• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pandemi COVID-19 Memicu Naiknya Angka Perceraian?

Pandemi COVID-19 Memicu Naiknya Angka Perceraian?

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim
undefined

Halodoc, Jakarta - Sudah melihat video yang viral beberapa hari lalu, tepatnya di Pengadilan Agama (PA) Soreang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat? Di tayangan video tersebut, tampak antrean perceraian yang mengular akibat jumlah ruang sidang yang terbatas, dan pengaju gugatan cerai yang terbilang cukup tinggi. Kira-kira angkanya mencapai 150 gugatan cerai perharinya. 

Berbicara kisah asmara hingga perceraian memang terbilang rumit. Apalagi bila menyandingkannya dengan pandemi COVID-19, yang kini kerap kali menjadi ‘kambing hitam’ dari naiknya angka perceraian. Hmm, memangnya apa hubungannya SARS-CoV-2 dengan kandasnya kisah asmara pasutri? Benarkah pagebluk COVID-19 memicu naiknya angka perceraian? 

Baca juga: Perlukah Lakukan Konseling Sebelum Perceraian?


Masalah Klasik, Belum Ada Bukti Kuat

Menurut Panitera Muda Gugatan Pengadilan Agama Soreang, kasus perceraian di wilayah Kabupaten Bandung mengalami peningkatan di masa pandemi COVID-19, khususnya bulan Maret, April, dan Mei. Saking tingginya tingkat perceraian, PA Soreang harus menutup sementara pendaftaran gugatan cerai.

Dengan adanya penutupan tersebut, pada Juni 2020 lalu, PA Soreang menerima sebanyak 1.012 gugatan cerai. Padahal, rata-rata pengajuan cerai berkisar 700 sampai 800 kasus per bulannya. Bagaimana dengan Agustus ini? Total gugatan cerai yang sudah masuk mencapai 592, dan diprediksi terus bertambah. 

Di lain tempat, PA Bandung mencatat 1.449 gugatan perceraian dari bulan Maret hingga pertengahan Juni 2020. Lantas, apa penyulut meningkatnya angka perceraian ini? 

Menurut Ketua Pengadilan Agama Bandung, Acep Saifuddin, rata-rata perceraian dipicu perselisihan atau percekcokan karena masalah ekonomi dan perselingkuhan. Boleh dibilang, gegara masalah ‘klasik’ pada umumnya. 

"Macam-macam (penyebabnya), rata-rata berasal dari masalah ekonomi dan perselingkuhan. Jadi, memang yang paling banyak diajukan karena percekcokan itu," ujarnya. 

Bagaimana dengan COVID-19, benarkah pandemi ini memicu naiknya angka perceraian selama beberapa bulan terakhir? Sayangnya, di Indonesia belum ada bukti kuat atau kajian ilmiah yang menjelaskannya. 

Belum ada yang bisa mengungkapkan bahwa pandemi COVID-19 berhubungan langsung atau menjadi penyebab utama, dari meningkatnya angka perceraian. Namun, hal yang perlu digarisbawahi adalah fenomena ini tak hanya terjadi di negara kita saja, lho. 

Baca juga: Kasusnya Meningkat , Ini 8 Cara Perkuat Sistem Imun Tangkal Virus Corona


Semakin Membenci Satu Sama Lain

Ketika virus corona merebak di Tiongkok, Wu, seorang ibu rumah tangga berusia 30-an di provinsi Guangdong selatan, menghabiskan hampir dua bulan dalam isolasi dengan pasangannya yang tidak bekerja.

Singkat cerita, mereka bertengkar terus-menerus. Apa yang diributkan? Mulai dari uang yang terlalu sedikit, terlalu lama berada di depan televisi atau gadget, hingga pekerjaan rumah dan mengurus anak yang tidak dibagi rata.

Hal yang terjadi di Indonesia, sebenarnya juga dialami banyak pasangan di Tiongkok. Menurut laporan media dari berbagai kota di Tiongkok, angka perceraian ini melonjak drastis pada maret, tepatnya ketika pemerintah menerapkan kebijakan isolasi atau lockdown. 

Sialnya, cara efektif untuk memangkas penyebaran virus corona ini justru menimbulkan masalah baru, khususnya bagi mereka yang tinggal bersama pasangannya. Apa sebabnya? Di masa-masa lockdown tersebut, insiden kekerasan dalam rumah tangga berlipat ganda. Cukup mengkhawatirkan, bukan? 

Baca juga: Hadapi Virus Corona, Ini Hal yang Harus dan Jangan Dilakukan

Melansir dari laman Bloomberg, pengacara perceraian Shanghai Steve Li dari Gentle & Trust Law Firm mengatakan, beban kasusnya telah meningkat 25 persen sejak lockdown pada pertengahan Maret. Perselingkuhan yang dulunya adalah alasan nomor satu klien muncul di pintu kantornya, kini telah berubah. 

Menurut Li, ketika virus corona menyerang pada akhir Januari, membuat banyak orang ‘terjebak’ dalam satu atap dengan pasangannya selama berbulan-bulan lamanya. Bagi sebagian orang, kondisi tersebut amat berlebihan. 

"Semakin banyak waktu yang mereka habiskan bersama, semakin mereka membenci satu sama lain. Orang membutuhkan ruang. Tidak hanya untuk pasangan, ini berlaku untuk semua orang," ujar Li mengenai kasus barunya.

Di samping itu, ada pandangan yang hampir serupa dari Susanne Choi, sosiolog dari Chinese University of Hong Kong. Menurutnya, isolasi bertekanan tinggi yang dikombinasikan dengan tekanan finansial akibat terpuruknya sektor ekonomi akibat pandemi, telah menyebabkan meningkatnya konflik pernikahan. 

Kesimpulannya, menurut para ahli tekanan mental akibat isolasi sosial, bekerja dari rumah, penutupan sekolah-sekolah, terpuruknya finansial, hingga ‘dipaksa’ berinteraksi dengan pasangan sepanjang waktu, memicu timbulnya beragam masalah dalam pernikahan. Salah satu yang sudah terbukti adalah meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga. 

Nah, bagi kamu yang membutuhkan bantuan psikolog atau dokter terkait pandemi COVID-19 atau konseling tentang hubungan rumah tangga, kamu bisa bertanya langsung melalui aplikasi Halodoc. Tidak perlu keluar rumah, kamu bisa menghubungi dokter ahli kapan saja dan di mana saja. Praktis, kan? 

Referensi:
Business Insider. Diakses pada 2020. Why divorce rates could spike after the pandemic ends, according to a family and divorce lawyer.
Bloomberg. Diakses pada 2020. China’s Divorce Spike Is a Warning to Rest of Locked-Down World
BBC. Diakses pada 2020. Is Covid-19 changing our relationships?
CNN Indonesia. Diakses pada 2020. Antrean Orang Mau Cerai di Bandung, Sehari Capai 150 Gugatan
Grid.Id. Diakses pada 2020. Imbas Corona, Jumlah Janda dan Perselingkuhan di Bandung Meningkat Tajam selama Pandemi Covid-19