Ad Placeholder Image

Self Harm: Alasan Orang Melakukan dan Cara Mengatasinya

8 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 19 Juni 2026

“Self harm adalah tindakan fisik yang dilakukan untuk menyakiti diri-sendiri. Tindakan tersebut bisa berupa penggoresan kulit atau bentuk-bentuk melukai fisik yang disengaja.”

Self Harm: Alasan Orang Melakukan dan Cara MengatasinyaSelf Harm: Alasan Orang Melakukan dan Cara Mengatasinya

DAFTAR ISI


Kesehatan mental merupakan fondasi utama dari kesejahteraan hidup manusia, namun sering kali diabaikan hingga mencapai titik kritis. Salah satu fenomena psikologis yang cukup memprihatinkan dan semakin sering dibicarakan di masyarakat adalah perilaku menyakiti diri sendiri. Secara medis, self harm adalah perilaku seseorang yang dengan sengaja melukai atau menyakiti tubuhnya sendiri sebagai cara untuk menghadapi rasa sakit emosional, kemarahan, atau rasa frustrasi yang luar biasa.

Penting untuk dipahami bahwa self-harm bukan sekadar upaya mencari perhatian, melainkan sebuah sinyal adanya penderitaan batin yang mendalam. Banyak orang yang terjebak dalam perilaku ini merasa bahwa rasa sakit fisik dapat mengalihkan perhatian mereka dari beban emosional yang tidak tertahankan. Namun, tindakan ini bersifat merusak dan dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang, baik secara fisik maupun psikis.

Menangani kondisi ini memerlukan pendekatan yang komprehensif, mulai dari dukungan keluarga, edukasi mandiri, hingga intervensi medis. Jika kamu atau orang terdekat menunjukkan tanda-tanda ini, langkah pertama yang paling bijak adalah menyadari bahwa ada bantuan yang tersedia. Kamu tidak harus menghadapinya sendirian, karena banyak tenaga profesional yang siap mendampingi proses pemulihanmu.

Nah, mau tahu apa itu self-harm secara mendalam, mengapa hal ini bisa terjadi, dan bagaimana langkah-langkah untuk mengatasinya? Berikut ulasan lengkapnya dari perspektif kesehatan!

Mengenal Apa Itu Self-Harm

Self harm adalah tindakan menyakiti diri sendiri yang dilakukan secara sadar tetapi sering kali tanpa maksud untuk mengakhiri hidup (bunuh diri). Dalam istilah medis, kondisi ini sering disebut sebagai Non-Suicidal Self-Injury (NSSI). Meskipun tidak selalu bertujuan untuk bunuh diri, self-harm tetap dikategorikan sebagai perilaku berisiko tinggi karena dapat menyebabkan cedera permanen, infeksi, hingga kematian yang tidak disengaja akibat luka yang terlalu parah.

Bentuk self-harm sangat beragam, mulai dari menyayat kulit dengan benda tajam (cutting), memukul diri sendiri, membakar kulit dengan api atau rokok, hingga menelan zat-zat berbahaya. Pelakunya biasanya merasakan kelegaan sesaat setelah melakukan tindakan tersebut, namun rasa lega itu sering kali segera diikuti oleh perasaan bersalah, malu, dan emosi negatif yang lebih besar, yang kemudian memicu siklus menyakiti diri kembali.

Secara farmakologis, perilaku ini terkadang dikaitkan dengan pelepasan hormon endorfin dan enkefalin di otak saat tubuh mengalami cedera. Hormon-hormon ini memberikan efek mati rasa atau ketenangan sesaat, yang bagi penderita masalah kesehatan mental, dianggap sebagai “pelarian” dari rasa sakit psikis. Namun, ketergantungan pada mekanisme koping yang merusak ini sangat berbahaya bagi stabilitas mental jangka panjang.

Alasan Seseorang Melakukan Self-Harm

Banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa seseorang memilih untuk menyakiti diri sendiri. Sering kali, penyebabnya bukan faktor tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai tekanan hidup dan ketidakmampuan untuk mengelola emosi dengan cara yang sehat. Berikut adalah beberapa alasan umum mengapa seseorang melakukan tindakan menyakiti diri:

  • Mengalihkan Rasa Sakit Emosional: Rasa sakit fisik dianggap lebih nyata dan lebih mudah dikendalikan daripada rasa sakit emosional yang abstrak seperti trauma, kehilangan, atau penolakan.
  • Menghukum Diri Sendiri: Seseorang yang merasa rendah diri, bersalah, atau menganggap dirinya gagal mungkin melakukan self-harm sebagai bentuk hukuman atas kesalahan yang mereka persepsikan.
  • Merasa “Mati Rasa”: Pada kasus depresi berat, seseorang terkadang merasa kosong dan tidak merasakan emosi apa pun. Menyakiti diri sendiri menjadi cara bagi mereka untuk “merasakan sesuatu” kembali, meskipun itu adalah rasa sakit.
  • Kesulitan Mengomunikasikan Perasaan: Bagi individu yang sulit mengekspresikan perasaan secara verbal, luka fisik menjadi bentuk komunikasi non-verbal atas penderitaan yang mereka rasakan di dalam hati.

Kondisi ini juga sering berkaitan dengan gangguan kesehatan mental lainnya, seperti gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder), depresi klinis, gangguan kecemasan, atau gangguan makan (anoreksia/bulimia). Mengidentifikasi akar masalah melalui konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja adalah langkah awal yang krusial untuk memutus rantai perilaku ini.

Mekanisme Koping yang Lebih Sehat
  1. Menulis jurnal untuk menuangkan perasaan yang terpendam secara jujur.
  2. Melakukan teknik relaksasi seperti pernapasan dalam atau meditasi saat dorongan muncul.
  3. Mencari distraksi positif seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau menggambar.

Tanda dan Gejala yang Perlu Diwaspadai

Seseorang yang melakukan self-harm biasanya mencoba menyembunyikan perilakunya karena rasa malu atau takut akan stigma sosial. Oleh karena itu, penting bagi keluarga dan teman-teman untuk mengenali tanda-tanda yang mungkin terlihat, antara lain:

  • Selalu mengenakan pakaian lengan panjang atau celana panjang, bahkan dalam cuaca panas, untuk menutupi bekas luka atau sayatan.
  • Terdapat bekas luka yang tidak bisa dijelaskan penyebabnya, seperti bekas sayatan, memar, atau bekas luka bakar yang berpola.
  • Sering mengklaim bahwa luka yang ada adalah akibat “kecelakaan” yang tidak masuk akal.
  • Menyimpan benda tajam (pisau, silet, peniti) di tempat yang tidak semestinya, seperti di laci meja belajar atau tas sekolah.
  • Perubahan perilaku yang drastis, seperti menjadi lebih pendiam, menarik diri dari pergaulan, atau menunjukkan tanda-tanda depresi berat.

Jika kamu melihat tanda-tanda ini pada orang terdekat, sangat penting untuk mendekati mereka dengan empati, bukan dengan penghakiman. Hindari bertanya dengan nada menyalahkan, karena hal tersebut justru akan membuat mereka semakin menutup diri dan meningkatkan risiko tindakan yang lebih berbahaya.

Cara Mengatasi Dorongan Menyakiti Diri

Menghentikan kebiasaan self-harm adalah proses yang memerlukan waktu dan ketabahan. Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk meredam dorongan tersebut saat emosi sedang meluap:

1. Metode Penundaan (The Delay Method)

Saat dorongan untuk menyakiti diri muncul, cobalah untuk menundanya selama 5 menit. Jika berhasil, tambahkan 5 menit lagi. Sering kali, intensitas dorongan emosional akan menurun seiring berjalannya waktu jika dialihkan dengan aktivitas lain.

2. Menggunakan Pengganti Sensasi Fisik

Untuk mereka yang mencari sensasi fisik, cobalah cara yang lebih aman. Misalnya, menggenggam es batu hingga tangan terasa dingin, atau menjentikkan karet gelang pada pergelangan tangan. Cara ini memberikan stimulasi fisik tanpa menyebabkan kerusakan jaringan yang permanen.

3. Perawatan Luka yang Benar

Jika luka fisik sudah terjadi, sangat penting untuk segera membersihkannya guna mencegah infeksi bakteri. Kamu bisa beli obat online di Halodoc untuk mendapatkan perlengkapan P3K seperti cairan antiseptik, kain kasa steril, dan salep antibiotik sesuai anjuran tenaga kesehatan. Perawatan luka yang baik adalah bentuk awal dari upaya menghargai tubuh sendiri.

Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?

Meskipun upaya mandiri sangat membantu, self harm adalah kondisi yang sering kali membutuhkan intervensi profesional. Kamu harus segera mencari bantuan medis atau psikiatri jika:

  • Dorongan untuk menyakiti diri semakin sering terjadi dan semakin sulit dikendalikan.
  • Luka yang dibuat semakin dalam atau luas, yang berisiko menyebabkan perdarahan hebat.
  • Mulai muncul pikiran-pikiran tentang kematian atau rencana untuk mengakhiri hidup.
  • Perilaku ini sudah mulai mengganggu fungsi sehari-hari, seperti sekolah, bekerja, atau bersosialisasi.

Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) atau psikolog dapat memberikan terapi bicara seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau Dialectical Behavior Therapy (DBT). Terapi ini bertujuan untuk membantu pasien mengenali pemicu emosional mereka dan membangun strategi manajemen emosi yang lebih sehat dan konstruktif.

Studi Mengenai Kesehatan Mental dan Self-Harm

The Lancet Psychiatry menerbitkan studi di tahun 2019 yang menjelaskan bahwa perilaku menyakiti diri pada usia remaja merupakan prediktor kuat terhadap gangguan kesehatan mental di masa dewasa, termasuk risiko bunuh diri yang meningkat secara signifikan.

Studi ini menekankan pentingnya deteksi dini dan intervensi berbasis sekolah serta keluarga. Penguatan regulasi emosi sejak dini terbukti dapat menurunkan angka kejadian self-harm di masyarakat secara global. Relevansi studi ini menunjukkan bahwa penanganan self-harm tidak boleh ditunda karena dampaknya dapat menetap hingga bertahun-tahun kemudian.

Selain itu, penelitian lain dalam jurnal Clinical Psychological Science menyoroti bahwa dukungan sosial yang kuat dapat menjadi faktor pelindung (protective factor) yang paling efektif bagi individu yang memiliki kecenderungan untuk menyakiti diri sendiri.

Jangan pernah merasa malu untuk mencari pertolongan. Mengakui bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja adalah langkah keberanian yang luar biasa menuju pemulihan.

Kamu bisa mendapatkan perlengkapan kesehatan untuk perawatan luka ringan dengan praktis dan cepat dengan beli obat online di Halodoc.

Selain itu, kamu juga bisa berkonsultasi dengan dokter terkait masalah kesehatan mental atau kondisi emosional yang sedang dialami melalui aplikasi Halodoc agar mendapatkan penanganan yang tepat secara medis.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan atau merasa sedang mengalami tekanan emosional, tapi bingung harus bercerita ke siapa atau mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.


Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Self-injury/cutting.
WebMD. Diakses pada 2026. Self-Injury: Why Do People Do It?.
Healthline. Diakses pada 2026. What Is Self-Harm?.
Psychiatry.org (APA). Diakses pada 2026. Non-Suicidal Self-Injury.
Kemenkes RI. Diakses pada 2026. Mengenal Perilaku Self-Harm pada Remaja.

FAQ

1. Apakah self harm adalah tanda seseorang ingin bunuh diri?

Tidak selalu. Banyak orang melakukan self-harm sebagai mekanisme koping untuk bertahan hidup dari rasa sakit emosional. Namun, ini tetap merupakan sinyal bahaya yang meningkatkan risiko bunuh diri di masa depan.

2. Bagaimana cara membantu teman yang melakukan self harm?

Dengarkan mereka tanpa menghakimi, tunjukkan empati, dan dorong mereka dengan lembut untuk mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.

3. Apakah perilaku self harm bisa disembuhkan?

Ya, dengan terapi yang tepat seperti CBT atau DBT, seseorang bisa belajar mengelola emosinya dengan cara yang lebih sehat dan perlahan-lahan meninggalkan kebiasaan menyakiti diri.

4. Kenapa orang lebih memilih menyakiti diri daripada bercerita?

Beberapa orang merasa emosi mereka terlalu kompleks untuk diceritakan dengan kata-kata, atau mereka takut akan stigma dan dianggap “lemah” jika bercerita kepada orang lain.