Kenali Benjolan Kelenjar Submandibula dan Cara Mengatasinya

DAFTAR ISI
- Apa Itu Tumor Submandibula?
- Jenis-Jenis Tumor Submandibula
- Gejala yang Perlu Diwaspadai
- Penyebab dan Faktor Risiko
- Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?
- Metode Pengobatan yang Tersedia
- Studi Terkait
- FAQ
Pernahkah kamu merasakan adanya benjolan di area bawah rahang? Jika iya, kamu mungkin merasa khawatir apakah benjolan tersebut berbahaya atau tidak. Salah satu kondisi medis yang dapat menyebabkan munculnya benjolan di area tersebut adalah tumor submandibula. Tumor submandibula adalah pertumbuhan sel yang tidak normal pada kelenjar ludah submandibula, yang terletak tepat di bawah tulang rahang bawah di kedua sisi wajah.
Kelenjar submandibula sendiri merupakan salah satu dari tiga pasang kelenjar ludah utama yang berfungsi memproduksi air liur (saliva) untuk membantu proses pencernaan dan menjaga kelembapan mulut. Meskipun sebagian besar tumor pada kelenjar ini bersifat jinak, deteksi dini sangatlah penting karena sekitar 40 hingga 50 persen tumor pada kelenjar submandibula dapat bersifat ganas atau kanker. Oleh karena itu, memahami apa itu tumor submandibula, gejala, hingga penanganannya menjadi langkah krusial bagi kesehatanmu.
Penting untuk diingat bahwa tidak semua benjolan di bawah rahang adalah tumor. Bisa saja itu hanya pembengkakan kelenjar getah bening akibat infeksi ringan. Namun, jika benjolan terasa keras, menetap, atau terus membesar, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan diagnosis yang akurat.
Nah, mau tahu lebih dalam mengenai tumor submandibula dan bagaimana cara penanganannya secara medis? Berikut ulasannya!
Apa Itu Tumor Submandibula?
Tumor submandibula adalah neoplasma atau pertumbuhan jaringan baru yang terjadi pada kelenjar ludah submandibula. Kelenjar ini memproduksi sekitar 60-70% volume air liur saat kita dalam keadaan istirahat (tidak sedang makan). Lokasinya yang berada di segitiga submandibula membuat setiap pertumbuhan massa di sana akan terlihat atau teraba sebagai benjolan di bawah dagu atau rahang samping.
Secara medis, tumor kelenjar ludah secara keseluruhan relatif jarang terjadi, mencakup kurang dari 3-5% dari semua tumor kepala dan leher. Namun, di antara kelenjar ludah utama, kelenjar submandibula adalah lokasi kedua yang paling sering terkena tumor setelah kelenjar parotis. Bedanya, risiko keganasan pada kelenjar submandibula jauh lebih tinggi dibandingkan pada kelenjar parotis.
Jenis-Jenis Tumor Submandibula
Dokter biasanya mengklasifikasikan tumor submandibula menjadi dua kategori utama, yaitu jinak (benign) dan ganas (malignant). Penentuan jenis ini sangat mempengaruhi rencana pengobatan yang akan diambil.
1. Tumor Jinak (Non-Kanker)
Tumor jinak tumbuh lambat dan tidak menyebar ke jaringan sekitar atau organ lain. Jenis yang paling umum adalah Adenoma Pleomorfik. Meskipun tidak bersifat kanker, tumor ini bisa tumbuh cukup besar sehingga menyebabkan tekanan pada saraf atau struktur wajah di sekitarnya. Jenis lainnya termasuk Tumor Warthin, meskipun jenis ini lebih sering ditemukan di kelenjar parotis daripada submandibula.
2. Tumor Ganas (Kanker)
Tumor ganas memiliki potensi untuk menginvasi jaringan di sekitarnya dan menyebar (metastasis) ke kelenjar getah bening di leher atau organ jauh seperti paru-paru. Jenis kanker yang sering ditemukan pada kelenjar submandibula adalah Karsinoma Kistik Adenoid dan Karsinoma Mukoepidermoid. Karsinoma kistik adenoid dikenal karena sifatnya yang sering tumbuh mengikuti jalur saraf, yang dapat menyebabkan rasa nyeri atau mati rasa.
Tanda Bahaya Tumor Ganas
- Benjolan tumbuh dengan sangat cepat dalam waktu singkat.
- Rasa nyeri yang menetap di area benjolan.
- Kelemahan pada otot wajah atau kesulitan menggerakkan lidah.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pada tahap awal, tumor submandibula seringkali tidak menimbulkan rasa sakit. Gejala utama yang paling sering dilaporkan adalah munculnya benjolan yang teraba padat di bawah rahang. Benjolan ini biasanya tidak bergeser saat kamu menelan, berbeda dengan benjolan pada kelenjar tiroid.
Seiring pertumbuhan tumor, beberapa gejala tambahan yang mungkin muncul meliputi:
- Pembengkakan yang terlihat jelas di sisi leher atau di bawah dagu.
- Rasa nyeri atau tidak nyaman di area rahang yang menjalar ke telinga.
- Kesulitan saat membuka mulut lebar-lebar (trismus).
- Mati rasa atau kesemutan di bagian lidah atau wajah.
- Perubahan bentuk atau simetri wajah.
- Kesulitan menelan jika massa menekan area tenggorokan.
Jika kamu merasakan gejala-gejala di atas, jangan menunda untuk mencari bantuan medis. Kamu juga bisa dengan mudah beli obat atau suplemen pendukung daya tahan tubuh jika pembengkakan tersebut disebabkan oleh infeksi, namun diagnosis dokter tetaplah prioritas utama.
Penyebab dan Faktor Risiko
Hingga saat ini, penyebab pasti dari tumor submandibula belum diketahui secara sepenuhnya. Namun, para ahli telah mengidentifikasi beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kondisi ini:
- Paparan Radiasi: Riwayat terapi radiasi di area kepala dan leher di masa lalu merupakan faktor risiko yang signifikan.
- Paparan Zat Kimia: Pekerja di industri tertentu yang terpapar debu silika, asbes, atau bahan kimia pembuatan sepatu mungkin memiliki risiko lebih tinggi.
- Usia: Tumor kelenjar ludah lebih sering ditemukan pada orang dewasa yang lebih tua, meskipun bisa terjadi pada usia berapa pun.
- Gaya Hidup: Meskipun hubungan antara merokok dan tumor submandibula tidak sekuat pada kanker mulut lainnya, kesehatan mulut yang buruk tetap menjadi faktor risiko kesehatan secara umum.
Bagaimana Dokter Mendiagnosisnya?
Proses diagnosis biasanya dimulai dengan pemeriksaan fisik secara menyeluruh. Dokter akan meraba benjolan untuk menilai ukuran, konsistensi, dan mobilitasnya. Jika dokter mencurigai adanya tumor, beberapa tes lanjutan akan disarankan:
1. Pencitraan (Imaging)
CT scan atau MRI adalah standar emas untuk melihat letak tumor secara presisi, ukurannya, dan hubungannya dengan saraf serta pembuluh darah di sekitarnya. USG juga sering digunakan sebagai langkah awal untuk membedakan massa padat dengan kista berisi cairan.
2. Biopsi Jarum Halus (FNA)
Fine Needle Aspiration (FNA) adalah prosedur di mana dokter menggunakan jarum tipis untuk mengambil sampel sel dari benjolan. Sampel ini kemudian diperiksa di bawah mikroskop oleh ahli patologi untuk menentukan apakah sel tersebut jinak atau ganas.
Metode Pengobatan yang Tersedia
Penanganan tumor submandibula hampir selalu melibatkan tindakan pembedahan. Namun, jenis operasinya akan bergantung pada hasil diagnosis awal.
1. Pembedahan (Seksio Submandibula)
Untuk tumor jinak maupun ganas, prosedur standar adalah pengangkatan seluruh kelenjar submandibula (eksisi kelenjar). Jika tumor bersifat ganas dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening, dokter bedah mungkin akan melakukan diseksi leher untuk mengangkat jaringan yang terinfeksi tersebut.
2. Radioterapi
Radiasi seringkali diberikan setelah operasi jika tumor bersifat ganas, memiliki ukuran besar, atau jika dokter mencurigai masih ada sel kanker yang tertinggal di area operasi. Ini bertujuan untuk meminimalkan risiko kekambuhan.
3. Kemoterapi
Kemoterapi jarang menjadi pilihan utama untuk kanker kelenjar ludah, namun dapat digunakan pada kasus-kasus lanjut atau ketika kanker telah menyebar ke organ tubuh lainnya.
Studi Mengenai Tumor Kelenjar Ludah
The Laryngoscope menerbitkan studi di tahun 2022 yang menjelaskan bahwa teknik operasi invasif minimal kini mulai dikembangkan untuk meminimalisir bekas luka di leher pada kasus tumor submandibula jinak.
Studi tersebut menekankan pentingnya pelestarian saraf marginal mandibula selama operasi untuk mencegah kelumpuhan otot bibir bawah. Temuan ini membantu para dokter bedah untuk memberikan hasil estetika dan fungsional yang lebih baik bagi pasien pasca-operasi.
Jika kamu baru saja menjalani operasi atau sedang dalam masa pemulihan, menjaga asupan nutrisi sangat penting. Kamu bisa mencari berbagai vitamin dan suplemen untuk mempercepat pemulihan dengan beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.
Punya Keluhan Benjolan di Leher tapi Bingung Harus Apa? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan seperti munculnya benjolan yang tidak biasa, tapi bingung harus mulai periksa ke mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Salivary Gland Tumors: Symptoms and Causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Submandibular Gland: Anatomy and Conditions.
NCBI – StatPearls. Diakses pada 2026. Salivary Gland Cancer.
Journal of Oral and Maxillofacial Surgery. Diakses pada 2026. Management of Submandibular Gland Tumors.
FAQ
1. Apakah semua tumor submandibula adalah kanker?
Tidak. Sekitar 50-60% tumor submandibula bersifat jinak, seperti adenoma pleomorfik. Namun, karena risiko keganasannya lebih tinggi daripada kelenjar parotis, pemeriksaan medis tetap wajib dilakukan.
2. Apa perbedaan kelenjar getah bening dan tumor submandibula?
Pembengkakan kelenjar getah bening biasanya disebabkan oleh infeksi dan akan mengempis saat infeksi sembuh. Tumor submandibula biasanya terasa lebih keras, tumbuh perlahan, dan tidak hilang dengan sendirinya.
3. Apakah operasi pengangkatan kelenjar submandibula akan membuat mulut kering?
Biasanya tidak secara signifikan. Manusia memiliki banyak kelenjar ludah lain (parotis, sublingual, dan ribuan kelenjar minor) yang akan tetap berfungsi memproduksi air liur untuk menjaga kelembapan mulut.
4. Berapa lama masa pemulihan setelah operasi tumor submandibula?
Masa pemulihan awal biasanya memakan waktu 1 hingga 2 minggu untuk penyembuhan luka luar. Namun, aktivitas penuh biasanya baru bisa dilakukan setelah 4 minggu sesuai saran dokter.





