• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Ketahui Penyebab Utama dari Penyakit Chikungunya

Ketahui Penyebab Utama dari Penyakit Chikungunya

Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim

Halodoc, Jakarta – Selain demam berdarah dan malaria, chikungunya juga menjadi salah satu penyakit yang penyebarannya melalui perantara nyamuk. Chikungunya adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan pengidapnya mengalami demam dan nyeri sendi. Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus adalah jenis nyamuk yang menjadi perantara penyebaran virus chikungunya.

Baca juga: Karena Gigitan Nyamuk, Chikungunya Vs Malaria Lebih Bahaya Mana?

Penyakit chikungunya dapat dialami oleh siapa saja khususnya orang-orang yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi yang buruk. Untuk itu, penting menjaga kebersihan lingkungan agar nyamuk penyebar virus chikungunya tidak bersarang di lingkungan tempat kamu tinggal.

Ketahui Penyebab Chikungunya

Penyakit chikungunya dapat dialami oleh seseorang yang terinfeksi virus penyebab chikungunya. Penyakit chikungunya tidak menyebar melalui kontak langsung dengan pengidap. Penyebab utama penularan penyakit chikungunya melalui gigitan nyamuk yang menjadi perantaranya.

Virus chikungunya dapat tertular pada orang lain ketika nyamuk Aedes aegypti menggigit pengidap chikungunya, kemudian menggigit orang lain yang sehat. Kondisi ini yang menyebabkan orang tersebut tertular penyakit chikungunya yang dibawa oleh nyamuk.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kedua jenis nyamuk yang menjadi perantara virus chikungunya dapat menggigit pada pagi hari maupun sore hari. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan kedua jenis nyamuk juga menyebarkan virus melalui gigitannya pada siang hari. Untuk itu, sebaiknya berhati-hati saat berkegiatan di luar ruangan pada pagi maupun sore hari, khususnya kamu yang tinggal di wilayah penyebaran chikungunya.

Melansir Centers for Disease Control and Prevention, penularan penyakit chikungunya jarang terjadi dari ibu ke bayi yang baru dilahirkan. Selain itu, ibu yang mengalami penyakit chikungunya saat menjalani masa menyusui, sebaiknya tetap menyusui seperti biasa, karena penularan tidak dapat terjadi melalui proses menyusui.

Baca juga: Bukan Cuma Demam Tinggi, Ini 7 Gejala Chikungunya

Kenali Gejala Penyakit Chikungunya

Beberapa hari setelah terpapar virus chikungunya, pengidap bisa mengalami demam. Kemudian disertai dengan nyeri pada bagian sendi yang terasa cukup parah saat pagi hari. Umumnya, penyakit chikungunya memiliki gejala yang hampir serupa dengan demam berdarah, namun, ada beberapa gejala pada pengidap chikungunya yang sebaiknya diperhatikan.

Melansir Medical News Today, pengidap chikungunya mengalami demam dan nyeri sendi yang disertai dengan sakit kepala, nyeri otot, muncul ruam pada tubuh, dan pembengkakan pada beberapa bagian sendi yang mengalami nyeri hebat.

Sebaiknya segera kunjungi rumah sakit terdekat jika kamu mengalami beberapa gejala seperti penyakit chikungunya. Tentunya pengobatan yang dilakukan lebih dini mempermudah pengobatan yang dilakukan. Selain itu, peluang untuk kembali pulih akan menjadi lebih cepat.

Cegah Chikungunya dengan Perhatikan Kondisi Lingkungan

Chikungunya menjadi salah satu penyakit yang dapat dicegah. Pencegahannya hampir sama dengan penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk lainnya. Menjaga kebersihan lingkungan menjadi cara yang cukup efektif untuk menghindari nyamuk pembawa virus chikungunya bersarang di lingkungan tempat tinggal kamu.

Baca juga: 8 Tips Sederhana Mencegah Chikungunya

Kubur semua barang bekas dan tempat penampungan air agar tidak menjadi sarang nyamuk. Mengenakan baju tangan panjang dan celana panjang saat beraktivitas di luar menjadi beberapa cara yang bisa dilakukan sebagai pencegahan penyebaran penyakit chikungunya. Jika ada yang masih ingin ditanyakan tentang pencegahan penyakit chikungunya, hubungi dokter melalui aplikasi Halodoc, kapan saja dan di mana saja. 

Referensi:
Medical News Today. Diakses pada 2020. Chikungunya: What You Need to Know
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2020. Chikungunya Virus
World Health Organization. Diakses pada 2020. Chikungunya