• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Siapa Saja yang Rentan Alami Kelebihan Zat Besi dalam Tubuh?

Siapa Saja yang Rentan Alami Kelebihan Zat Besi dalam Tubuh?

Ditinjau oleh: dr. Verury Verona Handayani

Halodoc, Jakarta - Semua orang wajib memenuhi seluruh kebutuhan asupan gizi pada tubuh agar tetap sehat. Beberapa asupan seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan kandungan lainnya sangat penting untuk dicukupi. Salah satu yang tidak dapat dilupakan adalah zat besi. Seseorang yang mengalami kekurangan zat besi dapat terserang anemia, sehingga tubuhnya sering merasa lemas.

Meski begitu, kelebihan zat besi di dalam tubuh juga tidak baik untuk kesehatan, lho. Mengalami kelainan tersebut dalam jangka waktu yang lama pun dapat menyebabkan kamu mengidap komplikasi. Namun, hal yang perlu diketahui adalah siapa saja orang yang terbilang rentan untuk mengalami gangguan kelebihan zat besi. Dengan begitu, pencegahan dapat dilakukan sebelum terjadi. Berikut ulasannya!

Baca juga: Kelebihan Zat Besi Dapat Pengaruhi Kesehatan Pankreas

Seseorang yang Berisiko Alami Kelebihan Zat Besi

Seseorang yang mengalami gangguan penyerapan zat besi pada tubuhnya dari makanan, maka ia mengidap hemokromatosis. Kelebihan zat besi tersebut terjadi di dalam darah dan dapat disimpan pada beberapa organ penting, seperti hati, jantung, dan pankreas. Seseorang yang mendapati di dalam tubuhnya terlalu banyak kandungan zat besi dapat mengalami beberapa komplikasi, seperti penyakit hati, masalah jantung, dan diabetes.

Zat besi memang memainkan peran penting pada tubuh untuk menjaga beberapa fungsi layaknya memproduksi darah. Namun, terlalu banyak mineral tersebut malah menjadi racun. Seseorang dapat mengalami kelebihan zat besi karena terganggunya hormon hepcidin yang berguna untuk membuat tubuh menyerap lebih banyak zat besi yang dibutuhkannya. Saat mengalami gangguan, zat besi akan disimpan di beberapa organ utama, terutama hati.

Selama beberapa tahun, zat besi yang disimpan dapat menyebabkan kerusakan parah hingga menyebabkan kegagalan organ dan beberapa penyakit kronis, seperti sirosis, diabetes, dan gagal jantung. Meski begitu, hanya sebagian kecil saja orang yang mengalami gangguan kelebihan zat besi hingga menyebabkan kerusakan pada jaringan dan organ.

Lalu, siapa saja orang yang berisiko untuk alami kelebihan zat besi? Berikut daftarnya:

  1. Sejarah Keluarga

Salah satu orang yang berisiko adalah orang yang mempunyai keluarga dengan riwayat penyakit ini. Seseorang yang memiliki kerabat tingkat pertama, seperti orangtua atau saudara kandung, dengan gangguan hemokromatosis, maka risiko untuk terserang penyakit ini menjadi lebih besar.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Tes Kadar Zat Besi

  1. Etnisitas

Faktor keturunan atau ras tertentu juga dapat meningkatkan risiko untuk mengalami kelebihan zat besi. Contohnya, orang keturunan Eropa Utara juga lebih rentan terhadap hemokromatosis herediter dibandingkan orang-orang dengan etnis lainnya. Gangguan ini jarang terjadi pada orang-orang dengan keturunan Afrika-Amerika, Hispanik, dan Asia.

  1. Jenis Kelamin Tertentu

Pria lebih mungkin untuk mengembangkan tanda dan gejala dari kelebihan zat besi dibandingkan wanita. Pasalnya, wanita rutin kehilangan zat besi melalui menstruasi dan kehamilan, sehingga cenderung menyimpan lebih sedikit mineral dibandingkan pria. Meski begitu, setelah mengalami menopause atau histerektomi, risiko untuk mengalami gangguan tersebut dapat meningkat.

Itulah beberapa orang yang berisiko untuk mengalami kelebihan zat besi di dalam tubuhnya. Pastikan untuk mendapatkan diagnosis dini jika kamu mengalami gejala tersebut agar dapat mencegah terjadinya komplikasi. Dengan begitu, kesehatan tubuh tetap terjaga karena tidak adanya tumpukan zat besi pada tubuh.

Baca juga: 10 Makanan dengan Kandungan Zat Besi Tinggi untuk Orangtua

Jika kamu masih mempunyai pertanyaan terkait segala yang berhubungan dengan kelebihan zat besi, dokter dari Halodoc dapat menjawab semua kebingungan yang ada. Caranya mudah sekali, kamu hanya perlu download aplikasi Halodoc di smartphone yang digunakan!

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2020. Hemochromatosis.
Healthline. Diakses pada 2020. Hemochromatosis.