• Home
  • /
  • Kesehatan
  • /
  • Chronic Venous Insufficiency

Chronic Venous Insufficiency

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
Chronic Venous Insufficiency

Chronic venous insufficiency (CVI) adalah suatu kondisi yang terjadi ketika dinding vena atau katup di vena kaki tidak bekerja secara efektif. Hal ini menyebabkan darah kesulitan untuk kembali ke jantung dari kaki. CVI menyebabkan darah terkumpul di pembuluh darah, dan pengumpulan ini disebut statis. 

Penyebab Chronic Venous Insufficiency

Vena berfungsi mengembalikan darah ke jantung setelah beredar dari semua organ tubuh. Untuk mencapai jantung, darah perlu mengalir ke atas dari pembuluh darah di kaki. Otot betis dan otot kaki juga perlu berkontraksi pada setiap langkah untuk menekan pembuluh daran dan mendorong darah ke atas. Untuk menjaga darah mengalir ke atas, dan tidak mundur, vena pun memiliki katup satu arah. 

Namun saat mengalami kondisi ini,katup menjadi rusak, sehingga memungkinkan darah bocor ke belakang. Kerusakan katup dapat terjadi sebagai akibat dari penuaan, duduk atau berdiri terlalu lama, atau kombinasi penuaan dan penurunan mobilitas. Ketika pembuluh darah dan katup melemah ke titik di mana darah sulit mengalir ke jantung, tekanan darah di pembuluh darah tetap tinggi untuk jangka waktu yang lama. Kondisi tersebut pun akan mengarah ke CVI.

CVI paling sering terjadi sebagai akibat dari bekuan darah di vena dalam kaki, atau penyakit yang dikenal sebagai deep vein thrombosis (DVT). CVI juga merupakan hasil dari tumor panggul dan malformasi vaskular, dan kadang-kadang terjadi karena alasan yang tidak diketahui. Kegagalan katup di pembuluh darah kaki untuk menahan darah melawan gravitasi, menyebabkan gerakan lambat darah keluar dari pembuluh darah. Kondisi tersebut mengakibatkan kaki bengkak. 

Chronic venous insufficiency yang berkembang sebagai akibat deep vein thrombosis (DVT) juga dikenal sebagai sindrom pasca-trombotik. Sebanyak 30 persen orang dengan DVT akan mengembangkan masalah ini dalam waktu 10 tahun setelah diagnosis. 

Faktor Risiko

Ada banyak hal yang membuat seseorang lebih berisiko mengalami insufisiensi vena, antara lain:

  • Adanya gumpalan darah.
  • Adanya varises.
  • Obesitas.
  • Sedang hamil.
  • Perokok.
  • Memiliki kanker.
  • Otot kaki lemah, atau pernah mengalami cedera kaki.
  • Mengalami pembengkakan vena superfisial (phlebitis).
  • Ada anggota keluarga yang memiliki insufisiensi vena.
  • Gaya hidup tidak aktif (duduk atau berdiri dalam waktu lama tanpa banyak bergerak dapat menimbulkan tekanan darah tinggi di vena kaki dan meningkatkan risiko).

Gejala Chronic Venous Insufficiency

Kemunculan chronic venous insufficiency ditandai dengan beberapa gejala berikut:

  • Pembengkakan pada tungkai.
  • Varises pada tungkai.
  • Sakit di bagian betis yang terasa seperti ditekan dan diiringi rasa gatal.
  • Munculnya nyeri pada tungkai pada saat berjalan dan hilang ketika beristirahat.
  • Kulit berubah menjadi gelap.
  • Muncul luka pada tungkai yang sulit diobati.
  • Muncul gerakan tiba-tiba pada tungkai, tanpa perintah (restless leg syndrome).

Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan pembuluh darah meradang, atau bahkan pecah. Ketika pembuluh darah mengalami peradangan, kulit di daerah tersebut akan tampak kemerahan. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi atau selulitis pada jaringan di sekitar pembuluh darah, serta munculnya luka yang sulit diobati.

Diagnosis Chronic Venous Insufficiency

Untuk memastikan bahwa tungkai bengkak disebabkan oleh kondisi ini, dokter akan menanyakan kejadian yang menimbulkan bengkak pada tungkai dan penyakit yang pernah atau sedang diderita oleh pengidap. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan lanjutan, berupa:

  • USG Doppler Tungkai. USG Doppler dilakukan untuk memeriksa kecepatan dan arah aliran darah. Dokter akan menempelkan dan menekan alat USG ke tungkai pengidap yang bengkak.
  • Venografi. Prosedur ini dilakukan untuk melihat kondisi pembuluh vena yang diduga mengalami chronic venous insufficiency, dengan bantuan sinar R Dokter akan terlebih dahulu memasukkan zat pewarna khusus (kontras) ke dalam pembuluh darah. Setelah itu, baru dilakukan pemindaian dengan sinar Rontgen.
  • MRV (Magnetic Resonance Venography). Metode ini digunakan untuk melihat kondisi pembuluh vena yang diduga mengalami chronic venous insufficiency, dengan bantuan gelombang magnetik.

Pengobatan

Pada kasus chronic venous insufficiency yang ringan, dokter akan menganjurkan pengidap untuk berolahraga secara rutin, menghindari duduk bersila, dan menghindari posisi tungkai yang menggantung. Dokter juga akan meminta pengidap untuk menggunakan stocking khusus. Stocking ini bernama stoking kompresi, yang akan membantu melancarkan aliran darah pada tungkai sehingga pembengkakan tungkai dapat reda.

Bila kondisi tidak membaik dengan pemakaian stocking, ada beberapa metode pengobatan lain yang dapat dilakukan untuk meredakan chronic venous insufficiency, yaitu:

1. Obat-obatan

Beberapa jenis obat yang dapat dikonsumsi untuk mengatasi chronic venous insufficiency meliputi:

  • Obat pengencer darah, untuk mencegah pembentukan gumpalan darah. 
  • Obat diuretik, untuk mengurangi cairan yang menumpuk di dalam tubuh. 
  • Obat untuk melancarkan aliran darah.

2. Obat Suntik

Menyuntikkan obat khusus ke dalam pembuluh vena untuk melukai dan menutup pembuluh vena tersebut. Pembuluh vena yang sudah tertutup akan diserap oleh tubuh, dan aliran darah akan melewati pembuluh vena lainnya.

3. Radiofrequency ablation atau RFA

Metode RFA dilakukan dengan bantuan selang kecil (kateter) dan sinar khusus untuk menutup pembuluh vena yang bermasalah, agar darah tidak mengalir melalui pembuluh tersebut.

  1. Pembedahan

Pada kasus chronic venous insufficiency yang cukup parah, dokter akan menyarankan operasi atau pembedahan. Operasi pada chronic venous insufficiency dapat dilakukan untuk:

  • Memperbaiki pembuluh vena atau katup yang rusak.
  • Mengangkat pembuluh vena yang mengalami Chronic venous insufficiency.
  • Melakukan cangkok pembuluh vena baru (bypass vena), sehingga aliran darah tidak melewati pembuluh vena yang mengalami chronic venous insufficiency.
  • Mengikat atau menutup pembuluh vena yang rusak.

Komplikasi

Komplikasi CVI yang kerap terjadi yaitu berupa:

  • Ulkus vena.
  • Infeksi kulit.
  • Koreng.
  • Hiperpigmentasi kulit di sekitarnya dari degradasi hemosiderin.

Pencegahan

Jika ada anggota keluarga yang mengalami chronic venous insufficiency, ada beberapa hal yang bisa pengidap lakukan untuk mencegahnya terjadinya. Cara pencegahan ini juga dapat dilakukan sebagai kombinasi perawatan bagi seseorang yang sudah didiagnosis mengalami CVI:

  • Hindari berdiri atau duduk dalam waktu lama.
  • Berolahraga secara teratur, minimal sering berjalan kaki.
  • Menurunkan berat badan berlebih.
  • Tinggikan kaki saat duduk dan berbaring, direkomendasikan posisi kaki lebih tinggi dari jantung.
  • Kenakan stoking kompresi.
  • Minum antibiotik sesuai kebutuhan untuk mengobati infeksi kulit.
  • Jaga kebersihan kulit dengan baik.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika keluarga atau kerabat mengalami satupun tanda atau gejala yang disebutkan di atas atau memiliki pertanyaan apapun mengenai Chronic Venous Insufficiency, segera tanya dokter di aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Chronic Venous Insufficiency (CVI)
WebMD. Diakses pada 2022. What Is Chronic Venous Insufficiency?
AHA Journals. Diakses pada 2022. Chronic Venous Insufficiency
Diperbarui pada 25 April 2022.