• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • PTSD Berbeda dengan Trauma, Ini Penjelasannya 

PTSD Berbeda dengan Trauma, Ini Penjelasannya 

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta - Posttraumatic Stress Disorder (PTSD) dan trauma sering kali dianggap sebagai hal yang serupa. Meski kedua masalah ini saling terkait, tetapi PTSD dan trauma merupakan dua kondisi yang berbeda. PTSD ini masuk ke dalam gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tak menyenangkan atau traumatis. Lalu, bagaimana dengan trauma? Nah, berikut perbedaan PTSD dan trauma. 

Meskipun kedua masalah ini saling terkait, mereka berbeda. Menurut American Psychological Association, trauma adalah respons emosional terhadap peristiwa mengerikan. Trauma dapat terjadi satu kali atau pada beberapa kesempatan dan seseorang dapat mengalami lebih dari satu jenis trauma.

Baca juga: Kejadian Traumatis Picu Gangguan Jiwa, Ini Penyebabnya

Sulit Melupakan Pengalaman Traumatis

PTSD sendiri merupakan kondisi kejiwaan yang dipicu oleh kejadian tragis yang pernah dialami atau disaksikan seseorang. Contohnya, peristiwa traumatis pada bencana alam, kecelakaan lalu lintas, tindak kejahatan, atau pengalaman di medan perang. 

Post traumatic stress disorder membuat pengidapnya tak bisa melupakan pengalaman traumatis. Pengidapnya seakan-akan mengulang kembali kejadian tersebut. Bahkan, ingatan traumatis tersebut sering kali hadir dalam mimpi buruk. Nah, hal inilah yang membuat pengidapnya tertekan secara emosional. 

Dalam kebanyakan kasus, PTSD lebih sering memengaruhi wanita ketimbang pria. Alasannya sederhana, wanita lebih sensitif terhadap perubahan daripada pria. Alhasil, kaum hawa akan mengalami emosi yang lebih intens. Hal yang perlu digarisbawahi, kondisi ini bisa menyerang semua golongan usia, bahkan anak-anak. 

PTSD Dipicu Trauma dan Profesi Tertentu

Sampai kini penyebab PTSD tak diketahui dengan pasti. Akan tetapi, ada beberapa kondisi kondisi yang diduga kuat bisa memicu terjadinya gangguan jiwa ini. Misalnya, mengalami ancaman atau melihat kematian, luka parah, pelecehan atau kekerasan seksual, hingga mempelajari tentang suatu kejadian yang melibatkan kematian. Nah, berikut beberapa faktor yang bisa memicu post traumatic stress disorder.

  1. Mengalami trauma jangka panjang.

  2. Mengidap gangguan mental lain, seperti meningkatnya risiko kecemasan dan depresi.

  3. Memiliki anggota keluarga yang mengidap PTSD atau gangguan mental lain. 

  4. Mewarisi aspek kepribadian atau temperamen tertentu. 

  5. Pernah mengalami peristiwa trauma lain, contohnya penyiksaan saat masa kecil. 

  6. Profesi yang menimbulkan potensi seseorang untuk mengalami kejadian traumatis. Misalnya, tim SAR atau tentara.

Baca juga: Orang di Bidang Militer Lebih Rentan Terhadap PTSD

Apa Bedanya dengan Trauma?

Trauma terjadi ketika seseorang mengalami kejadian yang amat menakutkan, menyedihkan, atau mengancam nyawa. Pemicu trauma amat beragam, seperti bullying, pelecehan seksual, trauma medis, bencana alam, perpisahan/duka traumatis, kekerasan komunitas, intimidasi di sekolah, dan lain-lain. 

Seseorang yang mengalami kejadian traumatis biasanya akan merasa takut, sedih, cemas berlebihan, hingga syok. Reaksi tiap orang bisa berbeda-beda ketika menghadapi kejadian traumatis, meski hal yang dialami serupa. Ada yang mampu menanggapinya dengan baik, tetapi ada pula yang bisa berujung pada gangguan psikologis, seperti depresi atau PTSD. 

Oleh sebab itu, mereka yang mengalami peristiwa traumatis amat disarankan untuk melakukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Tujuannya jelas, agar peristiwa traumatis tersebut tak meninggalkan trauma psikologis yang mendalam.

Baca juga: Ketahui Fakta Penting tentang PTSD

Nah, kesimpulannya, tak semua orang yang teringat pada kejadian traumatis berarti terserang PTSD. Sebab, ada beberapa kriteria khusus yang digunakan untuk menentukan apakan seseorang mengalami PTSD atau tidak, yaitu:

  • Pola pikir menjadi negatif.

  • Ingatan yang mengganggu, contohnya selalu mengingat detail mengerikan dari kejadian tragis.

  • Cenderung mengelak membicarakan atau memikirkan kejadian traumatis.

  • Pengidapnya bisa mengalami emosi yang lebih intens dari sebelumnya.

  • PTSD juga bisa membuat seseorang merasa putus asa untuk menghadapi masa depan.

Mau tahu lebih jauh mengenai perbedaan PTSD dan trauma? Atau memiliki keluhan kesehatan lainnya? Kamu bisa kok bertanya langsung pada dokter melalui aplikasi Halodoc. Lewat fitur Chat dan Voice/Video Call, kamu bisa mengobrol dengan dokter ahli kapan dan di mana saja tanpa perlu ke luar rumah. Yuk, download Halodoc sekarang juga di App Store dan Google Play!

Referensi:
The Hope and Healing Center & Institute. Diakses pada 2020. PTSD vs. Trauma
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Diseases and Conditions. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). 
WebMD. Diakses pada 2020. Post-Traumatic Stress Disorder - Topic Overview.
American Psychological Association APA. Diakses pada 2020. Trauma.