Ad Placeholder Image

Penyakit Suka Berantakan: Benarkah Ada? Yuk Kenali!

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   15 Juni 2026

Penyakit Suka Berantakan: Ini Cara Mengatasinya

Penyakit Suka Berantakan: Benarkah Ada? Yuk Kenali!Penyakit Suka Berantakan: Benarkah Ada? Yuk Kenali!

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu merasa sangat sulit untuk menjaga kerapian meja kerja atau kamar tidur? Bagi sebagian orang, membiarkan barang-barang berserakan mungkin dianggap sebagai sifat malas atau kurang disiplin. Namun, dalam dunia medis dan psikologi, fenomena yang sering disebut masyarakat sebagai penyakit suka berantakan bisa jadi merupakan indikasi dari kondisi kesehatan mental yang lebih kompleks.

Kondisi ini bukan sekadar tentang baju yang belum dilipat atau tumpukan kertas yang tidak tertata. Ketika disorganisasi mulai mengganggu fungsi sehari-hari, menyebabkan kecemasan, hingga menurunkan kualitas hidup, hal tersebut perlu mendapatkan perhatian serius. Memahami akar penyebab perilaku ini adalah langkah awal yang krusial untuk menemukan solusi yang tepat, apakah itu melalui perubahan gaya hidup atau bantuan profesional.

Penting untuk diingat bahwa setiap individu memiliki ambang batas toleransi yang berbeda terhadap kekacauan. Ada yang merasa kreatif di tengah lingkungan yang “hidup”, namun ada pula yang merasa lumpuh karena tidak tahu harus mulai dari mana untuk merapikannya. Jika kamu merasa terjebak dalam siklus disorganisasi yang tak berujung, artikel ini akan membantu kamu memahami apa yang sebenarnya terjadi pada sistem saraf dan psikologismu.

Nah, mau tahu lebih lanjut apakah kebiasaan berantakanmu termasuk kategori normal atau memerlukan penanganan medis? Mari kita bahas secara mendalam berbagai aspek yang melatarbelakanginya, mulai dari fungsi eksekutif otak hingga keterkaitannya dengan berbagai gangguan mental.

Memahami Psikologi di Balik Kondisi Berantakan

Secara psikologis, lingkungan fisik seseorang sering kali mencerminkan kondisi internal pikiran mereka. Ketika pikiran seseorang penuh dengan kecemasan, stres, atau kewalahan oleh tugas-tugas, kemampuan mereka untuk mengatur lingkungan fisik cenderung menurun. Disorganisasi kronis bukan sekadar masalah estetika; ini adalah masalah manajemen sumber daya mental.

Beberapa ahli menyebutkan konsep “Executive Dysfunction” atau disfungsi eksekutif. Fungsi eksekutif adalah sekumpulan proses kognitif di otak yang bertanggung jawab untuk perencanaan, fokus, pengorganisasian, dan memulai tugas. Jika bagian otak ini tidak bekerja optimal, seseorang akan merasa sangat sulit untuk melakukan tugas sederhana seperti menaruh kembali gunting ke laci setelah digunakan.

Perbedaan Berantakan Biasa dengan Gangguan Medis

Bagaimana cara membedakan antara orang yang memang “sedikit berantakan” dengan mereka yang mengalami penyakit suka berantakan secara klinis? Kuncinya terletak pada tingkat gangguan fungsi. Seseorang yang hanya berantakan biasa biasanya masih mampu merapikan barang-barang jika diperlukan (misalnya saat tamu akan datang) tanpa mengalami tekanan emosional yang hebat.

Sebaliknya, pada kondisi medis tertentu, upaya untuk merapikan bisa memicu serangan panik, rasa lelah yang luar biasa (paralysis), atau penundaan yang ekstrem. Jika kamu merasa kewalahan setiap kali melihat tumpukan barang namun tidak mampu menggerakkan tubuh untuk mulai merapikan, mungkin ada masalah pada regulasi dopamin atau fungsi lobus frontal otak kamu.

Tanda Kebiasaan Berantakan Sudah Menjadi Masalah:
  1. Kesulitan menemukan barang penting (kunci, dompet, dokumen) setiap hari.
  2. Merasa malu untuk mengundang orang lain ke rumah karena kondisi ruangan.
  3. Area fungsional (seperti tempat tidur atau meja makan) tidak bisa digunakan karena tertutup barang.
  4. Mengalami stres atau kecemasan yang meningkat akibat kekacauan di sekitar.

Kaitan antara ADHD dan Disorganisasi Kronis

Salah satu penyebab paling umum dari disorganisasi yang parah adalah ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Penderita ADHD sering mengalami kesulitan dalam “object permanence” dan manajemen waktu. Mereka mungkin lupa bahwa sebuah benda ada jika benda tersebut tidak terlihat langsung di depan mata (out of sight, out of mind), sehingga mereka cenderung menaruh semua barang di permukaan terbuka agar tetap teringat.

Hal ini menciptakan siklus visual clutter yang konstan. Selain itu, penderita ADHD sering mengalami kesulitan dalam memprioritaskan tugas. Bagi mereka, mencuci piring, merapikan meja, dan membuang sampah terasa memiliki tingkat urgensi yang sama, sehingga otak mereka menjadi “hang” dan akhirnya tidak melakukan satupun dari tugas tersebut.

Mengenal Hoarding Disorder

Berbeda dengan ADHD, Hoarding Disorder atau gangguan menimbun adalah kondisi di mana seseorang merasa sangat sulit untuk membuang atau berpisah dengan barang, terlepas dari nilai barang tersebut. Mereka merasa perlu menyimpan barang karena alasan emosional yang mendalam atau ketakutan bahwa barang tersebut akan dibutuhkan di masa depan.

Kondisi ini termasuk dalam spektrum gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Tumpukan barang pada hoarder biasanya tidak teratur dan bisa membahayakan kesehatan serta keselamatan penghuni rumah. Ini adalah salah satu bentuk disorganisasi yang paling memerlukan intervensi medis dan terapi perilaku kognitif (CBT).

Depresi dan Fenomena Depression Room

Pernah mendengar istilah “depression room”? Dalam kondisi depresi berat, seseorang kehilangan energi bahkan untuk melakukan perawatan diri dasar. Merapikan kamar terasa seperti mendaki gunung yang sangat tinggi. Akibatnya, piring kotor, sampah sisa makanan, dan baju kotor menumpuk dalam waktu singkat.

Kondisi berantakan ini kemudian menjadi umpan balik negatif; lingkungan yang kotor memperparah perasaan sedih dan rendah diri, yang membuat keinginan untuk membersihkan semakin hilang. Dalam kasus ini, fokus pengobatan bukan pada cara merapikan barang, melainkan pada penanganan depresi sebagai akar masalahnya.

Dampak Lingkungan Berantakan bagi Kesehatan

Selain dampak psikologis, lingkungan yang berantakan secara kronis juga memengaruhi kesehatan fisik. Debu yang menumpuk di sela-sela barang yang tidak pernah disentuh bisa memicu alergi dan gangguan pernapasan. Selain itu, tumpukan barang sering menjadi tempat persembunyian serangga atau hama yang membawa penyakit.

Secara hormonal, tinggal di lingkungan yang kacau terbukti meningkatkan kadar kortisol (hormon stres) dalam tubuh. Kortisol yang tinggi secara terus-menerus dapat melemahkan sistem imun, mengganggu pola tidur, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika kebiasaan berantakan ini sudah membuat kamu merasa terisolasi secara sosial, mengganggu pekerjaan, atau membuat kamu merasa sangat menderita, segera lakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja. Tenaga profesional dapat membantu menentukan apakah ini bagian dari ADHD, depresi, atau gangguan kecemasan lainnya.

Diagnosis yang tepat akan memudahkan kamu mendapatkan strategi manajemen yang sesuai, baik melalui terapi maupun dukungan obat-obatan jika diperlukan. Jangan memaksakan diri untuk menyelesaikan masalah ini sendirian jika kamu sudah merasa kewalahan.

Studi Mengenai Disorganisasi dan Kesehatan Mental

Personality and Social Psychology Bulletin menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa wanita yang menggambarkan rumah mereka sebagai “berantakan” atau penuh dengan “proyek yang belum selesai” memiliki kadar kortisol yang jauh lebih tinggi sepanjang hari dibandingkan mereka yang mendeskripsikan rumah mereka sebagai tempat yang tenang dan teratur.

Temuan ini menunjukkan adanya kaitan langsung antara kepadatan barang di ruang tinggal dengan tingkat kelelahan dan stres emosional. Studi lain juga menekankan bahwa keberhasilan dalam merapikan lingkungan fisik (decluttering) dapat memberikan dorongan dopamin yang signifikan, yang membantu meningkatkan suasana hati dan fungsi kognitif pada individu dengan gangguan konsentrasi.

Mulai sekarang, cobalah untuk lebih peduli pada kondisi lingkungan sekitarmu. Jika kamu membutuhkan bantuan berupa vitamin untuk menjaga kebugaran tubuh selama proses pembenahan gaya hidup, kamu bisa beli obat online di Halodoc dengan praktis. Menjaga keteraturan adalah perjalanan panjang, bukan hasil instan dalam satu malam.

Ingatlah bahwa meminta bantuan bukan berarti kamu lemah. Jika kamu merasa gejala perilaku ini berkaitan dengan masalah medis yang lebih dalam, jangan ragu untuk berdiskusi dengan ahli. Kamu bisa menggunakan layanan Halodoc untuk mendapatkan saran medis yang akurat dan terpercaya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Hoarding Disorder: Symptoms and Causes.
American Psychiatric Association. Diakses pada 2026. What Is ADHD?
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Executive Dysfunction: What It Is, Symptoms & Treatment.
PubMed. Diakses pada 2026. No Place Like Home: Home Reviews and Cortisol Patterns.
Kemenkes RI. Diakses pada 2026. Pentingnya Menjaga Kesehatan Lingkungan Rumah.

FAQ

1. Apakah benar penyakit suka berantakan itu ada?

Dalam terminologi medis, tidak ada nama resmi “penyakit suka berantakan”, namun kondisi disorganisasi kronis sering kali merupakan gejala dari gangguan kesehatan mental seperti ADHD, Hoarding Disorder, atau Depresi.

2. Apa perbedaan antara malas dan disfungsi eksekutif?

Malas biasanya melibatkan pilihan untuk tidak melakukan sesuatu, sedangkan disfungsi eksekutif adalah kondisi di mana seseorang ingin melakukan tugas tersebut tetapi otaknya kesulitan untuk memproses langkah-langkah memulainya.

3. Bagaimana cara membantu orang yang menderita Hoarding Disorder?

Jangan langsung membuang barang mereka tanpa izin karena bisa memicu trauma. Langkah terbaik adalah mendampingi mereka untuk mendapatkan terapi profesional dan bantuan psikologis.

4. Apakah lingkungan berantakan memengaruhi kualitas tidur?

Ya, visual clutter di kamar tidur dapat membuat otak tetap waspada dan sulit untuk rileks, yang pada akhirnya mengganggu produksi melatonin dan kualitas tidur kamu.

## Punya Kebiasaan Berantakan yang Sulit Dikendalikan? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu merasa kesulitan mengatur barang-barang di rumah dan merasa kewalahan dengan kekacauan di sekitarmu? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

[HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.