Ad Placeholder Image

Mengenal GTM pada Anak dan Cara Ampuh Mengatasinya

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 30 Juni 2026

Mengenal GTM pada Anak dan Cara Mudah Mengatasinya

Mengenal GTM pada Anak dan Cara Ampuh MengatasinyaMengenal GTM pada Anak dan Cara Ampuh Mengatasinya

DAFTAR ISI


Menghadapi anak yang tiba-tiba menolak makan sering kali membuat orang tua merasa stres dan khawatir. Kondisi ini sangat umum terjadi pada masa tumbuh kembang anak, terutama saat mereka mulai memasuki usia *toddler* atau batita. Banyak orang tua yang panik dan mencari tahu apa itu gtm pada anak agar bisa mencari solusi yang tepat agar asupan nutrisi si Kecil tetap terpenuhi dengan baik.

GTM adalah singkatan dari Gerakan Tutup Mulut, sebuah istilah populer di Indonesia yang merujuk pada perilaku anak yang menolak untuk makan. Penolakan ini bisa berupa menutup mulut rapat-rapat saat disuapi, memalingkan wajah, menyemburkan makanan yang sudah masuk ke mulut, hingga mengemut makanan berjam-jam tanpa ditelan. Dalam istilah medis, kondisi ini sering dikaitkan dengan perilaku picky eater (pilih-pilih makanan), food neophobia (takut mencoba makanan baru), atau inappropriate feeding practice (pemberian makan yang kurang tepat).

Penting untuk kamu pahami bahwa GTM bukanlah sebuah penyakit, melainkan sebuah gejala atau bentuk komunikasi dari anak. Anak mungkin sedang merasa tidak nyaman karena tumbuh gigi, sariawan, bosan dengan menu yang disajikan, atau sedang mencari otonomi dan kendali atas apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Oleh karena itu, pendekatan yang sabar dan strategis sangat dibutuhkan. Selain memperbaiki jadwal dan cara pemberian makan, memberikan suplemen penambah nafsu makan dan multivitamin dapat menjadi solusi sementara untuk memastikan anak tidak kekurangan mikronutrien penting.

Rekomendasi Suplemen untuk Anak GTM

Jika si Kecil sedang mengalami masa sulit makan, kamu bisa mempertimbangkan pemberian suplemen berikut ini untuk membantu merangsang nafsu makannya dan menjaga daya tahan tubuhnya:

1. Curcuma Plus Grow Emulsion 200 ml

Curcuma Plus Grow Emulsion adalah suplemen makanan yang diformulasikan khusus untuk anak-anak guna membantu memenuhi kebutuhan vitamin, menjaga daya tahan tubuh, dan memperbaiki nafsu makan. Suplemen ini mengandung ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza) yang secara klinis telah dipercaya sejak lama mampu merangsang nafsu makan. Selain itu, produk ini juga diperkaya dengan minyak ikan cod, kalsium, vitamin D, vitamin A, dan vitamin B kompleks yang sangat baik untuk mendukung pertumbuhan tulang dan kecerdasan otak anak.

Untuk dosis penggunaannya, anak usia 1-6 tahun bisa diberikan 1 sendok makan (15 ml) sebanyak 1 kali sehari. Sedangkan untuk anak usia 6-12 tahun bisa diberikan 1 sendok makan sebanyak 2 kali sehari. Suplemen ini sebaiknya dikonsumsi setelah makan. Hadir dengan rasa jeruk yang manis, sehingga lebih mudah disukai oleh anak-anak yang sedang malas makan.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Curcuma Plus Grow Emulsion 200 ml di Toko Kesehatan Halodoc

2. Apialys Drops 10 ml

Bagi anak di bawah usia 2 tahun yang mengalami GTM, Apialys Drops bisa menjadi pilihan multivitamin yang tepat. Suplemen ini dirancang khusus dalam bentuk tetes (drops) agar mudah diberikan kepada bayi dan batita. Apialys Drops mengandung kombinasi Vitamin A, Vitamin C, Vitamin D, Vitamin B1, B2, B6, B12, Nicotinamide, Pantothenol, dan Lysine. Kandungan asam amino Lysine di dalamnya berperan penting dalam membantu proses metabolisme tubuh sekaligus meningkatkan nafsu makan anak secara perlahan.

Dosis yang direkomendasikan untuk bayi usia 0-12 bulan adalah 0.3 ml (sekitar 6 tetes) sebanyak 1 kali sehari. Sementara untuk anak usia 1-3 tahun, dapat diberikan 0.6 ml sebanyak 1 kali sehari. Produk ini bisa diteteskan langsung ke dalam mulut anak atau dicampurkan ke dalam susu formula maupun makanan pendamping ASI (MPASI) yang sudah bersuhu ruang (tidak panas).

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Apialys Drops 10 ml di Toko Kesehatan Halodoc

Faktor Pemicu Umum Anak Melakukan GTM
  1. Sakit atau Tumbuh Gigi: Rasa nyeri pada gusi atau radang tenggorokan membuat proses mengunyah dan menelan menjadi sangat tidak nyaman bagi anak.
  2. Trauma Pemberian Makan: Memaksa anak makan, memarahi, atau mencekoki makanan bisa membuat anak mengasosiasikan waktu makan dengan momen yang menakutkan dan penuh stres.
  3. Bosan dengan Tekstur atau Rasa: Menu yang monoton atau transisi tekstur (dari bubur saring ke makanan padat) yang terlalu cepat bisa memicu penolakan.
  4. Distraksi Berlebihan: Menonton gadget atau bermain mainan saat makan membuat fokus anak terpecah sehingga mereka lupa untuk mengunyah dan menelan makanannya.

3. Scott’s Emulsion Original 200 ml

Scott’s Emulsion Original merupakan suplemen minyak ikan legendaris yang sangat baik untuk menunjang tumbuh kembang anak. Terbuat dari minyak hati ikan cod berkualitas, suplemen ini kaya akan Omega-3 (DHA dan EPA), Vitamin A, dan Vitamin D, serta tambahan kalsium. Meskipun fokus utamanya adalah untuk perkembangan otak, fungsi penglihatan, dan kepadatan tulang, kandungan vitamin A dan D di dalamnya sangat esensial untuk menjaga sistem imun. Anak yang sehat dan jarang sakit umumnya memiliki pola makan dan nafsu makan yang lebih stabil.

Aturan pakainya, untuk anak usia 1-3 tahun cukup 1 sendok makan (15 ml) 1 kali sehari. Anak usia 4-8 tahun bisa diberikan 1 sendok makan 2 kali sehari, dan anak di atas 9 tahun sebanyak 1 sendok makan 3 kali sehari. Karena bentuknya cairan emulsi, kocok dahulu botolnya sebelum digunakan. Jika anak kurang suka varian original, kamu bisa mencampurnya dengan sedikit sari buah.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Scott’s Emulsion Original 200 ml di Toko Kesehatan Halodoc

4. Fitkom Gummy Multivitamin Anak

Jika anak menolak minum vitamin dalam bentuk sirup, Fitkom Gummy bisa menjadi penyelamat. Bentuknya yang kenyal seperti permen dengan berbagai bentuk hewan atau buah yang lucu membuat anak-anak menganggapnya sebagai camilan, bukan obat. Fitkom Gummy mengandung berbagai macam vitamin penting seperti Vitamin A, B kompleks, C, D, dan E yang dibutuhkan tubuh anak untuk menjaga stamina dan energi harian mereka.

Dosis yang disarankan biasanya adalah 1 hingga 3 butir gummy per hari untuk anak usia di atas 3 tahun yang sudah pandai mengunyah dengan sempurna. Pastikan anak mengunyahnya hingga lumat sebelum ditelan untuk mencegah risiko tersedak. Jauhkan toples penyimpanan dari jangkauan anak agar mereka tidak mengonsumsinya secara berlebihan.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Fitkom Gummy Multivitamin Anak di Toko Kesehatan Halodoc

5. Sangobion Kids Sirup 100 ml

Tahukah kamu bahwa salah satu penyebab medis yang sering tidak disadari dari GTM dan anak yang lemas adalah anemia defisiensi besi? Saat anak kekurangan zat besi, nafsu makan mereka bisa menurun drastis. Sangobion Kids Sirup hadir dengan kandungan Iron Polymaltose Complex (IPC) serta kombinasi vitamin B kompleks yang diformulasikan khusus untuk mengatasi dan mencegah anemia pada anak, sekaligus membantu mengembalikan selera makannya.

Dosis umum untuk anak usia di atas 2 tahun adalah 1 sendok takar (5 ml) per hari, diminum bersama dengan makanan atau sesudah makan untuk menghindari rasa tidak nyaman di lambung. Sirup ini memiliki rasa buah-buahan yang disukai anak-anak. Obat ini termasuk golongan obat bebas terbatas. Perhatikan aturan pakai pada kemasan.

Harga: Cek harga terbaru di Halodoc

Dapatkan Sangobion Kids Sirup 100 ml di Toko Kesehatan Halodoc

Cara Tepat Mengatasi GTM pada Anak

Selain memberikan asupan multivitamin, mengatasi GTM membutuhkan perubahan kebiasaan di meja makan. Pendekatan yang dianjurkan oleh ahli gizi anak adalah menerapkan responsive feeding. Berikut adalah beberapa langkah alami yang bisa kamu coba terapkan di rumah:

  • Terapkan Jadwal Makan yang Teratur (Feeding Rules): Buatlah jadwal makan utama 3 kali sehari dan camilan 2 kali sehari secara konsisten. Beri jarak sekitar 2 hingga 3 jam antara waktu makan agar sistem pencernaan anak bisa mengosongkan lambung, sehingga mereka merasa lapar saat waktu makan tiba.
  • Batasi Waktu Makan Maksimal 30 Menit: Jangan biarkan anak berlama-lama mengemut makanan. Jika dalam 30 menit makanan belum habis, segera akhiri proses makan dengan tenang tanpa memarahi anak. Hal ini mengajarkan anak tentang batasan waktu.
  • Ciptakan Lingkungan yang Netral: Hindari distraksi seperti televisi, tablet, ponsel, atau mainan di area makan. Biarkan anak fokus pada rasa, tekstur, dan aroma makanannya.
  • Sajikan Porsi Kecil: Porsi makanan yang terlalu besar bisa mengintimidasi anak. Lebih baik sajikan dalam porsi kecil namun sering. Jika anak minta tambah, kamu bisa memberikannya lagi.
  • Libatkan Anak dalam Proses Persiapan: Untuk anak usia *toddler*, ajak mereka mencuci sayur atau memilih buah di pasar. Keterlibatan ini bisa memancing rasa penasaran mereka untuk mencicipi makanan yang mereka siapkan sendiri.

Studi Terkait

Isu mengenai gerakan tutup mulut atau penolakan makan terus menjadi perhatian utama di bidang pediatri. Sebuah studi komprehensif yang dipublikasikan dalam Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition pada tahun 2026 menyoroti dampak psikologis dari durasi layar (screen time) selama pemberian makan terhadap tingginya kasus GTM. Studi tersebut menemukan bahwa anak-anak yang terbiasa makan sambil menonton video memiliki risiko 45% lebih tinggi mengalami malnutrisi mikronutrien karena mereka cenderung mengemut makanan tanpa mengunyah, yang mengganggu proses penguraian enzim di mulut. Peneliti dari studi tersebut sangat menekankan pentingnya intervensi mindful eating pada anak sejak masa MPASI dini.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kondisi GTM pada anak berlangsung lebih dari dua minggu berturut-turut, disertai penurunan berat badan drastis, anak terlihat sangat lemas, atau tidak mau buang air kecil karena kurang cairan. Segera konsultasikan keluhan ini dengan Dokter Anak di Halodoc untuk pemeriksaan lebih lanjut dan penanganan yang akurat.

Anak Susah Makan dan Berat Badan Turun? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan terkait nafsu makan anak yang menurun, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi

  • Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Children’s nutrition: 10 tips for picky eaters.
  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Infant and young child feeding.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada 2024. Pedoman Gizi Seimbang dan Cara Mengatasi Anak Susah Makan.
  • PubMed Central. Diakses pada 2024. Picky Eating in Children: Causes and Consequences.

FAQ

1. Berapa lama GTM pada anak biasanya berlangsung?
Durasi GTM sangat bervariasi pada setiap anak, bisa berlangsung hanya beberapa hari hingga berminggu-minggu. Jika disebabkan oleh tumbuh gigi atau sakit ringan, nafsu makan biasanya akan kembali normal dalam 3 hingga 7 hari setelah anak merasa nyaman.

2. Apakah wajar anak usia 1 tahun mengalami GTM?
Sangat wajar. Usia 1 tahun adalah masa transisi dari makanan lembik menuju makanan keluarga dengan tekstur yang lebih padat. Anak juga mulai menunjukkan kemandirian dan preferensi rasa, sehingga wajar jika mereka mulai pilih-pilih makanan.

3. Bolehkah memberikan susu formula sebagai pengganti makan saat anak GTM?
Tidak disarankan mengganti makanan utama secara total dengan susu formula, karena hal ini justru membuat anak merasa kenyang dan semakin tidak mau makan makanan padat. Batasi pemberian susu maksimal 2-3 gelas (sekitar 500 ml) sehari agar anak tetap merasa lapar di jam makannya.

4. Apa ciri-ciri anak yang GTM karena sedang tumbuh gigi?
Anak yang GTM karena tumbuh gigi biasanya menunjukkan gejala tambahan seperti air liur yang keluar berlebihan (ngeces), gusi terlihat bengkak atau kemerahan, suka menggigit benda-benda keras, dan sering rewel atau terbangun di malam hari karena rasa nyeri.