenali bentuk-bentuknya, dan memahami betapa berbahayanya dampak dari tindakan ini.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai makna istilah ini, dampaknya secara medis dan psikologis, serta bagaimana cara menghadapinya? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Arti Catcalling dalam Bahasa Gaul?

Dalam bahasa gaul atau percakapan sehari-hari di Indonesia, catcalling sering dipadankan dengan istilah “digodain di jalan”, “di-suit-suitin”, atau “iseng”. Namun, penggunaan kata-kata tersebut sebenarnya sangat bermasalah karena cenderung menormalisasi tindakan pelecehan. Secara harfiah dan makna sebenarnya, catcalling adalah bentuk pelecehan seksual di ruang publik (street harassment) yang melibatkan komentar verbal, siulan, atau gestur tubuh yang bersifat seksual dan tidak diinginkan oleh pihak yang dituju.

Pelaku biasanya melakukan tindakan ini untuk menunjukkan dominasi, mencari perhatian dengan cara yang tidak pantas, atau sekadar merasa memiliki “hak” untuk mengomentari fisik orang lain di ruang publik. Dalam konteks psikologis, tindakan ini merupakan bentuk objektifikasi, di mana pelaku melihat korban bukan sebagai manusia seutuhnya yang memiliki perasaan, melainkan sekadar objek visual untuk memuaskan mata atau ego mereka sesaat.

Bentuk-Bentuk Catcalling yang Sering Terjadi

Banyak orang mengira pelecehan ini hanya sebatas siulan. Kenyataannya, spektrum pelecehan jalanan ini sangat luas dan bisa terjadi dalam berbagai bentuk, baik verbal maupun non-verbal. Berikut adalah beberapa contoh tindakan yang termasuk di dalamnya:

1. Pelecehan Verbal

Ini adalah bentuk yang paling umum. Contohnya meliputi sapaan yang sok akrab namun membuat tidak nyaman (seperti “Halo cantik”, “Sendirian aja nih”, atau “Mau ke mana neng?”), komentar eksplisit mengenai bentuk tubuh atau pakaian, hingga melontarkan pertanyaan yang bersifat sangat pribadi dan memaksa secara seksual.

2. Pelecehan Non-Verbal atau Gestur

Bentuk ini tidak menggunakan kata-kata, tetapi dampaknya sama mengintimidasinya. Contohnya adalah siulan (wolf-whistling), membunyikan klakson kendaraan secara berulang dengan maksud menggoda, menatap bagian tubuh tertentu dengan intens (leering), memberikan gestur tangan yang cabul, hingga sengaja menghalangi jalan korban.

3. Mengikuti atau Stalking Jarak Dekat

Dalam tingkat yang lebih ekstrem, pelaku tidak hanya mengeluarkan suara atau gestur, tetapi mulai mengikuti langkah korban, menyamakan ritme jalan, atau mengendarai kendaraan bermotor dengan pelan di samping korban yang sedang berjalan kaki. Ini adalah bentuk intimidasi yang sangat mengancam keselamatan dan memicu respons panik pada korban.

Tips Menghadapi Pelecehan di Ruang Publik
  1. Tetap tenang dan jangan tunjukkan rasa takut: Pelaku sering kali mencari reaksi kelemahan. Berjalanlah dengan tegap dan tatapan lurus.
  2. Menjauh menuju keramaian: Jika merasa terancam, segera ubah rute menuju tempat yang terang dan banyak orang, seperti minimarket atau pos keamanan terdekat.
  3. Abaikan atau beri teguran tegas: Jika situasinya aman dan kamu merasa berani, berikan tatapan tajam atau teguran singkat seperti “Jangan ganggu!”. Namun, jika kamu merasa pelaku agresif, mengabaikan dan pergi menjauh adalah langkah paling aman.

Dampak Psikologis Catcalling pada Kesehatan Mental

Dari kacamata medis dan psikologi klinis, pelecehan jalanan bukanlah hal sepele. Pengalaman dilecehkan, sekecil apa pun, dapat memicu amigdala (bagian otak yang memproses rasa takut dan ancaman) untuk mengaktifkan respons fight or flight. Jika hal ini dialami secara berulang, dampaknya pada kesehatan mental sangat nyata, antara lain:

1. Kecemasan yang Persisten (Anxiety)

Korban sering kali mengembangkan rasa cemas berlebih setiap kali harus keluar rumah. Mereka menjadi hiperwaspada (hypervigilance), selalu memindai lingkungan sekitar untuk mencari potensi ancaman, yang pada akhirnya menguras energi mental dan memicu kelelahan kronis.

2. Perubahan Perilaku dan Ruang Gerak yang Terbatas

Untuk menghindari pelecehan, korban sering kali terpaksa mengubah gaya hidup mereka. Mulai dari mengubah rute perjalanan yang lebih jauh, membatasi jam keluar rumah hanya pada siang hari, hingga mengubah gaya berpakaian meskipun cuaca sedang panas. Rasa takut ini secara tidak langsung merampas kebebasan mereka di ruang publik.

3. Penurunan Harga Diri (Self-Esteem) dan Objektifikasi Diri

Komentar terus-menerus mengenai fisik dapat membuat korban mengalami objektifikasi diri (self-objectification). Mereka mulai melihat diri mereka dari sudut pandang pelaku, memicu rasa malu, tidak berharga, hingga gangguan citra tubuh (body dysmorphia).

4. Trauma dan Gejala PTSD Ringan

Pada individu yang memiliki riwayat kekerasan atau bagi mereka yang mengalami pelecehan jalanan yang sangat agresif (seperti diikuti), insiden ini bisa memicu memori traumatis atau gejala yang menyerupai Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD), seperti mimpi buruk, kilas balik, dan detak jantung berdebar kencang saat mendengar suara siulan.

Mengapa Catcalling Bukanlah Sebuah Pujian?

Banyak pelaku beralasan bahwa mereka hanya memuji kecantikan korban. Namun, dalam ilmu psikologi, ada garis batas yang sangat jelas antara pujian (compliment) dan pelecehan (harassment). Pujian didasari pada rasa hormat, diucapkan pada konteks yang tepat, dan bertujuan untuk membuat penerimanya merasa baik.

Sebaliknya, pelecehan jalanan tidak memiliki consent (persetujuan), melanggar privasi, dan dilakukan dari posisi relasi kuasa yang tidak seimbang. Pelaku sering bergerombol dan menyasar korban yang sendirian, menciptakan dinamika intimidasi. Oleh karena itu, reaksi yang muncul dari korban bukanlah rasa tersanjung, melainkan rasa jijik, takut, dan marah.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Psikolog?

Terkadang, dampak dari pelecehan seksual verbal bisa mengendap di alam bawah sadar dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari. Sangat disarankan untuk segera mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater jika kamu mengalami tanda-tanda berikut:

  • Ketakutan yang luar biasa hingga tidak berani keluar rumah atau menggunakan transportasi umum (gejala agorafobia).
  • Mengalami serangan panik (panic attack) yang ditandai dengan sesak napas, gemetar, dan detak jantung cepat saat teringat kejadian pelecehan.
  • Mengalami gangguan tidur kronis atau mimpi buruk yang berulang.
  • Merasakan stres, depresi, atau menyalahkan diri sendiri secara terus-menerus atas pakaian atau penampilanmu.

Konsultasi dengan Psikolog via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala kecemasan atau trauma yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Psikolog terpercaya. Kamu bisa menceritakan keluhanmu dengan aman dan rahasia terjamin, serta konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Studi Terkait

American Psychological Association (APA) menerbitkan berbagai laporan literatur yang menjelaskan bahwa pelecehan jalanan secara langsung berkorelasi dengan peningkatan tingkat depresi, kecemasan, dan gangguan citra tubuh pada korban, terutama perempuan usia muda.

Studi tersebut juga menyoroti bahwa objektifikasi seksual di ruang publik menguras kognitif korban, membuat mereka lebih sulit berkonsentrasi dalam pendidikan maupun pekerjaan karena otak mereka dipaksa untuk terus berada dalam status waspada terhadap ancaman lingkungan. Di Indonesia sendiri, survei dari berbagai lembaga swadaya masyarakat seperti Koalisi Ruang Publik Aman mencatat bahwa sebagian besar masyarakat pernah mengalami setidaknya satu bentuk pelecehan jalanan, menegaskan bahwa ini adalah masalah kesehatan masyarakat yang darurat.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
American Psychological Association (APA). Diakses pada 2024. Sexual Objectification of Women: Advances to Theory and Research.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Violence against women.
Stop Street Harassment. Diakses pada 2024. Statistics on Street Harassment.
Komnas Perempuan RI. Diakses pada 2024. Catatan Tahunan (CATAHU) tentang Kekerasan Berbasis Gender.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Dampak Pelecehan Seksual pada Kesehatan Mental Korban.

FAQ

1. Apakah catcalling termasuk tindak pidana di Indonesia?

Ya. Sejak disahkannya Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) Nomor 12 Tahun 2022, pelecehan seksual non-fisik (termasuk verbal dan gestur di ruang publik) telah diatur sebagai tindak pidana yang dapat dilaporkan ke pihak berwajib dengan ancaman sanksi pidana maupun denda.

2. Bagaimana cara menenangkan diri setelah menjadi korban pelecehan jalanan?

Segera cari tempat yang aman dan ramai. Lakukan teknik pernapasan dalam (tarik napas lambat dari hidung, hembuskan perlahan dari mulut) untuk menurunkan detak jantung. Hubungi teman dekat atau keluarga untuk menceritakan kejadian tersebut agar kamu tidak merasa sendirian, dan jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri.

3. Apakah pria juga bisa menjadi korban catcalling?

Tentu saja. Meskipun mayoritas korban adalah perempuan, pria juga bisa mengalami pelecehan seksual verbal di ruang publik. Dampak psikologisnya, seperti perasaan dilecehkan, malu, dan marah, sama validnya dan juga membutuhkan perhatian serius serta dukungan mental.

4. Bisakah trauma akibat pelecehan jalanan disembuhkan?

Bisa. Dengan dukungan yang tepat, baik dari lingkungan sosial maupun bantuan profesional dari psikolog klinis, korban dapat memproses trauma tersebut. Terapi seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) terbukti efektif membantu korban mengelola kecemasan dan mengembalikan rasa aman mereka di ruang publik.