• Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Tak Perlu Bingung, Ini 6 Mitos dan Fakta seputar Gegar Otak
  • Beranda
  • /
  • Artikel
  • /
  • Tak Perlu Bingung, Ini 6 Mitos dan Fakta seputar Gegar Otak

Tak Perlu Bingung, Ini 6 Mitos dan Fakta seputar Gegar Otak

3 menit
Ditinjau oleh: dr. Fadhli Rizal Makarim : 20 Oktober 2022

“Hingga saat ini gegar otak masih banyak disalahartikan, sehingga banyak mitos yang bermunculan. Misalnya, gegar otak tidak hanya terjadi dalam olahraga, melainkan pada setiap benturan atau trauma pada tubuh yang memberikan tekanan pada otak.”

Tak Perlu Bingung, Ini 6 Mitos dan Fakta seputar Gegar OtakTak Perlu Bingung, Ini 6 Mitos dan Fakta seputar Gegar Otak

Halodoc, Jakarta – Gegar otak adalah cedera otak traumatis ringan yang diakibatkan oleh benturan atau pukulan keras ke kepala, yang mengganggu fungsi normal otak. Kondisi tersebut menyebabkan peregangan dan memar pada saraf, serta pembuluh darah, sehingga menyebabkan perubahan kimia di otak. Akibatnya, fungsi normal otak hilang untuk sementara. 

Namun, hingga saat ini gegar otak masih banyak disalahartikan, sehingga muncul mitos tentang gangguan otak tersebut. Informasi yang salah tentu bisa berbahaya, karena dapat menyebabkan perawatan gegar otak yang tidak tepat. Simak artikel ini untuk mengetahui mitos dan fakta seputar gegar otak!

Mitos dan Fakta Gegar Otak yang Perlu Diluruskan

Memahami kebenaran tentang gegar otak sangat penting. Cedera otak traumatis ringan ini berbahaya, sehingga penting untuk mengetahui gejala dan kapan harus mendapatkan perawatan medis agar pulih tanpa komplikasi. Berikut ini beberapa mitos yang banyak beredar dan fakta yang sebenarnya:

1. Mitos: Gegar otak hanya terjadi dalam olahraga

Faktanya, gegar otak dapat terjadi pada setiap trauma pada kepala atau tubuh yang memberikan tekanan pada otak. Seseorang dapat mengalami gegar otak dari pukulan ke kepala, kepala terbentur saat jatuh, terguncang atau terluka dalam kecelakaan mobil.

2. Mitos: Gegar otak adalah cedera fisik

Faktanya, gegar otak adalah diagnosis yang kompleks dengan efek fisik, intelektual, emosional dan psikologis.

3. Mitos: Gegar otak terjadi hanya jika kamu pingsan

Faktanya, hanya sekitar 5 persen orang yang kehilangan kesadaran atau pingsan saat mengalami gegar otak. Pingsan tidak selalu berarti bahwa gegar otak jadi lebih serius. Berikut ini gejala gegar otak yang perlu diketahui:

  • Sakit kepala atau sakit leher.
  • Mual atau muntah.
  • Perubahan kemampuan penglihatan.
  • Mati rasa atau kesemutan.
  • Kepekaan terhadap kebisingan atau cahaya.
  • Sulit tidur.
  • Hilang ingatan.
  • Sulit konsentrasi.
  • Menjadi lekas marah.
  • Pusing atau masalah keseimbangan.

4. Mitos:  Bisa segera kembali berolahraga setelah mengalami pukulan di kepala

Faktanya, kembali berolahraga dengan kondisi gegar otak dapat mengakibatkan cedera yang lebih serius. Atlet tidak boleh kembali berolahraga setelah cedera kepala tanpa dievaluasi oleh dokter.

5. Mitos: Menggunakan helm yang tepat dapat mencegah gegar otak

Meskipun helm itu penting, tidak ada perlengkapan helm olahraga atau pelindung kepala lainnya yang dapat sepenuhnya mencegah kanker otak. Hanya saja, helm dapat mengurangi keparahan cedera kepala dan dapat mencegah patah tulang tengkorak, serta pendarahan di dalam tengkorak.

6. Mitos: Gegar otak dapat didiagnosis dengan CT scan atau MRI

CT scan dan MRI tidak dapat mendiagnosis gegar otak. Untuk mendiagnosis gegar otak, dokter perlu melihat riwayat medis lengkap dan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan dengan CT-scan biasanya dilakukan untuk mencari pendarahan di dalam atau di sekitar otak, tapi tidak untuk mendiagnosis gegar otak. Selain itu, CT scan dan MRI tidak membantu dalam memutuskan apakah seorang atlet dapat kembali berolahraga. 

7. Mitos: Seseorang dapat pulih dari gegar otak dengan perawatan rumahan

Beberapa gegar otak membutuhkan perawatan medis segera. Kunjungi unit gawat darurat (UGD) di rumah sakit jika mengalami gejala berikut:

  • Sakit kepala yang semakin parah.
  • Bicara cadel, merasa lemah, mati rasa, atau koordinasi menurun.
  • Tidak mampu mengenali orang atau tempat.
  • Muntah atau mual berulang.
  • Kejang (gemetar atau berkedut).
  • Perilaku tidak biasa, seperti bingung, gelisah, atau agitasi.
  • Kehilangan kesadaran atau kantuk yang berlebihan. 
  • Menolak untuk menyusu atau makan (untuk bayi atau balita).
  • Tidak mampu untuk berhenti menangis atau dihibur (untuk anak-anak).

Itulah yang perlu diketahui tentang mitos gegar otak. Jika kamu mengalami gejala yang mencurigakan terkait sakit kepala, sebaiknya segera kunjungi dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Kamu juga bisa membuat janji medis di rumah sakit pilihan melalui aplikasi Halodoc. Yuk, download aplikasi Halodoc sekarang juga!

Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2022. Concussion
Mayo Clinic. Diakses pada 2022. Concussion
Banner Health. Diakses pada 2022. Don’t Fall for These 8 Common Myths About Concussions
Concussion. Diakses pada 2022. Concussion Myths Debunked