Ad Placeholder Image

Rahang Bunyi Saat Buka Mulut: Penyebab dan Cara Atasi

4 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 23 Juni 2026

Rahang Bunyi Saat Buka Mulut? Ini Penyebab & Solusinya!

Rahang Bunyi Saat Buka Mulut: Penyebab dan Cara AtasiRahang Bunyi Saat Buka Mulut: Penyebab dan Cara Atasi

DAFTAR ISI


Pernahkah kamu mendengar suara “klik” atau “kletek” dari area rahang saat sedang makan atau menguap? Kondisi rahang berbunyi saat mengunyah adalah keluhan yang cukup umum terjadi. Secara medis, sendi yang menghubungkan tulang rahang bawah dengan tengkorak disebut sebagai sendi temporomandibular (Temporomandibular Joint atau TMJ). Sendi ini bekerja layaknya engsel geser yang memungkinkan kamu untuk berbicara, mengunyah, dan menguap. Ketika ada gangguan pada sendi ini atau otot di sekitarnya, suara bunyi pada rahang sering kali menjadi gejala pertama yang muncul.

Banyak orang mengabaikan rahang berbunyi karena pada awalnya mungkin tidak disertai rasa sakit. Namun, jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan sendi rahang yang lebih serius atau Temporomandibular Joint Disorder (TMD). Gangguan ini dapat menyebabkan rasa nyeri yang menjalar ke leher, wajah, hingga memicu sakit kepala kronis. Kualitas hidup pun dapat menurun drastis karena penderita akan merasa kesulitan saat makan makanan yang bertekstur keras atau bahkan saat berbicara dalam waktu lama.

Penting untuk memahami apa yang mendasari kondisi ini sebelum mengambil langkah pengobatan. Penyebabnya bisa sangat beragam, mulai dari kebiasaan buruk yang tidak disadari saat tidur, hingga kondisi medis tertentu seperti radang sendi. Mengetahui pemicunya adalah langkah awal yang krusial untuk mencegah kerusakan sendi yang bersifat permanen.

Nah, mau tahu apa saja penyebab pasti dari rahang berbunyi saat mengunyah dan bagaimana cara penanganannya yang tepat? Berikut ulasan lengkapnya!

Penyebab Rahang Berbunyi Saat Mengunyah

1. Bruxism (Menggemeretakkan Gigi)

Salah satu penyebab utama dari rahang berbunyi adalah bruxism, yaitu kebiasaan menggemeretakkan atau menggesekkan gigi atas dan bawah, baik saat terjaga maupun saat tidur. Kebiasaan ini sering kali dipicu oleh stres, kecemasan, atau gangguan tidur seperti sleep apnea. Tekanan konstan dari bruxism akan membuat otot-otot di sekitar rahang menjadi tegang dan memberikan beban berlebih pada sendi temporomandibular. Seiring berjalannya waktu, bantalan tulang rawan pada sendi dapat bergeser dari posisi normalnya, sehingga memunculkan suara “klik” saat rahang digerakkan.

2. Radang Sendi (Arthritis)

Sama halnya dengan sendi di lutut atau tangan, sendi rahang juga bisa terkena radang sendi. Osteoarthritis dan rheumatoid arthritis adalah dua jenis peradangan yang paling sering menyerang area TMJ. Osteoarthritis terjadi akibat penipisan tulang rawan karena faktor usia dan keausan alami, sementara rheumatoid arthritis adalah penyakit autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sendinya sendiri. Keduanya akan menyebabkan peradangan, kekakuan, nyeri, dan bunyi pada rahang saat mulut dibuka atau ditutup.

3. Cedera pada Area Wajah dan Rahang

Trauma fisik seperti benturan keras akibat kecelakaan, cedera olahraga, atau pukulan di area wajah dapat menyebabkan dislokasi pada sendi rahang. Cedera ini bisa langsung merusak struktur sendi temporomandibular atau merobek otot dan ligamen di sekitarnya. Whiplash, yaitu cedera leher akibat sentakan tiba-tiba (sering terjadi pada kecelakaan mobil), juga diketahui dapat memengaruhi posisi sendi rahang dan memicu bunyi saat mengunyah.

4. Maloklusi (Susunan Gigi Tidak Rata)

Maloklusi adalah kondisi di mana gigitan atas dan bawah tidak bertemu dengan pas dan sejajar. Hal ini bisa terjadi karena gigi tumbuh berjejal, gigi ompong yang tidak segera diganti dengan gigi palsu, atau tambalan gigi yang terlalu tinggi. Susunan gigi yang tidak sejajar ini memaksa sendi rahang dan otot-otot pengunyah bekerja ekstra keras untuk menyesuaikan gerakan saat makan. Ketidakseimbangan biomekanik inilah yang pada akhirnya membuat rahang sering berbunyi dan terasa pegal.

5. Kebiasaan Membuka Mulut Terlalu Lebar

Hal yang tampak sepele seperti menguap terlalu lebar, menggigit makanan dengan ukuran yang terlalu besar (seperti apel utuh atau burger tebal), atau menyanyi dengan mulut terbuka maksimal juga bisa membuat rahang berbunyi. Gerakan ekstrem ini membuat ligamen sendi meregang melampaui batas elastisitasnya. Jika sering dilakukan, sendi rahang dapat terbiasa melompat keluar dari jalurnya sejenak sebelum kembali lagi, yang menghasilkan bunyi “kletek”.

Gejala Penyerta yang Perlu Diwaspadai
  1. Nyeri berdenyut di sekitar telinga, rahang, dan sisi wajah.
  2. Rahang terasa terkunci (lockjaw), membuat mulut sulit dibuka atau ditutup.
  3. Otot rahang terasa kaku, terutama saat bangun tidur di pagi hari.
  4. Pembengkakan di sisi wajah tempat sendi rahang berada.
  5. Sakit kepala yang menyerupai migrain dan telinga berdenging (tinnitus).

Cara Mengatasi Rahang Berbunyi Secara Mandiri

1. Mengubah Pola Makan dan Tekstur Makanan

Langkah penanganan pertama yang paling mudah dilakukan di rumah adalah dengan melakukan penyesuaian pada menu makanan. Hindari makanan yang keras, lengket, atau kenyal seperti daging steak yang alot, permen karamel, permen karet, kacang-kacangan keras, atau es batu. Beralihlah ke makanan bertekstur lunak (soft diet) seperti bubur, sup, yogurt, kentang tumbuk, dan sayuran yang dikukus hingga empuk. Selain itu, potong makanan menjadi ukuran kecil-kecil agar rahang tidak perlu membuka terlalu lebar atau mengunyah terlalu kuat.

2. Kompres Hangat dan Dingin

Terapi suhu sangat efektif untuk meredakan ketegangan otot dan mengurangi peradangan pada area rahang. Jika rahang terasa nyeri akut dan bengkak (biasanya setelah cedera atau saat gejala baru muncul), gunakan kompres dingin berupa es yang dibalut handuk selama 10-15 menit di area pipi. Sebaliknya, jika masalahnya adalah otot yang kaku dan tegang secara kronis, kompres hangat menggunakan handuk yang direndam air bersuhu suam-suam kuku akan membantu melancarkan aliran darah dan merelaksasi otot rahang.

3. Senam dan Peregangan Rahang

Ada beberapa gerakan sederhana yang bisa membantu memperbaiki fungsi sendi temporomandibular. Salah satunya adalah latihan resistensi ringan: letakkan ujung lidah di langit-langit mulut tepat di belakang gigi depan atas, lalu perlahan buka dan tutup mulut kamu. Latihan ini membantu otot-otot rahang kembali pada jalur pergerakan yang benar dan mengurangi ketegangan sendi. Pastikan untuk melakukan latihan ini secara perlahan dan hentikan jika memicu rasa sakit yang menusuk.

4. Manajemen Stres untuk Mencegah Bruxism

Karena stres adalah penyumbang terbesar kondisi bruxism, maka mengelola stres adalah bagian dari terapi rahang. Cobalah teknik relaksasi sebelum tidur, seperti meditasi, pernapasan dalam (deep breathing), atau mendengarkan musik yang menenangkan. Mengelola stres tidak hanya akan menghentikan kebiasaan menggemeretakkan gigi, tetapi juga membantu menurunkan ketegangan fisik secara keseluruhan pada area leher dan wajah. Jika rasa nyeri cukup mengganggu aktivitas sehari-hari, kamu bisa mengonsumsi obat pereda nyeri seperti paracetamol atau ibuprofen yang dijual bebas di apotek untuk meredakan inflamasi sementara waktu.

Tindakan Medis dan Kapan Harus ke Dokter

1. Penggunaan Mouthguard atau Splint

Jika kondisi rahang berbunyi disebabkan oleh bruxism saat tidur, dokter gigi spesialis biasanya akan merekomendasikan penggunaan pelindung mulut (mouthguard) atau splint. Alat ini terbuat dari bahan akrilik atau plastik silikon yang dicetak khusus agar pas dengan susunan gigi pasien. Mouthguard berfungsi sebagai bantalan antara gigi atas dan bawah, sehingga mencegah keausan gigi dan secara drastis mengurangi tekanan pada sendi temporomandibular selama pasien tidur.

2. Perawatan Ortodontik dan Fisioterapi

Apabila penyebab utama rahang berbunyi adalah gigitan yang tidak rata (maloklusi), dokter dapat menyarankan perawatan ortodontik seperti penggunaan kawat gigi (braces) atau aligner transparan untuk merapikan susunan gigi. Pada kasus dengan otot yang terlampau tegang, fisioterapi profesional bisa menjadi pilihan. Fisioterapis dapat menggunakan teknik pemijatan khusus, terapi ultrasound, hingga akupunktur medis untuk merangsang relaksasi otot wajah dan memperbaiki ruang gerak sendi rahang.

3. Prosedur Injeksi dan Operasi

Untuk kasus yang parah di mana terapi konservatif tidak membuahkan hasil, dokter mungkin akan memberikan suntikan kortikosteroid ke dalam sendi untuk meredakan radang secara instan, atau injeksi Botox pada otot rahang untuk menghentikan kejang otot akibat bruxism. Pada kondisi yang sangat langka di mana sendi telah rusak parah (kerusakan struktural), operasi seperti artroskopi TMJ (memasukkan tabung kecil dengan kamera ke dalam sendi untuk membuang jaringan radang) atau bahkan operasi penggantian sendi rahang terbuka mungkin diperlukan.

Kondisi rahang berbunyi tidak boleh dianggap remeh, terutama jika disertai dengan rasa sakit atau rahang yang terkunci. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui kapan harus ke dokter agar kondisi ini tidak berkembang menjadi lebih parah dan menyebabkan kerusakan sendi permanen.

Studi Mengenai Gangguan Sendi Rahang

Journal of Oral Rehabilitation menerbitkan studi di tahun 2022 yang menjelaskan bahwa prevalensi gangguan temporomandibular (TMD) memiliki kaitan yang sangat erat dengan tingginya tingkat stres psikologis pada pasien dewasa muda. Studi ini menemukan bahwa pasien dengan tingkat kecemasan yang tinggi cenderung memiliki kebiasaan bruxism yang tidak disadari, yang mempercepat degenerasi bantalan tulang rawan pada rahang.

Selain itu, temuan medis tersebut juga menekankan bahwa intervensi dini menggunakan terapi fisik (fisioterapi) dan pelindung mulut (splint) pada fase awal ketika rahang baru mulai berbunyi, dapat mencegah lebih dari 70% pasien menuju tindakan pembedahan (operasi) rahang. Hal ini membuktikan bahwa penanganan awal sangatlah vital.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. TMJ disorders – Symptoms and causes.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Temporomandibular Joint (TMJ) Disorders.
National Institute of Dental and Craniofacial Research (NIDCR). Diakses pada 2024. TMD (Temporomandibular Disorders).
Johns Hopkins Medicine. Diakses pada 2024. Temporomandibular Disorder (TMD).
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Oral health.

FAQ

1. Apakah rahang berbunyi saat mengunyah berbahaya?

Jika rahang berbunyi sesekali dan tidak disertai rasa sakit atau kesulitan membuka mulut, umumnya kondisi ini tidak berbahaya dan wajar terjadi. Namun, jika bunyi tersebut terus-menerus muncul, disertai nyeri tajam, sakit kepala, atau rahang sering terasa terkunci, kondisi tersebut dapat menandakan adanya kerusakan sendi (Temporomandibular Joint Disorder) yang memerlukan evaluasi dan penanganan medis lebih lanjut.

2. Dokter spesialis apa yang menangani masalah rahang berbunyi?

Untuk masalah rahang, kamu disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi (dentist). Jika kondisi ternyata lebih kompleks atau membutuhkan tindakan lanjutan, dokter gigi umum biasanya akan merujuk kamu ke dokter gigi spesialis Prostodonsia (fokus pada gigitan dan rahang), spesialis Ortodonsia (jika disebabkan susunan gigi), atau spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial (untuk kasus trauma atau kerusakan sendi berat).

3. Apakah kebiasaan mengunyah satu sisi memicu rahang berbunyi?

Ya, benar. Kebiasaan mengunyah makanan hanya pada satu sisi mulut dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan asimetri otot dan ketidakseimbangan pada sendi rahang. Otot di sisi yang sering digunakan akan bekerja berlebihan dan menjadi hipertrofi (membesar), sementara sendi di sisi yang berlawanan dapat tertarik secara tidak normal, yang pada akhirnya memicu bunyi “klik” dan rasa pegal.

4. Bisakah gangguan sendi rahang (TMD) sembuh total?

Banyak kasus gangguan sendi rahang ringan hingga sedang dapat sembuh atau setidaknya gejalanya dapat dikendalikan dengan baik melalui perawatan mandiri, fisioterapi, dan penggunaan mouthguard. Namun, untuk kasus kerusakan struktural parah (seperti tulang rawan yang sudah hancur akibat arthritis tingkat lanjut), kondisi ini mungkin tidak bisa sembuh 100% seperti sedia kala, tetapi gejalanya tetap bisa diminimalkan secara signifikan dengan bantuan pengobatan medis atau operasi.