• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pengidap Gangguan Kepribadian Ambang Berisiko Alami Depresi

Pengidap Gangguan Kepribadian Ambang Berisiko Alami Depresi

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani
Pengidap Gangguan Kepribadian Ambang Berisiko Alami Depresi

Halodoc, Jakarta - Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang dengan emosi yang tidak stabil? Hal tersebut juga dapat menyebabkan perubahan suasana hati yang sangat cepat. Jika iya, kemungkinan orang tersebut mengidap gangguan kepribadian ambang. Orang ini kerap tidak merasa percaya diri dan kesulitan untuk menjalankan hubungan sosial yang baik di lingkungannya.

Maka dari itu, seseorang yang mengalami kelainan ini harus segera mendapatkan penanganan profesional agar tidak mengalami gangguan lainnya. Salah satu gangguan lain yang berisiko terjadi karena gangguan kepribadian ambang adalah depresi.

Baca juga: Waspada 5 Komplikasi dari Gangguan Kepribadian Ambang


Gangguan Kepribadian Ambang Meningkatkan Risiko Depresi

Gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) adalah penyakit mental serius yang ditandai dengan emosi yang tidak stabil, suasana hati yang kerap berubah, hingga masalah pada citra diri. Gejala-gejala tersebut dapat mengakibatkan tindakan impulsif dan menyebabkan masalah terkait hubungan interpersonal.

Seseorang yang mengidap gangguan ini kerap mengalami episode kemarahan dan kecemasan yang parah. Gangguan tersebut dapat berlangsung dalam hitungan jam hingga hari. Ketidakstabilan emosi dan beberapa sifat negatif tersebut juga dapat menyebabkan pengidapnya mengalami depresi. Berikut penjelasan lebih lengkap terkait hubungan gangguan kepribadian ambang dengan depresi:

Ada bukti yang cukup konkrit jika seseorang dengan gangguan kepribadian ambang juga berisiko tinggi terhadap depresi. Hal ini berarti orang tersebut juga mengalami perasaan tertekan, bukan hanya emosi yang tidak stabil. Disebutkan jika sekitar 96 persen orang dengan gangguan ini akan mengalami gangguan mood dan 83 persen lainnya juga memenuhi kriteria terhadap gangguan depresi mayor.

Selain itu, seseorang juga dapat mengalami gangguan kepribadian ambang bersamaan dengan depresi. Kombinasi tersebut dapat menyebabkan efek samping yang buruk terhadap pengobatan yang dilakukan. Meski begitu, jika mendapatkan perawatan yang benar terkait penyakit mental tersebut, gejala-gejala depresi dapat menghilang. Maka dari itu, ada baiknya untuk segera mendapatkan penanganan jika kamu mengidap gangguan ini.

Kamu juga dapat bertanya pada dokter atau psikolog dari Halodoc terkait risiko depresi yang disebabkan oleh gangguan kepribadian ambang. Setelah mendapatkan jawaban, kamu juga dapat langsung membeli obat tanpa perlu ke luar dari rumah. Makanya, download aplikasi Halodoc sekarang untuk mendapatkan kemudahan tersebut!

Baca juga: Cara Pengidap Gangguan Kepribadian Ambang Memuaskan Dirinya


Penanganan Gangguan Kepribadian Ambang

Seseorang yang mengidap penyakit mental ini benar-benar harus mendapatkan perawatan dari dokter profesional yang ahli dalam kesehatan mental. Hal ini dilakukan untuk memperbaiki kualitas hidup pengidapnya agar menjadi lebih baik. Selain itu, perawatan juga dapat meredam segala gejala yang berhubungan dengan gangguan tersebut.

Gangguan kepribadian ini sangat berhubungan erat dengan perilaku yang membahayakan, seperti melukai diri sendiri hingga bunuh diri. Perawatan yang dilakukan dapat menahan perilaku buruk tersebut. Pastikan untuk mendapatkan perawatan khusus untuk mengatasi gangguan kepribadian ambang. Perawatan yang efektif dapat menghasilkan efek yang positif. Berikut beberapa perawatan yang dapat dilakukan:

  • Psikoterapi: Metode ini adalah pengobatan standar untuk mengatasi penyakit mental tersebut. 
  • Obat: Dokter juga dapat merekomendasikan kamu untuk mengonsumsi obat yang dapat mengatasi beberapa gejala tertentu, seperti depresi atau perubahan suasana hati.

Baca juga: Ini Komplikasi Kesehatan Akibat Gangguan Kepribadian Ambang

Gejala-gejala yang timbul akibat gangguan ini benar-benar memengaruhi berbagai aspek kehidupan, terutama dari sisi sosial. Meskipun banyak hambatan yang dapat terjadi, pengidap gangguan ini dapat menjalani kehidupan yang normal. Perawatan dapat meredam segala gejala-gejala yang timbul agar dapat hidup tanpa beban mental.


Referensi:
MJA. Diakses pada 2020. Depression and borderline personality disorder.
Very Well Mind. Diakses pada 2020. A Guide to When BPD and Depression Occur Together.