Ad Placeholder Image

Naik Pitam Artinya: Marah Sekali atau Malah Pusing?

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Naik Pitam Artinya: Marah atau Justru Pusing?

Naik Pitam Artinya: Marah Sekali atau Malah Pusing?Naik Pitam Artinya: Marah Sekali atau Malah Pusing?

DAFTAR ISI


Istilah “naik pitam” sering kali diartikan sebagai kondisi marah besar atau emosi yang meledak-ledak. Namun tahukah kamu, secara medis dan harfiah, kata “pitam” sebenarnya merujuk pada rasa pusing yang parah, pandangan menghitam tiba-tiba, hingga hilangnya kesadaran atau pingsan. Adanya dua makna ini sering membuat masyarakat bingung membedakan antara pitam sebagai respons emosional dan pitam sebagai gangguan fisik.

Dalam konteks kesehatan fisik, pitam atau pusing mendadak bisa menjadi sinyal kuat bahwa tubuh sedang mengalami gangguan tertentu. Hal ini biasanya berkaitan dengan aliran darah ke otak yang menurun secara tiba-tiba akibat kurang darah, tekanan darah rendah, hingga masalah dehidrasi parah. Kondisi ini membuat sel-sel otak kekurangan oksigen sejenak sehingga memicu pandangan gelap sesaat.

Sebaliknya, dalam konteks emosional, naik pitam disebabkan oleh lonjakan hormon stres di dalam tubuh yang merangsang amigdala, yakni bagian otak yang mengatur emosi. Lonjakan hormon ini tak jarang juga memicu respons fisik seperti dada berdebar keras, wajah memerah, hingga kepala terasa pusing dan tegang.

Mengetahui secara pasti penyebab pitam dari kacamata medis dan psikologis sangatlah penting. Dengan diagnosis yang tepat, kamu bisa mengambil langkah penanganan dini agar masalah ini tidak memicu komplikasi fatal, seperti cedera akibat jatuh pingsan maupun serangan jantung akibat stres berlebihan. Nah, mau tahu apa saja penyebab pasti dan cara mengatasinya? Berikut ulasan lengkapnya!

Apa Itu Pitam? Mengenal Makna Emosional dan Medis

Sebelum membahas lebih jauh mengenai penyebabnya, penting untuk menyamakan persepsi mengenai apa itu pitam. Dalam kamus dan istilah sehari-hari, “naik pitam” sangat melekat pada arti kemarahan yang tak tertahankan. Seseorang yang sedang naik pitam biasanya kehilangan kendali atas emosinya, bisa berteriak, hingga bertindak agresif. Reaksi ini muncul sebagai bentuk perlindungan diri atau pelampiasan dari rasa frustrasi yang memuncak.

Di sisi lain, dari kacamata kesehatan konvensional Indonesia, “pitam” adalah istilah klasik untuk menyebut kondisi blackout atau pandangan gelap mendadak. Secara medis, kondisi ini paling erat kaitannya dengan presinkop (hampir pingsan) atau sinkop (pingsan). Saat seseorang mengalami pitam secara fisik, aliran darah yang membawa oksigen dan glukosa ke otak mengalami penurunan drastis, meski hanya sepersekian detik. Akibatnya, fungsi visual dan keseimbangan tubuh terganggu sementara waktu.

Penyebab “Naik Pitam” secara Emosional (Mudah Marah)

Kondisi emosional yang mudah meledak atau cepat naik pitam tidak terjadi begitu saja. Ada serangkaian mekanisme kimiawi di dalam otak dan faktor eksternal yang memicunya. Beberapa penyebab utamanya antara lain:

1. Stres Kronis yang Tidak Terkelola

Tekanan dari pekerjaan, masalah keuangan, atau dinamika keluarga yang terjadi secara terus-menerus bisa menumpuk menjadi stres kronis. Saat stres menumpuk, hormon kortisol dalam tubuh akan terus berada di level yang tinggi. Hal ini membuat saraf menjadi sangat sensitif, sehingga masalah sepele saja bisa memicu amarah besar atau naik pitam.

2. Gangguan Kecemasan (Anxiety) dan Depresi

Banyak yang mengira depresi hanya ditandai dengan rasa sedih. Faktanya, salah satu gejala umum dari depresi dan gangguan kecemasan (anxiety) pada beberapa orang, khususnya pria, adalah iritabilitas atau mudah marah. Perasaan tidak berdaya dan panik sering kali dimanifestasikan keluar dalam bentuk amarah yang meledak-ledak.

3. Kurang Tidur dan Kelelahan Fisik

Tidur adalah waktu bagi otak untuk memulihkan diri dan mengatur ulang koneksi saraf pengatur emosi. Ketika seseorang mengalami insomnia atau kelelahan ekstrem, lobus frontal di otak—yang bertugas mengendalikan impuls dan logika—tidak bisa berfungsi optimal. Inilah sebabnya orang yang kurang tidur sangat mudah tersinggung dan naik pitam.

Berbagai Penyebab Pitam Fisik (Pusing Mendadak)

Jika pitam yang kamu alami berupa pusing berkunang-kunang, pandangan gelap saat berdiri, atau merasa seperti akan pingsan, maka penyebabnya murni berasal dari masalah sirkulasi atau metabolisme tubuh. Berikut adalah kondisi medis yang bisa memicu pitam:

1. Hipotensi Ortostatik (Penurunan Tekanan Darah Mendadak)

Ini adalah penyebab pitam fisik yang paling umum. Hipotensi ortostatik terjadi ketika kamu berubah posisi dari duduk atau berbaring ke posisi berdiri dengan terlalu cepat. Gravitasi menyebabkan darah berkumpul di bagian kaki, sehingga pasokan darah ke otak mendadak berkurang. Jantung seharusnya langsung memompa lebih cepat untuk menyeimbangkan ini, tapi pada beberapa kasus proses ini terlambat, sehingga pandangan menjadi gelap sesaat.

2. Anemia Defisiensi Besi (Kurang Darah)

Anemia terjadi ketika tubuh tidak memiliki sel darah merah sehat yang cukup untuk membawa oksigen ke seluruh organ tubuh, termasuk otak. Kekurangan zat besi adalah penyebab utamanya. Orang dengan anemia sering kali merasa lemah, letih, pucat, dan sangat sering mengalami pitam atau pusing, terutama setelah beraktivitas fisik.

3. Dehidrasi Parah

Kekurangan cairan tubuh akibat kurang minum, diare, atau berkeringat berlebih menyebabkan volume darah menyusut. Saat volume darah berkurang, tekanan darah otomatis akan ikut anjlok. Akibatnya, aliran darah menuju otak melemah dan memicu sensasi pitam, pusing berputar, hingga pingsan total.

4. Hipoglikemia (Gula Darah Rendah)

Otak manusia hanya bisa menggunakan glukosa (gula darah) sebagai sumber energi utamanya. Saat kamu telat makan, melakukan diet ekstrem, atau menggunakan obat diabetes secara berlebihan, kadar gula darah bisa anjlok drastis (hipoglikemia). Tanpa energi yang cukup, otak tidak bisa berfungsi, memicu keringat dingin, gemetar, dan pitam.

5. Gangguan Irama Jantung (Aritmia)

Jantung yang berdetak terlalu lambat (bradikardia) atau terlalu cepat tapi tidak efisien (takikardia) bisa membuat darah tidak terpompa sempurna ke otak. Jika pitam yang kamu rasakan disertai dengan dada berdebar kencang, nyeri dada, atau sesak napas, ini bisa menjadi pertanda adanya masalah pada jantung.

Pertolongan Pertama Saat Mengalami Pitam Fisik
  1. Segera duduk atau berbaring. Jangan memaksakan diri untuk tetap berdiri agar tidak jatuh dan mengalami cedera kepala.
  2. Jika berbaring, angkat kedua kaki sedikit lebih tinggi dari posisi jantung (menggunakan bantal) untuk melancarkan aliran darah kembali ke otak.
  3. Longgarkan pakaian yang ketat di area leher, dada, dan pinggang agar sirkulasi dan pernapasan lebih lega.
  4. Minum air putih manis atau makan permen jika dicurigai penyebabnya adalah gula darah rendah atau dehidrasi.

Gejala Penyerta Pitam yang Perlu Diwaspadai

Sensasi pitam biasanya tidak datang sendirian. Tubuh akan mengeluarkan sinyal-sinyal peringatan sebelum pandangan benar-benar gelap atau sebelum emosi meledak tak terkendali. Menyadari gejala-gejala ini sangat berguna sebagai langkah antisipasi.

Pada pitam yang bersifat fisik, gejalanya meliputi rasa ringan di kepala (lightheadedness), telinga berdenging (tinnitus), mual yang muncul seketika, keringat dingin membanjiri dahi dan leher, serta tungkai yang terasa lemas tidak bertulang.

Sedangkan pada pitam yang bersifat emosional (marah besar), gejala penyertanya meliputi napas yang tiba-tiba menjadi pendek dan cepat, rahang atau kepalan tangan yang mengeras secara tidak sadar, dada terasa panas dan berdebar, serta otot leher dan bahu yang menjadi sangat tegang.

Cara Mencegah dan Mengatasi Kondisi Pitam

Penanganan kondisi pitam sangat bergantung pada akar penyebabnya, apakah murni masalah psikologis atau gangguan kesehatan fisik. Berikut panduan mengatasi keduanya:

1. Mengelola Emosi untuk Mencegah Naik Pitam

Jika kamu sering tidak bisa mengontrol amarah, mulailah mempraktikkan teknik pernapasan dalam (deep breathing) setiap kali merasa terpicu. Tarik napas perlahan melalui hidung, tahan beberapa detik, dan embuskan lewat mulut. Hal ini akan mengaktifkan sistem saraf parasimpatik yang membantu menenangkan detak jantung. Selain itu, melakukan terapi perilaku kognitif (CBT) bersama psikolog sangat dianjurkan untuk mencari akar pemicu stres.

2. Perbaikan Posisi Tubuh Secara Perlahan

Bagi kamu yang sering mengalami pitam akibat hipotensi ortostatik, biasakan diri untuk tidak bangkit dari tempat tidur atau kursi secara tiba-tiba. Saat bangun tidur pagi, duduklah terlebih dahulu di tepi kasur selama satu atau dua menit sebelum akhirnya berdiri. Gerakan perlahan ini memberi waktu bagi pembuluh darah untuk menyesuaikan tekanan gravitasi.

3. Penuhi Kebutuhan Cairan dan Nutrisi

Pastikan kamu meminum air putih minimal delapan gelas sehari untuk mencegah dehidrasi. Selain itu, perhatikan pola makan dengan memperbanyak konsumsi makanan kaya zat besi seperti daging merah, bayam, dan hati ayam untuk mencegah anemia. Jangan lupa untuk makan secara teratur guna menjaga stabilitas gula darah. Jika tubuhmu membutuhkan dukungan nutrisi tambahan, kamu bisa beli obat online berupa suplemen zat besi, vitamin B kompleks, maupun vitamin C secara praktis lewat Halodoc.

4. Hindari Berdiri Terlalu Lama di Tempat Panas

Cuaca yang sangat terik membuat pembuluh darah menyebar (vasodilatasi) untuk membuang panas tubuh. Efek sampingnya, tekanan darah bisa menurun dan memicu pitam. Jika pekerjaan mengharuskanmu berada di luar ruangan, selalu sedia air minum dan sesekali cari tempat teduh untuk beristirahat sejenak.

Namun, jika pitam atau pandangan gelap yang kamu rasakan terjadi sangat sering, bahkan saat sedang duduk tenang, itu mungkin indikasi kondisi serius. Sebaiknya segera jadwalkan konsultasi dokter spesialis untuk melakukan pemeriksaan mendalam seperti cek darah lengkap, EKG (elektrokardiogram), atau evaluasi saraf. Penanganan medis yang terlambat bisa meningkatkan risiko cedera berbahaya akibat pingsan mendadak.

Studi Terkait Pitam dan Sinkop

Journal of the American Heart Association menerbitkan studi komprehensif pada tahun 2020 yang menjelaskan bahwa fenomena sinkop (pingsan) dan presinkop sering kali berkaitan kuat dengan disfungsi sistem saraf otonom, khususnya yang berujung pada hipotensi ortostatik.

Penelitian ini juga menegaskan pentingnya evaluasi klinis menyeluruh, mengingat pasien lansia yang sering mengeluhkan pitam berulang memiliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk mengalami komplikasi kardiovaskular parah serta cedera fatal akibat terjatuh. Pemantauan tekanan darah harian dan manajemen cairan menjadi intervensi paling dasar yang direkomendasikan.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

FAQ

1. Apa sebenarnya beda antara naik pitam dan pitam secara medis?

Naik pitam secara idiom bermakna kemarahan yang meledak-ledak karena emosi. Sedangkan secara medis atau fisik, pitam merujuk pada sensasi pusing parah, pandangan gelap berkunang-kunang, atau kondisi presinkop di mana seseorang merasa hampir pingsan akibat aliran darah ke otak yang menurun sementara.

2. Apakah sering pitam atau pandangan gelap itu berbahaya?

Bisa berbahaya jika pitam terjadi secara terus-menerus dan tanpa pemicu yang jelas, karena berisiko menyebabkan pingsan mendadak yang memicu cedera fatal, patah tulang, atau gegar otak. Kondisi ini juga bisa menandakan adanya masalah serius pada jantung, gangguan saraf, atau anemia kronis yang harus segera ditangani secara medis.

3. Apa pertolongan pertama saat seseorang mengalami pitam fisik?

Pertolongan pertama terbaik adalah segera meminta pasien untuk duduk atau berbaring rata dengan tungkai kaki sedikit lebih tinggi dari jantung. Jangan paksa pasien untuk berdiri. Berikan ruangan yang cukup udara, longgarkan pakaian yang ketat, dan berikan minuman manis ringan jika pasien sudah sepenuhnya sadar dan bisa menelan dengan baik.

4. Kapan kondisi pitam mengharuskan saya pergi ke dokter?

Kamu harus segera memeriksakan diri ke dokter jika pitam disertai dengan keluhan nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar tidak beraturan, kesulitan bicara, atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh. Gejala-gejala tersebut bisa menjadi tanda bahaya awal dari serangan jantung maupun stroke.


Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Orthostatic hypotension (postural hypotension) – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Syncope: Fainting, Causes & Treatment.
American Psychological Association. Diakses pada 2024. Anger Management: Strategies and Tips.
World Health Organization. Diakses pada 2024. Anaemia – Symptoms, diagnosis and treatment.
Journal of the American Heart Association. Diakses pada 2024. Syncope and Autonomic Dysfunction.