• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Pentingnya Mengajarkan Remaja Bijak Bermedia Sosial

Pentingnya Mengajarkan Remaja Bijak Bermedia Sosial

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Media sosial memiliki kekuatan untuk mengubah kehidupan sehingga menggunakannya secara bertanggung jawab adalah satu-satunya cara supaya kita tidak terjebak pada perbuatan yang merusak. 

Tidak bisa dipungkiri kalau anak remaja paling sering berinteraksi dengan media sosial. Bagaimana cara mengajarkan remaja untuk bijak bermedia sosial? Informasi lebih lengkapnya bisa dibaca di bawah ini!

Bijak Menggunakan Media Sosial

Tidak selamanya media sosial itu negatif, karena semua tergantung pada bagaimana kamu menggunakan dan mengelolanya. Jika kamu ingin supaya media sosial memberikan dampak yang positif, kamu harus menggunakan media sosial secara bertanggung jawab. Bagaimana caranya?

  1. Batasi Jumlah Platform yang Digunakan

Kamu perlu memahami kalau ada korelasi antara mengelola berbagai platform media sosial dan tingkat stres dan kecemasan yang lebih tinggi. Membatasi jumlah platform yang digunakan dapat mengurangi total waktu yang dihabiskan di media sosial. Ada baiknya kamu membatasi diri untuk selalu mengecek akun-akunmu.

Baca juga: Kecanduan Media Sosial? Begini Tips Ampuh Mengatasinya

  1. Matikan Notifikasi

Dengan mematikan notifikasi, akan mengurangi keinginan untuk memeriksa media sosial. Menonaktifkan pemberitahuan itu dapat mengurangi jumlah konfirmasi yang mendorong reaksi, yang diharapkan dapat menghentikan kebiasaan kamu untuk melakukan pemeriksaan gadget secara intens. 

  1. Waspadai Berapa Banyak Waktu yang Dihabiskan Bermedia Sosial 

Mungkin sulit untuk membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial, jadi langkah pertama adalah mulai melacak berapa banyak waktu yang kamu habiskan dan bagaimana kamu menghabiskannya. 

Berbekal informasi ini, kamu dapat mengidentifikasi akar penyebab kebiasaanmu dan berusaha untuk memperbaikinya. Tetapkan batas waktu yang ketat untuk diri sendiri, seperti setengah jam sehari, atau tiga kali check-in per hari.

Baca juga: Waspada, Kelelahan Otak Bisa Terjadi Akibat Pandemi Corona

  1. Perhatikan Kualitas Interaksi Online-mu

Tidak semua penggunaan media sosial buruk. Perhatikan bagaimana perasaanmu setiap melakukan interaksi online, seperti menerima pesan atau membaca judul. Jika kamu merasakan perasaan negatif, pertimbangkan untuk tidak mengikuti, membungkam, atau memblokir orang atau akun yang menyebabkan perasaan itu. Jika kamu sudah tahu apa yang memicumu, ada baiknya kamu menyesuaikan kebiasaan supaya terhindar di kemudian hari.

  1. Cari Banyak Interaksi Offline

Akhirnya, jangan biarkan media sosial menjadi mayoritas interaksi sosialmu. Tidak peduli betapa nyamannya untuk tetap berhubungan melalui platform digital, interaksi terbaik, tersehat, dan paling memuaskan adalah interaksi yang dilakukan secara langsung. 

Seperti halnya teknologi apapun, media sosial adalah alat netral yang dapat digunakan secara efektif, juga yang bisa disalahgunakan. Masalahnya adalah terlalu banyak orang menggunakan alat ini secara tidak bertanggung jawab. Sudah saatnya remaja mulai belajar bagaimana menggunakan media sosial dengan cara yang lebih sehat.

Pentingnya Peran Orangtua

Orangtua memainkan peran penting dalam bagaimana media sosial memengaruhi anak remajanya. Tetapkan batas waktu yang wajar bila perlu beri beker atau alarm supaya tahu batas waktunya. Pantau akun anak secara teratur untuk memastikan mereka menggunakannya secara bertanggung jawab

Komunikasikan harapan tentang perilaku yang dapat diterima dan tidak dapat diterima di media sosial. Dorong interaksi sosial tatap muka untuk menghindari kecemasan yang meningkat atau ketergantungan di dunia maya. 

Ingin tahu lebih banyak bagaimana supaya remaja tidak mengalami ketergantungan terhadap media sosial, tanyakan saja lewat aplikasi Halodoc. Dokter ataupun psikolog yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk orangtua.  Caranya, cukup download Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat, kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah.

Referensi:
Commonsense.org. Diakses pada 2020. What New Research on Teens and Social Media Means for Teacher.
The Next Web.com. Diakses pada 2020. We all need to start using social media responsibly – or face the consequences.
Social Bakers. Diakses pada 2020. How Does Social Media Affect Teenagers?