Ambis adalah dorongan mencapai tujuan yang bisa berdampak positif maupun negatif pada cara seseorang berkembang.

DAFTAR ISI
- Memahami Konsep Ambisi dalam Psikologi
- Jenis-jenis Ambisi dan Sumber Motivasinya
- Dampak Positif Memiliki Ambisi yang Sehat
- Bahaya Toxic Ambition bagi Kesehatan Mental dan Fisik
- Cara Mengelola Ambisi agar Tetap Seimbang
- Studi Mengenai Ambisi dan Kesejahteraan Psikologis
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Setiap manusia memiliki dorongan untuk mencapai sesuatu dalam hidupnya, entah itu karier yang cemerlang, pendidikan yang tinggi, kesehatan yang optimal, atau kehidupan keluarga yang bahagia. Dorongan kuat untuk terus maju dan meraih impian inilah yang sering kita sebut sebagai ambisi. Tanpa adanya ambisi, kehidupan mungkin akan terasa stagnan, membosankan, dan kehilangan arah.
Namun, sering kali kita mendengar peringatan bahwa ambisi yang berlebihan bisa membawa dampak buruk. Orang yang terlalu ambisius terkadang dijauhi oleh lingkungan sosialnya atau justru mengalami kelelahan ekstrem (burnout) yang merusak kesehatan fisiknya. Pertanyaan yang sering muncul adalah, sebenarnya apa itu ambisi dan bagaimana pandangan medis serta psikologis terhadap dorongan kuat ini?
Penting untuk dipahami bahwa ambisi itu sendiri bukanlah sesuatu yang negatif. Dalam dunia psikologi, ambisi adalah energi penggerak yang vital. Namun, layaknya api, jika dikendalikan dengan baik, ia bisa menghangatkan dan menerangi jalan; tetapi jika dibiarkan liar, ia bisa membakar habis segalanya. Kesehatan mental dan fisik sangat erat kaitannya dengan bagaimana kita mengelola ekspektasi dan ambisi pribadi kita sehari-hari.
Jika kamu merasa penasaran mengenai bagaimana ambisi memengaruhi kesejahteraan mental dan fisikmu, mari kita bedah lebih dalam mengenai konsep ambisi, dampaknya terhadap kesehatan, serta cara terbaik untuk menyeimbangkannya.
Memahami Konsep Ambisi dalam Psikologi
Secara etimologis, kata “ambisi” berasal dari bahasa Latin ambitio, yang pada zaman Romawi Kuno merujuk pada tindakan berkeliling untuk mencari suara atau dukungan politik. Namun, seiring berjalannya waktu, definisi ini berevolusi. Dalam psikologi modern, ambisi didefinisikan sebagai dorongan internal yang gigih untuk mencapai kesuksesan, pengakuan, kekuasaan, atau pencapaian tujuan tertentu.
Psikolog sering mengaitkan ambisi dengan teori kebutuhan pencapaian (Need for Achievement atau nAch) yang dikemukakan oleh David McClelland. Seseorang dengan nAch yang tinggi memiliki keinginan kuat untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menantang, menetapkan standar tinggi untuk diri sendiri, dan selalu mencari cara untuk menjadi lebih baik. Ini adalah sifat yang sangat berharga dalam proses evolusi manusia dan perkembangan peradaban.
Di sisi lain, ambisi juga terkait dengan konsep hirarki kebutuhan Maslow, khususnya pada puncak piramida: aktualisasi diri. Ketika kebutuhan dasar seperti makanan, rasa aman, dan cinta sudah terpenuhi, manusia secara alami akan menggunakan ambisinya untuk menggali potensi maksimal dari dalam dirinya. Oleh karena itu, memiliki ambisi adalah tanda bahwa seseorang memiliki visi dan keinginan untuk bertumbuh.
Jenis-jenis Ambisi dan Sumber Motivasinya
Tidak semua ambisi diciptakan sama. Menurut Self-Determination Theory (Teori Penentuan Nasib Sendiri) dari psikolog Edward Deci dan Richard Ryan, dorongan atau ambisi manusia dapat dibagi berdasarkan sumber motivasinya. Memahami jenis motivasi ini sangat penting untuk menilai apakah ambisi yang kamu miliki menyehatkan atau justru membebani kondisi mentalmu.
1. Ambisi Intrinsik
Ambisi intrinsik adalah dorongan yang berasal dari dalam diri sendiri. Seseorang yang memiliki ambisi intrinsik mengejar tujuan karena prosesnya terasa bermakna, menyenangkan, dan selaras dengan nilai-nilai pribadinya. Contohnya adalah ambisi untuk menjadi lebih sehat, mempelajari keterampilan baru, atau membantu komunitas sosial. Ambisi jenis ini sangat baik untuk kesehatan mental karena berfokus pada pertumbuhan pribadi, penerimaan diri, dan kepuasan batin.
2. Ambisi Ekstrinsik
Sebaliknya, ambisi ekstrinsik adalah dorongan yang dikendalikan oleh faktor luar. Orang dengan ambisi ini mengejar sesuatu untuk mendapatkan validasi dari orang lain, menghindari hukuman, atau mendapatkan imbalan materi. Contohnya adalah obsesi untuk menjadi terkenal, mengejar kekayaan demi status sosial, atau memaksakan diri bekerja hingga larut malam hanya agar dipuji oleh atasan. Meski bisa memberikan kesuksesan jangka pendek, ambisi ekstrinsik yang dominan lebih berisiko menyebabkan stres, kecemasan, dan depresi jika tujuannya gagal tercapai.
Dampak Positif Memiliki Ambisi yang Sehat
Memiliki ambisi yang terukur dan terarah sangat bermanfaat bagi kesehatan secara holistik. Berbagai studi psikologi menunjukkan bahwa orang-orang yang memiliki tujuan hidup (sense of purpose) cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Berikut adalah beberapa manfaat positif dari ambisi yang sehat:
1. Meningkatkan Resiliensi (Ketahanan Mental)
Orang yang ambisius memiliki alasan kuat untuk terus bangkit ketika menghadapi kegagalan. Ambisi bertindak sebagai pelampung psikologis yang mencegah seseorang tenggelam dalam keputusasaan saat mengalami masalah berat.
2. Memperpanjang Angka Harapan Hidup
Konsep memiliki tujuan hidup (seperti Ikigai di Jepang) terbukti secara medis dapat menurunkan tingkat hormon kortisol (hormon stres) dalam jangka panjang. Mereka yang bangun di pagi hari dengan tujuan yang jelas cenderung memiliki pola makan dan gaya hidup yang lebih teratur, yang pada akhirnya berdampak pada umur yang lebih panjang dan kesehatan jantung yang lebih baik.
3. Mengasah Fungsi Kognitif Otak
Untuk mencapai sesuatu yang besar, otak dipaksa untuk terus belajar, memecahkan masalah, dan beradaptasi. Stimulasi kognitif yang terus-menerus ini sangat baik untuk menciptakan koneksi saraf baru (neuroplastisitas), yang dapat mencegah atau menunda munculnya demensia dan Alzheimer di usia tua.
Bahaya Toxic Ambition bagi Kesehatan Mental dan Fisik
Di balik semua sisi positifnya, ambisi memiliki sisi gelap yang dikenal sebagai toxic ambition atau ambisi beracun. Hal ini terjadi ketika dorongan untuk sukses berubah menjadi obsesi, yang membuat seseorang mengorbankan segalanya—termasuk kesehatan fisik, kewarasan, dan hubungan sosial—demi sebuah pencapaian.
Dari segi medis, mengejar ambisi tanpa henti akan memicu respons fight or flight pada sistem saraf simpatik secara terus-menerus. Tubuh akan kebanjiran hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Jika terjadi dalam waktu lama, ini akan memicu berbagai masalah kesehatan yang serius, antara lain:
- Sindrom Kelelahan Kronis (Burnout): Kelelahan fisik, emosional, dan mental yang membuat seseorang kehilangan motivasi secara total. Burnout juga sering memicu kemarahan tanpa sebab dan sinisme yang merusak kepribadian seseorang.
- Gangguan Tidur (Insomnia): Otak yang terus “menyala” untuk memikirkan target, pekerjaan, atau kekhawatiran masa depan membuat penderita sulit memasuki fase tidur dalam (deep sleep). Padahal, fase ini sangat penting untuk regenerasi sel tubuh dan imunitas.
- Risiko Penyakit Kardiovaskular: Stres kronis akibat tekanan ambisi yang berlebihan bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah (hipertensi) dan mempercepat detak jantung, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
- Gangguan Kecemasan dan Depresi: Orang dengan ambisi tidak sehat sering kali terjebak dalam ilusi bahwa kebahagiaan baru bisa didapat jika target tercapai. Ketika target meleset, mereka akan mengalami penurunan harga diri yang drastis, memicu Imposter Syndrome, hingga depresi klinis.
Ciri-ciri Ambisi yang Mulai Merusak Kesehatan (Toxic Ambition)
- Merasa bersalah atau cemas saat sedang beristirahat atau tidak melakukan hal yang produktif.
- Mengorbankan waktu tidur secara konsisten hanya demi menyelesaikan lebih banyak pekerjaan.
- Selalu membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain yang dianggap lebih sukses.
- Kehilangan minat pada hobi yang dulu disukai karena dianggap membuang-buang waktu.
- Mengabaikan asupan nutrisi yang layak demi “menghemat waktu kerja”.
Cara Mengelola Ambisi agar Tetap Seimbang
Kamu tidak perlu membuang ambisimu. Yang perlu dilakukan hanyalah mengendalikannya agar ambisi tersebut bekerja untuk kebaikanmu, bukan sebaliknya. Berikut adalah beberapa langkah praktis dari perspektif psikologi untuk menjaga keseimbangan:
1. Terapkan Konsep SMART Goals
Buatlah ambisi yang Spesifik (Specific), Terukur (Measurable), Dapat Dicapai (Achievable), Relevan (Relevant), dan Memiliki Batas Waktu (Time-bound). Memiliki target yang masuk akal akan mengurangi tekanan berlebih pada psikologismu. Jangan menuntut dirimu untuk melakukan perubahan revolusioner dalam waktu semalam.
2. Praktekkan Mindfulness dan Self-Compassion
Mindfulness akan membantumu untuk tetap sadar akan kondisi tubuhmu saat ini. Jika tubuhmu sudah memberi sinyal kelelahan seperti sakit kepala atau mata perih, berhentilah. Selain itu, praktikkan welas asih pada diri sendiri (self-compassion). Pahamilah bahwa kegagalan adalah hal yang manusiawi. Jangan menjadi kritikus paling kejam bagi dirimu sendiri.
3. Jaga Nutrisi dan Kebutuhan Fisik
Tidak ada kesuksesan yang berharga jika dinikmati di ranjang rumah sakit. Pastikan kamu selalu memenuhi kebutuhan gizi dan cairan setiap hari. Jika butuh asupan tambahan untuk menjaga daya tahan tubuh di tengah jadwal yang padat, kamu bisa mengonsumsi suplemen pendukung secara rutin. Jangan pernah menukar jam tidur malam dengan jam kerja.
Studi Mengenai Ambisi dan Kesejahteraan Psikologis
Journal of Applied Psychology menerbitkan sebuah studi longitudinal komprehensif pada tahun 2012 yang dilakukan oleh Timothy A. Judge dan timnya mengenai kaitan antara ambisi, kesuksesan karier, dan kepuasan hidup. Studi yang melacak subjek penelitian selama puluhan tahun ini menemukan fakta yang sangat menarik.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa individu yang ambisius secara signifikan memiliki pencapaian pendidikan yang lebih tinggi, jabatan yang lebih mentereng, dan pendapatan yang jauh lebih besar. Namun, menariknya, tingkat ambisi tersebut hanya berdampak kecil pada tingkat kebahagiaan atau kepuasan hidup dan sedikit berpengaruh terhadap umur panjang.
Artinya, meskipun ambisi terbukti ampuh sebagai alat pendorong kesuksesan finansial dan karier, ia bukanlah jaminan utama kebahagiaan emosional. Studi ini menegaskan betapa pentingnya bagi kita untuk tidak hanya bergantung pada ambisi material, tetapi juga membangun dukungan emosional, hubungan sosial yang hangat, serta kesehatan fisik dan mental yang terjaga.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Konsultasi dengan Psikolog Klinis via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Psikolog Klinis terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Referensi:
American Psychological Association (APA). Diakses pada 2024. Need for Achievement.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Chronic stress puts your health at risk.
Journal of Applied Psychology. Diakses pada 2024. On the value of aiming high: The causes and consequences of ambition.
Psychology Today. Diakses pada 2024. The Psychology of Ambition: Why We Need It and How to Get It.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Burnout: What It Is, Symptoms, Causes & Prevention.
FAQ
1. Apakah tidak memiliki ambisi berarti saya pemalas?
Tidak selalu. Tidak memiliki ambisi yang tinggi (seperti ingin jadi CEO atau orang kaya) bukan berarti pemalas. Beberapa orang merasa puas dan bahagia dengan kehidupan yang tenang, damai, dan seimbang. Yang terpenting adalah kamu memiliki tanggung jawab dasar atas kehidupanmu dan tidak membebani orang lain di sekitarmu.
2. Bagaimana cara membedakan ambisi yang sehat dengan yang obsesif?
Ambisi yang sehat akan membuatmu merasa bersemangat, tertantang secara positif, dan masih bisa menikmati kehidupan lain di luar tujuanmu. Sementara itu, ambisi obsesif akan membuatmu dihantui rasa takut gagal, sulit beristirahat tanpa rasa bersalah, dan mulai mengorbankan kesehatan atau hubungan dengan keluarga demi mencapai tujuan tersebut.
3. Apakah ambisi bisa berubah seiring bertambahnya usia?
Tentu saja. Perubahan ambisi adalah hal yang sangat wajar. Saat berusia 20-an, ambisimu mungkin terfokus pada karier dan pendapatan. Namun saat memasuki usia 40-an atau 50-an, ambisimu bisa bergeser pada keinginan untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga, menjaga kesehatan tubuh, atau fokus pada kedamaian spiritual.
4. Kapan saya harus mencari bantuan profesional terkait ambisi saya?
Jika dorongan untuk mencapai tujuan hidupmu mulai menyebabkan serangan panik, insomnia parah, kelelahan fisik yang tidak hilang meskipun sudah beristirahat (burnout), hingga depresi akibat kegagalan, sebaiknya segera konsultasikan dirimu ke psikolog atau psikiater. Tenaga profesional akan membantumu menata ulang ekspektasi dan mencari metode coping stres yang lebih sehat.



