Operasi Hernia: Termasuk Besar atau Kecil? Yuk Cari Tahu!

DAFTAR ISI
- Operasi Hernia Itu Apa?
- Jenis-Jenis Operasi Hernia
- Persiapan dan Pemulihan Pasca Operasi
- Studi Terkait Operasi Hernia
- Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu menyadari adanya benjolan aneh di area perut atau selangkangan yang muncul saat batuk atau mengangkat beban berat, lalu menghilang saat berbaring? Kondisi ini sering kali merupakan tanda dari hernia, atau yang di masyarakat umum lebih dikenal dengan sebutan turun berok. Hernia terjadi ketika organ dalam tubuh menekan dan mencuat melalui jaringan otot atau jaringan ikat di sekitarnya yang melemah.
Berbeda dengan beberapa penyakit lain yang bisa sembuh hanya dengan minum obat atau mengubah pola makan, hernia yang sudah terbentuk tidak akan bisa menutup atau sembuh dengan sendirinya. Benjolan tersebut justru berisiko semakin membesar seiring berjalannya waktu jika dibiarkan. Pada titik inilah tindakan medis menjadi sangat krusial untuk mencegah komplikasi berbahaya, seperti hernia inkarserata (terperangkap) atau strangulata (aliran darah terputus) yang dapat mengancam nyawa.
Banyak orang merasa cemas ketika mendengar kata “operasi”. Namun, penanganan hernia saat ini sudah sangat maju dan memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi. Jika kamu atau orang terdekatmu didiagnosis mengalami kondisi ini, penting untuk memahami lebih jauh mengenai operasi hernia, prosedur yang akan dijalani, serta langkah pemulihannya agar tidak perlu merasa takut yang berlebihan.
Nah, mungkin kamu masih bertanya-tanya, sebenarnya operasi hernia itu apa dan bagaimana prosesnya? Mari kita bahas secara lengkap dan mendalam melalui ulasan di bawah ini!
Operasi Hernia Itu Apa?
Operasi hernia adalah sebuah prosedur pembedahan medis yang bertujuan untuk mengembalikan organ atau jaringan (seperti usus) yang mencuat keluar kembali ke posisi asalnya di dalam rongga tubuh, sekaligus memperbaiki dan memperkuat dinding otot yang robek atau melemah. Dalam dunia medis, perbaikan hernia ini sering disebut dengan istilah herniorrhaphy (penjahitan lubang hernia) atau hernioplasty (penutupan lubang menggunakan jaring atau mesh sintetis).
Tujuan utama dari operasi ini bukan sekadar menghilangkan benjolan yang mengganggu penampilan, melainkan mencegah usus atau jaringan yang keluar tersebut terjepit oleh otot. Jika sampai terjepit, suplai darah ke jaringan tersebut bisa terhenti. Kondisi ini disebut hernia strangulata, yang bisa menyebabkan jaringan mati (nekrosis) dan infeksi parah di rongga perut (peritonitis). Oleh karena itu, operasi ini sering kali bersifat elektif (direncanakan) untuk mencegah hal tersebut, namun bisa menjadi operasi darurat jika strangulasi sudah terjadi.
Gejala Hernia yang Membutuhkan Penanganan Medis Segera
- Benjolan di perut atau selangkangan tidak bisa didorong masuk kembali saat berbaring.
- Benjolan berubah warna menjadi merah, keunguan, atau gelap.
- Timbul rasa nyeri perut yang datang secara tiba-tiba dan semakin memburuk.
- Disertai dengan mual, muntah, dan kesulitan untuk buang angin atau buang air besar.
Jenis-Jenis Operasi Hernia
Seiring dengan perkembangan teknologi medis, operasi hernia kini bisa dilakukan melalui beberapa metode. Pemilihan metode ini sangat bergantung pada ukuran hernia, jenis hernia, usia pasien, kondisi kesehatan secara keseluruhan, dan pengalaman dokter bedah. Berikut adalah jenis-jenis operasi yang umum dilakukan:
1. Operasi Hernia Terbuka (Open Hernia Repair)
Metode ini adalah prosedur klasik yang sudah dilakukan selama puluhan tahun. Dalam operasi ini, dokter bedah akan membuat sayatan tunggal berukuran sekitar 6 hingga 10 sentimeter di kulit tepat di atas area hernia. Melalui sayatan tersebut, dokter akan mengidentifikasi kantung hernia yang berisi organ yang keluar.
Dokter kemudian akan mendorong kantung tersebut kembali ke rongga perut. Setelah itu, otot perut yang lemah atau robek akan dijahit. Untuk hernia yang lebih besar atau untuk mencegah hernia kambuh, dokter biasanya akan memasang mesh (jaring sintetis yang aman untuk tubuh) di atas area yang lemah untuk memperkuat dinding perut (hernioplasti). Setelah semuanya selesai, sayatan kulit akan ditutup dengan jahitan, staples, atau lem bedah.
2. Operasi Laparoskopi (Laparoscopic Hernia Repair)
Berbeda dengan operasi terbuka, laparoskopi adalah prosedur bedah invasif minimal (minim sayatan). Pasien akan dibius total (anestesi umum). Dokter bedah akan membuat tiga hingga empat sayatan sangat kecil (sekitar 0,5 hingga 1 sentimeter) di sekitar area hernia atau di pusar.
Melalui salah satu sayatan, perut pasien akan dipompa dengan gas karbon dioksida agar mengembang, sehingga dokter memiliki ruang yang cukup untuk melihat organ di dalamnya. Kemudian, sebuah laparoskop (tabung kecil yang dilengkapi kamera dan lampu di ujungnya) dimasukkan. Kamera ini mengirimkan gambar langsung dari dalam perut ke monitor televisi di ruang operasi.
Dengan bantuan alat bedah kecil yang dimasukkan melalui sayatan lainnya, dokter akan menarik organ yang turun dan memasang mesh dari bagian dalam perut. Keuntungan utama dari metode ini adalah rasa sakit pasca operasi yang lebih ringan, bekas luka yang sangat kecil, dan masa pemulihan yang jauh lebih cepat dibandingkan operasi terbuka.
3. Operasi Robotik (Robotic Hernia Repair)
Ini adalah teknologi paling mutakhir dalam penanganan hernia. Konsepnya sangat mirip dengan laparoskopi, yaitu menggunakan sayatan kecil, kamera, dan alat bedah mini. Namun, dalam operasi robotik, dokter bedah tidak memegang alat bedah secara langsung. Dokter duduk di sebuah konsol di ruang operasi dan mengendalikan lengan robot secara presisi.
Kamera pada sistem robotik memberikan pandangan tiga dimensi (3D) beresolusi sangat tinggi bagi dokter, memungkinkan visibilitas yang jauh lebih baik daripada laparoskopi biasa. Operasi ini sangat bermanfaat untuk menangani hernia yang kompleks atau merekonstruksi dinding perut secara menyeluruh.
Persiapan dan Pemulihan Pasca Operasi
1. Persiapan Sebelum Operasi
Sebelum menjalani prosedur bedah, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan fisik dan tes penunjang, seperti tes darah, rontgen dada, atau elektrokardiogram (EKG) untuk memastikan tubuh siap menerima anestesi. Kamu mungkin akan diminta untuk berpuasa selama 8 hingga 12 jam sebelum operasi. Jika kamu rutin mengonsumsi obat pengencer darah, dokter biasanya akan meminta untuk menghentikannya sementara waktu agar tidak terjadi perdarahan berlebih selama prosedur.
2. Proses Pemulihan
Setelah operasi selesai, kamu akan dipindahkan ke ruang pemulihan. Untuk operasi hernia yang tidak rumit, baik terbuka maupun laparoskopi, pasien sering kali diizinkan pulang pada hari yang sama (rawat jalan). Rasa nyeri di area sayatan, pembengkakan ringan, dan memar adalah hal yang sangat normal terjadi dalam beberapa hari pertama.
Selama masa pemulihan di rumah, sangat penting untuk menjaga kebersihan area luka sayatan agar terhindar dari infeksi. Dokter akan meresepkan obat pereda nyeri dan antibiotik jika diperlukan. Jika kamu kehabisan obat atau butuh suplemen tambahan untuk mempercepat penyembuhan luka, kamu bisa beli obat secara online melalui platform kesehatan agar tidak perlu repot keluar rumah saat masih masa pemulihan.
Selain obat-obatan, modifikasi gaya hidup sangat penting. Pasien dilarang keras mengangkat beban berat (lebih dari 5 kilogram) dan melakukan aktivitas fisik yang terlalu menguras tenaga selama 4 hingga 6 minggu. Kamu juga disarankan untuk mengonsumsi makanan tinggi serat dan banyak minum air putih untuk mencegah sembelit. Mengejan terlalu keras saat buang air besar dapat memberikan tekanan besar pada dinding perut yang baru saja diperbaiki dan berisiko merusak jahitan.
Studi Terkait Operasi Hernia
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan berbagai studi yang membandingkan efektivitas penggunaan mesh dibandingkan dengan jahitan biasa (tanpa mesh) pada operasi hernia inguinalis. Studi-studi tersebut menjelaskan bahwa penggunaan mesh secara signifikan menurunkan angka kekambuhan (rekurensi) hernia.
Selain itu, jurnal bedah internasional juga menegaskan bahwa operasi laparoskopi memberikan manfaat berupa durasi rawat inap yang lebih singkat dan pasien dapat kembali bekerja atau beraktivitas normal lebih cepat dibandingkan teknik operasi terbuka. Meski demikian, pemilihan teknik operasi tetap harus disesuaikan dengan anatomi hernia dan rekam medis masing-masing pasien yang dinilai langsung oleh dokter bedah.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Inguinal hernia – Diagnosis and treatment.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Hernia Repair Surgery: What to Expect & Recovery.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Essential surgical care in abdominal surgery.
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2024. Hernia Types, Treatments and Symptoms.
National Library of Medicine (PubMed). Diakses pada 2024. Laparoscopic versus open hernia repair: A systematic review.
FAQ
1. Operasi hernia itu apa dan apakah wajib dilakukan?
Operasi hernia adalah prosedur pembedahan untuk memasukkan kembali organ yang menonjol keluar dari dinding otot yang lemah dan menutup lubang tersebut. Tindakan ini sangat disarankan untuk mencegah komplikasi fatal seperti hernia strangulata (usus terjepit dan mati), sehingga pada banyak kasus medis, operasi ini bersifat wajib sebagai jalan kesembuhan utama.
2. Berapa lama waktu pemulihan setelah menjalani operasi hernia?
Waktu pemulihan bervariasi tergantung jenis operasi yang dilakukan. Pada operasi laparoskopi, pasien biasanya bisa beraktivitas ringan dalam waktu 1 hingga 2 minggu. Namun, untuk operasi terbuka, pemulihan bisa memakan waktu 3 hingga 6 minggu. Secara umum, pasien dilarang mengangkat beban berat selama kurang lebih 6 minggu.
3. Apakah penyakit hernia bisa kambuh lagi setelah dioperasi?
Ya, meskipun risikonya sudah sangat kecil berkat penggunaan jaring penahan (mesh) medis. Risiko kekambuhan biasanya terjadi jika pasien tidak mematuhi pantangan pasca operasi, seperti terlalu cepat mengangkat beban berat, sering mengejan keras karena sembelit kronis, atau mengalami batuk kronis yang menekan dinding perut.
4. Makanan apa yang sebaiknya dihindari setelah operasi hernia?
Pasca operasi, kamu sangat dianjurkan untuk menghindari makanan rendah serat, makanan cepat saji, serta makanan yang memicu gas berlebih atau perut kembung. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya konstipasi atau sembelit. Mengejan saat buang air besar karena sembelit dapat merusak jahitan di dinding perut yang sedang dalam masa pemulihan.





