
Scabies pada Kucing, Ini Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Scabies pada kucing disebabkan oleh infestasi tungau Sarcoptes scabiei var. Canis.

DAFTAR ISI
- Apa Itu Scabies pada Kucing?
- Penyebab Utama Scabies
- Gejala Kucing Kena Scabies
- Cara Mengatasi dan Mengobati Scabies
- Bahaya Zoonosis: Penularan ke Manusia
- Langkah Pencegahan Scabies
- Studi Terkait
- FAQ
Melihat kucing kesayangan kamu terus-menerus menggaruk tubuhnya hingga kulitnya memerah dan berkerak tentu merupakan hal yang menyedihkan. Salah satu penyebab paling umum dari kondisi ini adalah serangan parasit mikroskopis yang dikenal sebagai scabies. Masalah kulit ini tidak hanya membuat kucing merasa sangat tidak nyaman dan stres, tetapi juga sangat menular antar hewan peliharaan lainnya.
Kucing yang terkena scabies memerlukan penanganan yang cepat dan tepat. Jika dibiarkan, infeksi dapat menyebar ke seluruh tubuh, menyebabkan kerontokan bulu yang parah, hingga risiko infeksi sekunder akibat bakteri yang masuk melalui luka garukan. Sebagai pemilik, penting bagi kamu untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini agar pengobatan bisa segera dilakukan sebelum kondisi anabul semakin memburuk.
Selain berdampak pada kucing, perlu diingat bahwa scabies adalah penyakit zoonosis, yang artinya parasit penyebabnya bisa berpindah dan menyebabkan gatal-gatal pada kulit manusia. Oleh karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan memberikan pengobatan medis yang sesuai adalah kunci utama dalam memutus rantai penularan parasit ini.
Nah, mau tahu apa saja informasi lengkap mengenai penyebab, gejala, hingga cara mengatasinya? Berikut ulasannya!
Apa Itu Scabies pada Kucing?
Scabies, atau yang secara medis sering disebut sebagai feline scabies atau notoedric mange, adalah penyakit kulit inflamasi yang disebabkan oleh tungau parasit. Pada kucing, jenis tungau yang paling sering menjadi biang kerok adalah Notoedres cati. Tungau ini hidup dengan cara menggali terowongan di bawah lapisan kulit kucing untuk bertelur dan berkembang biak.
Aktivitas tungau di bawah kulit inilah yang memicu reaksi imun berupa gatal yang sangat hebat (pruritus). Kucing akan merespons rasa gatal tersebut dengan menggaruk, menggigit, atau menjilati area yang terinfeksi secara obsesif. Scabies sering kali disalahpahami sebagai infeksi jamur biasa, padahal cara penanganannya sangat berbeda karena penyebabnya adalah parasit hewan, bukan spora jamur.
Penyebab Utama Scabies
Penyebab utama kondisi ini adalah infestasi tungau Notoedres cati. Tungau ini memiliki siklus hidup yang berlangsung sekitar 17 hingga 21 hari di tubuh kucing. Mereka sangat mudah berpindah melalui kontak fisik langsung antara kucing yang sehat dengan kucing yang sudah terinfeksi. Selain itu, penularan juga bisa terjadi secara tidak langsung melalui benda-benda yang terkontaminasi, seperti tempat tidur kucing, sisir, atau kandang.
Kucing yang sering dibiarkan berkeliaran di luar rumah atau berinteraksi dengan kucing liar memiliki risiko lebih tinggi untuk tertular. Tungau scabies sangat tangguh dan bisa bertahan hidup untuk waktu singkat di lingkungan luar tanpa inang, sehingga sterilisasi lingkungan menjadi hal yang krusial dalam proses penyembuhan.
Gejala Kucing Kena Scabies
Gejala scabies pada kucing biasanya muncul secara bertahap. Mengenali gejala awal dapat membantu mencegah penyebaran yang lebih luas ke area tubuh lainnya. Berikut adalah beberapa tanda yang harus kamu waspadai:
- Gatal yang Sangat Hebat: Kucing akan menggaruk area telinga, wajah, dan leher secara terus-menerus.
- Munculnya Kerak (Crusting): Kulit akan tampak menebal dan muncul kerak berwarna abu-abu kekuningan, terutama di pinggiran telinga.
- Kerontokan Bulu (Alopecia): Akibat garukan yang konstan, bulu di area yang terinfeksi akan rontok.
- Kulit Memerah dan Meradang: Terlihat luka lecet atau kemerahan akibat iritasi.
- Perubahan Perilaku: Kucing menjadi lebih gelisah, tidak nafsu makan, dan tampak stres karena rasa tidak nyaman yang dirasakannya.
Cara Mengatasi dan Mengobati Scabies
Mengatasi scabies memerlukan kesabaran dan ketelatenan. Pengobatan biasanya melibatkan kombinasi antara obat-obatan untuk membunuh tungau dan perawatan suportif untuk memulihkan kondisi kulit. Langkah pertama yang paling disarankan adalah melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam guna mendapatkan diagnosis yang akurat melalui pemeriksaan fisik atau kerokan kulit (skin scraping).
Beberapa metode pengobatan yang umum diberikan meliputi:
1. Pemberian Obat Antiparasit
Dokter biasanya akan meresepkan obat tetes tengkuk (spot-on), suntikan ivermectin, atau obat oral yang mengandung selamectin atau moxidectin. Obat-obatan ini bekerja dengan melumpuhkan sistem saraf tungau sehingga mereka mati dan siklus reproduksinya terhenti.
2. Mandikan dengan Sampo Khusus
Menggunakan sampo yang mengandung sulfur atau keratolitik dapat membantu mengangkat kerak-kerak di kulit dan meredakan iritasi. Pastikan untuk membilasnya dengan bersih karena beberapa kandungan kimia bisa bersifat toksik jika tertelan oleh kucing saat mereka menjilat bulu.
3. Pemberian Vitamin dan Suplemen
Untuk mempercepat regenerasi kulit dan memperkuat daya tahan tubuh kucing, kamu bisa memberikan vitamin kulit yang mengandung Omega-3 dan Omega-6. Kamu bisa dengan mudah beli obat online di Halodoc untuk kebutuhan suplemen pendukung kesehatan kucing kamu.
Tips Membersihkan Lingkungan saat Kucing Terkena Scabies
- Cuci semua alas tidur, handuk, dan selimut kucing dengan air panas dan deterjen.
- Bersihkan kandang dan area bermain menggunakan disinfektan yang aman bagi hewan.
- Vakum area karpet dan sofa secara rutin untuk mengangkat tungau yang mungkin jatuh dari tubuh kucing.
Bahaya Zoonosis: Penularan ke Manusia
Penting untuk dipahami bahwa meskipun tungau Notoedres cati lebih menyukai kucing sebagai inang utamanya, mereka tetap bisa berpindah ke kulit manusia. Pada manusia, ini menyebabkan kondisi yang disebut “pseudoscabies”. Gejalanya berupa bintik-bintik merah yang sangat gatal, biasanya di area lengan atau perut yang bersentuhan langsung dengan kucing.
Berita baiknya, tungau kucing tidak bisa berkembang biak di kulit manusia, sehingga gejalanya biasanya akan hilang dengan sendirinya setelah kucing yang menjadi sumber penularan diobati dan lingkungan dibersihkan. Namun, rasa gatal yang ditimbulkan bisa sangat mengganggu, sehingga penggunaan sarung tangan saat mengobati kucing sangat dianjurkan.
Langkah Pencegahan Scabies
Mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut adalah langkah-langkah pencegahan yang bisa kamu lakukan agar kucing terhindar dari scabies:
- Batasi Kontak dengan Kucing Liar: Jangan biarkan kucing peliharaan kamu berinteraksi bebas dengan kucing yang tampak sakit di luar rumah.
- Rutin Memberikan Obat Cacing dan Kutu: Gunakan produk spot-on bulanan yang juga memiliki efikasi terhadap tungau scabies.
- Jaga Kebersihan Kandang: Bersihkan area bermain dan perlengkapan kucing secara berkala.
- Nutrisi yang Baik: Pastikan kucing mendapatkan makanan bergizi untuk menjaga sistem imunnya tetap kuat menghadapi serangan parasit.
Studi Mengenai Efikasi Pengobatan Scabies
The Journal of Veterinary Medical Science menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa penggunaan molekul isoxazoline dan selamectin menunjukkan tingkat keberhasilan hingga 95% dalam mengeradikasi tungau Notoedres cati pada kucing domestik dalam waktu 30 hari.
Penelitian ini menegaskan pentingnya konsistensi dalam pemberian dosis obat sesuai petunjuk dokter hewan. Selain itu, studi tersebut menyoroti bahwa kegagalan pengobatan sering kali disebabkan oleh lingkungan yang tidak dibersihkan secara total, sehingga terjadi re-infestasi dari tungau yang tertinggal di benda-benda sekitar kucing.
Punya Keluhan Kesehatan pada Anabul tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!
Kamu punya keluhan terkait kondisi kucing kesayangan yang mungkin terkena scabies, tapi bingung harus melakukan tindakan apa terlebih dahulu? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!
Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.
HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.
HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.
Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.
Jika gejala pada kucing kamu tampak semakin parah, seperti luka yang bernanah atau kucing menjadi sangat lemas, segera bawa ke klinik hewan terdekat untuk penanganan intensif. Jangan menunda pengobatan karena rasa gatal yang hebat dapat menurunkan kualitas hidup anabul kesayangan kamu secara signifikan.
Kamu bisa mendapatkan produk-produk kesehatan pendukung di atas dengan praktis dan cepat di Toko Kesehatan Halodoc. Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan yang sedang dialami melalui Halodoc.
Referensi:
Merck Veterinary Manual. Diakses pada 2026. Mange in Cats (Notoedric Mange).
VCA Animal Hospitals. Diakses pada 2026. Notoedric Mange in Cats.
Cornell University College of Veterinary Medicine. Diakses pada 2026. External Parasites of Cats.
Journal of Feline Medicine and Surgery. Diakses pada 2026. Diagnosis and Treatment of Feline Scabies.
FAQ
1. Apakah scabies pada kucing bisa sembuh sendiri?
Tidak, scabies tidak bisa sembuh sendiri. Tungau akan terus berkembang biak di bawah kulit kucing dan menyebabkan infeksi yang semakin parah jika tidak diobati dengan agen antiparasit yang tepat.
2. Bolehkah saya menggunakan obat scabies manusia untuk kucing?
Sangat tidak disarankan. Beberapa kandungan obat scabies manusia, seperti permethrin dalam konsentrasi tinggi, bisa sangat beracun (toksik) bagi kucing dan menyebabkan kejang hingga kematian.
3. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyembuhkan scabies pada kucing?
Biasanya membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 4 minggu hingga kulit benar-benar bersih dari tungau, namun pertumbuhan bulu kembali mungkin memerlukan waktu lebih lama, sekitar 1 hingga 2 bulan.
4. Apakah kucing yang sudah sembuh bisa terkena scabies lagi?
Ya, kucing bisa terkena kembali jika terpapar lagi oleh tungau dari kucing lain atau dari lingkungan yang belum dibersihkan secara total setelah infeksi pertama.


