
Muncul Benjolan di Dalam Telinga seperti Jerawat? Ini Cara Mengatasinya
“Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab benjolan di dalam telinga seperti jerawat, mulai dari jerawat hingga keloid. Mengetahui penyebabnya penting agar bisa melakukan pengobatan yang sesuai.”

DAFTAR ISI
- Penyebab Utama Benjolan di Kuping
- Gejala yang Perlu Diwaspadai
- Cara Mengatasi Benjolan di Kuping
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Menemukan adanya benjolan di kuping atau telinga sering kali membuat seseorang merasa cemas dan khawatir. Telinga adalah salah satu organ tubuh yang sangat sensitif, memiliki banyak saraf, serta lapisan kulit yang tipis. Oleh karena itu, sekecil apa pun kelainan yang muncul di area ini, termasuk benjolan, biasanya dapat langsung terasa atau terlihat dengan jelas saat sedang membersihkan telinga atau bercermin.
Secara anatomis, benjolan di kuping bisa muncul di berbagai lokasi. Ada yang tumbuh di daun telinga bagian luar (pinna), di saluran telinga bagian dalam, di bagian cuping telinga, atau bahkan di area kulit tepat di belakang telinga. Penyebab munculnya benjolan ini pun sangat bervariasi, mulai dari kondisi yang sangat ringan dan tidak berbahaya seperti jerawat biasa, hingga kondisi medis tertentu yang membutuhkan penanganan lebih lanjut seperti infeksi bakteri maupun pembesaran kelenjar getah bening.
Meskipun sebagian besar benjolan di area kuping tergolong jinak dan bisa hilang dengan sendirinya, sangat penting bagi kamu untuk tidak meremehkan kondisi ini. Beberapa benjolan yang dibiarkan tanpa penanganan yang tepat atau malah dipencet secara sembarangan berisiko mengalami infeksi sekunder. Infeksi pada telinga yang menyebar bisa berpotensi mengganggu fungsi pendengaran hingga menyebabkan komplikasi kesehatan yang lebih luas.
Lantas, apa saja yang sebenarnya menjadi pemicu munculnya kondisi ini dan bagaimana langkah yang paling tepat untuk mengobatinya? Nah, mau tahu apa saja ulasan lengkap mengenai masalah telinga ini? Berikut ulasannya!
Penyebab Utama Benjolan di Kuping
Benjolan yang muncul di area telinga bisa memiliki bentuk, ukuran, dan tingkat nyeri yang berbeda-beda tergantung dari penyebab dasarnya. Berikut adalah beberapa penyebab paling umum yang sering ditemukan pada kasus benjolan di telinga:
1. Jerawat (Acne Vulgaris)
Jerawat tidak hanya bisa muncul di wajah atau punggung, tetapi juga sangat umum terbentuk di telinga. Saluran telinga dan daun telinga memiliki banyak kelenjar sebasea yang memproduksi minyak (sebum). Ketika minyak berlebih ini bercampur dengan sel kulit mati dan debu, pori-pori akan tersumbat. Jika bakteri Propionibacterium acnes ikut terperangkap di dalamnya, maka akan terjadi peradangan yang memunculkan benjolan merah, bengkak, dan seringkali terasa sangat menyakitkan. Jerawat di kuping bagian dalam bisa terasa sangat mengganggu terutama saat kamu menggunakan earphone atau berbaring.
2. Kista Sebasea dan Epidermoid
Kista adalah kantung tertutup di bawah permukaan kulit yang berisi cairan, jaringan, atau material seperti keratin (protein kulit). Kista epidermoid sering terbentuk di sekitar daun telinga atau di belakang telinga akibat penumpukan keratin di bawah kulit. Sementara itu, kista sebasea berasal dari kelenjar sebasea yang tersumbat. Kedua jenis kista ini biasanya teraba seperti benjolan bulat yang licin, lunak, dan dapat digerakkan jika disentuh. Umumnya kista ini tidak menimbulkan rasa sakit kecuali jika pecah atau terinfeksi oleh bakteri luar.
3. Pembengkakan Kelenjar Getah Bening (Limfadenopati)
Di area sekitar belakang telinga (area mastoid) terdapat kelenjar getah bening yang bertugas sebagai sistem pertahanan tubuh. Ketika tubuh, khususnya area kepala, leher, atau tenggorokan, sedang melawan infeksi bakteri atau virus, kelenjar ini akan memproduksi sel darah putih lebih banyak dan akhirnya membengkak. Infeksi seperti radang tenggorokan, pilek, infeksi telinga tengah (otitis media), maupun campak seringkali memicu benjolan yang terasa lunak, seukuran kacang polong, dan sedikit nyeri saat ditekan di belakang kuping.
4. Keloid
Keloid adalah jaringan parut yang tumbuh secara berlebihan setelah kulit mengalami luka. Di area telinga, keloid sangat sering terjadi akibat proses tindik (piercing) yang mengalami trauma berulang atau infeksi ringan. Keloid tampak sebagai benjolan yang tebal, padat, menonjol, dan warnanya bisa lebih gelap dari kulit sekitarnya. Benjolan ini bersifat jinak namun tidak bisa hilang secara alami dan seringkali memicu rasa gatal atau tidak nyaman secara estetika.
5. Infeksi Telinga Luar (Otitis Eksterna)
Otitis eksterna atau yang sering dikenal dengan istilah swimmer’s ear adalah peradangan atau infeksi pada saluran yang menghubungkan daun telinga ke gendang telinga. Kondisi ini sering disebabkan oleh air yang terperangkap di dalam telinga setelah berenang, yang menciptakan lingkungan lembap bagi bakteri atau jamur untuk berkembang biak. Gejalanya meliputi saluran telinga yang membengkak hebat sehingga menyerupai benjolan, kemerahan, gatal parah, dan keluarnya cairan berbau tidak sedap.
6. Chondrodermatitis Nodularis Helicis (CNH)
Kondisi medis dengan nama yang cukup panjang ini merujuk pada munculnya benjolan kecil atau nodul di area tulang rawan telinga, khususnya pada heliks (tepi luar daun telinga). CNH biasanya disebabkan oleh tekanan yang terus-menerus pada telinga, misalnya tidur di satu sisi dalam jangka waktu lama, atau bisa juga akibat paparan sinar matahari ekstrem. Benjolan ini bisa tumbuh membesar dengan cepat dan terasa sangat nyeri saat tersentuh bantalan kepala.
7. Lipoma
Lipoma merupakan benjolan jinak yang berisi tumpukan jaringan lemak. Meskipun lebih sering muncul di leher atau punggung, lipoma juga dapat terbentuk di area telinga, terutama di bagian cuping telinga. Ciri khas lipoma adalah pertumbuhannya yang sangat lambat, teksturnya yang empuk, tidak berubah warna, dan sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit kecuali jika ukurannya membesar dan menekan saraf di sekitarnya.
Tips Mencegah Benjolan Akibat Infeksi di Telinga
- Hindari kebiasaan mengorek telinga menggunakan cotton bud atau benda tajam karena dapat menyebabkan luka kecil yang mengundang bakteri.
- Keringkan telinga dengan handuk lembut setiap kali selesai mandi atau berenang.
- Jaga kebersihan benda yang sering menempel di telinga seperti headset, earphone, dan layar telepon seluler.
- Jika memiliki riwayat keloid, pertimbangkan secara matang sebelum melakukan prosedur tindik telinga (piercing).
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Sebagian besar benjolan di telinga dapat diobservasi secara mandiri di rumah. Namun, peradangan di area kepala sangat dekat dengan saraf-saraf kranial dan otak, sehingga kamu harus ekstra waspada. Segera waspadai dan pantau kondisi telingamu jika benjolan disertai dengan beberapa gejala penyerta berikut ini:
- Rasa nyeri berdenyut yang semakin hebat dan mengganggu waktu tidur.
- Benjolan tampak semakin merah, membesar secara signifikan dalam hitungan hari, dan terasa hangat ketika diraba.
- Mengeluarkan cairan berwarna kuning, hijau, atau berdarah yang disertai dengan bau busuk.
- Telinga terasa penuh, berdenging (tinnitus), hingga mengalami penurunan kemampuan mendengar secara mendadak.
- Disertai demam tinggi di atas 38 derajat Celcius, menggigil, atau kelemahan tubuh.
- Benjolan tidak bisa digerakkan (terasa kaku/menempel erat pada jaringan di bawahnya) dan bentuknya tidak beraturan.
Cara Mengatasi Benjolan di Kuping
Penanganan terhadap benjolan sangat bergantung pada apa yang menjadi penyebab utamanya. Sangat penting untuk tidak pernah mencoba memencet, menusuk, atau memecahkan benjolan sendiri menggunakan jarum di rumah, karena ini adalah jalan utama masuknya bakteri yang bisa memicu infeksi yang jauh lebih parah.
1. Perawatan Mandiri di Rumah
Untuk benjolan yang disebabkan oleh jerawat ringan atau kista kecil tanpa infeksi, perawatan konservatif di rumah seringkali sudah cukup membantu. Langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah menempelkan kompres hangat. Celupkan handuk bersih ke dalam air hangat, peras airnya, lalu tempelkan secara perlahan ke area benjolan selama 10 hingga 15 menit. Lakukan ini 3 hingga 4 kali sehari. Suhu hangat akan membantu melancarkan sirkulasi darah, membuka pori-pori kulit, dan mendorong nanah atau sumbatan di dalam benjolan keluar secara perlahan dan alami.
Selain kompres hangat, pastikan kamu mencuci area tersebut menggunakan sabun berbahan lembut dan air bersih minimal dua kali sehari. Jika kamu merasa sangat terganggu dengan rasa sakitnya, menggunakan obat-obatan yang bisa dibeli bebas di apotek bisa menjadi solusi pertama. Kamu bisa beli obat pereda nyeri seperti ibuprofen atau paracetamol yang akan sangat membantu memblokir sinyal rasa sakit sekaligus menurunkan peradangan di sekitar kuping.
2. Tindakan dan Penanganan Medis
Ketika penanganan rumahan tidak memberikan hasil positif setelah beberapa hari, bantuan medis profesional sangat dibutuhkan. Jika benjolan terus membesar, bernanah, atau menyebabkan gangguan pendengaran, jangan ragu untuk segera konsultasi ke dokter. Tindakan yang dilakukan oleh dokter akan disesuaikan dengan jenis benjolan tersebut.
Apabila benjolan terdiagnosis sebagai infeksi bakteri yang berat seperti mastoiditis atau otitis eksterna, dokter akan meresepkan obat antibiotik oral, salep antibiotik, atau obat tetes telinga khusus. Jika benjolan merupakan kista yang berukuran cukup besar, dokter mungkin akan melakukan prosedur eksisi ringan (bedah minor) untuk memotong kista beserta kantungnya agar tidak tumbuh kembali di kemudian hari. Pada kasus keloid, dokter biasanya akan merekomendasikan injeksi kortikosteroid ke dalam jaringan parut untuk meratakan dan mengecilkan benjolan secara bertahap.
Studi Terkait
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa kista epidermoid merupakan salah satu temuan tumor jinak yang sangat lazim di area telinga dan leher.
Penelitian tersebut menekankan pentingnya eksisi bedah total dengan pengangkatan seluruh kapsul kista sebagai terapi utama. Hal ini membuktikan bahwa mencoba memecahkan kista atau benjolan sendiri tanpa mengangkat kapsulnya secara utuh justru akan menyebabkan kista kambuh kembali dengan risiko peradangan lokal yang lebih masif.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Apakah benjolan di telinga bisa menjadi tanda bahaya kanker?
Meskipun kemungkinannya sangat kecil, benjolan di daun telinga bagian luar yang tak kunjung sembuh, mudah berdarah, dan bentuknya tidak simetris bisa menjadi gejala awal kanker kulit (seperti melanoma atau karsinoma sel basal). Terutama bagi mereka yang sering terpapar sinar matahari langsung dalam waktu lama tanpa pelindung.
2. Berapa lama benjolan jerawat di dalam telinga bisa sembuh?
Jerawat ringan di telinga biasanya akan pecah atau menyusut dengan sendirinya dalam waktu 3 hingga 7 hari asalkan dijaga kebersihannya. Penggunaan kompres hangat sangat membantu mempercepat proses penyembuhan alami ini.
3. Apakah obat tetes telinga yang dijual bebas aman untuk benjolan?
Sebaiknya hindari memasukkan obat tetes apa pun ke dalam telinga sebelum benjolan diperiksa oleh dokter, terutama jika kamu tidak mengetahui penyebab pastinya. Menggunakan obat tetes yang salah justru bisa memperburuk iritasi atau merusak gendang telinga jika ada infeksi bagian dalam.
4. Bisakah pembengkakan kelenjar getah bening di telinga menular?
Pembengkakan kelenjar getah beningnya sendiri tidak menular, karena itu adalah reaksi tubuh. Namun, patogen atau kuman penyebab infeksi yang memicu pembengkakan tersebut (seperti virus influenza atau bakteri streptococcus) sangat mungkin menular ke orang lain melalui droplet atau kontak langsung.


