Ad Placeholder Image

Tidak Perlu Takut, Ketahui Prosedur Cabut Gigi Geraham

6 menit
Ditinjau oleh  Redaksi Halodoc   19 Juni 2026

“Cabut gigi geraham biasanya dilakukan karena berbagai alasan, seperti pembusukan dan kerusakan parah. Prosedur ini juga bertujuan untuk menghilangkan bakteri dan meningkatkan kesehatan mulut.”

Tidak Perlu Takut, Ketahui Prosedur Cabut Gigi GerahamTidak Perlu Takut, Ketahui Prosedur Cabut Gigi Geraham

DAFTAR ISI


Kesehatan mulut dan gigi sering kali menjadi cerminan dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Salah satu masalah gigi yang paling sering dialami oleh orang dewasa adalah keluhan pada gigi geraham, terutama gigi geraham bungsu yang baru tumbuh di usia akhir belasan atau awal dua puluhan. Gigi geraham memiliki fungsi krusial untuk mengunyah dan menghaluskan makanan. Namun, letaknya yang berada di bagian paling belakang mulut membuatnya sering luput dari jangkauan sikat gigi secara optimal, sehingga rentan mengalami kerusakan.

Ketika kerusakan yang terjadi sudah terlalu parah dan tidak bisa lagi diselamatkan dengan tambalan, perawatan saluran akar, atau mahkota gigi buatan, dokter gigi mungkin akan menyarankan tindakan ekstraksi. Banyak orang merasa takut atau cemas mendengar kata “cabut gigi”, padahal prosedur ini sangat penting untuk mencegah penyebaran infeksi ke gigi lain, gusi, atau bahkan ke aliran darah. Menunda pencabutan justru dapat memperburuk keadaan dan memicu nyeri yang sangat menyiksa serta komplikasi serius lainnya.

Ada kalanya kondisi medis mengharuskan gigi geraham dicabut demi menjaga keseimbangan struktur rahang dan kesehatan rongga mulut secara keseluruhan. Prosedur ini saat ini sudah sangat aman dan didukung oleh teknologi medis serta metode anestesi yang membuat pasien merasa senyaman mungkin. Pemahaman yang baik mengenai alasan, proses, dan perawatan pasca pencabutan dapat membantu mengurangi rasa cemas yang kamu rasakan.

Lalu, apa saja yang sebenarnya terjadi sebelum, selama, dan setelah prosedur pencabutan ini dilakukan? Mari kita bahas secara tuntas agar kamu tidak perlu lagi merasa takut saat harus mengunjungi dokter gigi.

Mengapa Gigi Geraham Perlu Dicabut?

Keputusan untuk mencabut gigi bukanlah hal yang diambil secara asal-asalan oleh dokter gigi. Biasanya, ini adalah jalan terakhir setelah berbagai upaya konservatif tidak lagi memungkinkan. Berikut adalah beberapa alasan medis utama mengapa gigi geraham harus diekstraksi:

1. Kerusakan Gigi yang Sangat Parah (Karies Ekstensif)

Karies atau gigi berlubang yang dibiarkan tanpa perawatan dapat menjalar hingga ke pulpa (bagian tengah gigi yang berisi saraf dan pembuluh darah). Jika infeksi bakteri sudah sangat merusak struktur jaringan keras gigi hingga tidak ada lagi sisa mahkota yang cukup untuk menopang tambalan, pencabutan menjadi satu-satunya solusi. Hal ini dilakukan untuk menghentikan rasa sakit dan mencegah terbentuknya abses (kantung nanah) di ujung akar gigi.

2. Gigi Impaksi (Terutama Geraham Bungsu)

Gigi geraham bungsu (geraham ketiga) sering kali tidak memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh di rahang. Akibatnya, gigi ini bisa tumbuh miring, mendesak gigi di sebelahnya, atau hanya tumbuh separuh dan terperangkap di dalam gusi atau tulang rahang. Kondisi ini disebut impaksi. Gigi yang impaksi sangat rentan menjebak sisa makanan dan bakteri, yang memicu infeksi gusi menyakitkan yang dikenal sebagai perikoronitis.

3. Penyakit Gusi Lanjut (Periodontitis)

Periodontitis adalah infeksi serius pada gusi yang merusak jaringan lunak dan tulang penyangga gigi. Ketika tulang rahang yang menahan gigi geraham sudah banyak yang hancur akibat infeksi ini, gigi akan menjadi sangat goyang. Dalam kondisi goyang derajat parah, gigi sudah kehilangan fungsinya dan harus dicabut untuk membersihkan area infeksi di bawahnya.

4. Kebutuhan Perawatan Ortodonti (Kawat Gigi)

Dalam beberapa kasus pemasangan kawat gigi, dokter gigi ortodonti perlu menciptakan ruang kosong agar gigi-gigi yang berjejal (crowded) dapat ditarik dan dirapikan ke posisi yang ideal. Terkadang, mengorbankan satu atau dua gigi geraham (biasanya geraham pertama atau gigi premolar) diperlukan demi estetika dan fungsi gigitan yang lebih baik di masa depan.

Tanda Kamu Mungkin Perlu Cabut Gigi
  1. Nyeri gigi yang tajam, berdenyut, dan tidak kunjung hilang meski sudah minum obat pereda nyeri.
  2. Gusi di sekitar gigi terlihat bengkak, berwarna sangat merah, atau bahkan mengeluarkan nanah/darah.
  3. Kesulitan membuka mulut lebar-lebar atau kesulitan mengunyah makanan di satu sisi.
  4. Bau mulut yang sangat menyengat dan tidak hilang meski sudah menyikat gigi, yang menandakan adanya infeksi bakteri aktif.

Persiapan Sebelum Tindakan Cabut Gigi

Sebelum prosedur dilakukan, persiapan yang matang sangat dibutuhkan untuk meminimalkan risiko komplikasi. Dokter gigi akan melakukan anamnesis (wawancara medis) secara menyeluruh. Kamu wajib memberi tahu dokter jika memiliki riwayat penyakit sistemik seperti diabetes, hipertensi, gangguan pembekuan darah, penyakit jantung bawaan, atau jika sedang hamil.

Selain itu, beritahukan semua obat-obatan, vitamin, atau suplemen yang sedang kamu konsumsi. Obat pengencer darah (seperti aspirin) mungkin perlu dihentikan sementara waktu atas persetujuan dokter untuk mencegah perdarahan berlebih saat tindakan. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan Rontgen gigi (X-ray atau panoramic) untuk melihat secara pasti panjang akar gigi, kelengkungannya, dan posisinya terhadap saraf penting di rahang (seperti saraf alveolar inferior) atau rongga sinus di rahang atas.

Jika kamu akan menjalani pencabutan dengan bius total (biasanya untuk kasus operasi beberapa gigi bungsu sekaligus), dokter akan menginstruksikan kamu untuk berpuasa selama 8-12 jam sebelum tindakan. Namun, jika hanya menggunakan bius lokal, pastikan kamu sudah makan dengan cukup sebelum datang ke klinik agar kadar gula darah tetap stabil dan mencegah pusing setelah tindakan.

Prosedur Pencabutan Gigi Geraham

Prosedur ekstraksi terbagi menjadi dua jenis utama, tergantung pada kondisi gigi yang akan dicabut. Secara umum, proses ini tidak menimbulkan rasa sakit karena area tersebut akan dibuat mati rasa terlebih dahulu.

1. Pencabutan Sederhana (Simple Extraction)

Prosedur ini dilakukan pada gigi yang sudah erupsi (tumbuh keluar dari gusi) sepenuhnya dan akar giginya relatif lurus. Pertama, dokter akan menyuntikkan anestesi lokal di area sekitar gigi. Setelah area kebas, dokter akan menggunakan alat yang disebut elevator (pengungkit) untuk melonggarkan gigi dari ligamen periodontal. Selanjutnya, dokter menggunakan tang khusus gigi (forceps) untuk menggoyang gigi maju-mundur hingga gigi tersebut lepas dari soketnya (lubang tulang rahang).

2. Pencabutan Operatif (Surgical Extraction / Odontektomi)

Tindakan ini diperlukan untuk gigi yang impaksi, patah di bawah garis gusi, atau memiliki akar yang sangat bengkok dan rapuh. Dokter gigi spesialis bedah mulut biasanya yang menangani kasus kompleks ini. Setelah anestesi bekerja, dokter akan membuat sayatan kecil pada gusi untuk membuka akses ke gigi dan tulang rahang. Terkadang, sedikit tulang yang menutupi gigi perlu dibor. Gigi mungkin juga perlu dipotong menjadi beberapa bagian kecil agar lebih mudah dikeluarkan tanpa merusak jaringan di sekitarnya. Setelah gigi berhasil diangkat, gusi akan dijahit kembali untuk mempercepat penyembuhan.

Perawatan Pasca Tindakan (Aftercare)

Perawatan setelah gigi dicabut sama pentingnya dengan prosedur itu sendiri. Tujuan utama dari aftercare adalah memastikan terbentuknya gumpalan darah (blood clot) di dalam soket gigi yang kosong. Gumpalan darah ini berfungsi sebagai ‘perban alami’ yang melindungi tulang dan saraf di bawahnya agar luka bisa sembuh sempurna.

Berikut adalah panduan perawatan mandiri yang wajib kamu patuhi:

  • Gigit Kasa Medis: Segera setelah pencabutan, gigit kasa yang diletakkan dokter di atas luka selama 45-60 menit dengan tekanan sedang. Ini membantu menghentikan perdarahan awal.
  • Kompres Dingin: Tempelkan kantong es (ice pack) yang dibalut handuk pada pipi bagian luar tempat gigi dicabut. Lakukan selama 15-20 menit on/off di hari pertama untuk mengurangi pembengkakan.
  • Pola Makan Lunak: Konsumsi makanan lunak atau cair (seperti bubur, yogurt, sup hangat, atau puree) selama 2-3 hari pertama. Hindari makanan pedas, terlalu panas, bertekstur keras, atau renyah yang bisa melukai gusi.
  • Hindari Menyedot (PENTING!): Jangan minum menggunakan sedotan, jangan meludah dengan keras, dan jangan berkumur terlalu kuat selama 24 jam pertama. Gerakan menyedot dapat melepaskan gumpalan darah dan memicu komplikasi menyakitkan.
  • Jangan Merokok: Merokok dapat memperlambat penyembuhan dan bahan kimianya bisa meningkatkan risiko infeksi yang parah.
  • Istirahat Cukup: Hindari aktivitas fisik berat (olahraga, angkat beban) setidaknya selama 2-3 hari, karena peningkatan tekanan darah bisa menyebabkan luka kembali berdarah.

Risiko dan Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Meskipun pencabutan gigi adalah prosedur yang aman, layaknya tindakan medis lainnya, ada risiko komplikasi yang mungkin terjadi, terutama jika perawatan pasca tindakan tidak dilakukan dengan benar.

1. Dry Socket (Alveolar Osteitis)

Ini adalah komplikasi paling umum dan paling menyakitkan setelah cabut gigi geraham. Dry socket terjadi ketika gumpalan darah di soket gigi gagal terbentuk atau terlepas sebelum luka sembuh. Akibatnya, tulang rahang dan saraf menjadi terekspos ke udara, makanan, dan cairan. Nyeri yang ditimbulkan sangat tajam dan bisa menjalar ke telinga atau leher. Jika ini terjadi, dokter harus membersihkan soket dan memberikan pasta obat khusus untuk meredakan nyeri.

2. Infeksi Lanjutan

Masuknya bakteri ke dalam luka terbuka bisa menyebabkan infeksi bernanah. Tanda-tandanya meliputi demam, bengkak yang tidak kunjung kempis setelah 3 hari, dan rasa tidak enak atau pahit di dalam mulut.

3. Cedera Saraf

Pada kasus pencabutan geraham bungsu rahang bawah, ada risiko kecil alat bedah atau akar gigi menyentuh saraf alveolar inferior. Ini bisa menyebabkan mati rasa atau sensasi kesemutan sementara (atau jarang, permanen) pada bibir bawah, lidah, atau dagu.

Kapan Harus ke Dokter?

Sangat normal untuk merasakan sedikit nyeri, bengkak, dan rembesan darah (air liur berwarna kemerahan) dalam 24 jam pertama setelah pencabutan. Namun, kamu harus segera menghubungi dokter gigi atau pergi ke instalasi gawat darurat jika mengalami tanda-tanda berikut:

  • Perdarahan hebat yang tidak kunjung berhenti meski sudah menggigit kasa dengan kuat selama lebih dari 2 jam.
  • Nyeri hebat yang tidak mereda meskipun sudah minum obat pereda nyeri resep dokter.
  • Pembengkakan yang justru semakin membesar setelah hari ketiga.
  • Demam tinggi, menggigil, atau mual muntah yang berlebihan.
  • Kesulitan bernapas atau kesulitan menelan.

Studi Terkait

Cochrane Database of Systematic Reviews menerbitkan studi di tahun 2021 yang menjelaskan bahwa pemberian antibiotik profilaksis pada orang sehat yang menjalani ekstraksi gigi geraham bungsu dapat sedikit mengurangi risiko infeksi (termasuk dry socket).

Namun, studi tersebut juga menegaskan bahwa penggunaan antibiotik harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati oleh dokter gigi untuk menghindari risiko efek samping dan resistensi antibiotik di masyarakat. Oleh karena itu, dokter hanya akan meresepkan antibiotik jika ada tanda infeksi yang jelas atau pasien memiliki sistem imun yang lemah.

Punya Keluhan Kesehatan tapi Bingung Mulai dari Mana? Tanya ke HILDA Dulu!

Halodoc Intelligent Digital Assistant adalah asisten AI dari Halodoc yang siap membantu menjawab pertanyaan kesehatan umum, kasih gambaran langkah awal, dan arahin kamu ke pilihan dokter yang sesuai dengan kebutuhan.

HILDA akan memandu kamu dalam memilih dokter spesialis yang tepat, menemukan obat yang dibutuhkan, dan menemukan layanan yang relevan.

HILDA dapat menjawab pertanyaan umum tentang Halodoc dan berbagi informasi kesehatan umum yang kamu butuhkan.

Hal yang perlu diingat, HILDA tidak digunakan untuk menggantikan saran medis dari dokter, ya.

FAQ

1. Apakah prosedurnya menyakitkan saat gigi geraham dicabut?

Tidak. Dokter akan memberikan anestesi lokal sehingga area tersebut mati rasa. Kamu hanya akan merasakan tekanan atau dorongan saat dokter mengungkit gigi, namun tidak akan ada rasa sakit yang tajam selama prosedur berlangsung.

2. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan?

Masa pemulihan awal biasanya memakan waktu sekitar 3 hingga 7 hari, di mana rasa sakit dan bengkak akan berangsur-angsur menghilang. Namun, jaringan gusi dan tulang rahang akan membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 4 minggu untuk sembuh sepenuhnya dan menutup sempurna.

3. Pantangan makanan apa saja setelah cabut gigi?

Hindari makanan yang keras, renyah, lengket, bersuhu terlalu panas, dan makanan pedas selama beberapa hari. Makanan keras seperti kacang, keripik, atau biskuit bisa pecah dan serpihannya masuk ke dalam soket gigi yang kosong, menyebabkan infeksi dan nyeri.

4. Apa itu dry socket dan bagaimana mencegahnya?

Dry socket adalah kondisi menyakitkan di mana gumpalan darah pelindung luka terlepas sebelum waktunya. Untuk mencegahnya, sangat penting untuk tidak menyedot (jangan pakai sedotan), tidak meludah kencang, tidak merokok, dan menjaga area luka tetap bersih dengan berkumur secara sangat perlahan (tidak dikocok kuat) menggunakan air garam hangat setelah 24 jam pertama.

Referensi:
Mayo Clinic. Diakses pada 2024. Wisdom tooth extraction.
Cleveland Clinic. Diakses pada 2024. Tooth Extraction: Procedure, Aftercare & Recovery.
National Health Service (NHS) UK. Diakses pada 2024. Tooth removal.
WebMD. Diakses pada 2024. Pulling a Tooth (Tooth Extraction).

Konsultasi dengan Dokter Gigi via Halodoc

Jika kamu mengalami gejala yang disebutkan di artikel ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan Dokter Gigi terpercaya. Kamu bisa konsultasi langsung dari rumah melalui Halodoc.

Konsultasi Sekarang