
Persistensi Gigi: Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Kondisi ketika gigi susu tidak tanggal sesuai jadwal normalnya meski gigi permanen sudah mulai tumbuh disebut persistensi gigi.

DAFTAR ISI
- Apa itu Persisten pada Gigi?
- Penyebab Gigi Persisten
- Gejala dan Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
- Cara Mengatasi Persistensi Gigi
- Kapan Harus ke Dokter?
- Studi Terkait
- FAQ
Kesehatan gigi dan mulut merupakan aspek krusial yang sering kali terabaikan dalam tumbuh kembang anak. Salah satu fenomena yang paling sering ditanyakan oleh orang tua adalah “apa itu persisten” atau yang dalam dunia medis dikenal dengan persistensi gigi. Kondisi ini terjadi ketika gigi susu tetap berada di tempatnya (tidak tanggal), padahal gigi tetap (permanen) sudah mulai tumbuh di area yang sama.
Kondisi gigi persisten sering kali menimbulkan kekhawatiran karena dapat menyebabkan pertumbuhan gigi yang berantakan atau tidak rapi, yang di kemudian hari dapat memengaruhi fungsi kunyah dan estetika wajah. Memahami apa itu persisten dan bagaimana menanganinya secara tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang pada kesehatan gigi anak maupun dewasa.
Penanganan persistensi gigi biasanya membutuhkan intervensi dari tenaga profesional medis. Mengingat kondisi ini berkaitan dengan struktur anatomi rahang, langkah awal yang paling disarankan adalah melakukan konsultasi ke dokter Halodoc guna mendapatkan arahan tindakan atau rujukan ke dokter gigi spesialis anak (pedodonti).
Nah, mau tahu lebih lanjut mengenai apa itu persisten, penyebab, hingga langkah medis yang diperlukan? Berikut ulasannya!
Apa itu Persisten pada Gigi?
Dalam istilah medis kedokteran gigi, persistensi gigi adalah keadaan di mana gigi susu (gigi desidui) masih bertahan di dalam rongga mulut melebihi waktu tanggal yang seharusnya, sementara gigi tetap penggantinya sudah mulai tumbuh (erupsi). Fenomena ini sering dijuluki oleh masyarakat awam sebagai “gigi ganda” atau “gigi hiu” karena terlihat ada dua baris gigi yang menumpuk.
Secara fisiologis, gigi susu seharusnya tanggal karena akar gigi susu tersebut terserap (resorpsi) oleh tekanan dari gigi tetap yang akan tumbuh di bawahnya. Namun, pada kasus persistensi, proses resorpsi akar ini tidak terjadi secara sempurna atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Akibatnya, gigi susu tetap kuat tertanam di gusi, sementara gigi tetap terpaksa tumbuh di posisi yang tidak seharusnya, biasanya lebih ke arah dalam (lingual) atau lebih ke arah bibir (labial).
Masalah ini tidak hanya sekadar masalah estetika. Gigi yang tumbuh bertumpuk menciptakan celah-celah sempit yang sulit dibersihkan dengan sikat gigi biasa. Hal ini meningkatkan risiko penumpukan plak, terbentuknya karang gigi, hingga memicu gigi berlubang (karies) pada gigi tetap yang baru tumbuh tersebut.
Penyebab Gigi Persisten
Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi mengapa seorang anak mengalami persistensi gigi. Berikut adalah beberapa penyebab yang paling umum ditemukan dalam praktik klinis:
1. Kekurangan Ruang pada Rahang
Ini adalah penyebab yang paling sering terjadi. Ukuran rahang yang terlalu sempit tidak memberikan cukup ruang bagi gigi tetap yang ukurannya lebih besar untuk mendorong gigi susu secara tepat. Akibatnya, gigi tetap mencari jalan keluar lain di samping atau di belakang gigi susu.
2. Arah Tumbuh Gigi Tetap yang Salah
Terkadang, benih gigi tetap berada pada posisi yang tidak sejajar dengan akar gigi susu. Karena tidak ada tekanan langsung pada akar gigi susu, proses resorpsi (penyusutan akar) tidak terpicu, sehingga gigi susu tidak goyang dan tidak tanggal.
3. Faktor Genetik
Riwayat keluarga memegang peranan penting. Jika salah satu orang tua memiliki riwayat rahang kecil atau masalah persistensi gigi di masa kecil, kemungkinan besar anak akan mengalami kondisi serupa.
4. Kekurangan Nutrisi dan Kebiasaan Makan
Anak-anak yang jarang mengonsumsi makanan bertekstur keras atau serat (seperti buah potong atau daging yang harus dikunyah) cenderung memiliki rangsangan pertumbuhan rahang yang kurang optimal. Mengunyah makanan keras secara alami membantu merangsang pergerakan gigi dan kesehatan jaringan penyangga gigi.
Tips Mencegah Dampak Buruk Gigi Persisten
- Biasakan anak mengonsumsi makanan berserat untuk merangsang kekuatan rahang.
- Lakukan pemeriksaan gigi rutin setiap 6 bulan sekali, bahkan sebelum ada keluhan.
- Jangan memaksa mencabut gigi susu yang belum goyang sendiri di rumah tanpa alat medis yang steril.
Gejala dan Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
Mengenali gejala awal persistensi gigi dapat membantu kamu mengambil tindakan lebih cepat. Berikut adalah tanda-tanda yang harus diperhatikan:
- Munculnya ujung gigi tetap di belakang atau di depan gigi susu yang masih kokoh.
- Gigi susu tidak kunjung goyang padahal usia anak sudah melewati masa tanggal normal (biasanya dimulai usia 6-7 tahun).
- Rasa tidak nyaman atau nyeri saat mengunyah karena posisi gigi yang bertumpuk.
- Gusi di sekitar gigi tersebut tampak kemerahan atau bengkak akibat sulit dibersihkan.
Jika kamu melihat tanda-tanda di atas, sebaiknya jangan menunda untuk memeriksakan kondisi tersebut. Penanganan yang terlambat dapat mengakibatkan gigi tetap tumbuh makin miring (maloklusi), yang nantinya memerlukan perawatan ortodonti (kawat gigi) yang lebih kompleks dan mahal.
Cara Mengatasi Persistensi Gigi
Penanganan utama untuk apa itu persisten adalah tindakan ekstraksi atau pencabutan gigi susu oleh dokter gigi. Berikut adalah tahapan yang biasanya dilakukan:
1. Pemeriksaan Klinis dan Radiografi
Dokter gigi akan memeriksa posisi gigi dan biasanya menyarankan rontgen gigi (X-ray) untuk melihat posisi benih gigi tetap dan seberapa banyak akar gigi susu yang masih tersisa.
2. Pencabutan Gigi Susu
Jika dipastikan gigi tetap sudah muncul namun gigi susu masih kokoh, dokter akan melakukan pencabutan. Dengan dicabutnya gigi susu, ruang yang tersisa akan memungkinkan gigi tetap bergerak secara alami ke posisi yang benar dengan bantuan tekanan dari lidah dan otot pipi.
3. Observasi Pasca Tindakan
Setelah pencabutan, dokter akan memantau apakah gigi tetap tersebut bergerak ke posisi ideal. Pada beberapa kasus di mana ruang rahang sangat terbatas, dokter mungkin akan menyarankan penggunaan alat penjaga ruang (space maintainer) atau perawatan kawat gigi di masa mendatang.
Penting untuk diingat bahwa pasca pencabutan gigi, anak mungkin akan merasakan nyeri ringan atau bengkak. Untuk meredakan keluhan ini, kamu bisa menyiapkan obat pereda nyeri yang aman. Kamu dapat beli obat online di Halodoc sesuai dengan dosis yang dianjurkan oleh dokter pasca tindakan.
Kapan Harus ke Dokter?
Kapan waktu yang tepat untuk membawa anak ke dokter terkait gigi persisten? Berikut adalah panduannya:
- Gigi Tetap Sudah Tumbuh Setengah: Jika gigi tetap sudah tumbuh cukup tinggi tetapi gigi susu di depannya belum menunjukkan tanda-tanda akan tanggal.
- Terjadi Peradangan: Jika gusi di area gigi ganda tersebut memerah, berdarah, atau menimbulkan bau mulut yang tidak sedap.
- Gangguan Makan: Jika anak mulai malas makan karena rasa tidak nyaman pada giginya.
- Usia Sudah Lebih dari 7 Tahun: Jika belum ada satupun gigi susu yang tanggal, sebaiknya dilakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada kelainan pertumbuhan.
Studi Mengenai Kesehatan Gigi Anak
The Journal of the American Dental Association menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa deteksi dini terhadap maloklusi (termasuk yang disebabkan oleh persistensi gigi) dapat mengurangi durasi perawatan ortodonti di masa remaja hingga 40%.
Penelitian ini menekankan bahwa intervensi dini, seperti pencabutan gigi susu yang persisten, memberikan kesempatan bagi ligamen periodontal untuk mengarahkan gigi tetap ke posisi lengkung rahang yang benar secara alami tanpa bantuan kawat gigi yang ekstensif.
Jika kondisi ini dibiarkan, risiko terjadinya impaksi (gigi terpendam) atau karies pada gigi tetap meningkat secara signifikan karena akumulasi makanan pada sela-sela gigi ganda tersebut sulit dijangkau oleh pembersihan mekanis rutin.
FAQ
1. Apakah gigi persisten harus selalu dicabut?
Ya, dalam banyak kasus, pencabutan adalah jalan terbaik jika gigi tetap sudah mulai erupsi. Hal ini bertujuan untuk memberikan jalan bagi gigi tetap agar bisa tumbuh pada posisi yang benar dan mencegah gigi berantakan.
2. Apa dampak jika gigi persisten dibiarkan?
Dampaknya antara lain gigi tumbuh bertumpuk, sulit dibersihkan yang memicu karies (gigi berlubang), masalah estetika, hingga gangguan fungsi bicara dan mengunyah.
3. Apakah pencabutan gigi susu itu sakit?
Dokter gigi akan menggunakan anestesi lokal (bius lokal) baik berupa gel oles maupun suntikan kecil, sehingga proses pencabutan tidak akan terasa sakit oleh anak.
4. Bisakah gigi yang sudah tumbuh miring akibat persisten kembali rapi sendiri?
Jika dilakukan pencabutan segera saat gigi tetap baru mulai tumbuh, lidah secara alami akan mendorong gigi tetap ke posisi depan yang benar. Namun, jika dibiarkan terlalu lama hingga akar gigi tetap terbentuk sempurna di posisi yang salah, mungkin diperlukan kawat gigi untuk merapikannya.
Jangan menganggap remeh kondisi gigi anak yang terlihat ganda. Dengan penanganan yang tepat, kamu bisa memastikan senyum anak tetap sehat dan rapi hingga dewasa. Segera lakukan konsultasi jika kamu menemukan tanda-tanda persistensi gigi pada anak.
Kamu bisa mendapatkan obat-obatan atau suplemen kesehatan dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan gigi yang sedang dialami melalui Halodoc.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Baby teeth: When do they start falling out?.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Hyperdontia (Extra Teeth).
American Academy of Pediatric Dentistry. Diakses pada 2026. Management of the Developing Dentition and Occlusion in Pediatric Dentistry.
Journal of Clinical Pediatric Dentistry. Diakses pada 2026. Persistent primary teeth: etiology and treatment.
Punya Masalah Gigi Persisten tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan kesehatan gigi atau pertumbuhan gigi anak yang tampak tidak normal, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


