• Home
  • /
  • Artikel
  • /
  • Stres karena Corona Bisa Sebabkan Bunuh Diri?

Stres karena Corona Bisa Sebabkan Bunuh Diri?

Ditinjau oleh: dr. Rizal Fadli

Halodoc, Jakarta – Kabar mengejutkan datang dari negara bagian Hesse Jerman, Menteri Keuangan Thomas Schaefer ditemukan bunuh diri di dekat jalur kereta api, Sabtu (28/3) lalu. Stres karena pukulan ekonomi terhadap negaranya diduga menjadi pemicu Schaefer bunuh diri. 

Thomas Schaefer bekerja keras menangani dampak ekonomi akibat pandemi corona, tetapi sepertinya stres dan tekanan membuatnya memutuskan mengakhiri hidup dengan cara yang tragis. Bagaimana stres karena pandemi corona bisa menyebabkan seseorang bunuh diri? Simak jawabannya di bawah ini!

Stres dan Pandemi Corona

Kalau menurut Yuval Neria, direktur trauma dan gangguan stres pasca-trauma di New York State Psychiatric Institute yang juga berprofesi sebagai profesor psikologi di Columbia University Medical Center, menyatakan kalau pandemi coronavirus dapat menimbulkan trauma emosional jangka panjang pada skala global yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Ini dapat menghancurkan psikologis orang-orang yang sebelumnya bergulat dengan gangguan psikologis dan melemahkan diri dengan sangat cepat. Krisis COVID-19 sejatinya telah menggabungkan stres sebelumnya dengan stres karena kondisi sekarang. 

Baca juga: Stres Akibat Corona Bisa Diredam dengan Berbagi

Tidak hanya membuat orang-orang harus kehilangan pekerjaan, isolasi diri membuat banyak orang rentan secara fisik dan psikologis—salah satunya bisa jadi karena harus meninggalkan aktivitas yang mereka senangi. 

Menurut data kesehatan yang dipublikasikan oleh Johns Hopkins University, disebutkan kalau lebih dari setengah juga kasus COVID-19 terjadi di seluruh dunia dan menewaskan hampir 30.000 orang. Pada Kamis (26/3), kasus di Amerika Serikat sudah melampaui China dan Italia dan memiliki lebih dari 100.000 kasus. 

COVID-19 telah menjadi malapetaka finansial dan pengangguran. Ini sangat mengguncang rasa percaya diri dan psikologis seseorang. Bahkan, dampaknya bisa jangka panjang setelah pandemi itu selesai. 

Para peneliti di Universitas Peking di Beijing, bahkan menyatakan kalau gangguan kesehatan mental yang ditimbulkan karena pandemi bisa jadi melebihi konsekuensi dari virus itu sendiri. Beberapa pemicu bisa jadi karena paparan informasi melalui televisi, media sosial, obrolan dengan orang-orang yang pada akhirnya menyebarkan ketakutan, kecemasan yang memicu depresi, dan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).

Cerdas Kelola Stres

Buat orang-orang yang sebelumnya sudah mengalami gangguan psikologis, ada baiknya untuk segera memeriksakan kesehatan mentalnya jangan sampai berakibat komplikasi. Perawatan yang dibutuhkan biasanya berbasis terapi, pengobatan pascatrauma sesuai dengan metode yang disarankan medis. 

Butuh informasi lebih lengkap mengenai perawatan pascatrauma, bisa ditanyakan langsung di Halodoc. Dokter yang ahli di bidangnya akan berusaha memberikan solusi terbaik untukmu.  Caranya, cukup download aplikasi Halodoc lewat Google Play atau App Store. Melalui fitur Contact Doctor kamu bisa memilih mengobrol lewat Video/Voice Call atau Chat kapan dan di mana saja. 

Nah, untuk kamu yang dalam risiko sedang ataupun kecil, ada baiknya untuk membatasi jumlah paparan informasi sosial media untuk menjaga supaya tetap “waras”. Setiap orang perlu tahu, berapa jumlah informasi optimal yang mereka butuhkan setiap hari. 

Baca juga: Ini Cara Virus Corona Menyerang Tubuh

Media sosial adalah lahan subur untuk informasi dan disinformasi yang memicu kecemasan, yang dapat memperburuk kecemasan dan menyebabkan PTSD. Risiko ini diperparah untuk orang-orang yang melakukan pesta media sosial sebelum tidur atau selama isolasi, dengan jaringan dukungan yang terbatas.

Sangat penting untuk tetap terhubung dengan teman dan anggota keluarga, untuk mengalihkan pikiran dari hal-hal yang bisa membuat resah. Ternyata, melakukan sesuatu yang positif juga bisa menjaga psikologis tetap sehat, seperti menjadi sukarelawan, membantu tetangga yang membutuhkan, dan saling menguatkan secara virtual—sesuatu yang saat ini sedang terjadi di media sosial seperti #untiltomorrow

Referensi:

CNBC.com. Diakses pada 2020. Coronavirus pandemic could inflict emotional trauma and PTSD on an unprecedented scale, scientists warn.
NDTV.com. Diakses pada 2020. German State Finance Minister Kills Himself As Coronavirus Hits Economy.