
Obesitas Bukan Sekadar Pola Makan, Kenali Penyebab Lainnya
Selain pola makan, aktivitas fisik juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap obesitas.

DAFTAR ISI
- Beragam Penyebab Obesitas yang Perlu Diketahui
- Komplikasi Kesehatan Akibat Obesitas
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan global yang angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun, termasuk di Indonesia. Banyak orang masih menganggap bahwa obesitas semata-mata terjadi karena seseorang terlalu banyak makan dan malas bergerak. Padahal, dari kacamata medis, obesitas adalah penyakit kronis dan kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.
Kondisi ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Obesitas ditandai dengan penumpukan lemak tubuh yang berlebihan hingga berisiko menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. Seseorang dikatakan mengalami obesitas jika memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) di atas 25 (untuk standar Asia-Pasifik) atau 27 ke atas. Lemak ekstra ini, terutama lemak viseral yang menumpuk di sekitar perut, bertindak layaknya organ endokrin yang melepaskan zat peradangan ke seluruh tubuh.
Oleh karena itu, memahami penyebab obesitas secara menyeluruh sangatlah penting. Penanganan obesitas tidak bisa disamaratakan pada setiap orang. Ada kalanya, meski sudah melakukan diet ketat dan olahraga rutin, jarum timbangan tidak kunjung bergerak turun. Hal ini menunjukkan adanya faktor lain yang bekerja di balik layar, mulai dari genetik, ketidakseimbangan hormon, hingga pengaruh obat-obatan tertentu.
Nah, mau tahu apa saja sebenarnya akar penyebab obesitas dari sudut pandang medis? Berikut ulasannya!
Beragam Penyebab Obesitas yang Perlu Diketahui
Mengetahui penyebab pasti dari penambahan berat badan yang berlebihan adalah langkah pertama untuk menemukan metode penanganan yang paling efektif. Berikut adalah faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap terjadinya obesitas:
1. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Genetika memainkan peran yang sangat signifikan dalam menentukan bagaimana tubuh memproses makanan, seberapa efisien tubuh mengubah makanan menjadi energi, dan bagaimana tubuh mendistribusikan lemak. Jika salah satu atau kedua orang tua kamu mengalami obesitas, risiko kamu untuk mengalami kondisi yang sama akan jauh lebih besar.
Secara medis, mutasi pada gen tertentu seperti gen FTO (Fat Mass and Obesity-associated gene) dapat memengaruhi nafsu makan seseorang, membuat mereka cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori dan lebih menyukai makanan tinggi lemak atau gula. Genetik juga memengaruhi Basal Metabolic Rate (BMR), yaitu kecepatan tubuh membakar kalori saat sedang beristirahat.
2. Resistensi Leptin dan Insulin
Hormon adalah pembawa pesan kimia tubuh yang mengatur berbagai fungsi, termasuk metabolisme dan rasa lapar. Leptin adalah hormon yang diproduksi oleh sel-sel lemak. Tugas utamanya adalah memberi tahu otak bahwa tubuh sudah memiliki cukup cadangan lemak, sehingga nafsu makan harus dihentikan.
Namun, pada orang dengan obesitas, jumlah leptin di dalam darah sangat tinggi, tetapi otak tidak merespons sinyal tersebut. Kondisi ini disebut resistensi leptin. Otak berpikir tubuh sedang kelaparan, sehingga terus memicu rasa lapar. Selain itu, resistensi insulin (hormon pengatur gula darah) juga membuat sel tubuh kesulitan menyerap glukosa, yang akhirnya diubah tubuh menjadi cadangan lemak.
3. Kondisi Medis Tertentu
Beberapa penyakit dapat menjadi penyebab obesitas karena memengaruhi laju metabolisme basal atau keseimbangan hormon tubuh. Penyakit seperti Hipotiroidisme (kelenjar tiroid kurang aktif) menyebabkan tubuh tidak memproduksi cukup hormon tiroid, sehingga metabolisme melambat secara drastis.
Pada wanita, PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) adalah penyebab umum bertambahnya berat badan. PCOS menyebabkan ketidakseimbangan hormon reproduksi wanita dan erat kaitannya dengan resistensi insulin. Sindrom Cushing, kondisi di mana tubuh memproduksi hormon kortisol secara berlebihan, juga menyebabkan penumpukan lemak yang khas di wajah, punggung bagian atas, dan perut. Jika kamu mencurigai adanya penyakit yang mendasari, ada baiknya segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis dan rencana pengobatan yang tepat.
4. Penggunaan Obat-obatan Tertentu
Kenaikan berat badan bisa menjadi efek samping yang tidak dapat dihindari dari beberapa jenis obat resep. Obat-obatan ini tidak serta-merta menciptakan lemak, tetapi dapat mengubah metabolisme, meningkatkan nafsu makan, atau menyebabkan retensi cairan (penumpukan cairan dalam tubuh).
Beberapa golongan obat yang kerap dikaitkan dengan peningkatan berat badan antara lain antidepresan, obat anti-kejang, obat antipsikotik, kortikosteroid (seperti prednison), dan beberapa jenis obat beta-blocker untuk hipertensi. Jika kamu merasa berat badan melonjak setelah rutin minum obat tertentu, jangan hentikan pengobatan secara sepihak. Konsultasikan dengan dokter untuk mencari alternatif obat lain. Sembari memperbaiki pola makan, terkadang asupan suplemen juga dibutuhkan. Kamu bisa penuhi kebutuhanmu dengan beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.
5. Stres Kronis dan Faktor Psikologis
Saat kamu stres, tubuh akan melepaskan hormon kortisol secara berlebihan. Kortisol yang tinggi secara terus-menerus akan merangsang nafsu makan dan memicu craving (keinginan kuat) terhadap makanan manis, berlemak, atau berkalori tinggi sebagai mekanisme koping. Lemak yang terbentuk akibat stres kronis umumnya menumpuk di area viseral (perut) yang sangat berbahaya bagi organ dalam.
Selain itu, masalah kesehatan mental seperti depresi, anxiety (kecemasan), atau trauma emosional sering kali memicu emotional eating, di mana seseorang makan bukan untuk memuaskan rasa lapar fisik, melainkan untuk meredakan perasaan negatif.
6. Kurang Tidur
Banyak orang mengabaikan kualitas tidur, padahal kurang tidur adalah salah satu penyebab obesitas yang paling kuat. Saat kamu kurang tidur, terjadi fluktuasi pada dua hormon penting pengatur rasa lapar: ghrelin dan leptin.
Kadar ghrelin (hormon yang memicu rasa lapar) akan melonjak, sementara kadar leptin (hormon pemberi sinyal kenyang) akan menurun. Akibatnya, kamu akan terbangun dengan rasa lapar yang lebih besar, terutama keinginan untuk ngemil karbohidrat di malam atau pagi hari. Kurang tidur juga membuat kamu merasa terlalu lelah untuk berolahraga, menciptakan siklus tidak sehat yang memicu obesitas.
Pilar Penting dalam Mencegah dan Mengelola Obesitas
- Defisit Kalori yang Sehat: Kurangi asupan kalori secara bertahap (300-500 kalori per hari), fokus pada makanan padat nutrisi seperti protein tanpa lemak, serat, dan lemak sehat.
- Aktivitas Fisik Rutin: Lakukan olahraga minimal 150 menit per minggu. Kombinasikan latihan kardio (jogging, berenang) dengan latihan beban untuk menjaga massa otot.
- Manajemen Stres dan Tidur: Pastikan tidur 7-8 jam berkualitas setiap malam dan kelola stres dengan meditasi atau hobi yang menyenangkan.
Komplikasi Kesehatan Akibat Obesitas
1. Penyakit Kardiovaskular
Obesitas membuat jantung bekerja jauh lebih keras untuk memompa darah. Penumpukan lemak tubuh sering kali disertai dengan peningkatan kolesterol LDL (jahat), trigliserida, dan tekanan darah tinggi, yang secara signifikan meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.
2. Diabetes Tipe 2
Kelebihan lemak tubuh, terutama di area perut, sangat berkaitan dengan resistensi insulin. Ketika sel tidak lagi merespons insulin dengan baik, kadar gula darah akan melonjak dan memicu penyakit diabetes tipe 2 yang memerlukan penanganan seumur hidup.
3. Sleep Apnea
Penumpukan lemak di sekitar leher dapat menekan saluran napas saat tidur, menyebabkan Obstructive Sleep Apnea (OSA). Kondisi ini membuat penderitanya berhenti bernapas sejenak berulang kali sepanjang malam, menyebabkan dengkuran keras dan kelelahan kronis di siang hari.
Studi Mengenai Penyebab Obesitas
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa obesitas tidak lagi dianggap hanya sebagai masalah gaya hidup, melainkan penyakit neuroendokrin yang kompleks. Studi tersebut memfokuskan pada peran jalur leptin-melanocortin di otak, di mana inflamasi tingkat rendah akibat makanan ultra-proses menyebabkan kerusakan pada hipotalamus, area otak yang mengatur metabolisme tubuh.
Temuan ini menegaskan bahwa pada individu dengan obesitas parah, pendekatan konservatif seperti diet seringkali tidak membuahkan hasil karena sistem biologis otak mereka “mempertahankan” berat badan berlebih tersebut. Oleh karena itu, intervensi medis seperti obat-obatan antiobesitas atau bedah bariatrik semakin direkomendasikan secara klinis.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Referensi:
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Obesity and Overweight.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Obesity – Symptoms and Causes.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Faktor Risiko Penyebab Obesitas.
National Center for Biotechnology Information (NCBI). Diakses pada 2024. Neuroendocrinology of Obesity.
FAQ
1. Apakah obesitas diturunkan secara genetik?
Ya, faktor genetik berperan sangat kuat dalam menentukan kerentanan seseorang terhadap obesitas. Gen memengaruhi metabolisme tubuh, distribusi lemak, hingga regulasi hormon lapar dan kenyang seperti ghrelin dan leptin.
2. Apa saja penyakit penyebab obesitas?
Beberapa kondisi medis yang memicu penambahan berat badan tidak terkontrol meliputi hipotiroidisme, Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS), Sindrom Cushing, dan resistensi insulin. Penyakit-penyakit ini umumnya merusak keseimbangan hormon tubuh.
3. Mengapa kurang tidur bisa menyebabkan obesitas?
Kurang tidur menyebabkan ketidakseimbangan hormon. Hormon ghrelin yang memicu rasa lapar akan meningkat, sementara hormon leptin yang memberikan sinyal kenyang akan menurun, sehingga membuat seseorang makan lebih banyak dari yang dibutuhkan tubuh.
4. Apakah obat-obatan tertentu memicu obesitas?
Benar, beberapa jenis obat seperti antidepresan, antipsikotik, obat kejang, dan kortikosteroid memiliki efek samping memperlambat metabolisme, meningkatkan nafsu makan, atau menyebabkan penumpukan cairan yang berujung pada naiknya berat badan.


