• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mengidap Bipolar, Kapan Sebaiknya Hubungi Psikolog?

Mengidap Bipolar, Kapan Sebaiknya Hubungi Psikolog?

Ditinjau oleh: dr. Gabriella Florencia

Halodoc, Jakarta – Tidak hanya menjaga kesehatan fisik, nyatanya tiap orang perlu menjaga kesehatan mental. Ada berbagai gangguan mental yang kerap dialami, salah satunya adalah gangguan bipolar. Gangguan bipolar merupakan salah satu gangguan mental yang ditandai dengan adanya perubahan emosi yang sangat drastis.

Baca juga: Bipolar pada Anak Biasanya Menunjukkan 5 Tanda Ini

Umumnya, pengidap bipolar dapat merasa bahagia, namun beberapa saat kemudian dapat berubah menjadi sangat sedih. Tentunya, kondisi ini sebaiknya diatasi agar tidak berdampak buruk pada kehidupan pengidapnya. Lalu, kapan sebaiknya pengidap bipolar mengunjungi psikolog untuk penanganan?

Jangan Ragu Kunjungi Psikolog

Pengidap bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat bahagia) atau depresi (sangat sedih). Pada periode di antara mania dan depresif umumnya pengidap bipolar memiliki kondisi psikologis yang normal. Melansir National Health Service UK, tiap pengidap bipolar memiliki pola yang berbeda untuk tiap gejala yang dialami, ada yang mengalami siklus cepat dan juga keadaan campuran.

Pengidap bipolar yang mengalami siklus cepat akan mengalami berulang kali fase mania menjadi depresif dan sebaliknya dengan waktu yang sangat cepat tanpa adanya suasana hati yang normal. Sedangkan pengidap yang mengalami keadaan campuran akan mengalami fase mania dan depresif dalam waktu yang bersamaan.

Kapan pengidap bipolar perlu mengunjungi psikolog? Dilansir dari Mayo Clinic, sebagian besar pengidap bipolar tidak menyadari bahwa dirinya mengalami kondisi ini. Sehingga, hal ini membutuhkan dukungan dari keluarga maupun kerabat untuk memastikan kondisi pengidap bipolar. 

Pengidap bipolar yang memasuki fase depresif, terkadang memiliki keinginan untuk melakukan tindakan bunuh diri atau menyakiti diri sendiri, sebaiknya jangan ragu jika kunjungi psikolog pada rumah sakit terdekat jika kamu merasa mengalami perubahan suasana hati yang cukup ekstrem.

Baca juga: Benarkah Terapi Bipolar Harus di Tempat Sepi?

Kenali Pemicu Gangguan Bipolar

Melansir dari National Health Service UK, ada beberapa kondisi yang diduga menjadi pemicu seseorang mengalami bipolar, seperti:

1. Ketidakseimbangan Kimia dalam Otak

Umumnya, ketidakseimbangan bahan kimia yang dikenal sebagai neurotransmitter menjadi salah satu faktor pemicu. Neurotransmitter memiliki fungsi untuk mengendalikan otak.

2. Riwayat Keluarga

Gangguan bipolar memiliki kaitan dengan faktor genetik. Kondisi ini menyebabkan seseorang yang memiliki riwayat keluarga bipolar akan lebih rentan mengalami hal yang serupa.

3. Faktor Pemicu Lainnya

Stres dan depresi nyatanya dapat memicu seseorang mengalami gangguan bipolar. Tidak hanya itu, gangguan penyakit kronis, gangguan tidur, dan menghadapi masalah kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan keuangan, pekerjaan, dan hubungan sosial yang tidak diatasi dengan baik pun rentan menyebabkan seseorang mengalami gangguan bipolar.

Umumnya, gejala bipolar tidak dapat menurun dengan sendirinya. Ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan untuk menurunkan gejala dan membantu pengidap bipolar untuk mengendalikan gejala yang muncul. 

Penanganan bipolar dapat diatasi dengan pemberian obat-obatan untuk mengatasi stres maupun depresi. Melansir National Institute of Mental Health, psikoterapi juga dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan bipolar. Ada beberapa metode yang bisa dilakukan untuk mengatasi gejala gangguan bipolar, seperti interpersonal and social rhythm therapy, cognitive behavioral therapy, dan psychoeducation.

Baca juga: Punya Teman Bipolar, Begini Cara Mendampinginya

Dukungan keluarga dan kerabat penting untuk menunjang pengidap bipolar. Lakukan perubahan gaya hidup sehat bagi pengidap bipolar untuk membantu menurunkan gejala yang dialami. Melakukan olahraga ringan, seperti bersepeda, jalan santai, lari, yoga maupun pilates membantu pengidap bipolar untuk melepaskan stres atau depresi yang dialami, sehingga menurunkan risiko gejala bipolar muncul.

Referensi:
National Institute of Mental Health. Diakses pada 2020. Bipolar Disorder
National Health Service UK. Diakses pada 2020. Bipolar Disorder
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Bipolar Disorder