Ad Placeholder Image

Mengenal Fakta Menarik Seputar Ganja yang Dilarang di Indonesia

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Ganja adalah tanaman yang mengandung senyawa psikoaktif tetrahidrokanabinol (THC) dan kerap digunakan secara ilegal sebagai narkotika, meski juga diteliti untuk manfaat medis di berbagai negara.

Mengenal Fakta Menarik Seputar Ganja yang Dilarang di IndonesiaMengenal Fakta Menarik Seputar Ganja yang Dilarang di Indonesia

DAFTAR ISI


Tanaman ganja atau Cannabis sativa sering kali menjadi topik perdebatan yang hangat, baik di kalangan masyarakat umum maupun di ranah medis. Di beberapa negara, tanaman ini telah dilegalkan untuk tujuan medis atau bahkan rekreasi. Namun, di Indonesia, statusnya sangat berbeda dan diatur dengan sangat ketat oleh hukum.

Banyak orang—terutama generasi muda yang terpapar informasi dari luar negeri—kerap bertanya-tanya kenapa ganja termasuk narkoba, padahal tanaman tersebut berasal dari alam. Dari kacamata medis dan farmakologi, penilaian terhadap suatu zat tidak hanya dilihat dari asalnya (apakah ia alami atau sintetis), melainkan dari dampaknya terhadap sistem saraf pusat manusia, potensi adiksi, serta risiko kerusakan organ tubuh jangka panjang.

Sebagai apoteker yang mendalami interaksi zat kimia dengan tubuh manusia, penting bagi saya untuk meluruskan miskonsepsi ini. Mengonsumsi ganja, terutama dengan cara dibakar atau diisap tanpa pengawasan medis dan kontrol dosis yang ketat, membawa risiko kesehatan yang masif. Hal ini berkisar dari gangguan fungsi kognitif hingga pemicu penyakit mental yang persisten.

Oleh karena itu, mari kita bedah secara ilmiah dan medis mengenai kandungan tanaman ini, efek farmakologisnya terhadap otak, dan alasan mendasar mengapa tanaman ini diklasifikasikan sebagai narkotika berbahaya di Indonesia.

Apa Itu Ganja dan Kandungan Utamanya?

Ganja (marijuana) adalah produk psikoaktif yang berasal dari bagian daun, bunga, batang, dan biji tanaman Cannabis sativa atau Cannabis indica yang dikeringkan. Tanaman ini mengandung lebih dari 100 senyawa kimia unik yang dikenal sebagai cannabinoid. Dari sekian banyak senyawa tersebut, ada dua senyawa utama yang paling banyak diteliti dan memberikan efek paling signifikan pada tubuh manusia, yaitu THC dan CBD.

1. Tetrahydrocannabinol (THC)

THC adalah senyawa psikoaktif utama dalam ganja. Senyawa inilah yang bertanggung jawab atas efek mabuk, high, atau euforia yang dirasakan oleh penggunanya. THC memiliki struktur kimia yang menyerupai zat alami dalam otak manusia (anandamide), sehingga ia dapat menempel pada reseptor otak dan mengubah komunikasi normal antar sel saraf.

2. Cannabidiol (CBD)

Berbeda dengan THC, CBD tidak bersifat psikoaktif. Artinya, senyawa ini tidak membuat seseorang merasa “mabuk”. Dalam dunia farmakologi modern, isolat CBD murni terkadang diteliti untuk potensi medisnya, seperti mengurangi kejang pada jenis epilepsi langka tertentu. Namun, penting untuk dicatat bahwa dalam tanaman ganja utuh, CBD selalu bercampur dengan THC yang berbahaya.

Cara Kerja THC pada Reseptor Otak

Tubuh manusia memiliki sistem komunikasi yang sangat kompleks bernama Sistem Endocannabinoid (ECS). Sistem ini berperan penting dalam mengatur berbagai fungsi dasar tubuh, mulai dari suasana hati (mood), nafsu makan, siklus tidur, persepsi rasa sakit, hingga proses pembentukan memori.

Ketika seseorang mengisap atau mengonsumsi ganja, THC akan masuk ke aliran darah dan dengan cepat mencapai otak. Di sana, THC akan “membajak” reseptor cannabinoid (terutama reseptor CB1 yang banyak terdapat di otak). Karena bentuk kimia THC sangat mirip dengan endocannabinoid alami tubuh, reseptor ini merespons dengan melepaskan dopamin dalam jumlah besar dan tidak wajar.

Banjir dopamin inilah yang menciptakan sensasi euforia atau “high“. Namun, stimulasi berlebihan pada sistem ini mengacaukan fungsi normal otak. Hal ini menyebabkan distorsi ruang dan waktu, hilangnya koordinasi motorik, hingga ketidakmampuan otak untuk memproses memori baru dengan baik. Inilah alasan farmakologis kuat kenapa ganja termasuk narkoba yang berbahaya bagi fungsi saraf pusat.

Tanda-tanda Intoksikasi (Keracunan) Ganja
  1. Mata merah (karena pelebaran pembuluh darah di mata).
  2. Mulut terasa sangat kering (cottonmouth).
  3. Detak jantung meningkat secara drastis (takikardia).
  4. Kecemasan ekstrem, paranoia, atau serangan panik secara mendadak.

Kenapa Ganja Termasuk Narkoba Golongan I di Indonesia?

Di Indonesia, pengaturan zat adiktif dan narkotika didasarkan pada kajian medis dan dampak sosialnya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, ganja, beserta seluruh bagian tanamannya (termasuk biji, buah, jerami, serta olahannya seperti hasis), secara tegas diklasifikasikan sebagai Narkotika Golongan I.

Apa arti dari Narkotika Golongan I? Dalam klasifikasi farmakologi hukum di Indonesia, Golongan I diperuntukkan bagi zat-zat yang:

1. Hanya Boleh Digunakan untuk Tujuan Ilmu Pengetahuan

Narkotika Golongan I tidak boleh digunakan untuk terapi atau pengobatan klinis (tidak masuk dalam formularium nasional rumah sakit). Hal ini karena risiko efek sampingnya jauh melebihi potensi manfaat medisnya.

2. Memiliki Potensi Ketergantungan yang Sangat Tinggi

Pemakaian zat ini memicu adiksi yang parah. Otak pengguna ganja kronis akan mengalami down-regulation (penurunan sensitivitas reseptor), yang berarti mereka membutuhkan dosis ganja yang semakin lama semakin besar untuk mendapatkan efek yang sama (toleransi), dan akan mengalami gejala putus zat (sakau) jika dihentikan.

Selain ganja, zat lain yang masuk dalam daftar Narkotika Golongan I ini adalah heroin (putaw), kokain, dan metamfetamin (sabu). Pengelompokan ini menunjukkan betapa seriusnya pemerintah dan ahli medis memandang risiko kerusakan saraf yang ditimbulkan oleh zat psikoaktif dalam ganja.

Efek Samping dan Bahaya Ganja bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Sebagai tenaga medis profesional, saya sering menemui pertanyaan tentang seberapa bahaya sebenarnya ganja itu. Banyak yang mengira karena asalnya dari daun herbal, maka ia aman. Padahal, penggunaan ganja memicu kerusakan di berbagai organ, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

1. Dampak Jangka Pendek

Hanya dalam beberapa menit setelah mengisap ganja, detak jantung dapat meningkat hingga 20-50 detakan per menit di atas normal. Hal ini sangat berbahaya bagi individu yang memiliki penyakit jantung tersembunyi karena dapat memicu serangan jantung. Selain itu, pengguna akan mengalami gangguan koordinasi tubuh, reaksi yang sangat lambat, dan paranoia atau halusinasi jika dosis THC terlalu tinggi.

2. Kerusakan Perkembangan Otak (Dampak Jangka Panjang)

Bahaya paling fatal dari ganja terjadi jika digunakan oleh remaja dan dewasa muda (di bawah usia 25 tahun). Pada usia ini, otak belum berkembang sempurna. THC dapat mengganggu pembentukan koneksi saraf pada bagian otak yang bertanggung jawab atas kecerdasan, memori, dan fungsi eksekutif. Penelitian menunjukkan pengguna ganja kronis sejak remaja dapat mengalami penurunan IQ permanen yang tidak dapat pulih meskipun mereka sudah berhenti menggunakannya.

3. Memicu Gangguan Jiwa Berat (Skizofrenia)

Secara kejiwaan, pemakaian ganja adalah pemicu kuat untuk gangguan psikotik. Orang yang memiliki genetik rentan terhadap gangguan mental berisiko tinggi mengembangkan skizofrenia (gangguan jiwa berat di mana penderitanya tidak bisa membedakan kenyataan dan halusinasi) lebih cepat dan lebih parah jika mereka mengonsumsi ganja.

4. Sindrom Hiperemesis Cannabinoid

Ini adalah kondisi medis yang dialami oleh pecandu berat ganja. Gejalanya berupa mual dan muntah hebat secara berulang-ulang yang sangat sulit diobati dengan obat anti-mual biasa. Kondisi ini bisa memicu dehidrasi berat dan kerusakan ginjal sekunder.

Ganja Medis: Mitos atau Fakta?

Masyarakat sering kali dibuat bingung dengan narasi “ganja medis”. Dari kacamata farmasi klinis, kita harus membedakan antara mengisap daun ganja secara sembarangan dengan obat-obatan farmasi yang diekstrak secara spesifik dari tanaman cannabis.

Di beberapa negara maju, badan pengawas obat mereka (seperti FDA di Amerika Serikat) memang menyetujui satu atau dua obat yang mengandung ekstrak CBD murni (misalnya Epidiolex) untuk kejang langka, atau versi sintetis THC (seperti Dronabinol) untuk pasien kemoterapi yang kehilangan nafsu makan.

Namun, penting ditekankan bahwa: mengisap daun ganja utuh (dilinting/dibakar) bukanlah tindakan pengobatan klinis.

Asap pembakaran daun ganja mengandung tar dan bahan kimia penyebab kanker (karsinogenik) yang sama berbahayanya dengan asap rokok tembakau. Dosis THC dalam daun ganja juga tidak dapat dikontrol dan sangat fluktuatif, sehingga tidak memenuhi standar peresepan obat yang aman (keamanan dosis, presisi, dan higienitas).

Studi Mengenai Dampak Ganja pada Kesehatan Mental

The American Journal of Psychiatry pernah mempublikasikan studi komprehensif mengenai hubungan antara penggunaan cannabis (ganja) dengan risiko skizofrenia. Studi tersebut menemukan bahwa individu yang menggunakan ganja dengan konsentrasi THC tinggi memiliki risiko jauh lebih besar untuk mengalami episode psikotik pertama mereka dibandingkan yang tidak.

Temuan medis ini menegaskan bahwa ganja bukanlah zat rekreasi yang tidak berbahaya. Psikoaktivitasnya secara langsung merusak neurokimia otak, yang dapat memicu kerusakan mental permanen. Fakta ilmiah ini menjadi landasan kuat kenapa ganja termasuk narkoba dan diatur ketat oleh banyak ahli kesehatan global.

Konsultasi dengan Psikiater via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala kecemasan ekstrem, paranoia, kecanduan zat, atau gangguan mental lainnya yang disebabkan oleh riwayat penggunaan zat tertentu, jangan ragu untuk mencari bantuan medis. Jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Psikiater terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah secara privat dan rahasia melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
Badan Narkotika Nasional (BNN) RI. Diakses pada 2024. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
National Institute on Drug Abuse (NIDA). Diakses pada 2024. Cannabis (Marijuana) DrugFacts.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diakses pada 2024. Marijuana and Public Health: Health Effects.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Cannabis.
The American Journal of Psychiatry. Diakses pada 2024. Effect of High-Potency Cannabis on Risk of Psychosis.

FAQ

1. Kenapa ganja termasuk narkoba padahal tumbuh alami?

Asal yang alami tidak menjamin suatu zat aman bagi tubuh. Ganja termasuk narkoba karena kandungan zat kimianya, terutama THC, bersifat psikoaktif yang dapat merusak sistem saraf pusat, mengubah persepsi otak, dan menyebabkan tingkat ketergantungan (adiksi) yang sangat tinggi.

2. Apa bedanya THC dan CBD pada tanaman ganja?

THC (Tetrahydrocannabinol) adalah senyawa psikoaktif yang memberikan efek memabukkan atau “high” dan berisiko merusak otak. Sementara CBD (Cannabidiol) tidak memabukkan dan dalam penelitian medis spesifik (yang telah diekstraksi murni), terkadang diteliti untuk pengobatan kejang, meskipun di Indonesia seluruh turunan tanaman ganja tetap dilarang.

3. Apakah mengisap daun ganja bisa langsung memicu skizofrenia?

Pada individu yang memiliki riwayat keturunan atau kerentanan genetik terhadap gangguan mental, paparan THC dari ganja dapat bertindak sebagai pemicu kuat yang mempercepat kemunculan gejala psikotik kronis, termasuk skizofrenia, paranoia, dan halusinasi akut.

4. Apakah ada efek putus zat (sakau) jika berhenti memakai ganja?

Tentu ada. Pengguna rutin yang tiba-tiba berhenti mengonsumsi ganja akan mengalami sindrom putus zat. Gejalanya meliputi insomnia parah, mudah marah, kecemasan, hilang nafsu makan, dan depresi, yang membuktikan bahwa ganja menciptakan ketergantungan fisik dan psikologis.