
Prolaps Rektum: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Prolaps rektum adalah kondisi medis ketika rektum keluar melalui anus dan butuh penanganan tepat.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Prolaps Rektum?
- Perbedaan Wasir dan Prolaps Rektum
- Penyebab dan Faktor Risiko
- Cara Mengatasi Prolaps Rektum
- Studi Terkait
- Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
- FAQ
Pernahkah kamu mengalami momen mengejutkan di mana saat buang air besar (BAB), ada jaringan atau daging yang keluar dari anus dan terlihat seperti usus? Kondisi ini tentu bisa memicu rasa panik dan cemas yang luar biasa. Secara medis, keluarnya bagian tubuh yang menyerupai usus dari lubang anus ini sering kali merupakan gejala dari kondisi yang disebut sebagai prolaps rektum.
Kondisi saat BAB keluar seperti usus ini tidak boleh diabaikan. Meskipun pada tahap awal jaringan tersebut mungkin bisa masuk kembali dengan sendirinya atau didorong perlahan dengan jari, seiring berjalannya waktu, kondisi ini bisa memburuk. Otot-otot di sekitar anus dapat melemah secara permanen, menyebabkan masalah kesehatan lain seperti inkontinensia tinja (ketidakmampuan menahan BAB).
Penting untuk memahami bahwa mengedan terlalu keras akibat sembelit kronis adalah salah satu pemicu utamanya. Namun, faktor usia, kelemahan otot panggul, hingga riwayat persalinan juga memainkan peran penting. Membiarkan kondisi ini berlarut-larut tanpa penanganan medis yang tepat hanya akan menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Karena kondisi ini membutuhkan diagnosis pasti dan sering kali intervensi bedah, sangat penting untuk mengetahui akar masalahnya. Lantas, apa sebenarnya prolaps rektum itu, apa perbedaannya dengan ambeien, dan bagaimana cara medis menanganinya? Berikut ulasan lengkap yang perlu kamu ketahui!
Apa Itu Prolaps Rektum?
Saat seseorang mengeluhkan ada jaringan mirip usus yang keluar saat BAB, kemungkinan besar itu adalah rektum bagian bawah yang turun dari tempat asalnya. Prolaps rektum terjadi ketika rektum (bagian akhir dari usus besar sebelum anus) kehilangan perlekatan yang normal di dalam tubuh, sehingga ia melorot dan menonjol keluar melalui lubang anus.
Rektum adalah tempat penyimpanan sementara untuk feses sebelum dikeluarkan. Normalnya, rektum ditahan oleh otot-otot dan ligamen dasar panggul yang kuat. Namun, ketika penyangga ini melemah, rektum bisa terbalik dari dalam ke luar (seperti kaus kaki yang dibalik) dan keluar dari tubuh.
Secara medis, prolaps rektum terbagi menjadi tiga jenis utama, yaitu:
- Prolaps Mukosa (Parsial): Hanya lapisan dalam (mukosa) rektum yang menonjol keluar dari anus. Ini adalah jenis yang paling ringan dan sering dialami oleh anak-anak balita atau penderita wasir kronis.
- Prolaps Penuh (Full-thickness): Seluruh dinding rektum menonjol dan keluar melewati anus. Ini adalah kondisi yang paling sering dimaksud ketika seseorang merasa “ususnya keluar” saat BAB.
- Prolaps Internal (Intususepsi): Rektum melorot atau melipat ke dalam dirinya sendiri tetapi tidak sampai keluar menembus lubang anus. Penderita biasanya merasa ada yang mengganjal di dalam anus dan merasa BAB tidak pernah tuntas.
Perbedaan Wasir dan Prolaps Rektum
Banyak orang menyalahartikan prolaps rektum sebagai wasir (ambeien atau hemoroid) yang parah. Walaupun keduanya melibatkan benjolan yang keluar dari anus dan bisa berdarah, keduanya adalah kondisi medis yang sama sekali berbeda.
Wasir adalah pembengkakan pembuluh darah vena yang ada di dinding rektum bagian bawah dan anus. Sementara itu, prolaps rektum adalah turunnya dinding usus itu sendiri, bukan sekadar pembuluh darah. Benjolan pada wasir biasanya memiliki alur yang membujur (vertikal), sedangkan benjolan pada prolaps rektum memiliki lipatan yang melingkar (konsentris) dan menyerupai tabung merah atau merah muda.
Jika kamu ragu dengan kondisi yang kamu alami dan disertai pendarahan terus-menerus, jangan mencoba mendiagnosis diri sendiri. Sebaiknya segera konsultasi dokter spesialis bedah untuk mendapatkan pemeriksaan fisik yang akurat dan rencana penanganan yang aman.
Tanda dan Gejala Prolaps Rektum yang Harus Diwaspadai:
- Terdapat benjolan daging berwarna kemerahan yang keluar dari anus, terutama sehabis BAB atau mengedan.
- Keluarnya lendir atau darah merah segar dari anus.
- Rasa nyeri, tidak nyaman, atau sensasi penuh di area panggul dan rektum.
- Kesulitan mengontrol buang air besar (cebirit) atau feses keluar tanpa disadari.
- Timbulnya rasa gatal yang parah di sekitar lubang anus akibat iritasi lendir.
Penyebab dan Faktor Risiko
Keluarnya rektum dari anus jarang terjadi secara tiba-tiba tanpa adanya faktor yang mendahului. Kondisi ini umumnya merupakan akumulasi dari tekanan berulang pada area panggul selama bertahun-tahun. Beberapa penyebab dan faktor risiko utamanya meliputi:
1. Sembelit Kronis dan Kebiasaan Mengedan
Ini adalah penyebab paling umum. Mengedan terlalu keras saat BAB, berulang kali, selama bertahun-tahun, akan memberi tekanan ekstrem pada jaringan penyangga rektum. Lama-kelamaan, ligamen ini akan merenggang dan kehilangan kemampuannya menahan rektum di tempatnya.
2. Kelemahan Otot Dasar Panggul
Otot dasar panggul berfungsi seperti “ayunan” yang menahan organ-organ di atasnya, termasuk usus, kandung kemih, dan rahim. Kelemahan otot ini sering dipengaruhi oleh proses penuaan yang normal.
3. Kehamilan dan Persalinan Berulang
Wanita jauh lebih rentan mengalami prolaps rektum dibandingkan pria, terutama mereka yang berusia di atas 50 tahun. Trauma fisik yang dialami otot panggul selama kehamilan dan persalinan normal (pervaginam) bisa merusak atau melemahkan saraf dan jaringan penyangga panggul.
4. Faktor Lainnya
Kerusakan saraf akibat cedera tulang belakang, riwayat operasi panggul sebelumnya, infeksi usus kronis, fibrosis kistik pada anak-anak, hingga kebiasaan duduk terlalu lama di toilet saat BAB juga bisa menjadi penyumbang risiko terjadinya prolaps rektum.
Cara Mengatasi Prolaps Rektum
Penanganan kondisi di mana BAB keluar seperti usus sangat bergantung pada keparahan benjolan, usia pasien, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Pada prinsipnya, penanganan dibagi menjadi dua kategori: perawatan konservatif (non-bedah) dan tindakan operasi.
1. Perawatan Konservatif di Rumah
Pada kasus yang sangat ringan (biasanya pada anak-anak atau prolaps mukosa parsial), dokter mungkin tidak langsung menyarankan operasi. Fokus utama adalah mencegah tekanan pada panggul dengan cara mengatasi sembelit. Dokter akan menyarankan untuk memperbanyak minum air putih dan diet tinggi serat.
Untuk memudahkan BAB dan menghindari mengedan, kamu bisa beli suplemen serat dan obat pencahar yang aman secara mandiri atau berdasarkan anjuran dokter, untuk membantu melunakkan konsistensi feses dan menjaga kesehatan pencernaanmu secara umum.
2. Latihan Senam Kegel
Senam Kegel bertujuan untuk memperkuat otot-otot dasar panggul. Meskipun senam ini tidak bisa mengembalikan rektum yang sudah terlanjur melorot keluar secara keseluruhan, latihan rutin dapat membantu menahan gejala agar tidak bertambah parah dan memperbaiki kemampuan mengontrol feses (mencegah inkontinensia).
3. Tindakan Pembedahan (Operasi)
Bagi orang dewasa dengan prolaps rektum penuh, operasi adalah satu-satunya cara efektif untuk memperbaiki kondisi ini secara permanen. Ada dua pendekatan bedah utama yang biasanya dilakukan oleh dokter bedah pencernaan:
- Bedah Abdomen (Rektopeksi): Dokter melakukan sayatan dari bagian perut (bisa melalui operasi terbuka atau laparoskopi). Rektum ditarik kembali ke posisi asalnya, lalu direkatkan ke dinding panggul atau tulang belakang bagian bawah menggunakan jahitan atau jaring medis (mesh).
- Bedah Perineum (Prosedur Altemeier atau Delorme): Dilakukan langsung melalui anus tanpa membedah perut. Pada prosedur ini, bagian rektum yang keluar akan dipotong, atau lapisan dalam rektum akan dilipat dan dijahit agar memendek. Pendekatan ini biasanya dipilih untuk pasien lanjut usia atau mereka yang memiliki risiko komplikasi tinggi jika menjalani operasi perut.
Studi Terkait Prolaps Rektum
National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan literatur medis yang menjelaskan bahwa penanganan prolaps rektum melalui pembedahan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Pemilihan metode bedah antara rektopeksi perut dan pendekatan perineum harus disesuaikan dengan profil pasien.
Penelitian klinis menunjukkan bahwa operasi laparoskopi rektopeksi memberikan hasil perbaikan jangka panjang yang paling optimal dengan tingkat kekambuhan yang sangat rendah dibandingkan metode lainnya. Namun, bagi pasien geriatri, pembedahan via perineum menawarkan masa pemulihan yang lebih cepat dengan risiko komplikasi pasca-bius yang jauh lebih rendah. Studi ini menegaskan pentingnya konsultasi mendetail dengan dokter bedah untuk menemukan solusi yang dipersonalisasi.
Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Rectal Prolapse – Symptoms and Causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Rectal Prolapse: Causes, Symptoms, and Treatment.
American Society of Colon and Rectal Surgeons (ASCRS). Diakses pada 2024. Rectal Prolapse.
National Health Service (NHS UK). Diakses pada 2024. Bowel problems – Rectal prolapse.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2024. Symptoms & Causes of Fecal Incontinence.
FAQ
1. Apakah prolaps rektum bisa sembuh sendiri tanpa operasi?
Pada orang dewasa dengan prolaps rektum penuh, kondisi ini tidak bisa sembuh atau kembali normal dengan sendirinya tanpa tindakan bedah. Benjolan yang didorong masuk dengan tangan akan keluar kembali saat BAB. Namun, pada anak-anak, kondisi ringan terkadang dapat sembuh sendiri dengan mengobati penyebab utamanya, seperti sembelit.
2. Apa bedanya wasir parah dengan prolaps rektum?
Meskipun keduanya tampak seperti benjolan yang keluar dari anus, wasir adalah pembuluh darah vena yang membengkak, sedangkan prolaps rektum adalah turunnya seluruh dinding usus/rektum bagian bawah. Dokter bedah dapat membedakannya dengan melihat pola lipatan pada benjolan tersebut secara langsung.
3. Apakah prolaps rektum adalah kondisi yang berbahaya atau mematikan?
Prolaps rektum pada dasarnya tidak mengancam jiwa secara langsung dan bukan merupakan bentuk kanker. Namun, ini adalah kondisi yang progresif. Jika dibiarkan, benjolan bisa terjepit di luar anus dan kehilangan pasokan darah (strangulasi), yang akan memicu kematian jaringan (nekrosis) dan membutuhkan operasi darurat.
4. Bagaimana cara terbaik mencegah usus keluar saat BAB?
Cara paling efektif untuk mencegah prolaps rektum adalah menjaga rutinitas BAB yang sehat. Pastikan kamu mengonsumsi makanan tinggi serat (sayur, buah, biji-bijian), minum air putih yang cukup (minimal 8 gelas per hari), dan yang terpenting: jangan pernah memaksa mengedan kuat-kuat saat di toilet.







