Ad Placeholder Image

Persistensi Gigi: Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   11 Juni 2026

Kondisi ketika gigi susu tidak tanggal sesuai jadwal normalnya meski gigi permanen sudah mulai tumbuh disebut persistensi gigi.

Persistensi Gigi: Ini Penyebab dan Cara MengatasinyaPersistensi Gigi: Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu melihat kondisi di mana gigi permanen seorang anak sudah mulai muncul, namun gigi susunya belum juga tanggal? Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal dengan istilah persistensi gigi. Secara umum, kata “persistensi” sendiri merujuk pada sesuatu yang tetap bertahan atau berlangsung lebih lama dari waktu yang seharusnya. Dalam konteks kesehatan gigi dan mulut, persistensi adalah kondisi saat gigi sulung (gigi susu) masih berada di posisinya, padahal gigi permanen penggantinya sudah tumbuh atau sudah melewati waktu erupsi yang normal.

Kondisi ini sering kali membuat para orang tua merasa khawatir, karena bisa menyebabkan susunan gigi anak menjadi tidak rapi atau tampak “berlapis”. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, persistensi gigi berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang pada struktur rahang dan estetika senyum anak. Oleh karena itu, memahami penyebab dan langkah penanganan yang tepat sangatlah krusial bagi kesehatan mulut buah hati kamu.

Meskipun terlihat sepele, persistensi gigi memerlukan perhatian medis dari profesional. Ketepatan waktu dalam melakukan tindakan pencabutan gigi susu yang bertahan tersebut akan menentukan seberapa baik gigi permanen dapat menempati posisi yang seharusnya. Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai fenomena persistensi, mulai dari faktor pemicu hingga solusi medis yang tersedia.

Nah, mau tahu apa saja informasi lengkap mengenai persistensi gigi dan bagaimana cara menjaganya agar tetap sehat? Berikut ulasannya!

Mengenal Apa Itu Persistensi Gigi

Persistensi gigi, atau sering disebut sebagai over-retained deciduous teeth, adalah fenomena yang umum terjadi pada masa transisi pergantian gigi anak, yaitu sekitar usia 6 hingga 12 tahun. Secara normal, akar gigi susu akan mengalami proses yang disebut resorpsi (penyerapan kembali) saat gigi permanen di bawahnya mulai mendorong ke atas. Proses resorpsi ini membuat gigi susu menjadi goyang dan akhirnya tanggal dengan sendirinya, memberikan ruang bagi gigi permanen untuk tumbuh.

Namun, pada kasus persistensi, proses resorpsi akar gigi susu ini tidak terjadi secara sempurna atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Akibatnya, gigi susu tetap tertanam kuat di gusi, sementara gigi permanen terpaksa tumbuh di lokasi lain yang biasanya berada di belakang atau di depan gigi susu tersebut. Kondisi inilah yang menciptakan tampilan “gigi ganda” atau gigi berlapis.

Penyebab Utama Persistensi Gigi pada Anak

Ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa gigi susu bisa bertahan lebih lama dari seharusnya. Memahami penyebab ini dapat membantu kamu dalam melakukan pencegahan dini atau deteksi awal.

1. Kurangnya Ruang pada Rahang

Salah satu penyebab paling umum adalah rahang yang terlalu sempit. Jika ukuran rahang tidak cukup luas untuk menampung ukuran gigi permanen yang lebih besar, gigi permanen tersebut mungkin akan tumbuh melenceng dari jalur yang seharusnya. Karena tidak ada tekanan langsung pada akar gigi susu, proses resorpsi pun tidak terpicu.

2. Arah Tumbuh Gigi Permanen yang Salah

Terkadang, benih gigi permanen memang sudah memiliki posisi yang salah sejak awal (ektopik). Jika gigi permanen tumbuh terlalu jauh dari akar gigi susu, maka akar gigi susu tersebut akan tetap utuh dan gigi tidak akan goyang.

3. Faktor Genetik

Riwayat keluarga juga memegang peranan penting. Jika orang tua pernah mengalami masalah persistensi gigi atau keterlambatan pergantian gigi, ada kemungkinan besar sang anak juga akan mengalami hal serupa.

4. Trauma atau Cedera

Cedera pada gigi susu di masa lalu, misalnya karena jatuh atau benturan, dapat menyebabkan kerusakan pada benih gigi permanen di bawahnya atau bahkan menyebabkan “penguncian” (ankilosis) pada akar gigi susu dengan tulang rahang.

Tips Mencegah Komplikasi Persistensi
  1. Biasakan anak mengonsumsi makanan yang berserat dan keras (seperti apel atau wortel) untuk merangsang kekuatan rahang dan proses tanggalnya gigi secara alami.
  2. Lakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali sejak gigi pertama tumbuh.
  3. Jangan mencoba mencabut gigi susu yang masih sangat kuat secara paksa di rumah tanpa saran dokter.

Dampak Persistensi Gigi Jika Tidak Segera Ditangani

Membiarkan kondisi persistensi tanpa tindakan medis bukan tanpa risiko. Beberapa dampak yang mungkin timbul antara lain:

  • Maloklusi: Gigi permanen tumbuh tidak pada tempatnya, menyebabkan susunan gigi menjadi berjejal (crowding) atau tonggos.
  • Masalah Kebersihan Mulut: Gigi yang berlapis membuat celah-celah sempit yang sulit dijangkau oleh sikat gigi, sehingga meningkatkan risiko karies (gigi berlubang) dan radang gusi.
  • Gangguan Estetika: Susunan gigi yang tidak rapi dapat memengaruhi kepercayaan diri anak saat bersosialisasi.
  • Gangguan Fungsi Kunyah: Posisi gigi yang tidak ideal dapat memengaruhi cara anak menggigit dan mengunyah makanan.

Cara Mengatasi Persistensi Gigi Secara Medis

Langkah utama untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan pencabutan gigi susu yang persistensi. Prosedur ini harus dilakukan oleh dokter gigi profesional untuk memastikan tidak ada kerusakan pada benih gigi permanen yang sedang tumbuh. Setelah gigi susu dicabut, gigi permanen biasanya akan bergerak perlahan ke posisi yang benar berkat dorongan alami dari lidah dan bibir, asalkan masih tersedia cukup ruang di rahang.

Dalam beberapa kasus di mana ruang rahang sangat terbatas, dokter mungkin akan merekomendasikan perawatan ortodontik (kawat gigi) di kemudian hari untuk merapikan susunan gigi secara menyeluruh.

Kapan Harus Menghubungi Dokter Gigi?

Jika kamu melihat tanda-tanda adanya gigi permanen yang tumbuh sementara gigi susu masih ada, atau jika gigi susu tidak kunjung goyang padahal sudah melewati usia tanggalnya, jangan menunda. Untuk mendapatkan diagnosa yang akurat mengenai kondisi persistensi gigi, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja.

Selain penanganan medis, menjaga asupan nutrisi seperti kalsium dan vitamin D juga penting selama masa pertumbuhan gigi. Jika kamu membutuhkan produk penunjang kesehatan mulut atau vitamin, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah.

Studi Mengenai Kesehatan Gigi Anak

The Journal of Clinical Pediatric Dentistry menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa diagnosis dini terhadap persistensi gigi sulung sangat menentukan keberhasilan erupsi gigi permanen tanpa bantuan kawat gigi yang kompleks di masa depan.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 60% kasus gigi berjejal pada remaja sebenarnya dapat diminimalisir jika intervensi pencabutan gigi persistensi dilakukan tepat waktu pada masa kanak-kanak. Hal ini membuktikan bahwa pemantauan rutin pada fase gigi bercampur sangat krusial bagi perkembangan orofasial anak.

Penanganan persistensi bukan sekadar soal estetika, melainkan juga soal menjaga fungsionalitas pengunyahan dan kesehatan jaringan periodontal secara keseluruhan. Konsultasi dini adalah kunci utama dalam manajemen kondisi ini.

Jangan biarkan masalah gigi mengganggu kenyamanan dan tumbuh kembang buah hati kamu. Segera hubungi tenaga medis jika kamu menemukan kelainan pada pertumbuhan gigi anak agar mendapatkan penanganan yang paling sesuai.

Punya Keluhan Kesehatan Gigi tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan, terutama masalah pertumbuhan gigi anak yang tampak tidak normal, tapi bingung mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya [HILDA](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn)!

[HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant)](https://halodoc.onelink.me/cQvV/63hms9yn) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

[HILDA](https://www.halodoc.com/hilda) akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Dental Health for Children: Teeth Eruption Timetable.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2026. Baby Teeth: When Do They Fall Out?.
American Dental Association (ADA). Diakses pada 2026. Retained Deciduous Teeth: Causes and Treatments.
Kemenkes RI. Diakses pada 2026. Panduan Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Anak.

FAQ

1. Apakah persistensi gigi bisa sembuh sendiri tanpa dicabut?

Pada beberapa kasus ringan, gigi susu mungkin akan goyang seiring waktu jika ditekan terus oleh gigi permanen. Namun, jika gigi permanen sudah tumbuh cukup tinggi sementara gigi susu tetap kokoh, pencabutan medis diperlukan untuk mencegah gigi permanen tumbuh miring.

2. Di usia berapa biasanya persistensi gigi terjadi?

Kondisi ini umumnya terjadi pada masa pergantian gigi, yaitu antara usia 6 hingga 12 tahun. Gigi seri bawah adalah area yang paling sering mengalami persistensi pada awal masa pergantian gigi.

3. Apakah prosedur cabut gigi persistensi itu menyakitkan?

Dengan teknik anestesi (bius lokal) modern yang dilakukan oleh dokter gigi, prosedur ini umumnya tidak menyakitkan dan proses pemulihannya pun cenderung cepat pada anak-anak.

4. Apakah persistensi gigi bisa menyebabkan gigi permanen rusak?

Persistensi itu sendiri tidak merusak struktur gigi permanen, namun posisi gigi yang berhimpitan membuat sisa makanan mudah terselip dan menyebabkan lubang gigi baik pada gigi susu maupun gigi permanen di sekitarnya.