Ad Placeholder Image

Rektum Berfungsi untuk Simpan, Serap, dan Buang Air

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   17 Juni 2026

Rektum Berfungsi untuk: Atur BAB, Simpan Tinja Sementara

Rektum Berfungsi untuk Simpan, Serap, dan Buang AirRektum Berfungsi untuk Simpan, Serap, dan Buang Air

DAFTAR ISI


Sistem pencernaan manusia adalah jaringan organ yang sangat kompleks dan bekerja sama tanpa henti untuk mengubah makanan menjadi energi, menyerap nutrisi esensial, dan membuang sisa-sisa yang tidak lagi dibutuhkan oleh tubuh. Dari mulut hingga ke anus, setiap organ memiliki peran spesifik. Di bagian paling akhir dari saluran pencernaan bawah ini, terdapat sebuah struktur penting yang sering kali luput dari perhatian, yaitu rektum.

Rektum merupakan bagian penghubung antara usus besar (kolon) dan anus. Meski panjangnya hanya belasan sentimeter, organ ini memegang peranan vital dalam proses akhir pencernaan. Jika rektum mengalami masalah, siklus buang air besar (BAB) akan sangat terganggu, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kenyamanan dan kualitas hidup kita secara keseluruhan.

Sayangnya, masih banyak orang yang belum memahami secara mendalam tentang apa fungsi rektum dan bagaimana cara menjaga kesehatannya. Kebiasaan menunda buang air besar, kurangnya asupan serat, hingga gaya hidup sedenter (kurang gerak) dapat memicu berbagai masalah pada rektum, seperti sembelit parah hingga wasir. Jika kamu sering mengalami sembelit, kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan pencahar atau suplemen serat yang aman.

Memahami fungsi rektum adalah langkah awal yang krusial untuk mencegah berbagai penyakit pencernaan. Selain itu, mengenali tanda-tanda bahaya pada area ini, seperti BAB berdarah atau nyeri hebat, akan membantumu mengetahui kapan harus ke dokter agar mendapatkan diagnosis dan penanganan medis sedini mungkin. Nah, mau tahu secara detail apa saja anatomi, fungsi, dan penyakit yang bisa menyerang rektum? Berikut ulasan lengkapnya!

Memahami Anatomi Rektum

Sebelum membahas fungsinya secara mendalam, penting bagi kita untuk mengetahui struktur dan letak anatomi rektum itu sendiri. Rektum adalah ruang tubular lurus yang terletak di rongga panggul (pelvis). Pada orang dewasa, panjang rektum berkisar antara 12 hingga 15 sentimeter.

Bagian atas rektum terhubung langsung dengan kolon sigmoid (bagian paling ujung dari usus besar sebelum rektum), sedangkan bagian bawahnya berujung pada saluran anal (anal canal). Dinding rektum terdiri dari beberapa lapisan otot dan mukosa yang elastis. Di bagian dalamnya, terdapat lipatan-lipatan mukosa transversal yang dikenal sebagai katup Houston (Houston’s valves). Lipatan ini berfungsi untuk menahan feses agar tidak langsung turun ke anus sebelum waktunya, sekaligus memungkinkan pelepasan gas (flatus) tanpa disertai keluarnya feses.

Rektum juga dikelilingi oleh jaringan saraf yang sangat sensitif. Saraf-saraf ini terhubung langsung dengan sistem saraf pusat di otak, yang memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara saluran pencernaan bagian bawah dan kesadaran kita mengenai kebutuhan untuk buang air besar.

Apa Fungsi Rektum yang Sebenarnya?

Banyak yang mengira bahwa sisa pencernaan langsung dikeluarkan begitu saja setelah melewati usus besar. Padahal, rektum melakukan beberapa tugas kritis sebelum feses akhirnya dibuang. Berikut adalah fungsi utama rektum dalam sistem pencernaan:

1. Menyimpan Feses Sementara

Fungsi rektum yang paling utama adalah sebagai tempat penyimpanan atau penampungan sementara untuk tinja (feses). Setelah air dan nutrisi diserap di usus besar, sisa makanan yang sudah berbentuk padat akan didorong masuk ke dalam rektum melalui gerakan peristaltik. Rektum memiliki dinding yang sangat elastis. Ketika feses mulai menumpuk, dinding rektum akan merenggang dan mengembang (distensi) untuk mengakomodasi volume feses tersebut.

2. Memicu Sinyal Keinginan Buang Air Besar

Ini adalah fungsi sensorik yang sangat penting. Ketika dinding rektum meregang karena terisi oleh feses atau gas, reseptor regangan (stretch receptors) yang berada di dinding rektum akan terstimulasi. Reseptor ini kemudian mengirimkan sinyal saraf ke otak. Sinyal inilah yang diterjemahkan oleh otak sebagai rasa “mulas” atau dorongan sadar bahwa kamu perlu segera pergi ke toilet untuk buang air besar.

3. Penyerapan Kembali Cairan dan Elektrolit (Minor)

Meskipun penyerapan air, garam, dan elektrolit sebagian besar terjadi di usus besar (kolon), lapisan mukosa pada rektum juga masih memiliki kemampuan untuk menyerap sedikit sisa cairan. Proses penyerapan ini membantu memastikan feses memiliki konsistensi yang tepat—tidak terlalu cair (diare) dan tidak terlalu keras (sembelit)—sebelum akhirnya dikeluarkan dari tubuh.

4. Membantu Proses Pengeluaran Feses (Defekasi)

Ketika kamu sudah berada di posisi yang tepat (di toilet) dan otak memberikan sinyal persetujuan bahwa kondisi sudah aman untuk BAB, rektum akan berperan aktif dalam proses ekskresi. Otot-otot di dinding rektum akan berkontraksi untuk memberikan tekanan yang mendorong feses masuk ke dalam saluran anal. Bersamaan dengan itu, otot sfingter ani internal dan eksternal akan berelaksasi (mengendur) sehingga feses bisa keluar dari tubuh.

Gejala Gangguan Rektum yang Pantang Diabaikan
  1. Darah pada feses atau perdarahan dari anus saat BAB (bisa berwarna merah terang atau gelap).
  2. Nyeri hebat di area dubur dan panggul bagian bawah yang tidak kunjung reda.
  3. Perasaan bahwa rektum belum sepenuhnya kosong meskipun baru saja selesai buang air besar (tenesmus).
  4. Perubahan drastis pada kebiasaan BAB, seperti sembelit kronis atau diare yang berlangsung lebih dari dua minggu.

Berbagai Gangguan dan Penyakit pada Rektum

Karena fungsinya yang sangat vital dan posisinya yang berada di jalur pembuangan akhir, rektum rentan terhadap berbagai iritasi, infeksi, hingga pembentukan sel abnormal. Berikut adalah beberapa penyakit yang umum menyerang rektum:

1. Wasir (Hemoroid)

Meskipun secara teknis sering terjadi di anus, wasir internal berkembang di dalam lapisan bawah rektum. Wasir adalah pembengkakan pembuluh darah vena akibat tekanan yang berlebihan, seperti mengejan terlalu keras saat sembelit, duduk terlalu lama, atau karena kehamilan. Gejalanya meliputi BAB berdarah (merah segar) tanpa rasa sakit, gatal di area dubur, atau munculnya benjolan yang keluar dari anus.

2. Proktitis

Proktitis adalah peradangan pada lapisan mukosa rektum. Kondisi ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari penyakit radang usus (seperti Penyakit Crohn atau Kolitis Ulseratif), infeksi menular seksual (seperti gonore atau sifilis), hingga efek samping dari terapi radiasi untuk pengobatan kanker panggul. Proktitis ditandai dengan rasa nyeri di rektum, keluarnya lendir atau nanah dari anus, serta perasaan ingin BAB yang terus-menerus (tenesmus).

3. Prolaps Rektum

Ini adalah kondisi medis di mana dinding rektum kehilangan perlekatannya pada tubuh dan menonjol keluar melalui lubang anus. Kondisi ini lebih sering terjadi pada lansia, terutama wanita yang memiliki otot panggul yang lemah, atau pada orang yang memiliki riwayat sembelit kronis bertahun-tahun. Pada kasus yang parah, tindakan operasi mungkin diperlukan untuk mengembalikan rektum ke posisi semula.

4. Kanker Rektum

Kanker rektum terjadi ketika sel-sel abnormal (ganas) tumbuh tak terkendali di jaringan rektum. Kanker ini sering dikelompokkan bersama dengan kanker kolon sebagai kanker kolorektal. Gejala awalnya sering kali tidak disadari atau mirip dengan gejala wasir, seperti pendarahan rektum, penurunan berat badan tanpa sebab, kelelahan ekstrem, dan perubahan pola BAB. Skrining kolonoskopi sangat penting untuk mendeteksi kanker rektum secara dini.

Cara Alami Menjaga Kesehatan Rektum

Menjaga rektum agar tetap sehat sebenarnya sejalan dengan menjaga kesehatan sistem pencernaan secara menyeluruh. Berikut adalah beberapa langkah preventif yang bisa kamu terapkan setiap hari:

1. Konsumsi Serat yang Cukup

Serat adalah sahabat terbaik bagi rektum dan usus besar. Serat membantu menambah massa feses dan membuatnya lebih lembut sehingga mudah dikeluarkan tanpa harus mengejan keras. Perbanyak makan sayuran hijau, buah-buahan (seperti pepaya, apel, pisang), kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh (oatmeal, beras merah).

2. Cukupi Kebutuhan Hidrasi Tubuh

Serat tidak akan bekerja maksimal jika tubuh kekurangan cairan. Air membantu melunakkan tinja. Usahakan untuk minum setidaknya 8 gelas (sekitar 2 liter) air putih setiap hari. Hindari konsumsi alkohol dan kafein berlebihan karena dapat memicu dehidrasi yang berujung pada sembelit.

3. Jangan Menunda Buang Air Besar

Ketika rektum mengirimkan sinyal ke otak bahwa sudah saatnya BAB, segeralah ke toilet. Menunda BAB akan membuat feses tertahan lebih lama di rektum. Akibatnya, air di dalam feses akan terus diserap, sehingga feses menjadi keras, kering, dan sulit dikeluarkan. Kebiasaan ini adalah penyebab utama sembelit dan wasir.

Studi Mengenai Rektum dan Pencernaan

National Center for Biotechnology Information (NCBI) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa asupan serat makanan yang tinggi terbukti secara signifikan menurunkan risiko gangguan kolorektal, termasuk kanker kolon dan rektum.

Studi tersebut mengelaborasi bahwa serat tidak hanya membantu mempercepat waktu transit feses di dalam usus, tetapi juga menghasilkan asam lemak rantai pendek (SCFA) melalui fermentasi bakteri di usus besar. Senyawa ini berperan penting dalam menjaga integritas lapisan sel mukosa rektum dan menekan peradangan, sehingga melindungi sel-sel rektum dari mutasi genetik.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Jika gangguan pada pencernaanmu tidak kunjung membaik, jangan ragu untuk berkonsultasi. Kamu bisa mendapatkan obat-obatan pencernaan dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc agar mendapatkan penanganan yang akurat.

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Rectum: Anatomy, Function & Conditions.
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Hemorrhoids – Symptoms and causes.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Colorectal cancer.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pencegahan Kanker Usus Besar.
PubMed/NCBI. Diakses pada 2024. Dietary Fiber and Colorectal Health.

FAQ

1. Apa fungsi rektum dalam sistem pencernaan?

Fungsi utama rektum adalah menerima feses dari usus besar, menyimpannya sementara, dan mengirimkan sinyal saraf ke otak yang menimbulkan rasa mulas sebagai tanda bahwa feses siap dikeluarkan dari tubuh (buang air besar).

2. Apa perbedaan antara rektum dan anus?

Rektum adalah bagian tabung tempat feses disimpan sementara sebelum dikeluarkan. Sedangkan anus adalah bukaan atau lubang otot di ujung paling bawah saluran pencernaan yang berfungsi sebagai pintu keluar bagi feses tersebut.

3. Mengapa rektum bisa mengeluarkan darah saat BAB?

Perdarahan dari rektum saat BAB paling sering disebabkan oleh wasir (hemoroid) atau fisura ani (robekan pada jaringan anus). Namun, perdarahan ini juga bisa menjadi tanda kondisi yang lebih serius seperti proktitis, polip, atau kanker kolorektal, sehingga memerlukan pemeriksaan medis.

4. Bagaimana cara mengatasi sembelit agar rektum tidak luka?

Untuk mengatasi sembelit dan melindungi dinding rektum, kamu disarankan untuk mengonsumsi makanan tinggi serat (sayur dan buah), memperbanyak minum air putih, rutin berolahraga, dan tidak pernah mengabaikan atau menunda keinginan untuk buang air besar.