• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Penularan, Pencegahan, dan Bahaya Rubella pada Ibu Hamil

Penularan, Pencegahan, dan Bahaya Rubella pada Ibu Hamil

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Rubella sangat berbahaya bagi ibu hamil. Infeksi virus rubella menyebabkan komplikasi terparah ketika ibu terinfeksi awal kehamilan, terutama dalam 12 minggu pertama (trimester pertama). 

Virus rubella dapat menular melalui batuk dan bersin. Jika ibu hamil terinfeksi rubella selama 20 minggu pertama kehamilan, biasanya ini dapat menularkan penyakit kepada janin, sehingga bayi akan mengalami kondisi rubella bawaan. Simak pembahasan mengenai rubella pada ibu hamil di bawah ini!

Penyebaran Rubella pada Ibu Hamil

Jika janin terinfeksi rubella di usia kehamilan 12–20 minggu kehamilan, masalah biasanya lebih ringan. Sangat jarang terjadi komplikasi pada janin, setelah 20 minggu kehamilan. Bayi dengan rubella bawaan menular selama lebih dari setahun. Perlu diketahui kalau tidak ada pengobatan untuk infeksi rubella.

Kalau ibu hamil butuh informasi kesehatan mengenai rubella atau kehamilan sehat lainnya, kontak saja Halodoc

Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untuk ibu. Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor ibu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja.

Wanita yang berencana hamil harus memeriksakan diri ke dokter untuk memastikan mendapatkan vaksinasi sebelum hamil. Vaksin MMR adalah vaksin virus hidup yang dilemahkan, wanita hamil yang tidak divaksinasi harus menunggu untuk mendapatkan vaksin MMR setelah melahirkan.

Baca juga: Kenali Gejala dan Penyebab Anak Terserang Virus Rubella

Wanita dewasa usia subur harus menghindari hamil setidaknya empat minggu setelah menerima vaksin MMR. Wanita hamil tidak dibolehkan mendapatkan vaksin MMR. Jika ibu hamil terkena rubella atau terpapar rubella saat sedang hamil, segera hubungi dokter.

Informasi Mengenai Rubella yang Perlu Diketahui

Rubella adalah penyakit virus yang sangat menular yang ditandai oleh demam ringan, ruam ringan dan pembengkakan kelenjar tubuh. Meskipun sebagian besar kondisi yang disebabkan oleh penyakit ini ringan, tetapi jika rubella dialami pada awal kehamilan, maka dapat menyebar dari ibu ke bayinya yang berkembang melalui aliran darah yang mengakibatkan cacat lahir, bahkan sampai kematian janin. 

Rubella adalah penyakit ringan yang bisa jadi hanya menunjukkan sedikit atau bahkan tanpa gejala. Gejala umumnya biasanya ruam, demam ringan, nyeri sendi, sakit kepala, tidak enak badan, pilek, sakit tenggorokan dan mata memerah. 

Kelenjar getah bening tepat di belakang telinga dan di belakang leher mungkin membengkak yang menyebabkan rasa sakit. Ruam yang mungkin gatal bisa jadi muncul di wajah dan berkembang dari kepala ke kaki, serta berlangsung selama tiga hari. 

Baca juga: Campak atau Rubella, Begini Cara Mengenali Bedanya

Komplikasi untuk mereka yang terinfeksi rubella biasanya mengalami radang sendi atau arthralgia, dan memengaruhi jari, pergelangan tangan, dan lutut. Gejala-gejala persendian ini jarang berlangsung selama lebih dari sebulan setelah munculnya ruam.

Menurut catatan kesehatan yang dipublikasikan oleh Department Health of New York State,  85 persen bayi yang terinfeksi rubella pada trimester pertama kehamilan akan mengalami cacat lahir atau bahkan kelainan neurologis (Congenital Rubella Syndrome atau CRS).

Sindrom CRS dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, kelahiran bayi dengan kelainan, termasuk tuli, kebutaan, katarak, cacat jantung, keterbelakangan mental, kerusakan hati, dan limfa.

Oleh karena tidak bisa disembuhkan, terkait pencegahan rubella, pemberian vaksin adalah upaya pencegahan yang utama. Jenis vaksin yang digunakan dapat merupakan kombinasi vaksin campak, gondok, dan rubella (MMR).  

Jika imunisasi rubela dihentikan, kekebalan terhadap rubella akan menurun dan penyakit ini akan kembali. Kontrol penyebaran rubella diperlukan terutama untuk mencegah cacat lahir yang disebabkan oleh CRS. Oleh karena itu, wanita usia subur yang berencana hamil harus memeriksakan diri dan menerima vaksin rubella jika diperlukan. Orang-orang yang terinfeksi harus membatasi aktivitas selama masa infeksinya. 

Referensi:

Caring for Kids. Diakses pada 2020. Rubella in Pregnancy.
Center for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Pregnancy and Rubella.
Department Health of New York State. Diakses pada 2020. Rubella (German Measles or Three-Day Measles).