• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Mitos atau Fakta Varises Picu Chronic Venous Insufficiency

Mitos atau Fakta Varises Picu Chronic Venous Insufficiency

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Mitos atau Fakta Varises Picu Chronic Venous Insufficiency

Halodoc, Jakarta - Kebiasaan duduk atau berdiri terlalu lama dapat memicu chronic venous insufficiency. Kondisi ini ditandai dengan membengkaknya tungkai, akibat terganggunya aliran darah di pembuluh vena pada tungkai. Perlu diketahui bahwa pembuluh vena punya tugas penting, yaitu mengalirkan darah kembali ke jantung, dengan bantuan katup di sepanjang pembuluhnya.

Pada pengidap chronic venous insufficiency, katup-katup pembuluh vena tersebut tidak bisa bekerja optimal. Akibatnya, aliran darah menuju jantung tidak bisa optimal atau terhambat. Namun, apakah benar varises bisa memicu chronic venous insufficiency?

Baca juga: Begini Cara Mencegah Insufisiensi Vena Kronis

Varises adalah Gejala Chronic Venous Insufficiency

Jika varises disebut memicu chronic venous insufficiency, sepertinya kurang tepat. Sebab, varises sebenarnya adalah salah satu gejala atau tanda terjadinya chronic venous insufficiency. Namun, bukan hanya varises saja, chronic venous insufficiency juga biasanya disertai dengan beberapa gejala lain, seperti:

  • Tungkai membengkak.
  • Betis terasa sakit dan gatal.
  • Tungkai terasa nyeri ketika berjalan, tetapi membaik ketika beristirahat.
  • Kulit tungkai menggelap.
  • Muncul luka pada tungkai, tetapi sulit diobati.
  • Tungkai bergerak tiba-tiba, tanpa perintah.

Jika kamu mengalami berbagai gejala tersebut, segera download aplikasi Halodoc untuk membicarakannya pada dokter. Chronic venous insufficiency yang tidak segera diobati dapat membuat pembuluh darah tungkai meradang dan pecah, sehingga timbullah komplikasi serius, seperti infeksi atau selulitis pada jaringan di sekitarnya.

Diagnosis dan Pengobatan untuk Chronic Venous Insufficiency

Dalam menegakkan diagnosis, dokter biasanya akan menanyakan kegiatan sebelum munculnya gejala dan riwayat penyakit yang pernah diidap. Barulah kemudian pemeriksaan lebih lanjut akan dilakukan, seperti:

  • USG Doppler tungkai. Dilakukan untuk memeriksa laju dan arah aliran darah pada tungkai yang bengkak, dengan menggunakan alat USG khusus.
  • Venografi. Dilakukan untuk memeriksa pembuluh vena yang mengalami chronic venous insufficiency, dengan menggunakan sinar X. Sebelumnya, dokter akan memasukkan zat pewarna khusus ke dalam pembuluh darah agar bisa terlihat jelas.
  • MRV (Magnetic Resonance Venography). Dilakukan untuk melihat pembuluh vena pada tungkai yang bengkak, dengan menggunakan gelombang magnetik.

Baca juga: Pembedahan untuk Mengobati Chronic Venous Insufficiency

Setelah diagnosis dipastikan, dokter biasanya akan menganjurkan olahraga rutin jika tingkat keparahannya masih ringan, dan menyarankan pengidap untuk memakai stocking khusus untuk membantu melancarkan aliran darah pada tungkai. Namun, jika kondisi tak kunjung membaik, dokter mungkin akan menyarankan beberapa metode pengobatan lain, seperti pemberian obat-obatan.

Beberapa jenis obat yang biasa diresepkan dokter adalah obat pengencer darah (seperti heparin dan warfarin), obat diuretik (seperti furosemid), dan obat untuk melancarkan aliran darah (seperti pentoxifylline). Selain itu, bisa juga dilakukan beberapa tindakan penanganan lain, seperti:

  • Skleroterapi. Dilakukan dengan cara menyuntikkan obat khusus ke pembuluh vena tungkai. Pembuluh tersebut akan dilukai untuk membukanya, lalu ditutup agar obat bisa diserap tubuh.
  • Radiofrequency ablation atau RFA. Dilakukan dengan menggunakan selang kecil dan sinar khusus untuk menutup pembuluh vena tungkai yang bermasalah. Hal ini agar darah bisa mengalir lewat pembuluh vena lain.
  • Pembedahan. Dilakukan jika chronic venous insufficiency sudah cukup parah. Tindakan pembedahan ini bertujuan untuk memperbaiki pembuluh atau katup yang rusak, mengangkat, mengikat, menutup, atau melakukan cangkok pembuluh vena dan menggantinya dengan yang baru.

Baca juga: Alasan Perokok Rentan Terkena Chronic Venous Insufficiency

Apapun jenis penanganan yang diperlukan, itu tergantung pada hasil diagnosis dan penilaian dokter terhadap tingkat keparahan kondisi yang dialami. Jadi, pastikan untuk memeriksakan diri ke dokter segera ketika mengalami gejala chronic venous insufficiency, ya.

Referensi:
John Hopkins Medicine. Diakses pada 2020. Health Library. Chronic Venous Insufficiency.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2020. Health. Chronic Venous Insufficiency (CVI).
Healthline. Diakses pada 2020. Venous Insufficiency.