
Perbedaan Matcha dan Green Tea, Lebih Sehat yang Mana?
Matcha dan green tea merupakan dua bahan yang berasal dari tumbuhan yang sama, yaitu Camellia sinensis.

DAFTAR ISI
- Mengenal Asal Usul: Green Tea dan Matcha
- Perbedaan Cara Budidaya dan Panen
- Perbedaan Pemrosesan Pasca-Panen
- Kandungan Nutrisi dan Profil Farmakologis
- Cara Konsumsi dan Bioavailabilitas
- Efek Samping dan Kontraindikasi Medis
- Studi Mengenai Green Tea dan Matcha
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Banyak orang sering bingung dan menganggap bahwa green tea (teh hijau) dan matcha adalah dua jenis minuman yang sama persis. Hal ini sangat wajar, mengingat keduanya memiliki warna hijau yang khas dan aroma daun yang menyegarkan. Terlebih lagi, kedua jenis teh ini sama-sama populer sebagai bahan dasar minuman kekinian, kue, hingga produk perawatan kulit.
Meskipun sekilas terlihat serupa dan sama-sama berasal dari satu spesies tanaman yang sama, yaitu Camellia sinensis, green tea dan matcha memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Perbedaan ini tidak hanya terletak pada bentuk fisik dan cara penyajiannya, tetapi juga merambat jauh hingga ke profil nutrisi, proses budidaya, farmakokinetik, serta manfaat spesifiknya bagi kesehatan tubuh.
Dari kacamata farmakologi dan ilmu gizi, memahami perbedaan antara kedua olahan daun teh ini sangat penting. Pemahaman yang tepat akan membantu kamu menyesuaikan asupan zat aktif seperti kafein, antioksidan EGCG, dan asam amino L-theanine sesuai dengan kebutuhan medis atau target kesehatan yang ingin kamu capai.
Lantas, apa bedanya green tea dan matcha secara lebih mendalam, dan manakah yang sebenarnya lebih sehat untuk dikonsumsi secara rutin? Mari kita bedah ulasan medis dan faktanya di bawah ini!
Mengenal Asal Usul: Green Tea dan Matcha
Sebelum membahas lebih jauh mengenai kandungan nutrisinya, penting untuk mengetahui asal usul botani dari kedua jenis teh ini. Baik green tea maupun matcha berasal dari daun tanaman teh Camellia sinensis. Tanaman ini adalah sumber utama dari hampir semua teh berkafein di dunia, termasuk teh hitam, teh oolong, dan teh putih.
Yang membedakan hasil akhir dari daun Camellia sinensis ini adalah perlakuan yang diberikan pada tanaman tersebut semasa hidupnya dan bagaimana daun tersebut diproses setelah dipetik. Di dunia farmakognosi (ilmu yang mempelajari obat dari bahan alam), metode panen dan pemrosesan sangat memengaruhi profil fitokimia suatu tanaman. Artinya, perlakuan yang berbeda akan menghasilkan kadar senyawa aktif yang berbeda pula.
Perbedaan Cara Budidaya dan Panen
Perbedaan paling mendasar yang menciptakan jarak antara green tea biasa dan matcha dimulai berminggu-minggu sebelum daun teh tersebut dipanen. Proses inilah yang pada akhirnya menentukan komposisi kimia di dalam daun teh.
1. Budidaya Green Tea
Tanaman teh hijau yang ditujukan untuk green tea biasa umumnya ditanam di bawah sinar matahari langsung sepanjang siklus pertumbuhannya. Paparan sinar matahari yang terus-menerus ini mendorong terjadinya proses fotosintesis secara maksimal. Secara kimiawi, hal ini menyebabkan asam amino tertentu di dalam daun teh, terutama L-theanine, berubah menjadi katekin (sejenis polifenol) yang memberikan rasa sedikit pahit atau sepat khas teh hijau biasa.
2. Budidaya Matcha
Berbeda dengan green tea, tanaman teh yang dikhususkan untuk menjadi matcha (sering disebut sebagai daun Tencha) harus melewati proses “peneduhan” atau penutupan. Sekitar 20 hingga 30 hari sebelum masa panen tiba, petani akan menutup tanaman teh menggunakan jaring atau anyaman bambu untuk menghalangi sinar matahari langsung (menutup hingga 90% cahaya).
Kekurangan cahaya matahari ini memaksa tanaman teh merespons dengan cara yang unik demi bertahan hidup. Tanaman akan memproduksi klorofil (zat hijau daun) dalam jumlah yang sangat masif, sehingga daun menjadi berwarna hijau gelap dan pekat. Selain itu, ketiadaan sinar matahari mencegah pengubahan asam amino L-theanine menjadi katekin. Alhasil, daun teh tersebut mempertahankan kadar L-theanine yang sangat tinggi, yang nantinya akan memberikan rasa umami (gurih alami) manis dan tidak terlalu pahit pada matcha.
Perbedaan Pemrosesan Pasca-Panen
Setelah dipanen, perjalanan kedua daun teh ini semakin berbeda secara signifikan.
1. Pemrosesan Green Tea
Daun yang baru dipetik untuk green tea segera dikukus (steaming) atau disangrai di atas wajan panas (pan-firing). Proses pemanasan cepat ini bertujuan untuk menghentikan proses oksidasi enzimatis, sehingga daun tetap berwarna hijau dan tidak berubah menjadi teh hitam. Setelah itu, daun teh akan digulung, dibentuk, dan dikeringkan. Hasil akhirnya adalah daun teh kering utuh yang siap diseduh dengan air panas.
2. Pemrosesan Matcha
Untuk matcha, daun Tencha yang sudah dipetik juga segera dikukus untuk mencegah oksidasi. Namun, daun ini tidak digulung. Daun dibiarkan mengering dalam bentuk pipih, kemudian batang, ranting halus, dan urat daunnya dibuang secara hati-hati hingga hanya menyisakan bagian daging daun yang paling halus. Daging daun inilah yang kemudian digiling menggunakan batu penggiling tradisional berbahan granit secara sangat perlahan. Penggilingan yang lambat ini penting untuk mencegah timbulnya panas akibat gesekan yang bisa merusak antioksidan di dalamnya. Hasil akhirnya adalah bubuk yang sangat halus, yang kita kenal sebagai bubuk matcha.
Faktor Pemicu Hilangnya Nutrisi Teh Hijau
- Menyeduh dengan air mendidih (100°C): Suhu yang terlalu panas dapat merusak antioksidan dan membuat rasa teh menjadi sangat pahit karena zat tanin terlepas berlebihan. Suhu ideal adalah 70-80°C.
- Penyimpanan yang salah: Matcha dan green tea sangat sensitif terhadap cahaya, oksigen, dan kelembapan. Simpan selalu di wadah kedap udara yang tidak tembus cahaya.
- Menambahkan terlalu banyak susu sapi: Kasein dalam protein susu sapi dapat mengikat katekin pada teh hijau, mengurangi penyerapan antioksidan oleh tubuh.
Kandungan Nutrisi dan Profil Farmakologis
Secara medis, perbedaan metode budidaya dan pemrosesan di atas melahirkan profil nutrisi dan farmakologis yang berbeda antara green tea dan matcha.
1. Kandungan Antioksidan (EGCG)
Keduanya kaya akan antioksidan polifenol, khususnya Epigallocatechin gallate (EGCG), yang diakui sangat ampuh menangkal radikal bebas pembawa kerusakan sel dan pemicu penyakit kronis. Namun, karena matcha adalah bentuk bubuk dari keseluruhan daun teh (bukan sekadar air seduhannya), konsumsi antioksidannya jauh lebih tinggi. Berbagai literatur gizi mencatat bahwa minum satu cangkir matcha bisa memberikan asupan antioksidan yang setara dengan minum 3 hingga 10 cangkir green tea biasa. Bagi kamu yang ingin kepraktisan dalam mendapatkan EGCG yang terstandardisasi, terkadang dokter atau ahli gizi juga menyarankan untuk membeli suplemen kesehatan dan vitamin yang mengandung ekstrak daun teh hijau yang memiliki dosis pasti per kapsulnya.
2. Kandungan Kafein
Karena melibatkan konsumsi daun secara utuh, matcha memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi dibandingkan green tea. Secangkir green tea (sekitar 240 ml) umumnya mengandung 20-45 mg kafein. Sementara itu, satu sendok teh bubuk matcha (sekitar 2 gram) yang digunakan untuk satu sajian bisa mengandung sekitar 70-140 mg kafein. Angka ini hampir mendekati kandungan kafein pada secangkir kopi hitam.
3. Kandungan L-Theanine
Keunggulan utama matcha secara farmakologis terletak pada L-theanine. Senyawa asam amino ini dapat menembus sawar darah-otak dan memicu pelepasan gelombang otak alpha, yang memberikan efek relaksasi tanpa rasa kantuk. Kombinasi kafein yang tinggi dengan L-theanine yang tinggi pada matcha menciptakan efek farmakologis yang unik: kamu akan merasa waspada dan fokus akibat kafein, namun tidak akan mengalami jittery (jantung berdebar gelisah) atau lonjakan adrenalin yang tajam seperti setelah meminum kopi. Hal ini sering disebut sebagai alert calm (waspada yang tenang).
Cara Konsumsi dan Bioavailabilitas
Tingkat ketersediaan hayati (bioavailabilitas) atau seberapa banyak nutrisi yang berhasil diserap oleh tubuh sangat dipengaruhi oleh cara kita mengonsumsinya.
1. Infusi vs Suspensi
Saat kamu menyeduh green tea, kamu melakukan proses infusi. Air panas akan melarutkan sebagian senyawa dari daun teh ke dalam air, lalu ampas daun tehnya akan kamu buang. Artinya, banyak nutrisi yang tidak larut air masih tertinggal di dalam serat daun teh yang dibuang tersebut.
Sebaliknya, saat meminum matcha, kamu mencampurkan bubuk halus tersebut langsung ke dalam air (membentuk suspensi) dan menelan seluruh bagian daunnya. Hal ini membuat tubuhmu menerima asupan 100% nutrisi yang ada, termasuk serat, klorofil, vitamin C, kalium, dan magnesium secara utuh.
Efek Samping dan Kontraindikasi Medis
Walaupun memberikan banyak manfaat, konsumsi teh hijau maupun matcha harus dilakukan secara bijak, mengingat sifat farmakologis bahan aktif yang dikandungnya.
Kandungan kafein yang tinggi pada matcha dapat memicu masalah bagi individu yang sensitif terhadap kafein. Gejala seperti insomnia, rasa cemas, pusing, hingga gangguan pencernaan bisa terjadi jika dikonsumsi secara berlebihan. Selain itu, teh hijau mengandung tanin yang dapat mengikat zat besi non-heme (zat besi dari tumbuhan) di dalam saluran cerna, sehingga berpotensi menghambat penyerapan zat besi. Oleh karena itu, penderita anemia tidak disarankan meminum teh hijau atau matcha berdekatan dengan jam makan berat.
Teh hijau utuh atau matcha yang dikonsumsi berlebihan dalam perut kosong juga berpotensi memicu produksi asam lambung (GERD) karena sifat katekin dan kafeinnya. Jika kamu memiliki masalah lambung yang persisten, sering merasa mual setelah minum teh, atau mengalami jantung berdebar yang mengkhawatirkan, sebaiknya kamu segera berkonsultasi dengan dokter secara langsung agar dapat diberikan anjuran medis dan penyesuaian diet yang tepat.
Studi Mengenai Green Tea dan Matcha
The American Journal of Clinical Nutrition menerbitkan sebuah studi komprehensif yang mengkaji efek ekstrak teh hijau yang kaya akan polifenol dan EGCG. Studi tersebut menemukan bahwa konsumsi EGCG dapat meningkatkan laju metabolisme basal dan meningkatkan oksidasi lemak secara signifikan. Katekin dalam teh hijau, terutama EGCG, terbukti menghambat enzim pemecah hormon norepinefrin. Ketika norepinefrin meningkat, sinyal pemecahan sel lemak di dalam tubuh menjadi lebih kuat, yang menjadikannya minuman yang sangat mendukung manajemen berat badan.
Lebih lanjut, riset klinis lainnya di ranah neurobiologi menemukan bahwa asupan harian matcha (yang dominan L-theanine dan EGCG) berkontribusi positif dalam memperlambat penurunan kognitif pada pasien lanjut usia. Antioksidannya bekerja memberikan efek neuroprotektif, melindungi sel-sel otak dari kerusakan akibat stres oksidatif yang menjadi cikal bakal penyakit Alzheimer.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
American Journal of Clinical Nutrition. Diakses pada 2024. Efficacy of a green tea extract rich in catechin polyphenols and caffeine in increasing 24-h energy expenditure and fat oxidation in humans.
National Institutes of Health (NIH). Diakses pada 2024. Health Benefits and Chemical Composition of Matcha Green Tea: A Review.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Caffeine: How much is too much?
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Diet, nutrition and the prevention of chronic diseases.
Harvard T.H. Chan School of Public Health. Diakses pada 2024. Tea (Green, Black, Oolong).
FAQ
1. Apakah green tea dan matcha cocok dikonsumsi untuk diet?
Ya, keduanya sangat baik untuk program penurunan berat badan. Kandungan katekin (EGCG) dapat membantu meningkatkan metabolisme dan mempercepat pembakaran lemak, terutama jika dikombinasikan dengan olahraga teratur. Namun, pastikan kamu tidak menambahkan gula tambahan, sirup manis, atau susu tinggi lemak yang justru menyumbang kalori besar.
2. Berapa cangkir matcha atau green tea yang aman diminum dalam sehari?
Untuk orang dewasa yang sehat tanpa kondisi medis tertentu, konsumsi 2 hingga 3 cangkir green tea, atau 1 hingga 2 cangkir matcha per hari masih tergolong sangat aman. Patokannya adalah menjaga agar total asupan kafein harian tidak lebih dari 400 mg untuk menghindari efek samping berdebar atau gangguan tidur.
3. Apakah ibu hamil boleh meminum matcha?
Ibu hamil tetap boleh mengonsumsi matcha, namun asupannya wajib dibatasi. Berdasarkan pedoman kesehatan, ibu hamil sebaiknya membatasi kafein tidak lebih dari 200 mg per hari. Karena satu cangkir matcha bisa mengandung hingga 140 mg kafein, konsumsi maksimalnya adalah satu cangkir kecil per hari. Ada baiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan terlebih dahulu.
4. Kenapa harga matcha jauh lebih mahal dibandingkan green tea?
Tingginya harga matcha berbanding lurus dengan kerumitan proses pembuatannya. Mulai dari penutupan daun teh dari sinar matahari selama berhari-hari, pemilahan tulang dan urat daun secara manual, hingga proses penggilingan menggunakan batu granit yang berjalan sangat lambat agar nutrisinya tidak rusak akibat panas mesin. Hal ini membuatnya menjadi produk yang sangat premium di pasaran.


