Ad Placeholder Image

Mengenal Playing Victim: Pengertian, Ciri, dan Penyebabnya

8 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Playing victim adalah kondisi yang terjadi saat seseorang merasa dirinya merupakan korban, dan menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi pada hidupnya.

Mengenal Playing Victim: Pengertian, Ciri, dan PenyebabnyaMengenal Playing Victim: Pengertian, Ciri, dan Penyebabnya

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang selalu merasa dirinya benar dan memposisikan dirinya sebagai pihak yang paling menderita dalam setiap konflik? Fenomena ini sering kita kenal dengan istilah playing victim atau mentalitas korban. Perilaku ini bukan sekadar sifat manja, melainkan sebuah pola psikologis yang cukup kompleks dan bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Dalam dunia psikologi, perilaku ini sering disebut sebagai Victim Mentality. Seseorang dengan mentalitas ini cenderung meyakini bahwa segala hal buruk yang terjadi dalam hidupnya adalah kesalahan orang lain atau keadaan di luar kendali mereka. Mereka sering kali menghindari tanggung jawab atas tindakan sendiri dan lebih memilih untuk mencari simpati atau pembenaran dari lingkungan sosialnya.

Memahami apa itu play victim sangat penting agar kamu tidak terjebak dalam manipulasi emosional yang mereka ciptakan. Jika kamu merasa tertekan secara emosional akibat menghadapi situasi seperti ini, jangan ragu untuk konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan panduan medis dan psikologis yang tepat.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai fenomena ini, mulai dari ciri-ciri hingga cara mengatasinya? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Itu Play Victim?

Playing victim atau victim mentality adalah sebuah mekanisme pertahanan diri di mana seseorang secara konsisten menganggap dirinya sebagai korban dalam berbagai situasi, meskipun fakta menunjukkan sebaliknya. Individu ini merasa bahwa dunia tidak adil bagi mereka, dan mereka tidak memiliki kekuatan untuk mengubah nasib. Alih-alih mencari solusi, mereka justru fokus pada penderitaan dan bagaimana orang lain telah menyakiti mereka.

Perlu dipahami bahwa play victim berbeda dengan menjadi korban yang sebenarnya. Korban sebenarnya mengalami kerugian atau trauma nyata dan berusaha untuk pulih. Sebaliknya, pelaku play victim sering kali membesar-besarkan masalah kecil atau bahkan menciptakan narasi palsu untuk menarik perhatian atau menghindari konsekuensi dari kesalahan yang mereka perbuat.

Perilaku ini bisa muncul dalam berbagai bentuk hubungan, mulai dari hubungan asmara, pertemanan, hingga lingkungan kerja. Jika dibiarkan, pola ini akan menciptakan hubungan yang toxic (beracun) karena tidak adanya komunikasi yang jujur dan rasa tanggung jawab.

Ciri-Ciri Seseorang yang Melakukan Play Victim

Mengenali ciri-ciri pelaku play victim adalah langkah pertama untuk melindungi kesehatan mentalmu. Berikut adalah beberapa tanda yang paling umum ditemukan:

1. Selalu Menyalahkan Orang Lain

Apapun masalah yang terjadi, mereka akan selalu menemukan cara untuk menunjuk orang lain sebagai penyebabnya. Jika mereka gagal dalam pekerjaan, itu karena atasan yang tidak adil. Jika hubungan berakhir, itu karena pasangan yang jahat. Mereka sangat jarang, atau bahkan tidak pernah, mengakui kesalahan pribadi.

2. Menolak Mengambil Tanggung Jawab

Baginya, mengambil tanggung jawab sama saja dengan mengakui kekalahan. Mereka merasa bahwa mengakui kesalahan akan merusak citra diri yang mereka bangun sebagai orang yang “teraniaya”.

3. Menggunakan Rasa Bersalah untuk Memanipulasi

Salah satu senjata utama pelaku play victim adalah membuat orang lain merasa bersalah (guilt tripping). Mereka akan menceritakan penderitaan mereka dengan dramatis sehingga kamu merasa jahat jika tidak membantu atau jika kamu mencoba menegur kesalahan mereka.

4. Bersikap Pesimis dan Pasif

Mereka cenderung memiliki pandangan negatif terhadap masa depan. Ketika diberikan saran atau solusi, mereka biasanya akan menjawab dengan alasan mengapa solusi tersebut tidak akan berhasil bagi mereka. Mereka lebih nyaman berada dalam status “korban” daripada harus berusaha keluar dari zona tersebut.

5. Tidak Memiliki Empati terhadap Orang Lain

Karena terlalu fokus pada “luka” mereka sendiri, mereka sering mengabaikan perasaan orang lain. Bahkan jika kamu sedang mengalami kesulitan, mereka akan mencoba mengalihkan pembicaraan agar kembali fokus pada masalah mereka yang dianggap lebih berat.

Tips Mengenali Manipulasi Emosional
  1. Perhatikan apakah mereka sering mengulang narasi penderitaan yang sama tanpa ada usaha perbaikan.
  2. Amati apakah mereka selalu mengalihkan topik saat dimintai pertanggungjawaban.
  3. Rasakan apakah kamu merasa lelah secara emosional setelah berinteraksi dengan mereka.

Penyebab Psikologis di Balik Victim Mentality

Mengapa seseorang bisa terjebak dalam pola pikir ini? Ternyata ada beberapa faktor psikologis yang mendasarinya:

  • Trauma Masa Lalu: Seseorang yang benar-benar pernah menjadi korban di masa kecil (misalnya karena pola asuh yang kasar atau pengabaian) mungkin mengadopsi mentalitas ini sebagai cara untuk bertahan hidup.
  • Mekanisme Pertahanan Diri (Defense Mechanism): Dengan merasa sebagai korban, seseorang terhindar dari rasa malu atau rendah diri akibat kegagalan.
  • Kebutuhan akan Perhatian: Merasa menderita sering kali mendatangkan simpati dan perhatian dari orang lain yang tidak mereka dapatkan dengan cara lain.
  • Kurangnya Keterampilan Coping: Mereka tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi konflik atau stres dengan cara yang sehat, sehingga menyalahkan pihak luar menjadi jalan pintas yang paling mudah.

Cara Menghadapi Orang dengan Perilaku Play Victim

Menghadapi orang seperti ini membutuhkan kesabaran ekstra dan strategi yang tepat agar kamu tidak ikut terseret dalam dramanya.

1. Tetapkan Batasan yang Jelas (Boundary Setting)

Kamu harus tahu kapan harus mendengarkan dan kapan harus menarik diri. Jika pembicaraan sudah mulai berputar-putar pada keluhan tanpa solusi, kamu berhak untuk mengakhiri percakapan tersebut dengan sopan.

2. Jangan Mudah Merasa Bersalah

Ingatlah bahwa kamu tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan atau pilihan hidup orang lain. Jika mereka mencoba menyalahkanmu atas sesuatu yang bukan kesalahanmu, tetaplah pada fakta yang ada.

3. Arahkan pada Solusi, Bukan Drama

Saat mereka mulai mengeluh, cobalah bertanya, “Lalu, apa rencana kamu untuk memperbaiki situasi ini?” Jika mereka terus mencari alasan, itu tandanya mereka memang tidak ingin berubah.

4. Jaga Kesehatan Fisik dan Mental

Menghadapi stres emosional dapat menguras energi tubuh. Selain menjaga pikiran tetap tenang, jangan lupa untuk tetap menjaga daya tahan tubuh. Kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan suplemen vitamin atau produk kesehatan yang membantu kamu tetap fit di tengah situasi yang melelahkan.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Profesional?

Perilaku play victim yang ekstrem bisa menjadi indikasi adanya gangguan kepribadian tertentu, seperti Borderline Personality Disorder (BPD) atau Narcissistic Personality Disorder (NPD). Jika kamu merasa perilaku ini sudah sangat mengganggu fungsi sosial, pekerjaan, atau bahkan menyebabkan depresi, segera cari bantuan profesional.

Melalui konsultasi dengan psikolog atau psikiater, individu tersebut dapat belajar mengenali pola pikir yang salah dan membangun kembali kepercayaan diri serta rasa tanggung jawab. Bagi kamu yang menjadi “korban” dari pelaku play victim, terapi juga sangat disarankan untuk menyembuhkan trauma akibat manipulasi emosional.

Studi Mengenai Victim Mentality

Scientific Reports menerbitkan studi di tahun 2020 yang menjelaskan bahwa kecenderungan untuk merasa sebagai korban (Interpersonal Victimhood) berkaitan dengan keinginan untuk mendapatkan pengakuan sosial dan kurangnya kemauan untuk memaafkan. Studi ini menyoroti bahwa individu dengan skor tinggi pada skala victimhood cenderung melihat pelanggaran kecil sebagai serangan personal yang berat.

Temuan ini menegaskan bahwa play victim bukan sekadar perilaku situasional, melainkan sifat kepribadian yang menetap. Memahami dasar ilmiah ini membantu kita untuk lebih objektif dalam menilai situasi dan tidak terjebak dalam perasaan bersalah yang tidak perlu.

Kesehatan mental adalah investasi jangka panjang yang sangat berharga. Jika kamu merasa terbebani oleh konflik interpersonal yang tidak kunjung usai, jangan ragu untuk berbagi cerita dengan ahli kesehatan.

Kamu bisa mendapatkan berbagai dukungan kesehatan, termasuk suplemen pendukung metabolisme saat stres, dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan atau merasa stres menghadapi lingkungan yang toxic, tapi bingung harus melakukan apa? Tidak perlu khawatir! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Psychology Today. Diakses pada 2026. Unmasking the Victim Mentality.
Medical News Today. Diakses pada 2026. How to Deal with a Victim Mentality.
Gabay, R., et al. (2020). Scientific Reports. The tendency for interpersonal victimhood: The personality construct and its consequences.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Understanding Manipulation and How to Handle It.

FAQ

1. Apakah play victim termasuk gangguan jiwa?

Play victim sendiri bukan diagnosis gangguan jiwa, tetapi bisa menjadi gejala atau ciri dari gangguan kepribadian tertentu seperti narsistik atau borderline.

2. Bagaimana cara menyadarkan orang yang play victim?

Sangat sulit menyadarkan mereka secara langsung. Cara terbaik adalah dengan memberikan umpan balik yang jujur tentang perilaku mereka dan mendorong mereka untuk berkonsultasi dengan psikolog.

3. Apakah saya sedang melakukan play victim?

Jika kamu sering merasa semua orang memusuhi kamu dan sulit menerima kritik, cobalah untuk melakukan introspeksi diri atau bertanya pada teman yang jujur untuk mendapatkan perspektif luar.

4. Apa dampak play victim bagi orang di sekitarnya?

Orang di sekitarnya sering mengalami kelelahan emosional (burnout), rasa bersalah yang tidak berdasar, hingga hilangnya kepercayaan dalam hubungan.