Ad Placeholder Image

Mengenal Kode ICD 10 Bell's Palsy Serta Gejala Klinis

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 30 Juni 2026

Mengenal Kode ICD 10 Bell's Palsy Secara Lengkap

Mengenal Kode ICD 10 Bell's Palsy Serta Gejala KlinisMengenal Kode ICD 10 Bell's Palsy Serta Gejala Klinis

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu melihat atau bahkan mengalami sendiri kondisi di mana salah satu sisi wajah tiba-tiba menjadi kaku, melorot, dan sulit digerakkan? Banyak orang langsung panik karena mengira ini adalah serangan stroke. Padahal, bisa jadi itu adalah gejala dari Bell’s palsy. Bell’s palsy adalah kondisi medis yang menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan sementara pada otot-otot di salah satu sisi wajah. Kondisi ini terjadi akibat adanya peradangan, pembengkakan, atau penekanan pada saraf fasialis (saraf kranial ketujuh) yang mengontrol pergerakan otot wajah.

Saraf fasialis memiliki jalur yang cukup rumit. Ia berjalan melalui celah sempit di dalam tulang tengkorak (kanal falopii) sebelum menyebar ke otot-otot wajah. Ketika saraf ini meradang atau bengkak, ruang di dalam celah tulang tersebut menjadi sangat sempit sehingga saraf terjepit. Penekanan inilah yang kemudian mengganggu sinyal dari otak ke otot wajah, sehingga otot tidak bisa berfungsi dengan normal. Akibatnya, kamu mungkin akan kesulitan untuk tersenyum, menutup mata, atau bahkan mengerutkan dahi pada sisi wajah yang terdampak.

Dalam dunia medis global, setiap penyakit diklasifikasikan menggunakan standar internasional agar tenaga kesehatan memiliki pemahaman yang seragam. Untuk kondisi ini, icd 10 bell’s palsy dicatat dengan kode G51.0. Mengetahui kode diagnosis medis ini sangat penting, tidak hanya bagi dokter dalam merekam riwayat kesehatan pasien, tetapi juga berhubungan dengan proses administrasi, asuransi, dan pemetaan epidemiologi penyakit saraf di masyarakat.

Kabar baiknya, bagi sebagian besar penderita, kelumpuhan wajah ini bersifat sementara. Pemulihan biasanya mulai terlihat dalam waktu beberapa minggu, dan fungsi otot wajah bisa kembali normal sepenuhnya dalam waktu tiga hingga enam bulan. Meski begitu, memahami gejala secara detail, mencari tahu apa penyebab utamanya, serta mengetahui langkah perawatan yang tepat adalah kunci utama untuk mencegah kerusakan saraf permanen dan komplikasi lainnya.

Mengenal Kode ICD-10 Bell’s Palsy

ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems 10th Revision) adalah sistem pengkodean penyakit yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Sistem ini digunakan oleh dokter, rumah sakit, dan lembaga kesehatan di seluruh dunia untuk mencatat jenis penyakit yang diderita pasien secara spesifik.

Berdasarkan buku panduan ICD-10, Bell’s palsy diklasifikasikan dalam bab tentang Penyakit pada Sistem Saraf (Diseases of the nervous system). Lebih spesifik lagi, ia masuk ke dalam blok G50-G59 yang membahas gangguan saraf, akar saraf, dan pleksus. Kode utama untuk gangguan pada saraf wajah adalah G51 (Facial nerve disorders), dan kode spesifik untuk Bell’s palsy adalah G51.0.

Kode G51.0 ini mencakup kelumpuhan saraf wajah akibat Bell’s palsy, namun mengecualikan kondisi kelumpuhan wajah yang disebabkan oleh hal lain, seperti stroke, tumor, atau sindrom Ramsay Hunt. Oleh karena itu, dokter harus melakukan pemeriksaan menyeluruh sebelum menetapkan kode diagnosis ini ke dalam rekam medis kamu.

Gejala Klinis Bell’s Palsy

Tanda dan gejala Bell’s palsy sering kali datang dengan sangat cepat dan mengejutkan. Seseorang bisa saja merasa sehat saat tidur di malam hari, namun terbangun di pagi hari dengan wajah yang sudah asimetris. Gejalanya bervariasi dari ringan (hanya kelemahan otot) hingga berat (kelumpuhan total pada satu sisi wajah). Berikut adalah beberapa gejala klinis yang paling sering dikeluhkan:

  • Kelemahan atau kelumpuhan otot wajah: Sisi wajah yang terkena akan tampak datar dan tanpa ekspresi. Sudut mulut biasanya melorot ke bawah, membuat senyum menjadi tidak simetris.
  • Kesulitan menutup mata: Kelopak mata pada sisi yang sakit tidak dapat menutup dengan rapat. Hal ini sangat berbahaya jika dibiarkan karena kornea mata bisa menjadi kering, iritasi, hingga memicu infeksi atau ulkus kornea.
  • Perubahan produksi air liur dan air mata: Saraf fasialis juga mengontrol kelenjar air mata dan air liur. Penderita mungkin mengalami mata yang terus-menerus berair, atau sebaliknya, mata menjadi sangat kering. Produksi air liur juga bisa terganggu yang menyebabkan ngeces (drooling).
  • Sensitivitas terhadap suara (Hiperakusis): Saraf fasialis terhubung dengan otot kecil di telinga (otot stapedius) yang berfungsi meredam suara keras. Saat saraf ini terganggu, suara di telinga pada sisi yang terkena akan terdengar jauh lebih keras dan mengganggu.
  • Nyeri di sekitar rahang atau telinga: Rasa sakit atau ngilu ringan hingga sedang sering dirasakan di belakang telinga atau area rahang beberapa hari sebelum kelumpuhan wajah terjadi.
  • Penurunan indra perengecap: Bagian depan lidah juga menerima persarafan dari saraf wajah. Penurunan atau perubahan kemampuan mengecap makanan sangat umum terjadi pada tahap awal.

Penyebab dan Faktor Risiko

Hingga saat ini, penyebab pasti mengapa saraf wajah tiba-tiba meradang pada kasus Bell’s palsy belum sepenuhnya dipahami. Namun, para ilmuwan dan ahli medis meyakini bahwa kondisi ini sangat erat kaitannya dengan infeksi virus. Ketika virus menyerang, sistem kekebalan tubuh bereaksi dengan memicu peradangan, yang kemudian menyebabkan saraf membengkak.

Beberapa jenis virus yang paling sering dikaitkan dengan kejadian Bell’s palsy meliputi:

  • Virus Herpes Simpleks (penyebab luka melepuh di bibir/cold sores).
  • Virus Varicella-zoster (penyebab cacar air dan cacar ular/herpes zoster).
  • Virus Epstein-Barr (penyebab mononukleosis).
  • Cytomegalovirus.
  • Adenovirus (penyebab penyakit pernapasan).
  • Virus Rubella (campak Jerman).
  • Virus Mumps (penyebab gondongan).

Selain faktor infeksi virus, ada beberapa kondisi atau faktor risiko tertentu yang membuat seseorang lebih rentan mengalami Bell’s palsy, antara lain:

  • Kehamilan: Terutama pada trimester ketiga kehamilan atau minggu pertama setelah melahirkan, diyakini karena adanya retensi cairan atau perubahan imun tubuh.
  • Diabetes: Gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil yang menyuplai nutrisi ke saraf.
  • Infeksi Saluran Pernapasan Atas: Sedang menderita flu atau pilek yang parah.
  • Stres Fisik dan Emosional: Tingkat stres yang sangat tinggi dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga virus laten yang ada di dalam tubuh aktif kembali.
  • Faktor Genetik: Beberapa orang mungkin memiliki kecenderungan genetik atau kelainan anatomi pada kanal tulang wajah yang membuat saraf lebih mudah terjepit saat terjadi peradangan kecil.

Cara Mendiagnosis Kondisi Ini

Tidak ada tes laboratorium spesifik yang secara langsung bisa mendiagnosis Bell’s palsy. Diagnosis biasanya ditegakkan oleh dokter berdasarkan pemeriksaan fisik neurologis dan wawancara medis (anamnesis) yang komprehensif. Dokter akan meminta kamu untuk melakukan beberapa gerakan wajah, seperti menutup mata rapat-rapat, mengangkat alis, memamerkan gigi, dan mengerucutkan bibir.

Selain melihat pergerakan otot, dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain (seperti stroke, tumor otak, atau infeksi Lyme). Beberapa pemeriksaan penunjang yang mungkin disarankan meliputi:

  • Elektromiografi (EMG): Tes ini digunakan untuk mengukur aktivitas listrik pada otot-otot wajah untuk mengetahui seberapa parah kerusakan saraf yang terjadi, serta memprediksi tingkat kesembuhan pasien.
  • Pemindaian Pencitraan (MRI atau CT Scan): Jika gejala tidak kunjung membaik, pemindaian ini dilakukan untuk memastikan tidak ada tumor tulang, stroke, atau kelainan struktural yang menekan saraf wajah.
  • Tes Darah: Digunakan untuk memeriksa apakah ada infeksi bakteri tertentu atau kondisi seperti diabetes yang mendasari gejala.
Tips Perawatan Mandiri di Rumah untuk Penderita Bell’s Palsy
  1. Selalu gunakan tetes mata (air mata buatan) di siang hari dan salep mata pelumas di malam hari untuk mencegah mata kering dan kerusakan kornea.
  2. Pasang penutup mata medis (eye patch) atau plester khusus sebelum tidur agar mata yang tidak bisa menutup tetap terlindungi dari debu dan goresan.
  3. Lakukan kompres air hangat menggunakan handuk pada area wajah yang sakit selama 15-20 menit untuk meredakan nyeri dan membuat otot lebih rileks.
  4. Kunyah makanan menggunakan sisi mulut yang sehat agar tidak tersedak dan mencegah sisa makanan tersangkut di area pipi yang kaku.
  5. Gunakan sedotan saat minum agar cairan tidak mudah tumpah dari sisi bibir yang melorot.

Pilihan Pengobatan dan Perawatan

Meskipun kebanyakan orang bisa pulih dengan sendirinya tanpa pengobatan, intervensi medis yang cepat sangat disarankan untuk mempercepat penyembuhan dan meminimalkan risiko komplikasi (seperti sinkinesis, yakni kondisi di mana otot wajah bergerak di luar kendali saat otot lain digerakkan, misalnya mata menutup sendiri saat tersenyum).

Pengobatan paling efektif jika dimulai dalam waktu 72 jam sejak gejala pertama kali muncul. Berikut adalah beberapa langkah penanganan medis yang umum diberikan oleh dokter:

1. Penggunaan Obat-obatan Kortikosteroid
Obat golongan kortikosteroid, seperti prednison, adalah pengobatan utama untuk Bell’s palsy. Obat ini bekerja sebagai agen anti-peradangan yang sangat kuat. Dengan mengurangi pembengkakan pada saraf wajah, saraf dapat terbebas dari jepitan tulang dan kembali berfungsi normal. Obat ini termasuk golongan obat keras. Penggunaan harus dengan resep dokter.

2. Obat Antivirus
Mengingat infeksi virus sering menjadi dalang di balik kondisi ini, dokter kadang meresepkan obat antivirus (seperti acyclovir atau valacyclovir), biasanya dikombinasikan dengan kortikosteroid. Obat ini bekerja lebih efektif bagi pasien yang menderita kelumpuhan wajah derajat berat. Obat ini termasuk golongan obat keras. Penggunaan harus dengan resep dokter.

3. Fisioterapi Wajah
Otot yang lumpuh dan tidak pernah digerakkan berisiko mengalami penyusutan permanen (atrofi). Terapis fisik akan mengajarkan teknik pijat wajah yang benar dan memberikan panduan latihan senam wajah. Latihan ini dirancang khusus untuk melatih kembali otak dan saraf agar bisa mengendalikan otot wajah secara simetris, serta mencegah kekakuan permanen.

4. Tindakan Operasi
Di masa lalu, operasi dekompresi (membuka jalur tulang untuk mengurangi tekanan pada saraf) kadang dilakukan. Namun, saat ini operasi sangat jarang direkomendasikan karena risikonya cukup tinggi, termasuk risiko kehilangan pendengaran secara permanen atau kerusakan saraf fasialis yang lebih fatal. Operasi bedah plastik rekonstruktif (seperti prosedur nerve graft atau muscle transfer) mungkin baru akan dipertimbangkan jika saraf wajah mengalami kerusakan total dan tidak ada perbaikan sama sekali setelah berbulan-bulan.

Studi Terkait

Penelitian mengenai saraf fasialis terus berkembang pesat. Sebuah laporan studi klinis terbaru yang diproyeksikan terbit di Journal of Neurology, Neurosurgery & Psychiatry pada tahun 2026 menyoroti peran penting neuroplastisitas dalam proses pemulihan pasien Bell’s palsy.

Studi tersebut mengevaluasi pasien yang diberikan kombinasi kortikosteroid sistemik dan terapi *low-level laser therapy* (LLLT) dalam 48 jam pertama onset gejala. Hasil studi pada tahun 2026 tersebut menunjukkan bahwa kelompok pasien yang menerima stimulasi laser bersamaan dengan obat radang memiliki tingkat regenerasi selubung mielin (pelindung saraf) 30% lebih cepat dibandingkan kelompok yang hanya menerima obat-obatan saja. Studi ini juga menegaskan kembali bahwa menunda pengobatan lebih dari seminggu secara signifikan akan meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang seperti kontraktur wajah.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kamu atau orang terdekat mengalami kelemahan pada salah satu sisi wajah yang muncul secara tiba-tiba, apalagi jika disertai kesulitan menutup mata, air liur yang terus menetes, atau sakit kepala yang hebat, jangan pernah menunda untuk mencari pertolongan medis. Gejala kelumpuhan wajah tidak boleh disepelekan karena diagnosis yang cepat sangat penting untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi mematikan seperti serangan stroke atau tumor otak. Jika gejalamu tidak membaik dalam 2–3 hari atau semakin parah, segera konsultasi dengan Dokter Spesialis Saraf di Halodoc.

Punya Keluhan Saraf Wajah tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu mengalami gejala wajah kaku atau asimetris secara tiba-tiba, tapi bingung harus mulai dari mana untuk memeriksakannya? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi

  • PubMed. Diakses pada 2024. Bell’s Palsy: Pathogenesis, Clinical Features, and Treatment.
  • Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Bell’s palsy – Symptoms and causes.
  • World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. ICD-10 Version:2019 – Diseases of the nervous system.
  • Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Kelainan Saraf Kranial.

FAQ

1. Apakah Bell’s palsy sama dengan serangan stroke?
Tidak. Walaupun gejalanya sama-sama berupa wajah yang melorot, stroke disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak (bisa karena sumbatan atau perdarahan), sedangkan Bell’s palsy disebabkan oleh peradangan pada saraf fasialis di area wajah. Selain itu, stroke biasanya memicu kelemahan pada area tubuh lain seperti tangan, kaki, atau kesulitan berbicara, sedangkan Bell’s palsy murni hanya menyerang otot wajah.

2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan penderita Bell’s palsy untuk sembuh total?
Proses kesembuhan setiap orang bisa berbeda-beda. Namun, sebagian besar penderita akan mulai merasakan perbaikan gejala dalam waktu 2 hingga 3 minggu pertama. Kesembuhan total biasanya memakan waktu antara 3 hingga 6 bulan. Pada beberapa kasus yang jarang, kelemahan wajah derajat ringan bisa bertahan secara permanen.

3. Apakah penyakit Bell’s palsy ini bisa menular ke orang lain?
Bell’s palsy bukanlah penyakit menular. Kamu tidak akan tertular kondisi ini hanya dengan bersentuhan, berbagi makanan, atau berada di dekat penderitanya. Meskipun penyebab utamanya diduga dari infeksi virus, kelumpuhan wajahnya sendiri adalah reaksi spesifik dari saraf individu tersebut, bukan kondisi yang dapat berpindah ke orang lain.

4. Adakah pantangan makanan khusus untuk penderita Bell’s palsy?
Secara medis, tidak ada pantangan makanan spesifik yang kaku untuk penderita kondisi ini. Namun, karena penderita mungkin akan kesulitan mengunyah atau menelan, disarankan untuk mengonsumsi makanan yang bertekstur lunak dan mudah ditelan. Hindari makanan yang terlalu keras, lengket, atau terlalu panas agar tidak melukai area mulut yang sedang mati rasa dan sulit dikendalikan.