Ad Placeholder Image

Stunting Adalah: Info Lengkap dan Cara Mencegahnya!

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc 22 Juni 2026

Pencegahan stunting harus dimulai sejak masa kehamilan dan berlanjut hingga anak berusia dua tahun dengan memastikan pemenuhan gizi yang optimal.

Stunting Adalah: Info Lengkap dan Cara Mencegahnya!Stunting Adalah: Info Lengkap dan Cara Mencegahnya!

DAFTAR ISI


Masalah gizi pada anak masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Salah satu kondisi yang paling sering menjadi sorotan adalah anak stunting. Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan yang lebih pendek dari standar usianya, melainkan indikator adanya malnutrisi kronis yang dapat memengaruhi masa depan sang buah hati.

Kondisi ini sangat penting untuk ditangani sedini mungkin. Anak yang mengalami stunting rentan terhadap gangguan perkembangan otak, kecerdasan yang tidak optimal, hingga risiko penyakit metabolik di masa dewasa seperti diabetes dan hipertensi. Oleh karena itu, pemantauan pertumbuhan anak di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) menjadi kunci utama pencegahan.

Jika kamu melihat pertumbuhan tinggi badan anak tampak tidak signifikan atau berat badannya terus menurun, sangat disarankan untuk segera konsultasi ke dokter Halodoc agar mendapatkan diagnosis dan penanganan medis sedini mungkin. Tindakan cepat dapat menyelamatkan golden age anak.

Nah, mau tahu informasi lebih lengkap mengenai penyebab, pencegahan, dan cara mengatasi stunting pada anak? Berikut ulasannya!

Apa Itu Stunting pada Anak?

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar kurva pertumbuhan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kondisi ini umumnya terjadi sejak bayi berada dalam kandungan hingga usia dua tahun.

Penting untuk dipahami bahwa tidak semua anak yang pendek otomatis mengalami stunting. Faktor genetik juga memengaruhi tinggi badan seseorang. Namun, stunting adalah masalah kekurangan gizi yang berdampak sistemik. Selain fisik yang terhambat, perkembangan kognitif, motorik, dan sistem kekebalan tubuh anak stunting biasanya akan tertinggal dibandingkan dengan anak-anak seusianya yang memiliki gizi baik.

Faktor Penyebab Stunting

Stunting tidak terjadi dalam semalam. Kondisi ini adalah hasil dari serangkaian faktor yang berlangsung dalam jangka waktu lama, meliputi:

1. Kurangnya Asupan Gizi saat Kehamilan

Status gizi ibu hamil sangat menentukan kondisi bayi yang dilahirkan. Ibu yang mengalami anemia atau kekurangan Energi Kronis (KEK) berisiko tinggi melahirkan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), yang merupakan salah satu faktor awal terjadinya stunting.

2. Praktik Pemberian Makan yang Kurang Tepat

Tidak diberikannya ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, serta Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang kurang bernutrisi (rendah protein hewani, zat besi, dan zinc) membuat anak gagal mengejar target pertumbuhannya.

3. Infeksi Berulang dan Sanitasi Buruk

Anak yang sering sakit, terutama diare dan infeksi saluran pernapasan (ISPA) akibat lingkungan yang kurang bersih, akan mengalihkan energi dari makanan yang seharusnya untuk pertumbuhan, menjadi untuk melawan penyakit.

Tanda-Tanda Anak Stunting
  1. Tinggi badan atau panjang badan lebih pendek dibanding standar anak seusianya.
  2. Pertumbuhan tulang, gigi, dan kemampuan motorik tertunda.
  3. Berat badan tidak naik secara konsisten, bahkan cenderung menurun.
  4. Wajah anak terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.
  5. Sistem imun yang lemah sehingga anak mudah terserang penyakit.

Cara Mencegah dan Mengatasi

Kabar baiknya, stunting sangat bisa dicegah. Intervensi paling krusial harus dilakukan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (mulai dari pembuahan hingga anak berusia 2 tahun).

1. Pemenuhan Nutrisi Ibu Hamil

Ibu hamil harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan rutin mengonsumsi suplemen kehamilan (seperti zat besi, asam folat, dan kalsium) sesuai anjuran dokter kandungan. Pemeriksaan kehamilan secara berkala juga wajib dilakukan.

2. ASI Eksklusif dan MPASI Adekuat

Berikan ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan. Setelah itu, perkenalkan MPASI yang kaya akan protein hewani (seperti telur, ikan, daging ayam, atau daging sapi), zat besi, dan vitamin. Nutrisi mikro sangat penting untuk kepadatan tulang dan perkembangan otak.

3. Menjaga Kebersihan dan Sanitasi Lingkungan

Pastikan keluarga memiliki akses ke air bersih, fasilitas sanitasi yang layak, dan selalu menerapkan kebiasaan cuci tangan pakai sabun. Ini sangat efektif mencegah masuknya bakteri penyebab diare dan parasit usus (cacingan) yang merampas nutrisi anak.

Untuk mendukung kebutuhan nutrisi harian anak yang mungkin tidak sepenuhnya terpenuhi dari makanan, ibu juga bisa beli suplemen atau multivitamin anak yang mengandung zinc, vitamin D, dan kalsium secara praktis dan produk akan diantar langsung ke rumah.

Studi Mengenai Pencegahan Stunting

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerbitkan studi yang menjelaskan bahwa perbaikan pola makan berbasis keluarga dan intervensi nutrisi yang berfokus pada 1000 hari pertama kehidupan dapat menurunkan prevalensi stunting secara signifikan.

Lebih lanjut, riset ini menekankan bahwa konsumsi protein hewani pada bayi di atas usia 6 bulan secara konsisten merupakan salah satu cara paling efektif untuk mencegah perlambatan pertumbuhan dan meningkatkan hormon pertumbuhan IGF-1 di dalam tubuh anak.

Kunci dari keberhasilan melawan stunting adalah konsistensi dan pemantauan yang rutin. Pastikan untuk selalu membawa anak ke posyandu atau dokter anak setiap bulannya untuk mengukur tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepalanya. Jika ada indikasi perlambatan pertumbuhan, intervensi dapat langsung diberikan sebelum anak mengalami stunting permanen.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

Referensi:
Kementerian Kesehatan RI. Diakses pada 2024. Pedoman Pencegahan dan Penanganan Stunting.
World Health Organization (WHO). Diakses pada 2024. Stunting in a nutshell.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Diakses pada 2024. Tumbuh Kembang Anak dan Pentingnya 1000 Hari Pertama.
UNICEF Indonesia. Diakses pada 2024. Malnutrition and Stunting Factsheet.

FAQ

1. Apakah anak stunting bisa tinggi kembali?

Jika intervensi medis, perbaikan nutrisi, dan stimulasi dilakukan sebelum anak berusia 2 tahun (masa golden age), anak masih memiliki peluang besar untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhannya. Namun, jika intervensi dilakukan setelah usia 2 tahun, perbaikannya mungkin tidak akan semaksimal sebelumnya, meski nutrisinya sudah diperbaiki.

2. Apa perbedaan anak stunting dan anak pendek (short stature)?

Anak pendek belum tentu stunting. Pendek bisa jadi karena faktor genetik (keturunan dari orang tua). Sedangkan stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang disebabkan oleh malnutrisi kronis dan infeksi berulang. Anak stunting biasanya memiliki gangguan sistem imun dan perkembangan kognitif, sedangkan anak pendek karena genetik memiliki kecerdasan dan sistem imun yang normal.

3. Apakah susu formula bisa mencegah stunting?

ASI eksklusif tetaplah sumber nutrisi terbaik untuk bayi di bawah 6 bulan. Namun, jika atas indikasi medis tertentu ibu tidak dapat memberikan ASI, pemberian susu formula yang sesuai usia dapat membantu memenuhi nutrisi. Untuk anak di atas 6 bulan, nutrisi utama pencegah stunting didapat dari MPASI padat yang kaya protein hewani, bukan hanya bergantung pada susu.

4. Kapan harus ke dokter jika curiga anak mengalami stunting?

Ibu harus segera ke dokter jika berat badan anak tidak naik selama 2 bulan berturut-turut, tinggi badan berada di bawah garis merah pada kurva pertumbuhan (KMS/buku KIA), anak sering sakit-sakitan, atau terlambat mencapai fase perkembangan motorik seperti tengkurap, duduk, atau berjalan.

Konsultasi dengan Dokter Spesialis Anak via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang