• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pengaruh Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja

Pengaruh Media Sosial pada Kesehatan Mental Remaja

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center, media sosial hampir tidak bisa dipisahkan dari kehidupan remaja. Di satu sisi keberadaan media sosial dapat membantu remaja mengembangkan keterampilan komunikasi, berteman, mengejar bidang minat, dan berbagi pemikiran dan ide.

Namun di sisi yang lain, media sosial memiliki dampak negatif pada remaja termasuk risiko penyakit mental. National Institute of Mental Health melaporkan bahwa penggunaan media sosial dapat meningkatkan risiko gangguan mental pada remaja usia 18–25 tahun. 

Durasi Memengaruhi Risiko Kesehatan Mental

Tiga platform media sosial paling populer di kalangan remaja adalah YouTube (digunakan oleh 85 persen remaja, menurut survei 2018 Pew Research Center), Instagram (72 persen) dan SnapChat (69 persen). Menurut laporan 2018 yang dikeluarkan oleh GlobalWebIndex, orang berusia 16–24 tahun menghabiskan rata-rata tiga jam menggunakan media sosial setiap hari. 

Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal JAMA Psychiatry menemukan bahwa remaja yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari berisiko tinggi terhadap masalah kesehatan mental terutama masalah internalisasi alias citra diri.

Baca juga: Kapan Seseorang Membutuhkan Psikoterapi?

Media sosial memang memiliki efek positif pada anak-anak dan remaja, baik dengan mengajarkan keterampilan sosial, memperkuat hubungan, maupun hanya bersenang-senang. Namun, penggunaan terus-menerus dari platform ini juga dapat memiliki dampak negatif, terutama pada kesehatan mental dan kesejahteraan pengguna muda.

Bagaimana penggunaan media sosial dapat meningkatkan risiko kesehatan mental remaja? Faktanya adalah di media sosial remaja juga mengalami perlakuan buruk. Survei Pew Research Center tahun 2018 tentang remaja Amerika Serikat (AS), menunjukkan bahwa satu dari enam remaja telah mengalami setidaknya satu dari enam bentuk perilaku penganiayaan online mulai dari

  • Panggilan nama (42 persen).
  • Menyebarkan rumor palsu (32 persen).
  • Menerima gambar eksplisit yang tidak diminta (25 persen).
  • Mendapatkan ancaman fisik (16 persen).

Hal yang membuat kondisi ini semakin buruk adalah ketika remaja menganggap hal-hal negatif yang terjadi di media sosial sebagai hal yang lumrah dan “risiko” dari bermain di media sosial. Jika hal ini terus dibenarkan, maka dapat memicu masalah yang lebih serius lagi.

Bukan tak mungkin remaja yang menjadi korban penganiayaan di online justru malah melakukan hal yang sama kepada orang lain. Menggunakan media sosial dengan cara yang cerdas adalah salah satu upaya membentengi diri dari dampak negatif konsumsi media sosial terhadap kesehatan mental.

Menjaga Kesehatan Mental Sembari Bersosial Media

Upaya untuk mencegah dampak negatif dari penggunaan media sosial oleh remaja dimulai dengan mendidik remaja tentang bahaya yang diberikan oleh media sosial. Salah satu cara paling efektif lainnya adalah memastikan penggunaan media sosial remaja memiliki dampak positif pada kehidupan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Clinical Psychology menemukan bahwa mahasiswa sarjana yang membatasi waktu mereka di Facebook, Instagram, dan SnapChat, hingga 10 menit setiap hari atau total 30 menit penggunaan untuk semua media sosial umumnya memiliki citra diri yang lebih positif. 

Baca juga: Inilah Alasan Kenapa Anak Cepat Alami Pubertas

Para siswa yang membatasi penggunaan media sosial mereka hingga 30 menit sehari melaporkan lebih sedikit depresi dan kesepian setelah tiga minggu. Selain itu, ada peningkatan mood yang mengurangi tingkat depresi. 

Para remaja umumnya menjadikan media sosial sebagai pembanding diri dan orang lain. Ini dapat merusak citra diri yang sehat. Banyak perempuan merasa penampilannya buruk saat melihat penampilan orang-orang di media sosial. 

Tantangan terbesar buat orangtua zaman sekarang adalah memastikan anak-anak remajanya menggunakan media sosial secara positif. Seringkali pola konsumsi media sosial pada remaja justru menyontoh orangtuanya.

Ketika orangtua lebih banyak menghabiskan waktu di gadget dan jarang mengajak anaknya terlibat dalam aktivitas di dunia nyata, maka anak-anak akan lebih banyak menghabiskan waktu di dunia online.

Jika kamu butuh saran dan informasi mengenai kesehatan mental, bisa ditanyakan lewat aplikasi  Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu.  Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Referensi:
University of Nevada, Reno. Diakses pada 2020. Impact of Social Media on Youth Mental Health: Statistics, Tips & Resources.
North Carolina Medical Journal. Diakses pada 2020. The Impact of Social Media on Youth Mental Health.