Ad Placeholder Image

Streptomisin: Manfaat, Dosis, Efek Samping, dan Penggunaan

Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   18 Juni 2026

Streptomisin: Fungsi, Manfaat, Efek Samping & Penggunaan

Streptomisin: Manfaat, Dosis, Efek Samping, dan PenggunaanStreptomisin: Manfaat, Dosis, Efek Samping, dan Penggunaan

DAFTAR ISI


Streptomycin atau streptomisin merupakan salah satu tonggak sejarah dalam dunia medis, khususnya dalam perjuangan melawan penyakit tuberkulosis (TBC). Sebagai antibiotik golongan aminoglikosida yang pertama kali ditemukan, obat ini telah menyelamatkan jutaan nyawa sejak diperkenalkan pada tahun 1940-an. Meskipun saat ini penggunaannya mulai spesifik karena adanya risiko resistensi dan efek samping tertentu, streptomycin tetap menjadi lini pertahanan penting dalam menangani berbagai infeksi bakteri serius yang tidak bisa diatasi dengan antibiotik biasa.

Memahami cara kerja, manfaat, hingga risiko dari penggunaan obat ini sangatlah penting bagi pasien maupun tenaga kesehatan. Hal ini dikarenakan streptomycin bukan sekadar obat yang bisa digunakan sembarangan; ia membutuhkan pengawasan ketat dari ahli medis profesional untuk memastikan efektivitasnya tanpa mengorbankan keamanan organ tubuh vital lainnya seperti ginjal dan sistem pendengaran.

Penyakit infeksi bakteri, terutama yang bersifat kronis seperti TBC, memerlukan penanganan yang tepat dan disiplin. Jika kamu merasakan gejala infeksi yang tak kunjung membaik, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter Halodoc yang tersedia 24 jam, kapan saja dan di mana saja guna mendapatkan diagnosis yang akurat sebelum memulai terapi pengobatan apa pun.

Nah, mau tahu lebih dalam mengenai manfaat, dosis, hingga aspek keamanan dari penggunaan obat streptomycin? Berikut ulasan lengkapnya!

Mengenal Apa Itu Obat Streptomycin

Streptomycin adalah obat antibiotik pertama yang efektif untuk mengobati penyakit tuberkulosis. Obat ini diisolasi dari bakteri tanah yang disebut Streptomyces griseus. Dalam klasifikasi farmakologi, ia termasuk dalam kelompok antibiotik aminoglikosida, yang dikenal memiliki kemampuan bakterisidal (membunuh bakteri) yang kuat dengan cara menghambat sintesis protein pada bakteri sasaran.

Di Indonesia, streptomycin umumnya tersedia dalam bentuk serbuk injeksi yang harus dilarutkan terlebih dahulu oleh tenaga medis sebelum diberikan kepada pasien melalui suntikan intramuskular (ke dalam otot). Karena potensi efek sampingnya yang sistemik, obat ini tidak tersedia dalam bentuk sediaan oral (obat minum) karena penyerapannya di saluran pencernaan sangat buruk.

Mekanisme Kerja Streptomycin dalam Tubuh

Sebagai antibiotik bakterisidal, streptomycin bekerja dengan cara yang sangat spesifik pada tingkat seluler. Obat ini berikatan secara ireversibel pada subunit 30S dari ribosom bakteri. Ribosom adalah organel sel yang bertanggung jawab untuk memproduksi protein. Ketika streptomycin menempel di sana, ia menyebabkan gangguan pada pembacaan kode genetik (mRNA).

Akibat dari gangguan ini, bakteri tidak dapat mensintesis protein yang dibutuhkan untuk bertahan hidup, atau menghasilkan protein abnormal yang justru merusak struktur membran sel bakteri itu sendiri. Kerusakan ini menyebabkan kebocoran pada sel bakteri dan akhirnya memicu kematian bakteri tersebut. Efek ini sangat krusial dalam menghentikan penyebaran infeksi bakteri gram-negatif dan beberapa bakteri aerobik lainnya.

Kegunaan Medis dan Indikasi Utama

Meskipun saat ini banyak antibiotik baru yang bermunculan, streptomycin masih memegang peran vital pada kondisi-kondisi medis berikut:

  • Tuberkulosis (TBC): Digunakan sebagai bagian dari terapi kombinasi untuk TBC lini pertama, terutama pada kasus yang memerlukan penguatan regimen pengobatan atau pada kasus TBC yang sudah resisten terhadap beberapa obat lainnya (MDR-TB).
  • Endokarditis Bakterial: Infeksi pada lapisan dalam jantung atau katup jantung yang sering disebabkan oleh enterokokus atau streptokokus, biasanya dikombinasikan dengan penisilin.
  • Penyakit Pes (Plague): Infeksi serius yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Streptomycin sering dianggap sebagai obat pilihan utama untuk kondisi ini.
  • Tularemia: Penyakit infeksi yang menular dari hewan ke manusia (zoonosis) yang disebabkan oleh bakteri Francisella tularensis.
  • Infeksi Bakteri Lainnya: Digunakan untuk menangani infeksi berat seperti brucellosis (dikombinasikan dengan tetrasiklin) dan infeksi saluran kemih tertentu yang sudah resisten terhadap antibiotik lain.
Tips Keamanan Penggunaan Antibiotik
  1. Selalu gunakan antibiotik sesuai dengan durasi yang ditentukan dokter, jangan berhenti meskipun gejala sudah hilang.
  2. Jangan pernah berbagi antibiotik dengan orang lain meski gejalanya terlihat sama.
  3. Pastikan untuk memberikan informasi lengkap mengenai riwayat alergi obat kepada petugas medis.

Dosis dan Aturan Pakai Secara Umum

Dosis streptomycin sangat bervariasi tergantung pada jenis penyakit, tingkat keparahan infeksi, usia, berat badan, dan fungsi ginjal pasien. Obat ini termasuk dalam kategori Obat Keras, sehingga penggunaannya wajib di bawah pengawasan dokter dan dilakukan oleh tenaga medis ahli di fasilitas kesehatan.

Berikut adalah gambaran dosis umum streptomycin:

  • Tuberkulosis: Dewasa biasanya diberikan dosis 15 mg/kg berat badan per hari (maksimal 1 gram per hari) atau 25-30 mg/kg berat badan jika diberikan 2-3 kali seminggu dalam terapi intermiten.
  • Tularemia dan Pes: Dosis dewasa berkisar antara 1-2 gram per hari yang dibagi menjadi beberapa dosis suntikan selama 7-14 hari.
  • Endokarditis: Biasanya diberikan 1 gram dua kali sehari selama 1-2 minggu, kemudian dosis dikurangi sesuai respons klinis pasien.
  • Pasien Anak: Dosis anak-anak umumnya adalah 20-40 mg/kg berat badan per hari dalam dosis terbagi, dengan pemantauan ketat terhadap fungsi pendengaran.

Penting untuk diingat bahwa penyesuaian dosis sangat diperlukan bagi lansia dan penderita gangguan fungsi ginjal karena risiko akumulasi obat dalam tubuh yang dapat meningkatkan toksisitas.

Efek Samping dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

Sebagai apoteker, saya sering menekankan bahwa efektivitas streptomycin diiringi dengan profil risiko yang perlu dipantau secara berkala. Efek samping utama yang sering menjadi perhatian medis meliputi:

  1. Ototoksisitas: Kerusakan pada saraf pendengaran dan keseimbangan. Gejalanya bisa berupa telinga berdenging (tinnitus), pusing berputar (vertigo), hingga kehilangan pendengaran permanen.
  2. Nefrotoksisitas: Gangguan pada fungsi ginjal. Hal ini ditandai dengan perubahan frekuensi buang air kecil atau hasil tes laboratorium ginjal yang abnormal.
  3. Reaksi Alergi: Mulai dari ruam kulit, gatal-gatal, hingga reaksi anafilaksis yang mengancam jiwa.
  4. Gangguan Neuromuskular: Dalam kasus jarang, dapat menyebabkan kelemahan otot atau hambatan pernapasan.

Peringatan Penting dan Interaksi Obat

Sebelum menerima pengobatan dengan streptomycin, ada beberapa hal krusial yang harus diperhatikan:

1. Kondisi Kehamilan

Streptomycin termasuk dalam Kategori D untuk kehamilan. Artinya, ada bukti bahwa obat ini dapat menyebabkan risiko pada janin manusia, khususnya kerusakan pada saraf pendengaran (tuli kongenital). Oleh karena itu, penggunaan pada ibu hamil hanya dilakukan jika manfaatnya jauh lebih besar daripada risikonya dan tidak ada alternatif lain.

2. Interaksi dengan Obat Lain

Penggunaan streptomycin bersamaan dengan obat lain yang bersifat nefrotoksik atau ototoksik (seperti diuretik kuat seperti furosemide, atau antibiotik golongan lain seperti amikasin) dapat melipatgandakan risiko kerusakan organ. Pastikan kamu menginformasikan semua obat yang sedang dikonsumsi kepada dokter.

3. Pemantauan Berkala

Pasien yang menjalani terapi jangka panjang dengan streptomycin wajib menjalani tes fungsi ginjal (kreatinin/ureum) dan tes fungsi pendengaran (audiometri) secara rutin guna mendeteksi efek samping sejak dini.

Apabila selama pengobatan kamu membutuhkan suplemen pendukung untuk menjaga daya tahan tubuh, kamu bisa beli obat online di Halodoc, produk 100% asli dan produk diantar ke rumah dengan mudah dan praktis.

Studi Mengenai Streptomycin

The Journal of Antibiotics menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa meskipun streptomycin adalah antibiotik tua, efikasinya terhadap galur Mycobacterium tuberculosis tertentu tetap stabil jika digunakan dalam dosis yang tepat dan regimen yang terkombinasi dengan baik.

Studi tersebut menggarisbawahi pentingnya uji sensitivitas bakteri sebelum memulai pengobatan. Penggunaan streptomycin tanpa pengawasan yang tepat di masa lalu telah berkontribusi pada munculnya resistensi obat, sehingga saat ini protokol internasional lebih menekankan penggunaannya sebagai “obat simpanan” untuk kasus-kasus spesifik yang memerlukan penanganan intensif.

Jika kamu atau kerabat sedang menjalani pengobatan dengan streptomycin, pastikan untuk tidak melewatkan jadwal kontrol. Konsultasi rutin sangat diperlukan untuk mengevaluasi apakah bakteri penyebab infeksi sudah benar-benar musnah atau jika ada penyesuaian dosis yang diperlukan.

FAQ

1. Apakah obat streptomycin bisa dibeli bebas di apotek?

Tidak. Streptomycin adalah golongan obat keras yang hanya dapat diberikan melalui resep dokter dan biasanya dilakukan dalam bentuk suntikan oleh tenaga medis di rumah sakit atau puskesmas.

2. Apa yang harus saya lakukan jika merasa pusing setelah disuntik streptomycin?

Segera laporkan kepada perawat atau dokter yang bertugas. Pusing atau vertigo bisa menjadi tanda awal gangguan keseimbangan akibat efek samping obat pada telinga bagian dalam.

3. Mengapa streptomycin tidak ada yang berbentuk tablet?

Streptomycin memiliki struktur molekul yang besar dan sangat polar, sehingga sangat sulit diserap oleh saluran pencernaan manusia ke dalam aliran darah jika diminum secara oral.

4. Apakah penderita gangguan ginjal boleh menggunakan streptomycin?

Boleh, namun dengan pengawasan yang sangat ketat dan dosis yang dikurangi secara signifikan berdasarkan nilai bersihan kreatinin pasien untuk mencegah keracunan obat.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Kamu punya keluhan kesehatan yang memerlukan penanganan antibiotik, tapi bingung harus mulai dari mana? Tidak perlu bingung! Kini, kamu bisa coba tanya HILDA!

HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant) adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
World Health Organization. Diakses pada 2026. Global Tuberculosis Report.
Mayo Clinic. Diakses pada 2026. Streptomycin (Injection Route).
NCBI Bookshelf. Diakses pada 2026. Streptomycin: StatPearls.
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2026. Formularium Spesialistik Ilmu Penyakit Dalam.
PubChem. Diakses pada 2026. Streptomycin Compound Summary.