Ad Placeholder Image

Mengenal Proses Oogenesis yang Terjadi pada Sistem Reproduksi Wanita

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

Oogenesis adalah proses pembentukan dan pematangan ovum di dalam ovarium.

Mengenal Proses Oogenesis yang Terjadi pada Sistem Reproduksi WanitaMengenal Proses Oogenesis yang Terjadi pada Sistem Reproduksi Wanita

DAFTAR ISI


Sistem reproduksi wanita adalah salah satu keajaiban biologis yang sangat kompleks dan menakjubkan. Jauh sebelum seorang bayi perempuan lahir ke dunia, tubuhnya sudah mulai mempersiapkan sistem reproduksinya sendiri. Di sinilah peran penting dari sebuah sel dasar yang disebut sebagai oogonium. Sel ini merupakan cikal bakal dari sel telur (ovum) yang nantinya akan berperan krusial dalam proses kehamilan dan penciptaan kehidupan baru.

Memahami apa itu oogonium dan bagaimana proses perkembangannya (oogenesis) sangat penting, bukan hanya dari sudut pandang biologi, tetapi juga untuk kesehatan reproduksi secara keseluruhan. Kualitas dan kuantitas sel telur yang berkembang dari oogonia ini akan sangat menentukan tingkat kesuburan seorang wanita di masa dewasa. Banyak masalah kesuburan yang dialami wanita masa kini sebenarnya memiliki akar atau kaitan erat dengan siklus perkembangan sel telur di dalam ovarium (indung telur).

Sayangnya, tidak seperti pria yang memproduksi sperma secara terus-menerus sepanjang hidupnya, wanita lahir dengan jumlah cadangan sel telur yang sudah ditetapkan dan akan terus berkurang seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, menjaga kesehatan ovarium dan keseimbangan hormon menjadi kunci utama bagi wanita, terutama bagi mereka yang merencanakan kehamilan.

Lantas, bagaimana sebenarnya perjalanan sebuah oogonium hingga menjadi sel telur yang matang? Apa saja faktor dan kondisi medis yang dapat memengaruhi proses ini? Mari kita bahas secara mendalam dan menyeluruh mengenai anatomi, fisiologi, serta cara menjaga kesehatan reproduksi wanita berikut ini!

Apa Itu Oogonium?

Oogonium (bentuk jamak: oogonia) adalah sel induk telur atau sel germinal primordial betina yang belum matang. Secara harfiah, kamu bisa membayangkannya sebagai “bibit” pertama yang nantinya akan membelah, berkembang, dan matang menjadi sel telur (ovum). Oogonium bersifat diploid, yang berarti ia memiliki dua set kromosom lengkap (46 kromosom), sama seperti sel-sel tubuh manusia pada umumnya.

Oogonium terbentuk di dalam indung telur (ovarium) janin perempuan bahkan ketika ia masih berada di dalam kandungan ibunya. Sekitar usia kehamilan 6 hingga 8 minggu, sel-sel germinal primordial bermigrasi ke area yang akan menjadi ovarium janin dan mulai memperbanyak diri melalui proses pembelahan sel yang disebut mitosis. Puncak perkembangbiakan oogonia ini terjadi pada sekitar bulan kelima kehamilan (usia gestasi 20 minggu), di mana seorang janin perempuan bisa memiliki sekitar 6 hingga 7 juta oogonia di dalam indung telurnya.

Namun, setelah mencapai puncaknya, jutaan oogonia ini akan mulai mengalami kematian sel secara alami (apoptosis). Pada saat bayi perempuan lahir, jumlahnya menyusut drastis menjadi hanya sekitar 1 hingga 2 juta sel saja. Sel-sel yang bertahan inilah yang kemudian berubah menjadi oosit primer, yang tertidur dan menunggu masa pubertas tiba untuk melanjutkan proses pematangannya.

Tahapan Proses Oogenesis

Perjalanan dari oogonium menjadi ovum (sel telur matang) disebut dengan proses oogenesis. Oogenesis adalah proses yang sangat panjang dan memakan waktu bertahun-tahun. Proses ini terbagi ke dalam beberapa fase penting:

1. Fase Penggandaan (Proliferasi)

Fase ini terjadi sepenuhnya di dalam kandungan (prenatal). Oogonium membelah diri secara mitosis berkali-kali untuk menghasilkan lebih banyak oogonia. Mitosis memastikan bahwa setiap sel baru yang dihasilkan tetap memiliki 46 kromosom (diploid). Setelah penggandaan ini selesai, sebagian besar oogonium akan membesar dan berubah menjadi oosit primer.

2. Fase Pertumbuhan (Oosit Primer)

Oosit primer kemudian akan memulai proses pembelahan meiosis pertama (Meiosis I). Namun, proses ini tidak langsung selesai. Alam semesta merancang oosit primer untuk “berhenti” atau istirahat pada tahap profase I. Oosit primer ini dibungkus oleh selapis sel folikel pipih yang disebut folikel primordial. Kondisi istirahat ini berlangsung sejak janin lahir hingga anak perempuan tersebut mencapai masa pubertas, yang bisa memakan waktu belasan tahun.

3. Fase Pematangan (Masa Pubertas dan Menstruasi)

Ketika seorang anak perempuan memasuki masa pubertas, kelenjar hipofisis di otaknya mulai melepaskan hormon perangsang folikel atau Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH). Hormon-hormon inilah yang “membangunkan” oosit primer dari tidur panjangnya.

Setiap bulan, sekelompok folikel primordial mulai berkembang. Namun, biasanya hanya ada satu folikel dominan yang berhasil menyelesaikan Meiosis I. Hasil dari pembelahan Meiosis I ini tidak menghasilkan dua sel yang sama besar, melainkan:

  • Satu sel besar yang mendapatkan hampir seluruh sitoplasma (cairan sel), yang disebut Oosit Sekunder.
  • Satu sel kecil yang disebut Badan Polar Pertama (polar body), yang fungsinya hanya untuk membuang setengah kromosom (kini tersisa 23 kromosom) dan nantinya akan hancur atau tidak berkembang.

Oosit sekunder kemudian memulai pembelahan Meiosis II, tetapi kembali berhenti pada tahap metafase II. Oosit sekunder inilah yang dilepaskan oleh ovarium ke saluran tuba falopi pada masa ovulasi setiap bulannya.

4. Fase Fertilisasi (Pembuahan)

Jika oosit sekunder bertemu dengan sel sperma di saluran tuba falopi, barulah sel telur tersebut akan menyelesaikan proses Meiosis II. Hasilnya kembali tidak seimbang: satu sel telur matang (ovum sejati) dan satu badan polar kedua. Jika tidak ada sperma yang membuahi, oosit sekunder akan hancur dan luruh bersama lapisan dinding rahim sebagai darah menstruasi.

Faktor Pemicu Penurunan Kualitas Sel Telur
  1. Usia: Di atas usia 35 tahun, kualitas dan kuantitas cadangan ovarium menurun drastis, meningkatkan risiko mutasi genetik pada sel telur.
  2. Gaya Hidup Buruk: Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebih dapat mempercepat kerusakan DNA pada sel telur.
  3. Stres Oksidatif: Paparan radikal bebas dari polusi, makanan olahan, dan bahan kimia toksik dapat merusak struktur oosit.

Faktor yang Memengaruhi Kualitas dan Kuantitas Sel Telur

Seiring berjalannya waktu, oogonium dan oosit yang ada di dalam tubuh wanita rentan mengalami kerusakan. Ada beberapa hal yang sangat memengaruhi sisa cadangan sel telur ini:

  • Faktor Usia: Ini adalah faktor paling mutlak. Menjelang usia 37 tahun, cadangan sel telur biasanya tinggal sekitar 25.000 sel. Selain jumlahnya yang menurun tajam, kualitas oosit sekunder yang dihasilkan juga menurun. Hal ini menjelaskan mengapa kehamilan di atas usia 35 atau 40 tahun memiliki risiko lebih tinggi terhadap kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
  • Kondisi Medis (Autoimun dan Genetik): Beberapa penyakit autoimun dapat menyebabkan tubuh menyerang sel-sel ovariumnya sendiri. Selain itu, faktor keturunan atau mutasi genetik juga bisa memicu habisnya folikel lebih cepat dari biasanya.
  • Paparan Zat Toksik dan Medis: Wanita yang menjalani pengobatan kanker seperti kemoterapi atau radiasi pada area panggul sering mengalami kerusakan ovarium permanen yang menghancurkan oosit.

Gangguan Kesehatan yang Memengaruhi Fungsi Ovarium

Jika terjadi ketidakseimbangan hormon atau masalah struktural pada ovarium, proses oogenesis bisa terganggu. Beberapa penyakit yang paling umum meliputi:

1. Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)

PCOS adalah gangguan endokrin yang memengaruhi sekitar 1 dari 10 wanita usia reproduksi. Pada kondisi ini, proses pematangan oosit terganggu. Alih-alih melepaskan satu sel telur matang setiap bulan, ovarium mengembangkan banyak folikel kecil (kista) yang berisi cairan tetapi telurnya tidak pernah benar-benar matang untuk diovulasikan. Akibatnya, wanita dengan PCOS kerap mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur, kesulitan hamil, serta kadar hormon pria (androgen) yang lebih tinggi. Jika kamu mengalami siklus haid yang terlewat berbulan-bulan, ada baiknya kamu melakukan konsultasi ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang akurat mengenai kemungkinan PCOS.

2. Kegagalan Ovarium Prematur (Premature Ovarian Failure / POF)

POF, atau yang sering disebut juga sebagai insufisiensi ovarium primer, terjadi ketika ovarium wanita berhenti berfungsi normal sebelum usianya mencapai 40 tahun. Pada kondisi ini, cadangan oosit sudah menipis secara drastis atau indung telur tidak lagi merespons hormon dari otak. Gejalanya mirip dengan menopause, seperti hot flashes, kekeringan vagina, dan berhentinya menstruasi. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari kelainan genetik, penyakit autoimun, hingga paparan racun.

3. Endometriosis di Ovarium (Kista Cokelat)

Endometriosis adalah kondisi di mana jaringan yang mirip dengan lapisan dinding rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim, termasuk di permukaan atau bagian dalam ovarium. Ketika jaringan ini tumbuh di ovarium, ia dapat membentuk kista berisi darah lama yang disebut kista endometrioma atau “kista cokelat”. Hal ini dapat merusak jaringan sehat ovarium dan mengganggu kualitas oosit, yang pada akhirnya memicu masalah infertilitas.

Cara Menjaga Kesehatan Reproduksi dan Sel Telur

Meskipun kita tidak bisa menghentikan jam biologis dan penuaan sel secara alami, kita bisa memperlambat laju kerusakannya dan mempertahankan kualitas sel telur yang tersisa. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa diterapkan:

1. Penuhi Kebutuhan Nutrisi dan Antioksidan

Stres oksidatif adalah musuh utama sel-sel tubuh, termasuk oosit. Memperbanyak konsumsi makanan kaya antioksidan sangat disarankan. Nutrisi penting seperti Folat (Vitamin B9), Vitamin D, Vitamin E, Zinc, dan Coenzyme Q10 (CoQ10) telah terbukti secara ilmiah dapat mendukung kesehatan mitokondria pada sel telur. Jika kamu sedang dalam program hamil atau ingin memperbaiki kualitas reproduksi, mengonsumsi vitamin dan suplemen secara rutin dapat menjadi pelengkap diet harian yang sangat baik untuk sel telurmu.

2. Jaga Berat Badan Ideal

Berat badan berlebih (obesitas) maupun berat badan di bawah normal (kurus ekstrem) dapat mengacaukan sistem hormonal wanita. Jaringan lemak tubuh turut serta dalam memproduksi estrogen. Jika lemak tubuh terlalu tinggi, kelebihan estrogen akan menghambat kelenjar pituitari di otak untuk memberikan sinyal ovulasi, sehingga memicu siklus anovulasi (menstruasi tanpa pelepasan sel telur).

3. Kelola Stres dengan Baik

Hormon stres (kortisol) yang tinggi secara terus-menerus dapat menekan produksi hormon reproduksi seperti GnRH, FSH, dan LH. Itulah mengapa banyak wanita yang sedang mengalami tekanan psikologis berat sering melaporkan siklus menstruasinya menjadi tidak teratur atau berhenti sama sekali (amenorea hipotalamus).

Studi Mengenai Oogenesis dan Kesuburan

Journal of Ovarian Research menerbitkan studi di tahun 2019 yang menjelaskan bahwa suplemen Myo-Inositol dan Asam Folat sangat efektif dalam meningkatkan kualitas oosit pada wanita yang menderita PCOS. Studi ini menunjukkan bahwa kombinasi kedua nutrisi tersebut membantu menyeimbangkan hormon insulin dan androgen, yang secara langsung memperbaiki lingkungan ovarium sehingga folikel dapat berkembang dan matang dengan lebih baik.

Selain itu, publikasi lain dari Human Reproduction Update menyoroti pentingnya Coenzyme Q10 (CoQ10) dalam melawan penuaan sel ovarium. Para peneliti menemukan bahwa oosit membutuhkan energi yang sangat besar (berasal dari mitokondria) untuk melakukan pembelahan sel (meiosis). Penurunan fungsi mitokondria akibat penuaan dapat diatasi sebagian dengan pemberian CoQ10, yang dapat meningkatkan tingkat kelangsungan hidup embrio dan memperbaiki tingkat kesuburan pada wanita di usia lanjut (advanced maternal age).

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang

Menjaga sistem reproduksi adalah investasi jangka panjang, tidak hanya bagi mereka yang merencanakan kehamilan, tetapi juga demi keseimbangan hormon tubuh secara menyeluruh. Terapkan pola hidup sehat dari sekarang, perbanyak makanan bergizi, dan jangan ragu untuk memeriksakan diri secara berkala.

Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc kapan saja dan di mana saja. Segera cek dan manfaatkan layanannya!

FAQ

1. Apakah cadangan oogonium bisa ditambah?

Tidak. Wanita lahir dengan cadangan sel telur yang sudah tetap dan tidak dapat diproduksi ulang. Setelah lahir, jumlah ini hanya akan terus berkurang hingga akhirnya habis pada saat wanita mencapai fase menopause.

2. Apa perbedaan utama oogenesis dan spermatogenesis?

Oogenesis menghasilkan satu sel telur fungsional dan terjadi dengan banyak masa jeda yang bisa memakan waktu puluhan tahun. Sementara spermatogenesis terjadi pada pria, berlangsung terus-menerus sejak pubertas tanpa henti, dan menghasilkan empat sel sperma fungsional sekaligus setiap kali pembelahan.

3. Kapan seorang wanita harus cek cadangan sel telurnya?

Pemeriksaan cadangan sel telur (seperti cek hormon AMH / Anti-Mullerian Hormone) direkomendasikan jika kamu berusia di atas 35 tahun dan belum kunjung hamil setelah 6 bulan rutin berhubungan, atau jika kamu memiliki riwayat keluarga menopause dini.

4. Apakah siklus menstruasi teratur berarti oogenesis berjalan normal?

Sebagian besar iya. Menstruasi yang teratur biasanya merupakan indikator bahwa proses ovulasi (pelepasan sel telur) berjalan lancar. Namun, untuk memastikan kualitas sel telurnya, dokter tetap membutuhkan pemeriksaan medis secara spesifik.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Ovarian cysts.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Female Reproductive System.
PubMed/NCBI. Diakses pada 2024. Coenzyme Q10 restores oocyte mitochondrial function and fertility during reproductive aging.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. Embryology, Oogenesis.
WHO. Diakses pada 2024. Infertility.