
Perbedaan Matcha dan Green Tea, Lebih Sehat yang Mana?
Matcha dan green tea merupakan dua bahan yang berasal dari tumbuhan yang sama, yaitu Camellia sinensis.

DAFTAR ISI
- Asal Usul dan Cara Tanam
- Proses Pengolahan yang Berbeda
- Perbedaan Profil Rasa, Tekstur, dan Warna
- Kandungan Nutrisi dan Antioksidan
- Lebih Sehat Mana, Matcha atau Green Tea?
- Studi Terkait Kandungan Teh Hijau
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Teh adalah salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Di antara berbagai jenis teh yang ada, varian yang berasal dari Jepang kini semakin merajai tren minuman dan makanan sehat di Indonesia. Namun, seiring dengan popularitasnya, banyak orang yang masih bingung dan sering bertanya-tanya mengenai apa perbedaan matcha dan green tea.
Faktanya, baik matcha maupun green tea (teh hijau biasa) berasal dari tanaman yang sama, yaitu Camellia sinensis. Keduanya dikenal luas karena profil kesehatannya yang luar biasa, mulai dari kemampuannya dalam membantu menurunkan berat badan, menjaga kesehatan jantung, hingga tingginya kandungan antioksidan yang mampu melawan radikal bebas dalam tubuh.
Meski berasal dari daun yang sama, cara penanaman, proses panen, teknik pengolahan, hingga cara penyajiannya sangatlah berbeda. Perbedaan inilah yang pada akhirnya menghasilkan warna, rasa, tekstur, dan bahkan kadar nutrisi yang tidak sama antara keduanya.
Mengetahui secara spesifik apa perbedaan matcha dan green tea sangat penting agar kamu bisa menyesuaikannya dengan kebutuhan asupan harianmu. Sebagai catatan, jika kamu sedang mencari suplemen teh hijau, vitamin, atau produk kesehatan lainnya, kamu bisa membelinya secara praktis secara online di aplikasi Halodoc, dijamin 100% asli dan pesanan langsung diantar ke rumah.
Nah, mau tahu apa saja rincian perbedaan di antara kedua minuman super ini? Berikut ulasan lengkapnya!
Asal Usul dan Cara Tanam
Perbedaan paling mendasar dari matcha dan green tea dimulai jauh sebelum daun teh tersebut dipanen, yakni pada tahap perkebunan dan cara penanamannya.
1. Penanaman Matcha
Sekitar 20 hingga 30 hari sebelum dipanen, semak-semak teh yang akan dijadikan matcha harus ditutup atau diberi peneduh agar tidak terkena sinar matahari langsung. Proses penutupan ini bertujuan untuk memicu peningkatan produksi klorofil (zat hijau daun) dan asam amino, terutama L-theanine. Akibat kurangnya sinar matahari, daun teh akan berubah warna menjadi hijau yang sangat gelap dan pekat. Daun teh yang ditanam dengan cara ini disebut sebagai tencha.
2. Penanaman Green Tea
Sebaliknya, green tea atau teh hijau biasa ditanam di bawah paparan sinar matahari penuh sejak awal hingga masa panen tiba. Tanaman ini tidak melalui proses penutupan sama sekali. Hal ini membuat warna daun teh hijau biasa cenderung lebih terang dan agak kekuningan dibandingkan dengan daun untuk matcha.
Proses Pengolahan yang Berbeda
Setelah dipanen, daun teh untuk matcha dan green tea akan menjalani proses pengolahan pasca-panen yang berbeda secara signifikan.
1. Pengolahan Matcha
Hanya daun teh kualitas terbaik dan termuda yang dipetik untuk membuat matcha. Setelah dipetik, daun dikukus sebentar untuk menghentikan proses fermentasi dan oksidasi, sehingga warna hijaunya tetap terjaga. Setelah itu, daun dikeringkan. Bagian batang dan urat daun yang keras akan dibuang secara manual. Sisa daun (tencha) inilah yang kemudian digiling perlahan menggunakan batu penggiling tradisional hingga menjadi bubuk halus. Proses penggilingan ini memakan waktu yang sangat lama agar suhu batu tidak panas dan merusak nutrisi teh.
2. Pengolahan Green Tea
Untuk green tea, daun yang dipetik (biasanya daun jenis sencha) juga dikukus atau disangrai di atas wajan panas untuk mencegah oksidasi. Namun, daun tidak dibuang batang atau uratnya. Daun-daun tersebut kemudian digulung, dibentuk, dan dikeringkan. Hasil akhirnya adalah helaian daun teh kering yang siap diseduh, bukan berupa bubuk halus. Ada juga yang dihancurkan kasar untuk dimasukkan ke dalam kantong teh celup.
Perbedaan Profil Rasa, Tekstur, dan Warna
Karena proses budidaya dan pengolahannya berbeda, hasil akhir minuman saat diseduh pun sangat kontras.
Dari segi warna: Bubuk matcha memiliki warna hijau zamrud yang sangat cerah dan pekat. Saat diseduh dengan air, warnanya tidak tembus pandang (opaque) karena kamu pada dasarnya melarutkan dan meminum seluruh bagian daun. Sementara itu, air seduhan green tea berwarna hijau bening, transparan, dan terkadang sedikit kekuningan atau keemasan.
Dari segi tekstur: Matcha memiliki tekstur yang kental, berbusa (karena diaduk menggunakan pengocok bambu atau chasen), dan sangat halus. Sedangkan green tea terasa ringan, cair seperti air putih pada umumnya, dan menyegarkan.
Dari segi rasa: Tingginya kadar asam amino L-theanine membuat matcha memiliki rasa umami (gurih yang khas), sedikit manis alami, tidak terlalu pahit, dan creamy. Di sisi lain, green tea memiliki profil rasa yang lebih ringan, menenangkan, sedikit sepat (astringent), dan memiliki aroma earthy atau mirip rumput segar.
Manfaat Kesehatan Teh Hijau dan Matcha secara Umum
- Kaya akan Epigallocatechin gallate (EGCG) yang ampuh menangkal radikal bebas.
- Membantu meningkatkan laju metabolisme basal dan pembakaran lemak tubuh.
- Meningkatkan fungsi kognitif, kewaspadaan, dan fokus otak berkat kombinasi kafein dan L-theanine.
- Menjaga kesehatan jantung dengan cara menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL).
- Memiliki sifat anti-inflamasi yang baik untuk menjaga kesehatan kulit.
Kandungan Nutrisi dan Antioksidan
Inilah poin terpenting saat membahas apa perbedaan matcha dan green tea dari sisi farmakologis dan gizi klinis. Meskipun keduanya sehat, profil nutrisinya memiliki perbedaan mencolok akibat cara konsumsinya.
Saat kamu minum green tea, kamu menyeduh daun teh dalam air panas, membiarkan nutrisinya larut dalam air, lalu membuang ampas daunnya. Ini berarti kamu hanya mendapatkan sebagian kecil dari total nutrisi yang ada di dalam daun teh tersebut.
Sebaliknya, saat meminum matcha, kamu mencampurkan seluruh bubuk daun teh langsung ke dalam air dan meminumnya hingga habis. Karena kamu mengonsumsi daunnya secara utuh, jumlah antioksidan, vitamin, dan mineral yang masuk ke dalam tubuh jauh berlipat ganda.
1. Kadar Kafein
Matcha mengandung kafein yang jauh lebih tinggi dibandingkan green tea biasa. Satu cangkir matcha bisa mengandung sekitar 70-80 mg kafein (hampir setara dengan secangkir kopi). Sedangkan secangkir green tea biasa umumnya hanya mengandung sekitar 20-30 mg kafein. Oleh karena itu, matcha sangat efektif memberi dorongan energi di pagi hari.
2. Kadar L-Theanine
Berkat proses penanaman di tempat teduh, matcha memiliki kandungan L-theanine yang jauh lebih tinggi. Asam amino ini berfungsi memberikan efek relaksasi pada otak tanpa menyebabkan kantuk. Kombinasi kafein yang tinggi dan L-theanine pada matcha menciptakan efek “kewaspadaan yang tenang” (calm alertness). Kamu tidak akan merasakan dada berdebar atau gelisah (jittery) seperti saat minum kopi.
Lebih Sehat Mana, Matcha atau Green Tea?
Jawabannya bergantung pada tujuan kesehatan dan sensitivitas tubuhmu terhadap zat tertentu, terutama kafein.
Jika tujuan utamamu adalah mendapatkan asupan antioksidan yang maksimal, detoksifikasi tubuh, dan dorongan energi yang tahan lama, maka Matcha adalah pilihan yang lebih unggul. Secangkir matcha disebut-sebut setara dengan mengonsumsi 3 hingga 10 cangkir teh hijau biasa dalam hal antioksidan.
Namun, jika kamu memiliki lambung yang sensitif, mudah mengalami asam lambung (GERD), sensitif terhadap kafein (mudah cemas atau susah tidur), atau sedang dalam kondisi hamil, maka Green Tea adalah pilihan yang jauh lebih aman dan bersahabat. Green tea juga lebih baik dikonsumsi jika kamu ingin meminum teh dalam jumlah banyak (beberapa cangkir sehari) untuk sekadar memenuhi hidrasi tanpa takut overdosis kafein.
Studi Terkait Kandungan Teh Hijau
Sebuah penelitian yang diterbitkan di dalam Journal of Chromatography A pada tahun 2003 menjelaskan bahwa konsentrasi Epigallocatechin gallate (EGCG) — antioksidan paling kuat dalam teh hijau — yang ditemukan dalam matcha adalah 137 kali lebih besar daripada jumlah EGCG yang tersedia dalam teh hijau Tiongkok berkualitas rendah, dan setidaknya 3 kali lebih tinggi daripada teh hijau berkualitas tinggi.
Studi ini mengonfirmasi secara medis bahwa konsumsi daun secara keseluruhan melalui bubuk matcha memberikan penyerapan senyawa bioaktif yang jauh lebih superior dibandingkan hanya dengan mengekstraksi daunnya lewat seduhan air panas.
Selain itu, jangan lupa bahwa kesehatan yang optimal tidak hanya didapat dari teh. Jika kamu memiliki keluhan kesehatan spesifik seperti gangguan pencernaan setelah minum teh tinggi kafein, detak jantung tidak beraturan, atau masalah nutrisi lainnya, kamu bisa langsung membeli obat-obatan pereda gejala secara praktis di Toko Kesehatan Halodoc.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
FAQ
1. Apa perbedaan matcha dan green tea secara sederhana?
Secara sederhana, matcha adalah daun teh hijau murni (tencha) yang digiling menjadi bubuk halus sehingga kamu mengonsumsi seluruh daunnya. Sedangkan green tea adalah helaian daun teh yang diseduh di dalam air panas, dan ampas daunnya dibuang setelah nutrisinya larut dalam air.
2. Apakah matcha mengandung kafein lebih tinggi dari kopi?
Tidak selalu lebih tinggi dari kopi, namun matcha mengandung kafein yang secara signifikan lebih tinggi daripada green tea biasa. Satu cangkir matcha bisa memiliki kafein yang setara dengan satu teguk kopi espresso ringan (sekitar 70 mg), namun efeknya lebih stabil di tubuh berkat kandungan asam amino L-theanine.
3. Apakah penderita asam lambung boleh minum matcha?
Penderita asam lambung (GERD) harus berhati-hati saat meminum matcha. Karena kandungan kafeinnya yang cukup tinggi dan sifatnya yang cukup kuat, matcha dapat memicu naiknya asam lambung pada sebagian orang, terutama jika diminum dalam keadaan perut kosong. Green tea yang diseduh ringan biasanya lebih dapat ditoleransi.
4. Bisakah matcha digunakan untuk membantu menurunkan berat badan?
Ya, bisa. Ekstrak teh hijau, baik dalam bentuk matcha maupun green tea seduh, telah terbukti secara klinis mampu meningkatkan laju metabolisme basal dan mempercepat proses oksidasi lemak, terutama jika dikombinasikan dengan olahraga rutin dan diet defisit kalori.


