
Plasenta Previa: Gejala, Sebab dan Penanganan Tepat
Plasenta previa adalah kondisi serius yang memerlukan perhatian medis yang cermat.

DAFTAR ISI
- Plasenta Previa Itu Apa?
- Gejala Utama Plasenta Previa
- Penyebab dan Faktor Risiko
- Komplikasi yang Bisa Terjadi
- Diagnosis dan Penanganan Medis
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Kehamilan adalah momen yang sangat membahagiakan sekaligus penuh dengan kehati-hatian. Selama sembilan bulan, tubuh ibu mengalami berbagai perubahan luar biasa untuk mendukung pertumbuhan janin. Salah satu organ vital yang terbentuk dan bekerja tanpa henti selama kehamilan adalah plasenta atau ari-ari. Plasenta berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi dari tubuh ibu ke janin, serta membuang zat sisa dari darah bayi. Namun, terkadang posisi plasenta tidak berada di tempat yang semestinya. Kondisi inilah yang mengarah pada pertanyaan banyak ibu hamil: plasenta previa itu apa?
Dalam kondisi kehamilan normal, plasenta biasanya menempel di bagian atas, samping, atau dinding depan rahim. Posisi ini memberikan ruang yang cukup bagi janin untuk tumbuh dan pada akhirnya lahir melalui jalan lahir (serviks atau leher rahim). Namun, pada kasus plasenta previa, plasenta justru berada di bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir. Kondisi ini bukan sekadar variasi letak organ, melainkan sebuah komplikasi kehamilan yang membutuhkan perhatian medis serius karena berisiko tinggi menyebabkan perdarahan hebat, baik selama kehamilan maupun saat persalinan.
Mengetahui secara mendalam mengenai plasenta previa sangat penting bagi setiap ibu hamil. Perdarahan yang diakibatkan oleh kondisi ini bisa membahayakan nyawa ibu dan bayi jika tidak ditangani dengan tepat. Melalui pemeriksaan kehamilan rutin (ANC), dokter kandungan dapat memantau letak plasenta sejak trimester awal hingga menjelang persalinan. Jika letak plasenta menutupi jalan lahir hingga trimester ketiga, dokter biasanya akan merencanakan persalinan melalui operasi caesar demi keselamatan ibu dan janin.
Nah, mau tahu lebih detail tentang plasenta previa itu apa, gejala, penyebab, hingga langkah penanganan medisnya? Berikut ulasan lengkap yang perlu kamu pahami untuk menjaga kehamilan tetap aman!
Plasenta Previa Itu Apa?
Untuk menjawab pertanyaan “plasenta previa itu apa”, kita perlu memahami anatomi rahim saat hamil. Plasenta previa adalah suatu kondisi di mana plasenta (ari-ari) letaknya abnormal, yaitu menempel di segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium uteri internum (pembukaan leher rahim). Kata “previa” sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti “muncul sebelum”, mengindikasikan bahwa plasenta berada di depan janin, menutupi jalan yang seharusnya dilewati janin saat lahir.
Berdasarkan tingkat penutupan jalan lahirnya, plasenta previa dibagi menjadi beberapa klasifikasi, antara lain:
- Plasenta Previa Totalis: Plasenta menutupi seluruh pembukaan jalan lahir (serviks). Pada kondisi ini, persalinan normal (pervaginam) tidak mungkin dilakukan.
- Plasenta Previa Parsialis: Plasenta menutupi sebagian pembukaan leher rahim.
- Plasenta Previa Marginalis: Tepi plasenta berada tepat di pinggir pembukaan leher rahim, tetapi tidak menutupinya.
- Plasenta Letak Rendah (Low-lying Placenta): Plasenta berada di segmen bawah rahim, jaraknya sangat dekat dengan leher rahim (kurang dari 2 cm), tetapi tidak menyentuh bibir serviks.
Penting untuk dicatat bahwa diagnosis letak plasenta yang rendah pada trimester pertama atau awal trimester kedua adalah hal yang sangat umum. Seiring bertambahnya usia kehamilan dan membesarnya rahim, plasenta biasanya akan “tertarik” ke atas menjauhi leher rahim (fenomena migrasi plasenta). Namun, jika plasenta tetap berada di bawah dan menutupi serviks setelah usia kehamilan mencapai 28 minggu, maka barulah kondisi tersebut secara definitif didiagnosis sebagai plasenta previa.
Gejala Utama Plasenta Previa
Tanda dan gejala paling khas dari plasenta previa adalah terjadinya perdarahan dari vagina yang berwarna merah segar pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Berbeda dengan keguguran atau solusio plasenta (plasenta lepas dari dinding rahim) yang biasanya disertai rasa nyeri perut luar biasa, perdarahan pada plasenta previa sering kali terjadi tanpa rasa sakit (painless bleeding).
Perdarahan ini bisa muncul tiba-tiba saat ibu sedang beristirahat, atau bisa juga dipicu oleh aktivitas tertentu seperti berhubungan seksual, batuk, mengejan, atau setelah menjalani pemeriksaan panggul. Volume darah yang keluar bisa bervariasi, mulai dari bercak ringan hingga perdarahan hebat (hemoragi) yang mengancam jiwa. Sering kali, perdarahan pertama bisa berhenti dengan sendirinya, tetapi berisiko muncul kembali beberapa hari atau beberapa minggu kemudian dengan volume yang berpotensi lebih banyak.
Beberapa ibu hamil dengan plasenta previa juga mungkin mengalami kontraksi ringan di perut atau punggung, meskipun hal ini kurang umum dibandingkan dengan perdarahan tanpa nyeri. Mengingat bahayanya komplikasi yang bisa terjadi, jika kamu mengalami gejala berupa perdarahan mendadak saat hamil, jangan tunda untuk konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja untuk mendapatkan panduan dan penanganan medis yang tepat.
Penyebab dan Faktor Risiko
Secara medis, penyebab pasti mengapa plasenta menempel di bagian bawah rahim belum diketahui secara pasti. Namun, perlekatan plasenta sangat bergantung pada suplai darah di dinding rahim. Jika bagian atas rahim memiliki jaringan parut atau suplai darah yang kurang baik, embrio mungkin akan mencari area lain yang lebih kaya pembuluh darah, yaitu di segmen bawah rahim.
Meski penyebab pastinya belum jelas, berbagai penelitian medis telah mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengalami plasenta previa, yaitu:
- Riwayat Operasi pada Rahim: Wanita yang pernah menjalani operasi caesar, kuretase (D&C), atau operasi pengangkatan miom (miomektomi) memiliki jaringan parut pada rahimnya. Jaringan parut ini meningkatkan risiko plasenta tumbuh di area tersebut atau di segmen bawah rahim.
- Usia Ibu Hamil: Hamil di usia 35 tahun ke atas memiliki risiko lebih tinggi terkena komplikasi kehamilan, termasuk plasenta previa.
- Kehamilan Kembar: Hamil bayi kembar dua, tiga, atau lebih membutuhkan ukuran plasenta yang lebih besar (atau jumlah plasenta yang lebih banyak). Plasenta yang luas ini cenderung menyebar hingga menutupi jalan lahir.
- Paritas (Jumlah Persalinan): Wanita yang sudah pernah hamil dan melahirkan beberapa kali (multiparitas) lebih berisiko dibandingkan wanita yang baru pertama kali hamil.
- Riwayat Plasenta Previa Sebelumnya: Jika di kehamilan sebelumnya kamu mengalami kondisi ini, risiko untuk mengalaminya kembali di kehamilan berikutnya akan meningkat.
- Gaya Hidup: Kebiasaan merokok atau menggunakan obat-obatan terlarang selama kehamilan dapat merusak pembuluh darah plasenta dan rahim, sehingga memicu pertumbuhan jaringan plasenta yang abnormal.
Tips Pencegahan dan Perawatan Mandiri di Rumah
- Istirahat Total (Bed Rest): Kurangi aktivitas fisik yang berat, berdiri terlalu lama, atau mengangkat beban berat.
- Pelvic Rest: Hindari berhubungan intim, melakukan douching, atau memasukkan benda apapun ke dalam vagina untuk mencegah perdarahan.
- Rutin Cek Kandungan: Jangan lewatkan jadwal USG untuk terus memantau pergerakan letak plasenta seiring membesarnya rahim.
Komplikasi yang Bisa Terjadi
Plasenta previa bukanlah kondisi yang bisa dianggap remeh. Jika tidak dikelola dengan baik dan diawasi oleh tenaga medis yang kompeten, kondisi ini dapat membahayakan keselamatan ibu dan bayi. Berikut adalah beberapa komplikasi serius yang mengintai:
1. Perdarahan Hebat (Hemoragi)
Komplikasi paling ditakuti adalah perdarahan hebat pada ibu, baik sebelum, selama, atau setelah proses persalinan. Leher rahim yang menipis dan terbuka menjelang persalinan akan merobek pembuluh darah plasenta yang menutupinya. Perdarahan masif dapat menyebabkan syok hipovolemik (penurunan tekanan darah drastis akibat kehilangan darah) yang bisa berakibat fatal.
2. Kelahiran Prematur
Jika perdarahan yang terjadi sangat banyak dan tidak bisa dihentikan, dokter mungkin terpaksa melahirkan bayi lebih awal melalui operasi caesar darurat, meskipun usia kehamilan belum cukup bulan (sebelum 37 minggu). Bayi prematur memiliki berbagai risiko kesehatan, seperti berat badan lahir rendah, gangguan pernapasan, dan organ tubuh yang belum matang sempurna.
3. Plasenta Akreta
Plasenta previa sering kali dikaitkan dengan kondisi medis lain yang disebut plasenta akreta. Ini adalah kondisi di mana plasenta tumbuh terlalu dalam menembus dinding otot rahim. Karena tertanam terlalu kuat, plasenta tidak bisa lepas dengan sendirinya setelah bayi lahir, yang dapat memicu perdarahan pascapersalinan (HPP) yang sangat masif, dan sering kali mengharuskan tindakan pengangkatan rahim (histerektomi).
Diagnosis dan Penanganan Medis
Satu-satunya cara akurat untuk mendiagnosis plasenta previa adalah melalui pemeriksaan Ultrasonografi (USG). Biasanya, kondisi ini pertama kali dicurigai melalui USG perut rutin pada trimester kedua (sekitar minggu ke-18 hingga 22). Untuk mendapatkan gambaran yang lebih presisi mengenai jarak tepi plasenta dengan leher rahim, dokter umumnya akan melakukan USG transvaginal (dimasukkan melalui vagina) dengan sangat hati-hati agar tidak memicu perdarahan.
Setelah diagnosis ditegakkan, penanganan plasenta previa akan sangat bergantung pada beberapa faktor: usia kehamilan, tingkat keparahan perdarahan, kesehatan bayi, serta jenis plasenta previa yang dialami.
1. Penanganan untuk Perdarahan Ringan atau Tanpa Perdarahan
Jika plasenta previa terdeteksi tetapi ibu tidak mengalami perdarahan (atau hanya bercak ringan), dokter biasanya menyarankan penanganan konservatif. Ibu akan disarankan untuk banyak beristirahat (bed rest) di rumah, menghindari hubungan seksual, serta menghindari aktivitas fisik berat. Pemeriksaan USG akan dilakukan lebih sering untuk memantau apakah plasenta bermigrasi ke atas seiring bertambahnya usia kehamilan.
2. Penanganan untuk Perdarahan Sedang hingga Berat
Jika perdarahan cukup banyak, ibu hamil wajib dirawat inap di rumah sakit. Tujuan utamanya adalah menstabilkan kondisi ibu dengan memberikan transfusi darah jika diperlukan, serta memantau detak jantung janin. Jika usia kehamilan masih di bawah 34 minggu, dokter mungkin akan memberikan suntikan kortikosteroid untuk mempercepat pematangan paru-paru janin, sebagai persiapan jika bayi harus dilahirkan prematur.
Untuk menunjang kesehatan ibu selama kehamilan, terutama untuk mencegah anemia defisiensi besi akibat kehilangan darah ringan, dokter sering kali merekomendasikan asupan vitamin dan zat besi tambahan. Kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah untuk memenuhi kebutuhan suplemen kehamilanmu dengan praktis.
3. Proses Persalinan (Operasi Caesar)
Pada kasus plasenta previa totalis atau parsialis yang tidak bergeser hingga menjelang waktu taksiran persalinan (HPL), operasi caesar terencana (C-section) adalah tindakan medis yang wajib dilakukan. Persalinan pervaginam tidak dimungkinkan karena akan menyebabkan robekan pembuluh darah fatal. Biasanya, operasi caesar dijadwalkan pada usia kehamilan 36 hingga 37 minggu untuk mencegah ibu mengalami kontraksi alami yang memicu perdarahan.
Studi Mengenai Plasenta Previa
American Journal of Obstetrics and Gynecology menerbitkan studi di tahun 2012 yang menjelaskan bahwa terdapat korelasi yang sangat kuat antara persalinan caesar sebelumnya dengan kejadian plasenta previa dan plasenta akreta pada kehamilan berikutnya.
Studi ini menyoroti bahwa risiko plasenta previa meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah riwayat operasi caesar pada seorang wanita. Penelitian ini menegaskan pentingnya menekan angka operasi caesar yang tidak ada indikasi medis, demi mencegah komplikasi letak plasenta di kehamilan ibu di masa depan.
Konsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan via Halodoc
Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Kandungan terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Penting bagi setiap ibu hamil untuk memahami risiko serta gejala dari kondisi ini. Jangan lewatkan jadwal pemeriksaan rutin kandunganmu. Jika ada keluhan mendadak, kamu selalu bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Placenta previa – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Placenta Previa: Symptoms, Causes & Treatments.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). Diakses pada 2024. Bleeding During Pregnancy.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Managing Complications in Pregnancy and Childbirth.
FAQ
1. Plasenta previa itu apa secara sederhana?
Secara sederhana, plasenta previa adalah kondisi kelainan letak ari-ari (plasenta) saat hamil, di mana ari-ari tersebut menempel di bagian bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (leher rahim) bayi.
2. Apakah ibu hamil dengan plasenta previa bisa melahirkan normal?
Tergantung pada jenisnya. Jika plasenta previa menutupi seluruh atau sebagian leher rahim hingga usia kehamilan tua (trimester 3), maka persalinan wajib dilakukan melalui operasi caesar. Melahirkan normal sangat berbahaya karena dapat memicu perdarahan fatal. Namun, jika letaknya hanya rendah dan tidak menyentuh jalan lahir, persalinan normal terkadang masih memungkinkan di bawah pengawasan ketat dokter.
3. Apa ciri-ciri ibu hamil yang mengalami plasenta previa?
Ciri utamanya adalah terjadinya perdarahan hebat atau keluarnya darah merah segar dari vagina pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Berbeda dengan kelainan lain, perdarahan ini biasanya terjadi secara tiba-tiba dan tanpa disertai rasa nyeri di perut (painless bleeding).
4. Apakah letak plasenta di bawah bisa bergeser ke atas?
Bisa. Pada awal kehamilan (trimester pertama dan awal trimester kedua), letak plasenta di bawah adalah hal yang wajar. Seiring rahim membesar untuk menyesuaikan pertumbuhan janin, plasenta biasanya akan “tertarik” dan bergeser ke arah atas menjauhi jalan lahir. Namun, jika tidak bergeser hingga usia kehamilan mencapai 28 minggu, dokter akan memberikan perhatian khusus.


